
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Kabut tipis sudah turun sejak sore tadi, hawa dingin juga ikut menambah syahdu suasana di tengah tengah ramainya Binatang malam yang menyuarakan dendangannya. Duduk dengan kedua tangan menopang kedua dagunya, Nuril menikmati pemandangan indah yang berada di depannya.
Kaos putih lengan pendek yang di kenakan oleh Gus Ali tidak mampu menyembunyikan otat lengannya yang menyumpal keluar setiap kali Gus Ali menggerakan penggorengan di atas kompor. Dan pemandangan itu terlihat sangat kontras dengan celemek warna merah bertebaran love love dimana mana. Menggemaskan. Itulah yang ada di kepala Nuril, hingga tidak bisa berpaling dari Gus Ali meski sebentar saja.
Kenapa, Kenapa mesti Gus Ali yang berada di balik mini bar dan memegang penggorengan memasak untuk makan malam mereka. Jelas saja itu karena drama Cah Kangkung Nuril siang tadi. Entah, karena terlalu bersemangat atau memang karena harga garam yang relatif murah, masakan yang di masak oleh Nuril semua berlebih garam. Beruntung, masih ada satu yang berhasil Nuril lakulan meski itu tidak bisa di sebut sukses juga. Nasi menjadi Bubur.
Tapi, justru dari situlah Nuril berhasil di gombalin Gus Ali habis habisan. Hingga membuat Nuril senyum senyum tidak jelas hingga malam ini. "Tidak ada yang namanya manusia sempurna, Ju. Karena kita di ciptakan untuk satu sama lain agar melengkapi. Tidak bisa masak bukan hal yang besar, lambat laun juga akan bisa karena terbiasa." Ucap Gus Ali siang tadi, saat Nuril merasa sedih karena kegagalannya masak.
"Begitupun dengan berumah tangga. Tidak yang selalu sefaham, lama mengenal sebelumnya yang akan sukses membina rumah tangga. Dalam berumah tangga itu, kuncinya lima puluh persen. Lima puluh persen cinta sedang yang lima puluh persen lagi perhatian agar cinta itu terus terjaga dan terawat keberadaannya. Dan rumah tangga itu adalah ibadah terpanjang, namanya ibadah tidak mungkin tidak ada cobaan dan ujian di dalamnya. Untuk itu aku berdo'a, sebesar apapun ujian dan cobaan dalam biduk rumah tangga kita, tidak akan membuat kita lantas menyerah begitu saja. Oh iya, dengan kamu tidak bisa masak itu juga bagus, karena tanganmu tidak akan kasar saat membelaiku. Seperti sekarang ini." Mau seindah apapun kata kata Gus Ali selalu berhasil menggoda Nuril.
"Melamun apa.?" Tanya Gus Ali sembari meletakan Ikan goreng hasil pancingan mereka tadi siang di atas meja makan di depan Nuril.
Nuril hanya menggeleng pelan, dan setelahnya berdiri lantas mengikuti langkah Gus Ali ke dapur.
"Kamu mau apa..?"
"Bersihin dapur." Jawab Nuril. Meraih beberapa peralatan yang masih terlihat kotor Nuril sedikit heran dengan dapur yang tidak seberantakan seperti yang di lakukannya tadi siang. Dunia terbalik mungkin, pikir Nuril. Meski, jauh di dasar hati Nuril merasa sangat bersalah dengan ketidak bisaannya dalam mengelola dapur. Ah, memang benar tidak akan ada manusia sempurna. Setidaknya Nuril ingin seperti Bunda Ikah, yang sempurna di mata Nuril.
"Melamun lagi." Kata Gus Ali yang sudah berdiri tepat di belakang tubuh Nuril sembari memegang mangkuk yang hampir di jatuhkan oleh Nuril.
"Licin." Kilah Nuril. "Mas Ai jauhan dikit." Kata Nuril dengan menggerak gerakan tubuhnya agar Gus Ali tidak menempel terus pada Nuril.
Tapi, itu justru membuat Gus Ali semakin mendekatkan dadanya di punggung Nuril. Menenggelamkan kepalanya di curuk leher Nuril, membuat tubuh Nuril mengaku. Dan berlahan lengan kokoh Gus Ali menyelinap dibawah tangan Nuril dan jemari mereka meremas spon yang berbusa secara bersamaan.
"Kakimu naikan ke kakiku." Pelan Gus Ali, dan Nuril terlena oleh semua kemanisan yang Gus Ali buat hingga tak mampu untuk berkata tidak sebagai penolakan.
Spon terus berbusa seiring dengan peralatan yang di cuci hingga semuanya usai dan tertata rapi di tempatnya, telapak kaki Nuril masih saja berada di atas kaki Gus Ali hingga Gus Ali membawa Nuril ke tempat makan dengan Nuril berjalan dengan langkah Gus Ali, bahkan sampai dudukpun Nuril berada dalam pangkuannya.
