Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji

Petualangan Aji Di Masa Depan #PetualanganAji
Sepertinya Ada Cinta


__ADS_3

Sesuai kesepakatan bertujuh, Aji dicarikan satu apartemen. Bukan apartemen yang mahal, setidaknya Aji memiliki tempat tinggal dan mereka bertujuh bisa menyelidiki tentang Aji. Apartemen yang dipilihkan untuk Aji tak jauh dari apartemen Shania.


Iya, kenapa harus segitunya terhadap Aji? Kenapa Aji tak diserahkan kepada pihak yang berwenang, dalam arti polisi? Seharusnya begitu. Itulah yang selayaknya tujuh orang gadis itu lakukan, namun tidak mereka lakukan. Jatuh cintakah? Adakah mereka semua naksir kepada laki-laki yang sama?


Yang membawa masuk Aji ke dalam mobil, justru Pretty. Pretty sendiri bingung dan malu kenapa ia bawa Aji ke dalam mobil. Kedua pipi Pretty selalu bersemu merah, jika ditanya perihal hal tersebut. Kepada Aya, Pretty mengakui ia memang naksir kepada Aji. Ada semacam perasaan aneh yang Pretty sulit jelaskan. Yang jelas, seperti ada yang mendorong Pretty untuk membawa Aji masuk ke dalam mobil. Apakah itu hati nurani Pretty? Apakah memang ada dorongan cinta? Pretty sendiri sulit menjelaskan lebih lanjut.


Begitu juga dengan Shania, yang mana apartemennya bersebelahan dengan Aji. Anin sempat curiga kenapa Shania harus memilih apartemen persis di sebelah apartemen Shania Shania dengan malu-malu berkata, biar mudah mengawasi Aji. Kasihan Aji, yang seperti seorang manusia purba. Yah, bagi seorang Shania Khan, Aji tak ubahnya manusia primitif yang harus dituntun biar tidak makin tersesat. Apakah lalu Shania cinta kepada Aji? Ah, yang bersangkutan juga tidak seratus persen yakin dan malah menyangkali perasaannya. Akan tetapi, dari gerak gerik Shania, kita semua tahu apa isi hati Shania yang sesungguhnya. Mulut boleh terkunci rapat, namun dalamnya hati pasti akan terpancar keluar. Sesuatu yang dipendam terus menerus, konon, pasti akan meluap pada waktunya. Begitupun tentang cinta.


Bagaimana dengan gadis-gadis lainnya? Iya, lihat saja sekarang. Begitu Anin berdiri di depan pintu apartemen Aji, yang lainnya berdatangan. Anin membawa plastik berisi kebutuhan sehari-hari yang harus Aji makan selama beberapa hari. Mareta membawa beberapa pakaian untuk Aji. Tasya berencana mengajarkan Aji untuk membaca. Sementara Febe, gadis terakhir yang luput disebutkan oleh Author (saking pendiamnya), membawakan Aji beberapa parfum. Wah, perhatian sekali mereka kepada Aji. Benarkah itu hanya sekadar simpati? Yakin? Ada cinta, nih, di antara tujuh gadis.

__ADS_1


Aji langsung keluar. Berbarengan dengan itu, Shania berada di belakang Aji.


"Shan, ngapain lu di sini?" tanya Anin curiga. "Jangan bilang lu tidur seranjang sama Aji. Inget, Shania, lu sama dia bukan suami istri."


"Ngeres aja lu, Nin," ujar Shania sewot. "Gue juga baru dateng. Gue nganterin sarapan bubur ayam buat Aji. Plus, coba lihat ke dalam."


Shania memperkenalkan satu orang yang dipekerjakan Shania untuk merawat Aji. Biar tidak mencolok, yang dipilih itu laki-laki. Shania merasa kasihan saja untuk membiarkan Aji tinggal sendirian tanpa seorang teman.


Shania melirik dengan sebal Salman yang cengar-cengir. "...dasar mata duitan lu, Man,"

__ADS_1


"Iya, aku saudara sepupu Shania. Shania belum pernah cerita, yah, soal aku? Salam kenal, yah." ucap Salman menyodorkan sebelah tangan kepada Anin.


Anin menerima. "Anindita,"


"Pretty mana?" tanya Shania yang celingak-celinguk mencari keberadaan temannya yang rada absurd.


"Tadi lagi di bakery yang ada di bawah. Katanya, mau beliin roti buat Aji sama kita berenam." jawab Anin.


Shania berdecak saat melihat barang bawaan teman-temannya. "Kalian semua perhatian banget sama Aji. Ada rasa, yah, sama dia?"

__ADS_1


"Sendirinya, huuuuu!!!!" seru yang lainnya mengeroyok Shania.


Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.


__ADS_2