
“Apakah kalian pikir kalian bisa berhasil membuat kecurangan padaku dengan cara seperti itu?” Sambil mencengkram leher Tetua Pertama di lengannya, Yun Tian memandang ketiga juri atau ketiga tetua itu dengan dingin.
Ketiga tetua tersebut hanya menundukkan kepalanya dengan ekspresi menyesal dan tidak beranie jawab pertanyaan Yun Tian.
“Kalian memiliki tujuan menipu Indra penciumanku dengan cara melapisi pewangi Melati ke Tulang Binantang Iblis Serigala Perak itu bukan?”
Semakin banyak Yun Tian berbicara, semakin terkejut semua orang mendengarnya, mereka menatap ekspresi ketiga tetua yang hanya menundukkan kepalanya dengan bingung.
Hanya dengan melihat ekspresi mereka bertiga. Sudah jelas terlihat bahwa mereka tidak berani menjawab yang secara tidak langsung mereka mengakuinya, namun tetap saja hal yang membuat semua orang menjadi bingung yaitu bagaimana Yun Tian berhasil menebak benda yang ada di dalam piring terakhir dengan benar?
Melihat ekspresi bertanya semua orang, Yun Tian menjelaskan, “Bunga Melati sendiri adalah tanaman yang tidak bisa hidup atau dipetik dengan jangka waktu lebih dari satu hari. Jadi aku merasakan kecil kemungkinan untuk membenarkan bahwa isi didalamnya adalah Bunga Melati. Saat aku meningkatkan Indra penciumanku aku merasakan bahwa terdapat aroma Binatang Iblis Serigala Perak yang baunya tercium samar. Dengan cara ini aku berhasil menebaknya dengan benar.”
Segera semua orang mengangguk mengerti dan sekaligus kagum akan ketelitian yang dimiliki Yun Tian.
“Para tetua! Kalian! Mengapa kalian melakukan kecurangan?! Kalian sama buruknya seperti Tetua Pertama!” ucap Lan Ruo berkata dengan penuh emosi.
Semua orang segera mengalihkan pandangannya kepada Tetua Pertama dan ketiga tetua lainnya yang menjadi juri, dan sedikit menghela nafas akan nasib kemalangan yang ditimpa mereka.
Patriak Lan Qinchen berdiri dari kursinya, berjalan dua langkah kedepan, dia menunjuk ketiga orang tersebut dan berteriak.
“Tetua Kedua, ketiga, dan kelima! Kalian benar - benar berani melakukan kecurangan?! Bukan hanya itu... Apakah kalian juga memiliki motif untuk menyingkirkan posisiku sebagai Patriak Keluarga?!”
Segera setelah Lan Qinchen mengatakan ini, Ketiga orang tersebut tidak sanggup menahan kecemasan dan kegugupan mereka lagi.
Mereka bertiga menundukkan kepalanya saat ditatap oleh mata tajam Yun Tian dan Lan Qinchen bersamaan, sehingga membuat mereka bertekuk lutut dan memohon pengampunan.
“Maafkan kami Patriak... Tuan Muda Yun Tian, dan Nona Muda Lan. Kami tidak bermaksud untuk melakukan hal itu sama sekali...” ucap Tetua Kedua sambil meringis meminta pengampunan.
“Iya benar, kami hanya mengikuti perintah dari Tetua Pertama. Kami berjanji tidak akan mengulangi hal itu kembali..” lanjut tetua ketiga dan kelima secara serempak.
__ADS_1
“Apakah hanya dengan memohon pengampunan dan meminta maaf cukup untuk mengampuni kalian?! Kalian memiliki motif buruk terhadapku dan putriku, apakah kau pikir aku akan tinggal diam?! Kalian jelas - jelas harus diberi hukum!” Patriak Lan Qinchen mengepalkan tangannya dengan keras saat dia menolak permintaan maaf dari ketiga tetua tersebut.
“Kau benar Patriak Lan, orang tua licik seperti mereka harus diberi hukuman dengan cara memotong salah satu lengan mereka masing - masing. Mereka hanya peduli kepada diri sendiri dan tidak setia terhadap Keluarganya.” Yun Tian di depan berkata dengan nada dingin saat menatap ketiga tetua tersebut dengan acuh tak acuh.
