
Walau sudah berada di sekitar Pretty lumayan lama, itu tidak menjamin bahwa Aji mengenal Pretty dengan cukup baik. Tidak juga. Kedekatan kita dengan seseorang belum tentu disebabkan karena kita sering berada dengan yang bersangkutan dalam waktu yang menurut kita cukup. Tidak seperti itu juga. Itulah yang dialami oleh Aji.
Dari arah luar apotek (karena Pretty meminta Aji menunggu di dekat mobilnya), Aji memperhatikan Pretty dengan seksama. Dengan balutan pakaian yang tidak bisa dibilang mewah tersebut, Pretty masih terlihat cantik. Aji selalu menyukai penampilan Pretty yang tanpa polesan make-up dengan rambut yang tidak diikat. Itu seperti penampilan Pretty sekarang ini.
Aji tertawa tanpa suara. Napas Aji agak terengah-engah. Bergetar lagi. Tidak seperti kejadian tempo lalu, kali ini Aji menikmati sensasi ini. Terasa menyenangkan. lebih menyenangkan lagi, jika seseorang yang membuat diri kita jatuh cinta, ternyata memiliki perasaan yang sama.
__ADS_1
"Pretty, Pretty,..." desah Aji nyengir. Aji menertawakan cara berpakaian Pretty. ah, makin lama Aji makin mengenal gaya berpakaian orang-orang di era ini. Karena itulah, Aji tahu gaya berpakaian Pretty agak tak lazim. Dulu Shania pernah berkata bahwa sesuatu yang dikenakan Pretty, itu dinamakan sebagai piyama. Piyama sering dikenakan orang-orang jaman ini di kala kita hendak tidur. Aji tertawa karena fakta tersebut. Shania itu benar. Satu-dua pengunjung apotek memperhatikan penampilan Pretty, yang mereka sepakat dengan Aji, gaya berbusana Pretty sungguh nyentrik.
Akan tetapi, itulah Pretty. Aji tahu Pretty memiliki suatu dorongan untuk berpakaian sesuai keinginan hati Pretty. Apa yang dirasa Pretty cukup nyaman dan elok, pasti itulah yang akan dikenakan Pretty. Di antara Geng Tujuh Bidadari, di mata Aji, hanya Pretty yang cukup mandiri dalam hal memilih pakaian. Yang lainnya, menurut Aji, cukup rewel. Ambil contoh, Anin. Perempuan itu, entah kenapa, susah diberitahukan. Aji sudah bilang dress yang itu sudah cukup cocok dikenakan oleh Anin, Anin malah meminta saran lagi dari Aya, yang mana Aya mengatakan saran yang sama. Sementara itu, Pretty itu berbeda. Pretty tidak membutuhkan saran orang lain untuk mendapatkan mana pakaian yang cocok dengan diri perempuan tersebut. Malah, dengan ajaibnya, begitu Pretty kenakan, seperti sebuah virus penyakit, cara berpakaian Pretty langsung ditiru oleh beberapa orang di sekitar Pretty. Dengan jujur mereka berkata bahwa dress-nya bagus, lah. Heel-nya imut, lah. Bahkan sampai ada yang bertanya langsung di mana Pretty membeli tas bertuliskan LV dengan warna yang tak biasanya tersebut.
"Aji," tegur Pretty yang sebelah tangannya memegang plastik dari apotek yang tadi dimasuki oleh Pretty.
__ADS_1
"Ketawa gitu, kenapa?" tanya Pretty ikut tertawa, meskipun Pretty sudah mengetahui alasan Aji tertawa. Dalam hati, begini mungkin alasan Pretty, barangkali Aji menertawakan piyama yang dikenakan oleh Pretty. Memang aneh, dan Pretty tak menyangkal keanehan tersebut. Akan tetapi, selama Pretty nyaman, kenapa tidak.
"Kamu selalu cantik, dan aku suka," Kata-kata meluncur deras dari bibir Aji. Sebetulnya bukan itu yang hendak diutarakan Aji. Awalnya Aji ingin bertanya kenapa Pretty suka mengenakan sesuatu yang tak lazim. Mengenakan piyama di saat keluar rumah, walau itu di atas jam tujuh malam, itu salah satunya. Pernah juga Pretty mengenakan blazer dan rok selutut saat Pretty pergi ke pasar. Itu urung diucapkan Aji, dan Aji malah mengatakan hal lain kepada Pretty. Entah kenapa mulut Aji seolah sulit mengatakan hal sebenarnya, khususnya kepada perempuan yang dicintainya.
"Makasih, Aji," ucap Pretty tersenyum dengan rona wajah yang sama dengan Aji. "Yok, masuk, aku juga udah ngantuk. Oh iya, kamu laper nggak, Ji? Aku laper, nih. Mau martabak keju, nggak?"
__ADS_1
Aji menoleh ke seberang jalan. Memang benar, di sana ada sebuah warung tenda yang menjual martabak. Menurut desas-desus yang tadi Aji dan Pretty dengar, martabak di sana cukup lezat. Sekonyong-konyong Aji menelan air liur.
"Beli martabak dulu, Aji. Aku mendadak laper." ajak Pretty yang main seret begitu saja tangan Aji.