
Langit sudah mulai menggelap. Hitam pekat, dan tersisa hanyalah hamparan bintang yang mengelilingi bulan. Malam ini bulannya merupakan bulan purnama. Indah sekali. Aji lupa kapan kali terakhir ia melihat bulan purnama. Yang Aji ingat, itu mungkin saat badannya masih lebih kecil dari sekarang.
Aji menatap bulan purnama sembari membayangkan wajah seseorang. Seorang gadis tentu saja. Gadis ini, menurut Aji, sangat istimewa. Gadis yang mengajarkan banyak hal kepada Aji dengan penuh kesabaran. Gadis itu pula yang menyelamatkan Aji dari kematian melalui suara si gadis yang merdu. Seraya tersenyum, Aji mendesiskan nama pertama si gadis, "Pretty,"
Aji sangka tak ada yang mendengarnya. Ternyata Slamet mendengar desisan Aji tersebut. Aji seharusnya jangan takut. Mungkin Slamet mengira Aji tengah mengagumi bulan purnama tersebut, yang saking mengagumi, Aji malah berkata, "Pretty".
" Memang indah bulannya, Kawan," Slamet memandangi langit yang sama. "Oh iya, aku lupa bertanya, pakaianmu tampak bagus, apa kamu datang dari kehidupan dengan peradaban yang lebih maju? Maksudku, apa di duniamu, orang-orangnya hidup dimanjakan oleh teknologi?"
Elkann perlahan mendekat dan sepertinya tertarik dengan obrolan Aji dan Slamet. Utomo pun sama.
Aji bingung dan menggeleng. "Entahlah, Kawan. Ceritanya panjang dan rumit. Aku seperti seekor katak saja yang hidupnya berpindah-pindah dengan cara meloncat-loncat. Kalian pasti tak akan percaya dengan ceritaku. Terlalu aneh dan tidak masuk akal."
"Cerita sajalah, Kawan," Elkann menepuk punggung Aji dengan pelan. Lebih ke arah memijat, bukannya memukul.
"Tidak akan ada seorang pun di sini yang akan mengejek kamu. Kita bertiga juga memiliki pengalaman-pengalaman aneh bin ajaib." timpal Utomo tersenyum.
"Kamu punya pacar?" tanya Slamet yang mendadak membelokkan arah pembicaraan.
Aji kaget. Bibir Aji membentuk huruf O. Apa terlihat di mata Aji bahwa ia memiliki seseorang yang tengah dipikirkan dan dicemaskan? Apa mungkin Slamet sudah tahu bahwa Pretty itu sebenarnya nama perempuan?
Aji mengangkat bahu. "Entahlah. Aku tidak tahu apakah aku bisa menyebut gadis itu pacarku. Aku belum pernah menyatakan perasaan ke dia. Aku juga tidak tahu jika seandainya dia memiliki perasaan yang sama dengan aku."
Utomo nyengir. "Dilihat dari perjuanganmu hingga sekarang, aku bisa membaca perasaanmu dibalas. Jika tidak bisa disebut pacar, dia mungkin seseorang yang sangat spesial untuk kamu, Aji. Atau, kamu bisa menyebut gadis itu belahan jiwamu. Jangan disia-siakan keberadaan orang seperti itu."
Aji hanya mengangguk, lalu memandangi bulan purnama lagi. Dalam hati, Aji mengucapkan permohonan agar ia diberikan kesempatan untuk menyatakan perasaannya langsung kepada Pretty. Aji juga hendak memastikan bahwa kata-kata 'I love you' itu memang ditujukan kepada dirinya.
__ADS_1
"Tidurlah," ujar Slamet yang ganti menepuk pelan punggung Aji. "Aku tahu kamu tengah berdoa tadi. Kudoakan, apa yang kamu doakan dengan amat segera terwujud. Oh iya, Aji, kamu terbiasa tidur di atas rumput? Karena pakaianmu terlalu bagus untuk dibuat tidur di atas rumput."
"Baju ini juga pemberian gadis itu," ucap Aji tersenyum dengan kedua mata berkaca-kaca.
Utomo tertawa.
Elkann pun tertawa.
Bahkan Slamet juga ikut tertawa.
Entah bagaimana caranya, memang dunia ini penuh dengan hal-hal ajaib juga, dari tawa menjadi mengantuk. Keempat pemuda itu jatuh ke alam mimpi.
.
..
Aji kaget. Ternyata Aji berpindah tempat lagi. Kali ini sepertinya Aji berada di kamar Pretty. Aji pernah masuk ke dalam kamar Pretty. Itulah sebabnya Aji tahu ia tengah berada di dalam kamar Pretty. Bukti paling meyakinkan lagi, suara teriakan Pretty. Pretty lalu mendorong Aji ke bawah tempat tidur. Aji mengaduh kesakitan.
"Ya ampun, kamu ke mana selama ini, Aji? Aku kangen sama kamu." Pretty segera bangkit dan menghampiri Aji yang duduk di atas lantai.
"Kamu kangen aku?" tanya Aji sumringah.
Pretty menggigit bibir bawahnya. "Eh, kamu ngumpet dulu. Nggak enak kalau ketahuan Mommy."
Aji tergesa-gesa dibawa masuk ke dalam lemari. Di dalam lemari, Aji tersenyum bahagia. Mungkinkah Aji akhirnya mendapatkan balasan langsung dari Pretty?
__ADS_1
Dari balik pintu kamar, Lidya menyahut, "Darling, what happened?"
"Nope, I am very okay. I was just in a bad dream already."
"Oh, I guess someone just assaulted you."
Keributan berhasil ditenangkan Pretty. Lidya dan anggota keluarga lainnya memilih untuk kembali ke ruangan masing-masing. Pretty langsung menyuruh Aji untuk keluar dari lemari. Aji bergegas duduk di atas tempat tidur. Sambil berdiri, Pretty menggeleng-gelengkan kepala ke arah Aji.
Aji hanya nyengir.
"Aji, kenapa sih kamu harus kayak jelangkung? Datang nggak diundang, pulang nggak dianter? Paginya nanti gimana? Kamu itu gemesin banget. Bikin kesel aja, tapi aku bahkan ga pernah bisa marah sama kamu." ucap Pretty merepet.
Aji makin sumringah, lalu segera bangkit berdiri untuk memeluk Pretty. Semoga saja asumsi Aji tidak salah. Jika sampai salah, Aji benar-benar malu sekali. Bisik Aji di telinga Pretty, "Aku sangat menyukai dan menyayangimu, Pretty."
Sekonyong-konyong jantung Pretty berdebar lebih cepat dari biasanya. Pretty bahkan tak kuasa untuk menolak dicium oleh Aji. Inilah ciuman kedua Pretty dan Aji. Sungguh sukarela dan berdasarkan suka sama suka. Balas Pretty yang juga berbisik, "Aku juga cinta sama kamu. Jangan pergi lagi."
"Aku juga cinta kamu." desis Aji sambil menatap kedua mata Pretty.
Baru saja Pretty berkata seperti itu, Aji sudah menghilang lagi. Pretty jengkel, namun terasa lega. Akhirnya Pretty berani juga untuk menyatakan perasaan ke laki-laki yang ia sayangi. Dalam hati, Pretty berjanji akan selalu menjaga hatinya hanya untuk Aji yang Pretty menengarai bahwa Aji mungkin belahan jiwa dan jodoh yang dikirim Tuhan untuk dirinya.
Jangan takut, Pretty. Pertemuan selanjut kamu dan Aji tidak selama yang kamu pikirkan. Tepati janjimu. Pasti terwujud.
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.
__ADS_1