Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Salman. A R.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Enggeh, Nda. Ali akan kembali besok pagi." Terang Gus Ali pada benda pipih yang menampilkan gambar Ibunya.


"Kenapa mesti menunggu besok.?"


"Mas Fikri katanya mau menikmati malam minggu di Ibu Kota." Dengan tersenyum Gus Ali menjawab kembali tanya Bundanya.


"Loh-loh, kok jadi Naufal yang kena. Padahal itu rencana kita berdua, Nda." Timpal Mas Naufal yang tidak mau kalah.


"Bunda mengerti. Mas apa besok masih mau singgah lagi ke tempat lain sebelum kembali ke rumah.?"


"Insya' Allah mboten, Nda. Tapi tidak tau Mas Fikri apa masih mau singgah ke tempat lain." Ujar Gus Ali sambil melepar pandangannya ke arah Mas Naufal.


"Harusnya iya, Nda. Tapi saya tu, Dek Ali tidak mungkin mau kalau di ajak mampir kesana." Timpal Mas Naufal.


"Ya sudah kalau tidak mau singgah kemana-mana, Bunda yang suruh kalian singgah." Ucap Bunda Ikah sambil tersenyum.


"Kemana Bunda.?" Tanya keduanya kompak.


"Kalian singgah ke Surabaya, aturkan salam Abi juga Bunda kepada Gus Nizam."


"Insya' Allah, Nda."


"Ya sudah kalian berdua hati-hati, jangan pulang larut kalau jalan-jalan. Sudah dulu Bunda sudah di tunggu Mbak Fiza. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Jawab keduanya, lantas Gus Ali memasukan ponselnya ke dalam tas kecil yang selalu akan di bawanya jika hendak bepergian.


"Ayo kita berangkat." Ujar Mas Naufal yang juga sudah siap. Lantas mereka berduapun meninggalkan kediaman Gus Hafidz setelah terlebih dahulu berpamitan tadi. Dan mobilpun sudah mulai merayap mengikuti arus ramainya Ibu Kota dengan gemerlap lampu disana-sini dari gedung-gedung tinggi yang seakan menantang langit.


"Malam mingguan juga." Kata Mas Naufal pelan dan hanya di jawab senyum tipis oleh Gus Ali.


Malam minggu ala Gus Ali dan Mas Naufal, tidak tau devinisi malam minggu menurut mereka itu apa. Tapi yang pasti, sarung, peci hitam, juga kemeja masih menjadi outfit yang menemani meraka menghabiskan malam minggu di Ibu Kota, dan tak ketinggalan juga beberapa buku juga alat tulis yang mereka bawa. Kalau di pikir mereka lebih pantes di sebut seperti Santri yang mau belajar kelompok di banding dengan pemuda yang hendak malam mingguan.


Tapi, ya itulah mereka. Dua orang yang sama-sama pecinta buku juga penikmat isi dari kitab yang mereka diskusikan. Keduanya memang sedari kecil memiliki krakter juga kesukaan yang hampir sama, dan lebih lagi jika sama Kitab, buku dan apapun itu yang berhubungan dengan membaca kedua benar-benar membuat orang di sekitarnya menggelengkan kepalanya.


Hobi, itulah alasan mereka waktu kecil saat di tanya kenapa selalu meminta hadiah buku. Tapi, sebenarnya bukan sekedar hobi saja yang membuat mereka senang sekali membaca, itu juga karena lingkungan juga sekaligus gen mereka. Mas Naufal dari Bang Hanan yang juga senang membaca, bahkan saat kecil Mas Naufal suka sekali menyusul Ayahnya saat mengajar di sekolahan dan akan menghabiskan waktunya di Perspustakaan.


Gus Ali sendiri tentu dari kedua orang tuanya dan terutama dari Bundanya. Karena Bunda Ikah jika sudah bertemu dengan buku atau kitab akan membuat Abi Farid cemburu bukan main. Meski Gus Ali dari kecil memiliki sifat yang Masya' Allah nakalnya, tapi ada satu hal yang selalunya tidak bisa di ganggu saat sedang melakukan aktifitas yakni membaca.


