Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Panggilan Hati


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Suara debur ombak bersahut sahutan, meski suaranya tidaklah sekencang ombak laut selatan. Namun itu cukup membuat menghilangkan stres dengan rutinitas yang padat di Ibu Kota. Pantai Ria Kenjeran, disinilah Nuril sekarang berada. Di bawah langit yang sedang merekah jingga, berpayung mega mega yang ikut merona. Nuril ikut berdiri di samping putri kedua dari Kapolda yang menjadi tanggung jawabnya.


Bukan lagi tugas bagi Nuril sebenarnya, hanya saja jiwa keibuan Nuril terpanggil begitu saja saat melihat anak kencil. Apa lagi mereka sudah lumayan akrab.


Weekend yang menyenangkan tentunya, dan ini merupakan bonus bagi Nuril dan rekan rekannya. Karena setelah tugas mereka siang tadi mengikuti kegiatan Bu Ari yang tengah menggalakkan perbaikan pantai dari abrasi, dengan melakukan kegiatan amal sekaligus tanam 1000 tanaman bakau di pinggiran pantai utara.


Dan sebagai bonusnya, mereka semua di ajak berwisata sekaligus melepas penat setelah kerja seharian. Tidak hanya berupa pantai dengan aneka kuliner di pinggir pantai serta pernak perniknya yang menjadi daya tarik wisata ini. Tapi, disini juga menawarkan beberapa wisata untuk keluarga.


Teman bermain, tempat pemancingan keluarga, juga ada wisata edukasi berupa situs kuno, yakni Klenteng Legendaris dengan ikon khas Kota Surabaya. Juga yang ingin menikmati sensasi naik perahu Jukung juga ada di sana. Kuda kuda dengan aksesoris warna warni menambah semarak di pinggiran pantai. Tentu saja yang tak tidak boleh tertinggal adalah spot fotonya.


Seperti yang Nuril sedang lakukan saat ini. Berdiri dengan sikap siaga, sembari terus fokus memperhatikan anak bungsu dari Bu Ari yang tengah bermain pasir. Melihat antusiasnya putri bungsu dari atasannya tersebut, membuat Nuril teringat dirinya sewaktu kecil yang akan sangat susah di ajak pulang saat sudah bermain di pinggir pantai. Sampai sampai Bunda Ikah sendiri yang harus membujuknya untuk pulang.


Senyum samar Nuril terlihat jelas terbingkai di bibirnya, namun itu tidak berlangsung lama. Karena seketika senyumnya itu terbungkus kembali seiring dengan ingatannya yang semakin meluas dan tentu itu menyangkut soal Mas Ainya, si Kampret Sarungan.


"Mbak Nuril, Dian udah dingin." Ucap Putri bungsu Pak Kapolda. Dan dengan cepat Nuril memberi kode kepada pengasuh yang sedang duduk tidak jauh dari mereka agar segera membersihkan Dian.


Handuk bergambar tokoh kartun terkenal sudah membungkus tubuh gembal Dian, tak perlu menunggu lama Nurilpun ikut andil dalam mempersiapkan Dian dengan pakaian hangatnya.


"Ipda Nuril." Panggil Bu Ari.


"Siap, apa yang bisa saya bantu." Ucap Nuril dengan langsung dengan sikap siapnya.


Senyum ramah tersunging untuk Nuril, sebelum wanita baruh baya itu berucap lembut meninggalkan kesan tegas juga berwibawanya saat membawahi beberapa Ibu Ibu Bhayangkari. "Sudah usai masa tugasnya Ipda Nuril, jadi bersikaplah biasa. Iya, apa kamu tidak ingin berganti pakaian yang lebih nyaman." Kata Bu Ari lagi dengan memandang Nuril dari atas hingga bawah.


"Saya tau, kamu tipikal orang yang suka berpakaian longgar. Rekan rekanmu juga sedang berganti pakaian." Lanjut Bu Ari, dan mengambil alih Dian.


"Siap bu, Lakasanakan." Jawab Nuril masih dengan sikap siapnya.