Keringat dingin muncul di dahi ketiga tetua saat mendengar hukuman yang akan didapatkan.
Yun Tian mengalihkan pandangannya ke pada Lan Ruo sebelum berkata, “Lan Ruo, aku akan mengurus Tetua Pertama, ketiga tetua tersebut akan kuserahkan kepadamu dan potong salah satu lengan mereka dengan cepat.”
Lan Ruo sedikit tidak bisa bereaksi setelah mendengar perkataan Yun Tian yang menyuruhnya langsung untuk memotong lengan ketiga tetua tersebut.
Dia dengan gugup berjalan ke arah tiga tetua itu, dan secara tidak sengaja mengambil pedang panjang yang muncul dari cincin penyimpanannya.
Dengan lengannya yang sedikit bergetar, dia berhenti dengan ekspresi tanpa daya. Matanya berkedip selama beberapa saat, dia menggelengkan kepadanya sebelum berkata.
“Maaf, Aku tidak bisa melakukannya... Aku belum pernah memotong lengan manusia sebelumnya. Karena mereka bertiga dulunya adalah paman - paman ku yang baik, jadi... aku akan mengampuni mereka, dan biarkanlah hal - hal yang sebelumnya berlalu. Itu tidak sepenuhnya salah mereka, ini semua adalah salah Tetua Pertam-”
Kata - kata Yun Tian sangat keras dan tegas, sangat berbeda dari sebelumnya yang tampak dingin namun lembut.
Bibir Lan Ruo sedikit bergetar, dia perlahan maju dua langkah sebelum berhenti lagi.
“Apa yang kau takutkan Lan Ruo? Apakah kau takut darah? Jika kau takut darah maka menyerahlah untuk menjadi tabib yang hebat. Profesi tabib tidak cocok untuk seseorang yang gadis yang takut dengan darah. Tugas tabib sendiri adalah berspecialisasi dengan mengobati seseorang yang juga termasuk dalam kategori darah. Jika kau takut dengan darah, maka kamu hanyalah itu...”
Kata - kata yang diucapkan Yun Tian langsung menusuk hati dada milik Lan Ruo.
Lan Ruo dengan penuh tekad bergerak ke arah Ketiga Tetua tersebut, sambil mengepalkan kedua tangannya ke pedang dengan kencang.
Dia berhenti tepat di depan mereka, lalu mengangkat pedangnya keatas dan mengayunkannya dengan cepat.
”Hyaa...!”
__ADS_1
Swing!
“Aahh!”
Ditemani oleh suara jeritan kesakitan, akhirnya ketiga lengan mereka masing - masing terpotong oleh pedang milik Lan Ruo.
Lan Qinchen dari awal tidak menghentikan tindakan yang Yun Tian lakukan untuk Lan Ruo. Dia sendiri mengerti bahwa hal ini bukan hanya untuk menghukum ketiga tetua itu, tetapi juga untuk perkembangan putrinya sendiri.
Lan Ruo menatap ketiga orang yang masing - masing dari mereka menjerit kesakitan karena kehilangan salah satu lengan.
“Aku... aku berhasil?”
Karena tekanan darah yang tinggi dan rasa gugup sebelumnya, Lan Ruo merasa sedikit pusing dan pandangannya sedikit kabur. Dia akhirnya pingsan dan terjatuh ke lantai.
Sebelum dia terjatuh, Lan Qinchen segera bergegas menuju ke arahnya, dengan cepat dia menopang tubuh putrinya.
Melihat putrinya yang kehilangan kesadaran, dia sedikit tersenyum dan berkata, “Kau sudah dewasa... Ruo'er.”
Yun Tian memandangi mereka berdua dari depan, dia sedikit tersenyum sebelum senyumannya berubah menjadi tatapan dingin saat dia menatap ke arah Tetua Pertama yang berada di cengkeramannya.
”Sekarang giliranmu, orang tua licik.”
Yuk bantuin authornya supaya rajin upload.
Caranya gampang! kalian tinggal like, vote dan rate bintang 5.
Jangan cuma baca doang tapi ga di like sama vote. Nanti authornya bakal nge down dan jadi males up. 👍🏻
Bagi yang udah Vote dan Like Terimakasih ya... Semoga rejekinya lancar.
__ADS_1