Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji

Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji
Shania Berangkat ke India Juga


__ADS_3

Setelah mengurus segala hal, akhirnya tibalah saatnya salah satu tokoh utama di dalam novel ini menghilang. Seperti sudah diceritakan sebelumnya, mendadak saja ayahnya Shania meminta Shania untuk menjadi manager di salah satu butik kepunyaan ayahnya Shania di New Delhi, India. Pada dasarnya, Shania itu merupakan anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya (walau Shania takut kenyamanan hidupnya diusik oleh ayahnya). Maka dari itu, Shania menurut saja. Toh, dengan mengelola salah satu usaha kepunyaan keluarga besar Khan, sedikit lagi salah satu impian Shania bisa terkabul: menjadi pengusaha sukses di kampung halamannya yang berada di India. Wah, belum apa-apa, Shania sudah membayangkan lebih dulu indahnya berjalan-jalan di tempat-tempat wah yang berada di India.


Keenam sahabat sejatinya ikut mengantarkan Shania ke bandara. Ada kedua orang tua Shania dan beberapa kerabat Shania juga. Salman juga ikut datang. Teman-teman Shania yang lainnya pun sama. Yang tidak hadir hanyalah Aji. Untuk sementara, Aji disembunyikan dulu. Bisa berabe jika ketahuan ayahnya Shania yang berkumis ala Amitabh Chan tersebut. Ke New Delhi batal, uang saku dikurangi pula. Shania harus rela hidupnya diawasi dan diperlakukan seperti bocah cilik (baca: bocil) oleh ayah kandungnya.


Sayang sih Shania harus pergi ke India. Banyak hal yang harus dikorbankan. Salah satu contohnya adalah kuliahnya. Dengan memenuhi permintaan ayah kandungnya, Shania harus pindah kuliah. Di Jakarta, di kampus lamanya, Shania sudah mengurus segala administrasi yang selesai dengan cepat sekali, dengan bantuan uang. Mungkin, begitu tiba di India, walau sudah dijanjikan ayahnya terkait perkuliahannya, Shania harus rela kuliah dari awal lagi. Menjadi mahasiswa baru, dong. Dih, Shania sudah bergidik saat membayangkan dirinya harus dirundung oleh mahasiswa-mahasiswi senior.


Tak hanya tentang perkuliahan, Shania juga sangat mencintai Indonesia. Terakhir Shania tinggal di India itu sudah lama sekali. Shania sendiri tak begitu ingat kapan terakhir ia ke India. Yang Shania bisa ingat, mungkin saat ia masih balita. Masih lucu-lucunya wajah Shania saat sebagian besar sanak saudaranya mengerubungi Shania seperti anak-anak mengerumuni badut. Aduh, bisakah Shania bertahan selama masa-masa awal adaptasinya di India? Konon yang membuat gagal itu homesick. Sepuluh tahun lebih di Indonesia itu makin membuat Shania merasa Indonesia adalah kampung halamannya, dan bukannya India. Pasti akan menjadi sangat berat sekali melawan sesuatu bernama homesick. Melawan hasrat ingin pulang kampung adalah sesuatu yang akan melelahkan batin seorang Shania Khan.


Sebetulnya ada banyak hal yang membuat Shania berat sekali untuk meninggalkan Indonesia. Dua di antaranya sudah disebutkan. Salah satunya...


... Shania memandangi wajah teman sekaligus rivalnya, Pretty. Ia menghampiri Pretty sembari mendesah. Shania tersenyum pula. Alasan Shania makin berat meninggalkan Indonesia adalah Pretty. Tidak jauh-jauh dari Pretty. Berkaitan dengan temannya tersebut, kok. Coba tebak apa?


...Taylor Swift - Red...

__ADS_1


...Loving him is like driving a new Maserati down a dead-end street...


...Faster than the wind, passionate as sin, ending so suddenly...


...Loving him is like trying to change your mind once you're already flying through the free fall...


...Like the colors in autumn, so bright just before they lose it all...


Shania menyiulkan salah satu lagu yang pernah dipopulerkan oleh Taylor Swift. Yang berjudul "Red". Pretty tertawa. Bagaimanapun lagu "Red" itu merupakan lagu kesukaan Shania dan Pretty. Oh iya, Shania dan Pretty merupan penggemar berat lagu-lagu Taylor Swift.


Pretty nyengir.


Shania memandangi Anin yang sepertinya penasaran dengan percakapan bisik-bisik antara Pretty dan Shania. "Bukan apa-apa. Eh, titip Aji, yah, Nin. Bilangin yang lainnya, gue tetap ikut campur terkait keberadaan Aji. Kalau butuh gue, webcam-an aja. Gue tadi bilang ke Pretty, dia yang menjadi pengganti gue."

__ADS_1


"Dih, apa-apaan sih lu, Shan. Macem kita bentuk geng mafia aja. Pake acara ketua geng segala. Kita kelompok persahabatan, Shania. Bukan geng-gengan gitu." ujar Anin tertawa.


"Tenang aja, Shan. Pasti beres, deh. Kita bakal terus menyelidiki dan memonitor soal Aji." timpal Mareta. Mareta langsung beringsut ke arah Shania, lalu memeluk erat Shania. "Gue pasti kangen banget sama lu, Shan."


Shania memukul pelan-pelan punggung Mareta. "Me, too. Baik-baik, yah, selama gue nggak ada di antara kalian."


"Who is Aji?" tanya ayahnya Shania yang mulai curiga Shania menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


Salman yang panik. "B-b-bukan s-s-siapa-siapa, Uncle. Shania, tuh denger."


"Eh, iya," Shania ikut panik setelah mendengarkan pengumuman dari arah speaker. "Udah dulu, yah, semua. Bye-bye."


__ADS_1


Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.


__ADS_2