"Sudah saya bilang, ini bukan tugas lagi. Bersikap biasa saja, asal tetap sopan." Imbuhan senyum di bibir Bu Ari membuat Nuril menggaruk keningnya yang tidak gatal, karena bingung harus bersikap seperti apa kepada Istri atasannya tersebut. Bukan kali ini saja Bu Ari meminta Nuril agar bersikap normal ketika sudah usai dengan tugasnya, tapi sudah berkali kali, hanya saja Nuril belum bisa. Mungkin karena belum terbiasa.


"Baik Bu. Kalau begitu saya pamit dulu." Ucap Nuril dengan lirih, dan melangkah pergi meninggalkan Bu Ari setelah mendapat anggukan sebagai persetujuan dari Bu Ari.


Nuril terlihat rapi dan manis dengan Jilbab segi empat yang di tatanya sesuai dengan karakternya, pipi putihnya terlihat bersemburatan merona seiring dengan terpantul dengan Jilbab yang membungkus kepalanya. Gamis warna Cream yang di kenakan menambahkan pesona tersendiri bagi Nuril. Setidaknya itu yang di lihat dari senior laki laki Nuril.


Setelah Shalat Isya' rombongan kembali berkumpul, dan Pak Ari yang sudah ikut bergabung memberi intruksi bahwa Pak Ari akan mengajak mereka semua untuk makan malam bersama sembari menikmati permainan air mancur di Jembatan yang terkenal Ikonik Kota Surabaya. Lokasinya tidak jauh dengan dengan tempat mereka saat ini, hanya butuh berjalan sedikit saja.


Kerlap kelip lampu dari Air Mancur yang meliuk liuk, di tambah dengan suara gemericik dari air yang berjatuhan, di tambah dengan suara tepukan tangan, menambah suasana semakin hidup dan akrab. Mata Nuril tak henti hentinya terus menatap permainan apik itu, hingga tanpa sadar suara deheman dari seseorang yang sedang heendak duduk di sebrangnya membuat Nuril langsung berpaling dan ternganga untuk sesaat.


"Maaf, saya mengundang Ustadz Salman ikut bergabung bersama kita. Semoga tidak keberatan." Ucap Pak Ari. Kalau komandan sudah bilang begitu, mana bisa sebagai bawahan menolak. Justru Nuril yang terlihat kegirangan, karena weekendnya ternyata bisa bareng juga. Meski enggak dua duaan juga. Sadar Ipda Nuril, belum muhrim. Di larang keras berdua duaan.


"Senang sekali Ustadz Salman bisa bergabung bersama kami." Ucap Bu Ari. "Bukan begitu Briptu Ulin."


Nyas, nyas, nyas. Rasa di dada Nuril yang seperti terbakar, saat Bu Ari mengolok Briptu Ulin dengan Ustadz Salmannya. Ya iyalah, Bu Ari mengolok mereka berdua, secara baik Nuril ataupun Ustadz Salman tidak pernah menunjukan kedekatan mereka berdua. Apa lagi Nuril tidak seperti teman teman lainnya, yang secara terang terangan menunjukan ketertarikannya kepada Ustadz Salman.

__ADS_1


Rasa panas di dada Nuril, membuat Nuril tidak bersemangat dengan lontong juga sate yang sedari tadi di tunggunya. Bahkan piring di depannya di biarkan begitu saja dan melirik jauh entah kemana, dan justru dengan sikap Nuril yang seperti itu Nuril tampak lebih menggemaskan dari sebelumnya. Tentu, tidak hanya Ustadz Salman yang diam diam tersenyum melihat aksi Nuril, beberapa senior laki laki Nuril juga berfikiran sama seperti Ustadz Salman.


Acara makan sembari berbincang bincang hangat dengan sesekali di selingi tawa renyah dari semua orang, juga sesekali pertanyaan pertayaan seputar masalah agama terlontar dari rekan rekan Nuril untuk Ustadz Salman. Hanya Nuril seoranglah yang banyak diam dan sibuk menekuri isi piringnya yang sudah hampir tandas.


"Ustadz Salman, tanya dong.?" Tanya salah satu rekan Nuril dengan nada centil.


"Iya silahkan." Jawab Ustadz Salman.


"Kenapa sinar bintang tidak begitu terang dari sini." Nyass, kembali bara di dada Nuril berkobar.


