
“Menang atau kalah adalah hal yang tidak penting! Sebagai Tetua Pertama dari Keluarga Yun aku akan menyerahkan seluruh hidupku untuk melindungi Keluarga ini!” Tetua pertama masih berkata dengan keras kepala, tetapi apa yang dia katakan tampak mengandung tekad yang luar biasa.
Melihatnya seperti itu, Yun Mu Rong hanya bisa menghembuskan nafasnya keluar, lalu ekspresi kesedihan jelas tercetak di wajahnya.
Melihat wajah Yun Mu Rong yang tampak sedih, Tetua Pertama tersenyum lembut dia menatap keponakannya dan berkata, “Maafkan aku Rong'er... Bahkan jika kamu berkata seperti itu kepada Patriak, maka dia akan mengatakan hal yang sama.”
“Hehehe... Kau benar! Tetapi tampaknya Patriak yang kau sebutkan telah tiada.”
Tiba - tiba terdengar suara ejekan dari arah belakang mereka berdua.
Mereka berdua langsung mengalihkan pandangannya ke belakang tepatnya ke orang yang baru saja berbicara.
Setelah melihat orang itu tatapan mereka langsung membeku sejenak, yang membuat mereka berdua menjadi semakin terkejut adalah kepala dari seseorang yang ada di tangannya.
Melihat wajah dari kepala di tangan orang itu, Yun Mu Rong merasa familiar dan dia akhirnya tersadar akan siapa pemilik dari kepala itu.
“Ayah!!”
“Patriak!!”
Yun Mu Rong dan Tentu Pertama berteriak secara serempak setelah berhasil menebak pemilik dari kepala orang itu.
“T-tidak mungkin... Ayah... Bagaimana bisa....” Mata Yun Mu Rong penuh air mata saat dia bergumam sedih melihat kepada dari ayahnya sendiri Patriak Yun Mu Bai.
Tetua Pertama sama sedihnya saat melihat kepala dari Patriak Keluarga Yun nya yang telah di penggal dan di pegang oleh pria di depannya.
“Hahahaha... Teruslah menangis! Ini adalah dendam dari diriku sendiri terhadap putraku yang telah mati oleh tangan jenius kecil Keluarga Yun kalian! Yun Tian!” Orang itu tertawa dengan kejam saat menatap ekspresi sedih mereka berdua.
__ADS_1
Yun Mu Rong tidak bisa menahan amarahnya lagi, saat emosinya meluap dan dia berkata, “Anda...! Leng Nanfeng!! Bukan hanya membunuh ayahku saja, tetapi kau bahkan menyangkut pautkan kematian putraku dengan Keluarga Yun ini?! Apakah kau tidak memiliki hati?!”
Leng Nanfeng menundukkan kepalanya sebentar sebelum terkekeh, “Hati katamu? Hehehe Yun Mu Rong... Delapan belas tahun yang lalu, kamu yang empat tahun lebih muda dariku sebelumnya pernah mengalahkanku sebagai jenius nomor satu di seluruh daerah belasan kota kecil ini. Aku ingat saat itu kita sama - sama berada di ranah Origin Realm tingkat dua bukan?”
Yun Mu Rong hanya menatapnya dengan penuh amarah dan dia tidak menanggapi kata - kata dari Leng Nanfeng.
“Tentu saja, kau pasti mengingatnya... Hari itu adalah hari pertama aku kalah! Setelah kekalahan itu julukanku sebagai jenius pertama di seluruh daerah belasan kota kecil ini digantikan olehmu! Sikap orang - orang saat itu benar - benar berubah! Bahkan kecepatan Kultivasiku menurun! Jika aku masih memiliki kecepatan kultivasi seperti dulu... Maka Kultivasi yang ku miliki sekarang sudah mencapai Nescent Soul puncak! Karena dirimulah sekarang aku hanya berada di Nescent Soul tahap pertama! Aku selalu menyimpan dendam yang besar kepadamu Yun Mu Rong!” ucap Leng Nanfeng dia menatap ke arah Yun Mu Rong dengan tatapan penuh dengan niat membunuh yang besar.
“Hanya karena itu, kamu membantai seluruh Keluarga Yun kami?!” Yun Mu Rong berkata balik dengan penuh amarah.