"Ini kayaknya oke tempatnya." Ucap Mas Naufal sembari meminggirkan mobilnya dan terlihat tidak jauh dari tempat mereka tampak sebuah bangunan dengan tiga lantai dan bagian lantai tiga yang di biarkan tanpa atap.


Bangunan dengan gaya Vintage itu langsung menyita perhatian Gus Ali yang memang seorang Arsitek. Dan masih dengan menguraikan tata serta letak bangunan beserta interior yang seharusnya berada di dalamnya, Gus Ali langsung menyetujui pilihan Mas Naufal.


Mereka masuk bersama-sama saat mobil yang mereka kendarai sudah tertata rapi di parkiran. JUWITA KUPIE DESA itulah nama dari caffe yang mereka datangi. Lataknya memang sangat strategis berada di kawasan yang memang membuat mata langsung bisa melihatnya saat baru saja keluar dari stasiun MRT. Dan juga bangunan yang terlihat mencolok dengan gaya Vintagenya jelas tidak hanya membaut kaum melenial saja yang inging mendatanginya tapi juga kaum older yang ingin menikmati suasana santai juga tenang di tengah suasana hiruk pikuk kota.


Gus Ali dan Mas Naufal terus mencari tempat yang nyaman untuk mereka berdua dan berhenti di lantai dua, dan menjatuhkan pilihan mereka pada kursi model jaman yang sudah berlapis busa, hingga terasa nyaman.

__ADS_1


Pelayan datang memberi buku menu kepada Gus Ali dan Mas Naufal saat mereka sudah duduk dengan santai, dan pelayan itu menunggu dengan setia di tengah diskusi Mas Naufal dan Gus Ali ingin menikmati apa untuk menu pembukanya.


"2 Kopi hitam Temanggung, sama Risoles Rebung Temanggung juga 2 porsi." Ucap Mas Naufal sambil memberikan buku menu kepada Pelayan yang tengah melayani mereka.


"Baik Mas. Saya ulangi lagi untuk pesanannya. 2 Kopi hitam Temanggung dan 2 porsi Risoles Rebung Temanggung." Ucap pelayan itu dengan mengulas senyumnya.


"Iya benar." Jawab Mas Naufal.


"Baik, di tunggu sebentar." Kembali Pelayan itu berucap lantas melangkah meninggalkan tempat Gus Ali juga Mas Naufal.


Sepeninggal Pelayan itu, Mas Naufal mengedarkan pandangannya ke seluruh dinding dan mendapati foto-foto beberapa bangunan yang kemungkinan adalah metamorfosa dari bangunan ini.


"Ini lumayan keren Dek. Coba lihat." Ucap Mas Naufal sembari menunjuk sebuah bingaki foto yang memperlihatkan seorang paruh baya dengan kebaya khas Temanggung sedang menuang air panas dari termos guna untuk menyeduh kopi. Dan di sampingnya berjajar juga foto-foto orang menyeduh kopi dengan cara yang berbeda hingga ke yang paling modern yakni di foto yang ke 4.


"Mungkin disini memang sudah lama jadi tempat ngopi, Mas. Dan juga itu menunjukan kalau sudah temurun hingga ke generasi yang ke 4." Kata Gus Ali yang baru selesai mengamati foto-foto tersebut.


"Bisa jadi seperti itu. Dan di setiap foto juga ada nama yang tersemat tuh. Jumairoh, Wiwit, Siti, Aulia."


Gus Ali kembali memperhatikan foto tersebut dan kemudian tersenyum simpul ke arah Mas Naufal. "Makanya nama Caffenya JuWiTA. Itu di singkat dari keempat nama itu. Dan cukup menjual, konsepnya juga bagus mengambil tema dari asal daerah mereka, meski sudah di tambah beberap inovasi modern juga."


