
Semenjak kejadian hari itu, Aji makin bersemangat dalam menjalani hari-harinya. Apapun yang Aji lakukan, di benak Aji, selalu ada wajah Pretty. Wajah gadis cantik berambut panjang tersebut bagaikan penyuntik semangat paling wahid. Wajah Pretty pula yang membuat Aji sering tersenyum sendiri, bahkan di kala Aji hendak tidur.
Tak ubahnya dengan Aji, Pretty pun sama. Pretty pernah kedapatan Lidya tengah melamun sembari tersenyum di saat membantu Lidya membuat sarapan berupa kwetiau goreng. Di tempat kerja pun sama. Bawahannya, atasannya, hingga yang berada di garis yang sama, semuanya terheran-heran dengan kelakuan Pretty beberapa hari ini. Tak hanya itu, kelakuan aneh Pretty yang menjadi tiga kali lebih sering tersenyum pada akhirnya menarik perhatian keenam teman-temannya, khususnya Shania.
Pada suatu hari, di salah satu meja yang tersedia di J-Co, sembari menunggu yang lainnya datang, Shania menanyakan sesuatu kepada Pretty. Tanya Shania, "Gue heran sama lu, Pretty."
"Heran kenapa?" tanya Pretty sembari menyesap minumannya, Matcha Latte.
"Akhir-akhir sering bengong, terus senyum-senyum sendiri. Kayak orang lagi jatuh cinta aja."
Pretty hanya "hehehe".
"Gue juga baru sadar, sejak Aji nongol setelah sekian tahun menghilang begitu aja, semenjak itulah, kelakuan aneh lu muncul."
Pretty hanya nyengir. Sekonyong-konyong ponsel Pretty yang tengah di-charge bergetar pertanda ada sebuah pesan masuk. Layar ponsel Pretty sontak menjadi perhatian kedua mata Shania. Sebab gambar yang menjadi wallpaper-nya adalah foto Aji. Shania langsung terbatuk-batuk, yang nyaris tersedak.
"Sejak kapan?" tanya Shania mengernyitkan dahi.
"Apanya?" tanya balik Pretty.
__ADS_1
"Wallpaper lu itu, sejak kapan?"
"Hmmm..." Pretty nyengir, lalu tertawa.
"Cengar-cengir aja. Orang nanya dijawab, lah. Oh iya, gue jadi teringat kecurigaan kita dulu ke lu. Dulu, kalau nggak salah, Anin pernah curiga sempat terjadi sesuatu antara lu dan Aji. Terus apa bener yang dibilang Aya, lu sama Aji sempat berciuman bibir?" Shania mulai menginterogasi Pretty dengan beberapa pertanyaan.
Kepala Pretty sontak tertunduk dan kembali meminun Matcha Latte tersebut. Pretty menggigit bibir bawahnya saking malunya. Seharusnyakah Pretty menceritakan hal yang sebenarnya kepada Shania, yang bahkan termasuk kejadian aneh bin ajaib yang menimpa Pretty? Itu, loh, satu kejadian yang belum terpecahkan di saat Pretty dan Aji melakukan hubungan layaknya pasangan suami-istri.
"Wah, kayaknya bener nih kecurigaan kita, udah terjadi sesuatu. Jawab jujur aja, udah ngapain aja lu sama Aji?" desak Shania antara nyengir dan melotot.
"Hehehe..."
"Eh, gue ke toilet dulu, yah. Kebelet."
Di saat Pretty bangkit berdiri, Anin datang bersama-sama dengan Tasya yang asyik mendengarkan lagu sembari kepalanya mengangguk-angguk seperti seorang disk-jockey.
"Pretty kenapa lagi, tuh?" tanya Anin penasaran.
"Biasalah, Nin, ada yang disembunyikan dari kita-kita. Kayaknya kecurigaan kita saat itu ada benernya." ujar Shania makin mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Kecurigaan yang mana?" tanya Anin makin bingung.
Shania hanya bisa mendesah. Akan tetapi, Shania maklum. Bukankah Aji selama sekian tahun menghilang dari kehidupan ketujuh gadis? Mereka bertujuh juga belum berhasil mengorek mengenai identitas sebenarnya Aji. Bagi ketujuh gadis, Aji itu bagaikan Tuksedo Bertopeng yang kemunculannya tidak pernah ada yang mengetahui secara pasti.
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.
...Untuk pemesanan:...
...Nuel Lubis...
...📱 My Whatsapp (0877-9175-6320)...
...📩 immanuel.lubis@gmail.com...
...Link Registrasi HDI: https://www.hdione.com/orl/nuellubis...
__ADS_1