
...ONE OK ROCK - Wherever...
...Wherever you are, I'll always make you smile...
...Wherever you are, I'm always by your side...
...Whatever you say, kimi wo omou kimochi...
...Wherever you are, I'll never make you cry...
...Wherever you are, I'll never say good bye...
...Whatever you say, kimi wo omou kimochi...
❤ ---------- ❤ ---------- ❤ ---------- ❤ ----------- ❤
Tujuh gadis kali ini berkumpul di J-Co (yang mana bagian mentraktir tetaplah Pretty). Mereka membahas tentang Aji yang menghilang mendadak dari hadapan mereka. Awalnya, yang pertama sadar bahwa Aji menghilang adalah Salman. Salman memberitahukan sepupunya. Entah kenapa juga Shania kebakaran jenggot saat memberitahukan teman-temannya.
"Ya sudah, teman-teman," Febe yang selama ini lebih sering diam dan mengamati, memulai pembicaraan. Mata teman-temannya langsung menoleh ke arah Febe. "tidak usah panik begitu. Aji juga bukan siapa-siapa kita. Dia hanya orang asing yang mendadak muncul, mendadak hilang. Lagipula, caranya kita mencari Aji gimana? Kita semua di sini tahu Aji tidak punya KTP. Bisa berbulan-bulan menemukan Aji. Mungkin ini yang terbaik."
__ADS_1
Anin mengangguk-angguk, menyesap cappucino pesanannya. "Yang dibilang Febe, bener sih. Caranya cari Aji gimana? Dan, yang tahu Aji cuma kita-kita aja,--"
"--jangan lupain Salman," timpal Shania meluruskan. Shania terlihat tegang dan menyimpan sesuatu hal karena kepergian Aji. Apa ini disebutnya? Sebab, disebut akrab dengan Aji, tidak juga. Akan tetapi, dalam diri Shania, Shania seperti belum bisa menerima fakta Aji yang hilang bagaikan ditelan angin. Rindukah? Merasa kehilangankah? Dua rasa yang bercampur menjadi satu. Atau, mungkin ada suatu rasa yang dirasakan Shania, dan Shania sendiri sulit untuk menyatakan apa itu.
"--iya, sama sepupu lu, Shan," ujar Anin mencomot satu donat bertabur serpihan-serpihan Oreo. "apa kita ikhlaskan Aji aja?"
Pretty tetap tertunduk dan sesekali menyesap frappe pesanannya. Pretty yang biasanya bawel, sekonyong-konyong berubah menjadi sosok pendiam yang malah jauh lebih pendiam dari orang-orang pendiam umumnya. Di pikiran Pretty, masih terbayang-bayang serentetan momen antara ia dan Aji. Mungkin terasa sepele, namun tidak untuk Pretty. Belum lagi, momen ciuman pertama itu sulit dilupakan oleh Pretty. Aji merupakan laki-laki pertama yang mencuri ciuman pertamanya.
Sementara itu, Tasya juga ikut angkat bicara. "Jujur, Febe benar. Apa kita ikhlasin aja? Kita mau cari ke mana? Gimana caranya? KTP aja, Aji gak punya. Masukin ke apartemen, kita juga nyogok pengelola apartemen. Kalau nggak, Aji udah luntang-lantung kayak gelandangan di pinggir jalan."
Mareta menyesap dulu frappe sebelum ikut berbicara, "Gue mendadak keinget kata-kata Shania waktu itu, Guys. Mungkin Aji bukan orang baik-baik. Bisa jadi dia buronan polisi."
Anin yang membalas, "Pretty, lu kenapa? Dari tadi lu diem mulu, eh malah bentak-bentak Mareta. Kesambet lu? Nggak ada angin, nggak ada badai, ngamuk-ngamuk sendiri."
"Itu kan baru asumsi gue, Pretty," ucap Mareta yang agak tersinggung dengan sikap Pretty tadi.
"Asumsinya mikir dulu kenapa? Asbun lu dasar!" damprat Pretty dengan mata yang sepertinya keluar nyala api.
"Dih, kenapa lagi nih anak?" Mareta menggeleng-gelengkan kepala. "Lu sehat, kan, Pretty?"
__ADS_1
"Pretty, ada apa sih sama lu?" tanya Shania sedikit curiga. "Apa sudah terjadi sesuatu antara lu dan Aji?"
Pretty tidak menggubris dan melengos begitu saja. Entah apa teman-temannya bisa mendengar atau tidak, air mata mulai keluar dari pelupuk mata Pretty. Pretty berjalan menuju parkiran mobil sembari menangis. Yang sambil tersedu sedan, bayangan wajah Aji terus terbayang di kepala Pretty. Di dalam mobil sedannya, sebelum menyetarter mobil, Pretty terus menerus menangis. Beberapa kali Pretty menyebutkan nama Aji.
Mesin mobil dinyalakan. Pretty lalu menyalakan radio dan menyetel sebuah lagu (yang berikutnya Pretty pun terjun dalam lautan air mata), berikutnya memasukkan kopling, untuk meninggalkan teman-temannya di J-Co tanpa pemberitahuan.
...Boyzone - No Matter What...
...I can't deny what I believe...
...I can't be what I'm not...
...I know, I know...
...I know this love's forever...
...That's all that matters now...
...No matter what...
__ADS_1
Terima kasih yang sudah membaca PETUALANGAN AJI DI MASA DEPAN. Jangan lupa like, vote, dan share-nya. Jangan lupa juga ide-idenya untuk pengembangan ceritanya. Bagaimanapun Author juga manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan. Hehe.