"Iya betul sekali. Memang kehidupan di Ibu Kota cukup keras, dan ide-ide untuk menarik perhatian konsumen jelas sangat di butuhkan karena semakin berjibunnya usahan yang sama dengan konsep yang lebih dinikmati melenial." Jawab Mas Naufal.


"Sek tah Mas, kita ini sebenarnya mau malam mingguan apa mau cari lobi buat jadi pengusaha." Kata Gus Ali dengan tawa yang di tahannya.


"Mencari peluang, ha.ha.ha." Keduanya sama-sama tertawa kemudian larut kembali dalam obrolan yang menyangkut buku yang mereka bawa tadi dari Rumah Gus Hafidz, hingga pesanan mereka datang, dan semakin menambah ke khusuan mereka dalam berdiskusi.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Semua menyebar mencari tempat duduk masing masing. Dan dua gadis memilih menepi dan duduk membelakangi Gus Ali dan Mas Naufal yang tengah asik dengan buku mereka sembari menyesap Kopi hitam yang sudah tinggal separo saja.


"Tumben bener loe mau ninggalin bantal busuk loe." Kata seorang gadis begitu sudah mendudukan diri mereka dan ucapan gadis itu cukup terdengar oleh Gus Ali karena memang tempat duduk mereka sangat dekat, bahkan Gus Ali seperti bisa merakan detak jantung dari gadis yang duduk di belakangnya itu, atau sebenarnya jantungnya sendiri yang tiba-tiba melonjak dari ritme biasanya.


"Loe enggak ngambil Ponsel.?" Kata Gadis dengan rambut di atas bahu dan jika di lihat semua juga memiliki gaya rambut yang sama mungkin juga gadis yang duduk di belakang Gus Ali juga sama jika tidak menggunakan jilbab segi empat yang di biarkan menjuntai menutup dadanya. Bahkan dari sekain gadis-gadis cantik yang datang bersamanya dia terlihat berbeda sendiri dengan gamis sederhana dan menggunakan sandal jepit tipis sebagai alasanya. Namun, sama sekali tidak mengurangi kecantikan di wajahnya meski sedang cemberut.


"Gua lagi berantem sama Pacar Sempurna gua." Jawab gadis di belakang Gus Ali, sampai sampai Gus Ali ikut menarik nafas dalamnya saat gadis di belakangnya menghela nafas dalamnya sebelum menjawab tanya temannya itu.


"Demi tuhan, Gua itu enggak habis fikir sama loe, marah sama Pacar Sempurna loe. Tapi, kain sarung buluknya tetep saja loe kekepin."


"Ya suka suka gua."


Gus Ali tersenyum sendiri mendengarkan suara dua sahabat yang ikut masuk ke gendang telingangnya, meski sama sekali dia tidak ingin mengupingnya. Tapi, lama-lama percapakan mereka lucu juga, karena ada pacar ada Selingkuhan ada Nyonya dan banyak lagi istilah istilah yang di sebut gadis misterius di belakangnya itu. Dan itu membuat Gus Ali lagi-lagi ingin mendengar gadis di belakangnya mengungkapkan kekesalannya pada seseorang yang di sebut pacar sempurnanya.


Sesungguhnya bukan itu yang menjadi fokus Gus Ali hingga menunggu suara itu kembali terdengar. Karena, setiap Gus Ali mendengar suara gadis di belakangnya Gus Ali seperti mengingat suara seseorang tapi sama sekali Gus Ali tetap tidak menemukan suara milik siapa itu.


"Ke toile dulu." Ucap Mas Naufal dengan langsung berdiri dan melangkah melewati meja meja yang lain, dan setelah di perhatikan hampir semua meja di isi oleh para gadis-gadis. Hingha Mas Naufal yang berjalan santai dengan sarung yang melambai lambai membuatnya jadi pusat perhatian dan tidak luput juga dengan dua gadis di belakang Gus Ali.


"Ri, lihat deh. Cowok bersarung dan berpeci itu keren banget ya. Coba di Agama Gua ada yang kayak gitu. Rela gua jadi Pacarnya."