"Mungkin karena banyak lampu, Bripda Rita." Jawab Ustadz Salman. Dan hati Nuril semakin memanas saja, bagiamana tidak. Ustadz Salmannya malah meladeni ocehan rekan Nuril.


"Aih, aih, Ustadz Salman. Harusnya kamu jawabnya, enggak tau Bripda Rita. Kenapa memangnya.?" Gerrr, semua sontak tertawa terbahak bahak, tak terkecuali Ustadz Salman yang ikut tersenyum.


"Ayo dong Ustadz Salman tanya.!" Kata yang lain penuh semangat dan jelas ini akan menjadi hiburan tersendiri bagi mereka. Karena jarang jarang bisa bercanda dengan Ustadz Salman yang notabennya pendiam jika sedang mengisi acara di Polda.


"Baiklah. Tidak tau, kenapa memangnya Bripda Rita.?" Kata kata itu seperti rayuan di telinga Nuril, dan membuat Nuril mencengkram erat sendok di tangannya.


"Karena cahaya bintang kalah sama senyum manis Ustadz Salman.." Gerrrrrr... kali ini bukan hanya rekan rekan Nuril yang tertawa, melainkan juga Pak Ari dan Bu Ari ikut tertawa mendengar kelakar yang lebih mirip rayuan itu.


"Ipda Nuril, dari tadi diam saja. Apa sedang memikirkan rayuan juga buat Ustadz Salman, atau mungkin Ipda Nuril sedang cemburu sama saya."


Nuril langsung tersedak oleh sate yang baru seapruh di kunyahnya hingga membuatnya terbatuk batuk hebat. "Uhuk, uhuk, uhuk."


"Minum Ipda Nuril." Nuril segera meraih gelas yang tersodor paling dekat ke arahnya.


Dengan segala kilahan dan kelitan Nuril bisa terbebas dari tuduhan yang sesungguhnya benar itu, hingga makan malam usai bersama gelak tawa mereka semua yang sedang berajalan beriringan untuk kembali ke kediaman masing masing.


Mereka semua berpencar, dan Nuril memilih untuk kembali dengan menggunakan jasa Taksi Online yang beberapa waktu lalu di pesannya. Sedang teman teman yang lainnya, ada yang memilih pulang bersama menggunakan mobil inventaris karena memang mereka yang masih tinggal di asrama. Sedang Pak Ari dan Bu Ari pulang dengan kendaraan pribadi mereka.


Nuril masih duduk di bangku kosong dekat jalan masuk, dan sesekali melihat poselnya untuk mengechek lokasi dari taksi Online yang di pesannya. Dan itu sudah beberapa menit berlalu, tapi sepertinya taksi yang di pesannya terjebak dalam kemacetan.


Dengan bibir yang sudah basah oleh ayat ayat Al-Qur'an, Nuril terus menunggu sembari terus menjelajahkan pandangan matanya untuk mengurangi bosan. Hingga, mata lucunya menangkap seorang anak kecil berjilbab Coklat muda tengah berjongkok memberi makan anak anak kucing.


Nuril terus memperhatikan kegiatan anak itu, dan seolah tidak perduli dengan lingkungan sekitar anak itu terus saja berkutat dengan kegiatannya meski terus saja bersin bersin. Lama lama Nuril merasa terpanggil, dan memilih menyudahi deresannya lantas berjalan mendekat ke arah anak itu.


"Adek sedang apa.?" Tanya Nuril, dan tanpa menjawab anak itu segera menoleh ke arha Nuril. Dada Nuril terasa begitu sakit saat matanya bertemu dengan sorot mata kecil milik gadis kecil di depannya. Mata ini jernih dengan manik coklat kecil, dan menyorot dingin penuh luka.


"Sedang kasih makan kucing ya.?" Kata Nuril lagi, dan kembali anak itu menoleh ke arah Nuril lantas mengangguk pelan. Nuril terus memperhatikan gadis kecil di depannya sembari berfikir keras, karena Nuril seperti tidak asing dengan wajah putih gadis kecil di depannya. Setelah cukup lama berfikir ahrinya Nuril menemukan jawabannya.


"Lily, benarkan." Kembali gadis itu menoleh di barengi dengan bersin bersin hebat hingga hidung bangirnya memerah sempurna.