“ ‘Hanya karena itu’ kau bilang?! Kesengsaraan ku! Belum lagi hal yang sama terjadi terhadap putraku! Itu juga dibunuh oleh putramu Yun Tian!! Berani - beraninya kau bilang hanya karena itu?!” Leng Nanfeng berteriak saat urat di dahinya menonjol keluar dan menatap ke arah Yun Mu Rong sama marahnya.
Yun Mu Rong tetap tidak bergeming, dia berkata, ”Putraku membunuh putramu pasti karena ada dasar atau alasan yang penting! Aku percaya pada putraku sendiri... Tidak mungkin baginya membunuh orang tanpa alasan!”
“Hentikan omong kosongmu itu!” Leng Nanfeng berteriak dan membantah kata - kata Yun Mu Rong, dia segera menatap kesekeliling tubuh wanita itu, “Sekarang... Tampaknya Kultivasimu tidak berkembang banyak, hehehe aku dengar kau mengalami depresi yang berat karena ditinggalkan suamimu bukan? Maka aku akan memuaskanmu terlebih dahulu supaya kau bisa mati dengan kenikmatan.”
“Kau!” Yun Mu Rong menggenggam tangannya dengan kesal setelah mendengar perkataannya.
Dia benar - benar ingin melawan Leng Nanfeng dan membunuhnya, tetapi dengan kekuatan yang dia miliki, mustahil baginya untuk menang. Satu - satunya pilihan adalah berlindung dan lari dari pria itu.
Leng Nanfeng melihat sekeliling sebelum akhirnya matanya tertuju ke salah satu pohon di samping.
Yun Jiang yang berada di belakang pohon merasa bahwa Leng Nanfeng menatap ke arahnya, dia segera membalikkan badan dan bersembunyi.
“Tidak mungkin... Apakah dia menemukanku?” pikirnya dengan penuh gelisah.
Tiba - tiba, sesuai yang dia pikirkan, Leng Nanfeng melambaikan tangannya ke arah pohon itu dan langsung menembak Qi Spirtual miliknya ke pohon tersebut.
__ADS_1
Boom!
Pohon itu langsung terbelah dua dan jatuh ke tanah, dia berkata sambil tersenyum, “Sepertinya masih ada orang yang sembunyi disini...”
Sosok Yun Jiang akhirnya keluar dari bayang - bayang pohon dan dia perlahan berjalan dengan tatapan ketakutan dan gelisah.
Melihat sosok orang yang bersembunyi dan keluar dari balik pohon itu, Ekspresi wajah tetua pertama segera membeku saat dia berteriak, “Jiang'er?!”
“Yun Jiang? Bagaimana dia bisa...” Yun Mu Rong juga sama terkejutnya, yang dia tahu bahwa Yun Jiang saat ini sedang berlatih di salah satu Sekte Kelas Tiga.
Leng Nanfeng menatap ke arah sosok Yun Jiang dengan seringai liciknya saat dia berkata, “Oh-oh-oh... Aku tidak menyangka akan menemukan sosok yang cukup menarik disini.”
Leng Nanfeng sendiri mengenal sosok Yun Jiang ini, sebelumnya dia pernah melihat Yun Jiang dari Seleksi Sky Sword Sect yang lalu.
Merasakan tingkat Kultivasi dari Yun Jiang yang telah berkembang hingga Origin Realm tingkat pertama dari Body Tempering tingkat delapan hanya dalam beberapa bulan membuatnya merasa terkejut.
Dia merasa senang bisa menemukan dan membunuh salah satu jenius Keluarga Yun yang lain.
“Kau... Jiang'er! Kenapa kau datang di waktu yang tidak tepat...” Tetua Pertama berkata dengan penuh kegelisahan dan dia merasa keberuntungannya sangat buruk.
Yun Jiang hanya bisa menundukkan kepalanya dengan pasrah dan panik lalu dia berkata, “Maafkan aku kakek... Tetapi jika kakek mati, maka aku juga akan siap mati mengorbankan nyawaku!”
Yuk bantuin authornya supaya rajin upload.
Caranya gampang! kalian tinggal like, vote dan rate bintang 5.
Jangan cuma baca doang tapi ga di like sama vote. Nanti authornya bakal nge down dan jadi males up. 👍🏻
__ADS_1
Bagi yang udah Vote dan Like Terimakasih ya... Semoga rejekinya lancar.