
Namun tampaknya, Tetua ketiga dan kelima sepertinya sudah mengerti tindakannya sejak lama.
“Mencoba melarikan diri?Hehe... Sejak kau keluar, jangan berpikir kau bisa kembali masuk ke dalam Formasi Pelindung.” ucap tetua ketiga sambil tertawa kejam.
Kedua tangannya langsung disatukan, dan angin yang kencang tampak terus berputar dalam genggaman kedua lengannya.
“Wind Spirit Ball!”
Bola angin yang seukuran kepala muncul di kedua telapak tangannya.
Tetua ketiga melompat dengan keras dan menerjang menuju Feng Luansan sambil melemparkan bola angin atau 'Wind Spirit Ball' di udara.
Feng Luansan mencoba bergerak untuk menghindari serangan itu, namun tampaknya bola angin itu lebih cepat, dan dia akhirnya terkena serangan bola angin milik tetua ketiga.
Boom!
Terlempar puluhan meter jauhnya, Feng Luansan terluka cukup parah akibat serangan bola angin itu.
Pada saat ini, tawa liar dan kejam terdengar dari belakang punggungnya.
“Hahahaha... Bagus sekali... Bagus! Aku memang tidak sia - sia telah menunggu selama satu bulan, sekarang saatnya untuk memanen harta!”
Suara itu membuat, hati Feng Luansan gelisah, karena ini jelas - jelas suara milik tetua ketiga.
Saat suaranya memudar perlahan, tiba - tiba hembusan angin yang kencang datang, suara itu berasal dari bola angin lagi. Dalam sekejap bola angin itu sudah berada di tepat belakangnya.
Feng Luansan tidak punya kesempatan untuk menghindar, dan bahkan tidak punya kesempatan untuk menahannya juga.
Dia hanya bisa pasrah saat bola angin itu mengenai punggungnya.
Boom!
Poof!
Terkena serangan bola angin kedua kalinya, kali Feng Luansan benar - benar kehabisan energi, dalam kondisi terluka parah, bagaimana mungkin dia bisa menahan serangan bola angin yang datang untuk kedua kalinya.
Tubuhnya yang lemas dan pucat langsung tertiup angin dan seteguk darah besar keluar dari mulutnya.
Tetua ketiga mendekat selangkah demi selangkah, dan tertawa sambil menyeringai, terlihat cukup menyeramkan.
“Hehe... Feng Luansan, sepertinya kau tidak bisa kabur lagi kali ini. Dengan patuh cepat beritahu dan berikan harta tersembunyi Clanmu kepada Three Star Palace kami. Jika tidak... mungkin kamu akan memiliki rasa sakit yang menyakitkan sebelum kematian mu tiba.”
__ADS_1
Feng Luansan berdiri di tanah dengan susah payah, sekarang hatinya benar benar suram dan dipenuhi rasa kesedihan.
Dia tidak pernah berpikir, bahwa akan menghadapi kemalangan yang seperti ini, kondisinya dan Clan nya sudah di ambang batas kehancuran akibat Three Star Palace.
Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Sambil menempatkan pedang merahnya di kedua lengannya, dia sudah bersiap untuk menghadapi perjuangan hidup dan mati.
“Tsk, sungguh orang yang sulit retak!” Tetua kelima yang berada di sebelah tetua ketiga mendengus dingin.
Dia meremas janggut di dagunya secara perlahan, dan matanya penuh dengan rasa berbahaya yang membara saat dia mendekati Feng Luansan perlahan.
“Sepertinya kau tidak akan patuh, kecuali kami berdua menyiksamu terlebih dahulu. Saat waktunya tiba, semua orang Phoenix Clan juga akan mati dalam keadaan yang menyedihkan.” ucap tetua kelima dengan nada sarkastik.
Semua anggota Three Star Palace tertawa kejam, mereka semua hanyalah hewan liar yang serakah dan hanya rakus pada harta.
Tetua kelima bergerak lebih dulu untuk maju, sambil melintas dengan cepat, dia mengambil sabit di tangannya dan mengayunkannya ke Feng Luansan secara horizontal.
Ding!
Clang!
Clang!
Feng Luansan menggertakan giginya dengan keras sambil memblokir serangan - serangan Tetua kelima dengan segenap kekuatannya.
