
Kejadian ini terjadi sebelum Aji muncul secara ajaib di hadapan Tasya di sebuah warung tenda bakso. Tasya dan keenam gadis tengah berkumpul di Starbucks. Mereka tengah membahas mengenai satu peristiwa aneh yang menimpa Pretty. Dari arah speaker, terdengar alunan lagu berbahasa Portugis.
...Ela Ja Ta Louca...
...Aí, John!...
...Vamo dar uma dose de brega funk na veia deles...
...(Vai mostrar o peitin pra mim) é o Neiff!...
...(Ela já tá louca) nem melhor, nem pior...
Shania tengah memegang ponsel Pretty. Perempuan itu membaca betul-betul pesan dari si peneror. Si peneror ini dikenal sebetulnya oleh Pretty. Si peneror merupakan salah satu dari rekan kerja Pretty. Bahasa pesan si peneror sopan, namun saat dibaca baik-baik, Pretty merasa terintimidasi.
"Hmmm..." Shania berdeham sekaligus menyesap Capuccino pesanannya. Seharusnya hari ini Shania tidak boleh mengonsumsi kafein. Gerd-nya tengah kumat. Tadi pagi saja Shania hampir saja ambruk saat bangun pagi. Dasar Shania bandel. Shania yang sangat menyukai Capuccino, tak bisa menahan diri untuk tidak meminum minuman tersebut barang sehari saja. "Parah sih ini. Ini temen cowok lu parah, sih. Apa maksudnya lagi cerita ke lu, dia lagi sakau dalam perjalanan menuju club. Tujuannya apa lagian? Nggak jelas."
"Bener, kan. Nah, itu dia. Udah gitu yang bersangkutan suka nekat. Ganggu banget. Sok jadi pahlawan juga. Masa dia bilang dia tau soal aktivitas Daddy yang gue nggak tau?" timpal Pretty meminum milkshake-nya.
__ADS_1
"Jangan dipercaya, Pretty. Mungkin bohong." kata Anin tersenyum. "Kalau ada orang luar mendadak ngomongin salah satu anggota keluarga kita, saran gue, sebaiknya jangan dipercaya dulu. Lagian udah ditanya belum ke cowok itu, dia dapet informasinya dari mana? Siapa tau temen cowok kamu itu cuman ngomong ngawur."
Pretty menggeleng, lalu kembali meminum milkshake-nya.
Aya mengelus-elus punggung Pretty. Pretty tanpa sadar lalu menyenderkan badannya ke dalam pelukan Aya. Ujar Aya dengan senyuman saktinya, "Yang sabar yah, Pretty. Nggak usah takut. Kamu nggak usah takut. Kita ada untuk Pretty. Kita semua sayang Pretty. Semangat."
Anin tertawa.
Shania hanya nyengir dan meletakkan ponsel Pretty ke atas meja.
Mareta dan Tasya ikut Shania nyengir. Begitulah Pretty, yang terkadang bisa semanja anak kecil. Kalau tengah dalam keadaan merajuk, aduh, setiap teman-temannya bisa menjadi sasaran kebiasaan nyender-nya. Padahal Pretty straight, namun karena kebiasaan nyender tersebut yang sulit dihilangkan, Pretty tak jarang disangka lesbian. Ditambah lagi, sepertinya Pretty belum bisa melupakan Aji dan masih selalu percaya Aji kelak akan datang lagi ke dalam kehidupannya.
"Yang jelas, gue kasihan sama lu, Pretty." ucap Shania yang sekonyong-konyong kharismanya muncul lagi. Mendadak Shania terlihat seperti seorang motivator sekelas Tung Desem Waringin atau Mario Teguh. "Kayak dalam posisi buah simalakama. Belum lagi, si cowok yang namanya Jerome ini kayaknya ngejer-ngejer Pretty terus kayak orang psycho. Pake acara ngomongin bokap lu yang bukan-bukan lagi. Ada gini cowok model gini?!"
"Screenshoot itu juga screenshoot palsu, Pretty. Lu gak usah takut. Kita semua percaya lu gak kayak yang tertuang di dalam semua screenshoot yang dia tunjukin ke lu." timpal Anin yang meminum kembali Americano-nya.
"Semangat, Pretty!" ujar Tasya mengepalkan tangan, lalu menyanyikan lagu "Yuuhi wo Miteiruka" dari idol group kesayangannya. "Apakah kau melihat langit mentari senja, waktupun berlalu dan sosoknya terlihat begitu indah, yes..."
__ADS_1
Teman-temannya spontan tertawa. Ada-ada saja kelakuan Tasya yang sepertinya tidak pernah lelah meracuni yang lainnya untuk menyukai lagu-lagu JKT48. Shania sampai menggeleng-gelengkan kepala terhadap ulah Tasya yang satu ini dan selalu berkata, "Lu aja yang suka, Tasya. Gak usah ngajak-ngajak orang biar suka. Selera musik gue bukan lagu-lagu JKT48. Sori yah, Tasya, jangan tersinggung."
Padahal sebetulnya Shania juga diam-diam mendengarkan lagu-lagu JKT48. Alasan sebetulnya Shania tidak menyukai karena saat itu ada seorang member yang memiliki nama sama dengan dirinya, dan menurut Shania, member itu, iyuuuh, nggak banget deh nih member. Sok kecakepan banget. Kenapa juga harus sama gini namanya sama nama gue. Dih. Masih cakepan juga gue.
Sementara di tempat lain, yang jauh sekali padahal sebetulnya cukup dekat juga, Aji tengah buang hajat setelah salah makan. Di tengah buang hajat itulah, mendadak Aji mengucapkan beberapa patah kata yang terdengar seperti sebuah puisi.
"Langit senja hari ini begitu indahnya. Mau di dunia manapun, senja tetaplah senja. Selalu terlihat indah dan entah mengapa itu membuat aku merindukan seseorang yang di mataku selalu indah. Apa kabarnya, perempuan itu. Aku merindukannya. Wajah perempuan itu sungguh seindah langit senja sekarang ini."
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.
...Untuk pemesanan:...
...Nuel Lubis...
...📱 My Whatsapp (0877-9175-6320)...
__ADS_1
...📩 immanuel.lubis@gmail.com...
...Link ORL HDI: https://www.hdione.com/orl/nuellubis...