"Biasa saja." Jawba gadis itu tanpa memandang seseoang yang tengah melintas.

__ADS_1


"Haduhh, punya teman kok ya Oonnya minta ampun. Makanya di lihat tuh jangan cuma fokus sama Balung Kuwuk dan Nasi doang." Kata gadis satunya dengan meraih kepala sahabatnya itu untuk menoleh Mas Naufal yang tengah berjalan menjauh.


"Ahh, males, Taaa. Gua itu udah biasa dari kecil lihat laki sarungan, orang bapak gua juga sarungan kalau lagi di rumah."


"Makanya sampai loe bawa-bawa Sarung buluknya."


"Nyebelin banget sih loe. Gua mau ikut keluar sama loe, cuma buat dengerin loe bahas sarung. Bodo amat sama manusia besarung." Tegas gadia itu lagi dengan menekuri isi piringnya.


Ucaoan gadis itu semakin membuat Gus Ali tersenyum dan menutup bukunya, lantas meraih cangkir kopinya dan memutuskan menikmati suara yang menjadi alasan senyumnya mengembang lebih lebar lagi.


"Gua enggak tahu loe punya dendam apa sama laki bersarung, tapi yang pasti gua mengklaim cowok bersarung dan berpeci itu sexy."


"Gua enggak punya dendam sama laki bersarung, gua cuma punya dendam sama satu orang saja dan gua mau becek-becek tuh muka kalau gua ketemu lagi."


"Uhuk-uhuk." Entah kenapa tiba-tiba bayangan Juju yang sedang ngambek dengan muka cemberut saat di jahili oleh Gus Ali muncul dan membuat Gus Ali tersedak hingga berdiri untuk mengurangi sesak di dadanya. Dan dua Gadis itu langsung menoleh ke atah Gus Ali yang masih memunggunginya.


"Mas enggak apa-apa.?" Tanya gadis di belakangnya. "Ya ampun, Ri. Dia juga bersarung." Bisik gadis itu lagi ke arah gadis yang masih asik menekuri isi piringnya.


"Tidak, tidak apa-apa." Ucap Gus Ali lalu kembali duduk dan meraih ponselnya yang berbunyi dan menampilkan nama Mas Naufal disana.


Dengan gerakan cepat Gus Ali segera membereskan barag-barangnya dan untuk pulang, karena Mas Naufal menelfon jika perutnya bermasalah dan sudah menunggunya di parkiran. Dengan tergesa Gus Ali terus menata buku-bukunya dan melewati meja dua gadis di belakangnya lantas menganggukan kepalanya pelan sesaat setelah kedua gadis itu memperhatikan Gus Ali.


"Uhuk-uhuk." Gadis itu yang dari tadi cuek langsung tersedak saat Gus Ali sudah meninggalkan mereka. Dan gadis itu terus menatapnya hingga Gus Ali hilang di balik tangga yang membawanya ke lantai bawah.


Gadis itu sama sekali tidak menggubris temannya yang tengah menatapnya bingung, dan lebih bingung lagi saat dia hendak memberikan buku kecil yang terjatuh di dekat meja mereka dan di cegah oleh temannya.


"Nuril Maydina, ada apa sih sama Loe." Pekik sahabatnya itu dan tanpa menjawab ucapan sahabatnya Gadis yang di panggi Nuril segera meraih buku kecil yang di letakan di meja oleh temannya.


Nuril membuka pelan buku tersebut dengan dada yang bertalu-talu, dan dengan wajah yang entah harus seperti apa menyebutkannya dia kemudian tersenyum dan segera memasukan buku tersebut dalam tas kecilnya tanpa mendengarkan protes dari temannya sambil menggumkan nama yang berada di halaman pertama buku tersebut.


"Salman.A R."


Bersambung...


####


Kok muter muter bae sih Mak.


Biar pusing dulu mereka..😅😅😅😅


Jangan lupa, Like, Koment dan Votenya Enggeh...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2