"Ayo sini dulu, sepertinya Lily alergi sama bulu kucing." Ucap Nuril sambil menyeret Lily agar sedikit menjauh dari tempat kucing itu berada. Gadis kecil di samping Nuril hanya terus diam dan memandang Nuril dengan tatapan datar.


"Jangan takut, Kakak bukan orang jahat. Kakak seorang Polwan." Kata Nuril lagi. Lily sama sekali tidak bereaksi dan hanya membuang pandangannya ke arah kerumunan Kucing Kucing liar itu berada.


"Lily sama siapa..?" Nuril yang bingung dengan perubahan sikap Lily menjadi salah tingkah sendiri. Padahal Lily yang Nuril temui tiga bulan lalu, adalah seorang anak yang aktif dan ceria. Sedang sekarang, Lily yang di hadapannya seperti anak yang tidak punya tujuan dan semangat. Dia layu.

__ADS_1


Bibir Lily terus terkatup rapat, meski kepalanya terus menjawab semua tanya Nuril dengan menggeleng ataupun mengangguk. Hingga suara lirihnya perlahan keluar seiring dengan sosok Laki Laki yang datang menghampiri mereka berdua.


"Mas Agus." Hanya dua kata itu saja yang keluar dari bibir kecil itu. Dan itu membuat mata Nuril ikut menoleh, dan mendapati Ustadz Salmannya yang tengah berjalan ke arah mereka berdua.


Reaksi keduanya sangat menyayat hati Nuril, terlebih lagi saat mata kecil itu hanya terus memandang ke arah Ustadz Salman dengan kaca kaca yang semakin banyak, tapi tidak ingin di pecahkannya. Ada luka seperti apa, sehingga membuat anak seusia Lily harus berusaha setegar ini. Tapi, jangankan dia ingin mau di peluk dalam dekapan Ustadz Salman, bahkan tangan Ustadz Salman yang telah terulur hendak menyentuh kepalanya juga di biarkannya terus mengantung di udara, lantaran Lily memilih menghindar.


Nuril tidak memiliki kesempatan untuk bertanya. Dan hatinya terlalu sakit hanya dengan mendengar pertayaan pertayaan yang syarat akan kekhawtiran dari Ustadz Salmnanya yang hanya di jawab dengan menunjuk, mengangguk dan menggeleng.


"Lily sama siapa kesini.?" Tanya Ustadz Salman. Dan hanya di jawab Lily dengan menunjuk ke arah sepeda mini yang bagian keranjangnya di penuhi oleh makanan kucing.


"Mami Nia tau Lily keluar rumah..?" Lily hanya menggeleng lemah.


"Ya sudah Mas Agus antarkan pulang ya." Tidak ada jawaban lagi dari Lily, namun tubuhnya segera bergeming dan berjalan meninggalkan Ustadz Salman dan Ipda Nuril.


"Maaf Ipda Nuril saya tidak bisa mengantar sampean. Saya harus pergi mengantar ponakan saya dulu ya. Nanti saya telfon kalau sudah sampai." Ucap Ustadz Salman.


"Tidak apa apa, saya sudah pesan taksi Online tadi. Nah itu datang." Jawab Nuril dengan menambah senyum di bibirnya.


Mereka sama sama melangkah tapi tidak searah, namun kedua hati dan pikiran mereka sama yakni di penuhi oleh perubahan sikap Lily. Ada begitu banyak tanya di kepala Nuril, tentang Mas Agus, tentang hubungan seperti apa yang terjalin antara Lily dan Ustadz Salman, hingga kenapa Mas Agusnya Lily ada di pernikahan sepupu Nuril. Tapi, semua tertelan begitu saja, saat melihat Lily.


Dan bagi Nuril itu masih banyak waktu untuk di tanyakan. Tapi, mengembalikan perubahan sikap Lily pada sebelumnya, itu yang harus segera di lakukan. Bukan karena Ustadz Salmannya, tapi karena hati Nuril terpanggil untuk itu.


.


.


.


.


.


Bersambung...


###


Wah, kok ada Lily juga. Beteweh dr.Cintaku kemana yah, kok Lily sama Mami Nia..


Like, Coment dan Votenya selalu di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2