Akhirnya untuk tangkisan terakhir, dia langsung terlempar jauh ke tanah, dan pedang merah yang dia pegang juga tertiup jauh.
“Hehehehe...” Tetua ketiga yang berada dibelakang tetua kelima, juga menghampirinya dengan cepat.
Sambil tertawa kejam, dia bersiap untuk menyiksa Feng Luansan sekejam - kejamnya.
Screeee~
Tiba - tiba suara jeritan Phoenix terdengar dengan keras hingga menusuk telinga semua anggota Phoenix Clan. Mereka semua secara serempak menutup telinga mereka yang berdengung.
Seluruh tubuh Tetua ketiga juga tampak kaku dan dia menghentikan gerakannya untuk melihat ke arah sumber suara Phoenix itu.
Sebelum dia bahkan bisa bereaksi, dia melihat sosok putih keperakan menyala bersinar terang dengan api merah disekitarnya.
Sosok itu menerobos keluar dar Formasi Pelindung Phoenix Clan, dan dalam kecepatan yang sangat cepat, sosok itu bergerak ke arah kelompok mereka.
Swosh!
__ADS_1
Dalam sekejap sosok mencapai tempat berkumpulnya mereka, dan dengan keras menghempaskan langsung semua orang disekitarnya dan membawa gelombang rasa panas yang dahsyat.
Sosok yang menyala itu seperti burung Phoenix kecil yang mengibarkan sayapnya sambil menari dalam angin.
Pandangan setiap orang langsung menatap ke Phoenix kecil yang bersinar cerah di langit, mereka semua tampak terkejut akan kedatangan sosok itu secara mendadak.
Boom!
Dalam sekejap sosok berbentuk Phoenix kecil itu menabrak tanah seperti komet. Tabrakan itu memicu gelombang ledakan api yang sangat kuat hingga seratus meter jauhnya.
Feng Luansan, Tetua Kelima, Tetua ketiga dan seluruh anggota Three Star Palace di dekatnya tampak terpesona oleh nyala api tersebut.
Setelah nyala api itu menabrak tanah, semua anggota Three Star Palace hampir kehilangan kesadaran mereka akibat serangan api Phoenix yang kuat itu.
Mereka semua berguling - guling di tanah sambil terus berteriak pertolongan saat mereka berusaha keras memadamkan api yang membakar tubuh mereka.
Tetua ketiga terlempar beberapa puluh meter jauhnya. Dia berdiri dengan susah payah dan menggunakan seluruh kekuatannya untuk memadamkan api yang terus membakar tubuhnya.
Setelah beberapa usaha yang keras, api ditubuhnya berhasil padam, dia dengan liar melolong ke langit, “Siapa?! Siapa yang melakukannya?!”
Tepat setelah dia berteriak, matanya tiba - tiba terkejut dan terbuka lebar.
Karena saat cahaya api merah disekitarnya memudar, dia menemukan mayat anggota - anggota Three Star Palace tak terhitung jumlahnya.
Dalam radius ledakan Api Phoenix itu, semua orang yang berada di ranah Nescent Soul telah meninggal terbakar ditempat.
Beberapa mayat terlihat mati dengan tubuh penuh luka bakr, beberapa mayat mati dengan tubuh angus atau gosong, dan bahkan terdapat beberapa yang telah hilang menjadi abu.
Mata tetua ketiga fokus ke sosok sangat tampan dengan rambut perak yang berada di samping Feng Luansan.
Sosok itu adalah orang yang baru saja membuat kerusuhan separah ini.
Sosok itu tidak lain adalah Yun Tian. Yun Tian menahan Feng Luansan di pundaknya sambil terus memeriksa kondisi tubuhnya yang tampak terluka parah, dan dia berkata,
“Sepertinya aku terlambat... Sisanya serahkan padaku, Pemimpin Feng.”
Yuk bantuin authornya supaya rajin upload.
Caranya gampang! kalian tinggal like, vote dan rate bintang 5.
Jangan cuma baca doang tapi ga di like sama vote. Nanti authornya bakal nge down dan jadi males up. 👍🏻
__ADS_1
Bagi yang udah Vote dan Like Terimakasih ya... Semoga rejekinya lancar.