
Kedua mata Aji mengerjap. Aji mendesah. Posisi tubuhnya masih rebahan di atas rerumputan yang hanya dialasi oleh selembar kain yang cukup lebar. Aji menekuk kedua kakinya. Kini kedua mata Aji menatap ke langit yang penuh bintang. Bulan purnama itu sangat indah. Aji sekonyong-konyong tersenyum.
Ada perasaan aneh merundungi Aji. Aji ingin sekali bisa keluar dari tempat ini. Tempat ini sangat aneh. Banyak makhluk aneh yang Aji temukan. Jenis manusia yang Aji temukan juga bisa dibilang berbahaya. Penuh tipu daya, mereka itu. Di dunia ini, Aji harus terus menggunakan otaknya. Lengah sedikit, dikelabui, lagi dan lagi. Manusia di dunia ini, mulutnya itu, sulit bagi Aji membedakan mana kejujuran, mana kebohongan. Aji menggigit bibir bawahnya dan meringkuk sembari menatap purnama.
Slamet membuka mata. Utomo dan Elkann juga ikut serta. Slamet tersenyum dan berkata, "Benar, kan. Aji menghilang bukan sekadar menghilang. Dia pasti balik lagi. Seperti ada urusan yang tertunda, dan sepertinya aku tahu itu apa."
Elkann nyengir, menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak berkata apa-apa. Seperti tahu apa urusan tertunda Aji.
"Mimpi indah sepertinya, kawan kita ini." Utomo menepuk pundak Aji. "Kenapa lagi? Tegang sekali."
Aji mendesah, tersenyum. Tak disangkal Aji memang seperti tengah bermimpi indah. Bukankah itu sesuatu indah saat kita mendapatkan pengakuan cinta dari seseorang yang kita suka (yang lalu dicium)? Yang Aji bingung, bisakah itu disebut mimpi? Aji merasa ia tengah berteleportasi ke kamar Pretty, lalu kembali ke dunia ini dalam posisi tengah tidur. Tak terlihat bahwa Aji tengah tidur dan bermimpi.
Bagaikan membaca pikiran Aji, Slamet berujar, "Memang seperti itulah. Nanti kamu juga akan makin lama makin paham, Aji. Alah bisa karena terbiasa. Di dunia ini batasnya sangat tipis. Antara yang kamu sebut realita dan mimpi, itu sangat tipis. Biasakanlah."
__ADS_1
Aji tersenyum.
"Bermimpi tentang perempuan?" terka Slamet nyengir.
Aji mengangguk.
"Utomo, benar yang kamu bilang, dia baru saja bermimpi indah." ujar Slamet kepada Utomo.
Aji malu.
Elkann ikut menertawakan Aji tanpa bermaksud melecehkan.
"Sabar, Aji. Nanti indah pada waktunya. Jalani saja dulu apa adanya. Pelan-pelan, nanti ada jalannya. Setahuku, jodoh tidak akan ke mana. Jawabannya ada di sini." Slamet lalu menunjuk satu sisi di antara kedua alis mata, yang konon di sana terletak mata batin. "Jauh tapi dekat. Dekat tapi jauh. Aku menduga dia tipe yang setia, bukan jenis perempuan yang suka main mata dengan laki-laki lain. Kamu mungkin jatuh cinta pertamanya, Aji."
__ADS_1
Utomo mendekati Aji, lalu merangkul Aji. "Kalau suka dengan seseorang, diperjuangkan, jangan dipaksa. Berikan dia kepercayaan."
Sekarang Aji malah tertawa terbahak-bahak. Apa-apaan ini, sok tahu sekali mereka ini, Aji tertawa di dalam hati. Aku memang bertemu dengan Pretty lagi. Dia bilang dia menyukai aku sebanyak aku menyukai dia. Indah memang. Aku dan dia berciuman juga.
"Sudahi senang-senangnya, Kawan. Masih banyak yang harus kita bereskan. Pagi datang nanti, bersiap-siaplah untuk peperangan berikutnya. Mereka ini kapan kapoknya? Menantang melulu. Tahukah mereka, yang di atas sudah geram menyaksikan kelakuan bebal mereka?" ujar Slamet.
"Kalau sudah waktunya, nanti indah pada waktunya. Di sana, aku juga yakin, perempuan itu setia menungguimu. Jangan khawatir. Ada yang bilang, apa yang sudah ditakdirkan untuk kita, tetap akan menjadi milik kita. Tempat dan waktu boleh memisahkan, namun tetap akan datang di saat yang tak terduga." ucap Elkann filosofis, yang akhirnya buka suara juga. "Semangat!"
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.
Stay safe. Omicron makin mengganas. Patuhi protokol kesehatan dan ikuti vaksinasi.
__ADS_1