"Mau kemana.?" Kata Gus Ali saat Nuril berdiri.
"Pindah, rikuh duduk di pangkuan sampean." Jawab Nuril sembari menarik kursi tepat di samping Gus Ali.
Gus Ali terkekeh dan ikut menarik kursinya semakin mendekat ke arah Nuril. Setelahnya hanya pujian saja yang keluar dari bibir Nuril saat suapan demi suapan tangan Gus Ali mendarat ke mulut Nuril. Kepiawaian Gus Ali memasak membuat Nuril tidak henti hentinya terus mengeluarkan kata kata indahnya tanpa sadar, hingga membuat Gus Ali terkekeh tiada henti. Gus Ali serasa kembali di masa kecil, dimana Gus Ali akan mendengar setiap ocehan Nuril tanpa bisa memprotesnya.
Usai dengan makan malam mereka, Nuril memilih membersihkan meja makan seorang diri, dan mengusir Gus Ali ke ruang keluarga dekat dengan perapian dengan segelas susu hangat yang Nuril buatkan. Itu sengaja Nuril lakukan, karena pekerjaannya jauh lebih lama dengan Gus Ali yang menempel di tubuh Nuril.
Susu di gelas masih utuh ketika Nuril sudah kembali ke ruang keluarga. Sementara Gus Ali duduk dengan lengan bertumpu pada bantal sementara tanggannya memegang kitab yang tengah terbuka, sedangkan netra Gus Ali tenggelam disana tidak menyadari kehadiran Nuril yang sudah ikut bersimpuh di sampingnya.
__ADS_1
"Susunya kok belum di minum.?" Tanya Nuril, membuat Gus Ali memindahkan kitab di tangannya ke meja kecil di sampingnya.
"Masih panas." Jawab Gus Ali sembari meraih tangan Nuril. "Tangan kamu dingin sekali."
"Airnya dingin banget. Aku rasa ini belum masuk di musim dingin, tapi kok udah kerasa dingin banget."
"Anginnya agak kencang di atas bukit, Ju. Jadi cendrung lebih dingin." Ucap Gus Ali lantas menarik dirinya agar lebih merapat dengan Nuril. "Seperti sudah lebih hangat.?" Tangan Gus Ali meraih bahu Nuril dan merangkulnya erat.
"Sesak enggak bisa nafas malahan." Jawab Nuril.
"Mau masuk dalam sarung.?" Bisik Gus Ali dan
itu membuat Nuril membelalakkan matanya tidak percaya. "Apa salahnya masuk dalam sarung, kan cuma masuk enggak ngapa ngapain." Lanjut Gus Ali yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya oleh Nuril.
"Memang apa yang kamu pikirkan masuk ke dalam sarung..?"
"Mas Ai, cukup. Mendingan cepat sampean minum susunya.?" Tegas Nuril. Otak Nuril suka berkelana kemana mana saat Gus Ali sudah gencar menggodanya.
Gus Ali tertawa puas lantas meraih gelas susunya, meminum sedikit Gus Ali segera mendekatkan ke arah Nuril seraya berkata. "Ini sama sekali tidak manis, Ju." Terlihat expesi Gus Ali seperti sedang kepahitan.
"Masak sih."
"Sini tak tambahin gulanya." Kata Nuril dan menambahkan satu sendok kecil gula ke dalam gelas Gus Ali.
"Coba aduk sama jari manis kamu, Ju." Sela Gus Ali saat melihat Nuril hendak memasukan sendok ke dalam gelasnya.
Nuril menatap Gus Ali heran sekaligus aneh. Tapi, terlihat Gus Ali seperti sedang tidak bercanda Nurilpun mengikuti kemauan aneh dari Gus Ali dengan memasukan jari manisnya untuk mengaduk susu.
"Sudah." Ucap Nuril dan memberikan gelas itu kepada Gus Ali lagi.
Gus Ali kembali meminum satu teguk, kemudian kembali memberikan gelasnya kepada Nuril seraya berkata. "Masih kurang manis."
Nuril menautkan alisnya lebih heran lagi, setahu Nuril Gus Ali tidaklah menyukai makanan dan minuman yang manis, dan Nuril rasa itu sudah lebih dari manis untuk ukuran gula di takaran minuman Gus Ali.
"Apa gulanya bermasalah.?" Gumam Nuril.
"Bisa jadi. Coba kamu julurkan lidahmu ke sini biar tau rasanya manis apa enggak." Nuril semakin heran dengan ucapan Gus Ali. Menatap tak percaya kepada Gus Ali, Nuril justru mendapati tatapan pengharapan dari netra Gus Ali.
Nurilpun mengikuti permintaan Gus Ali dan menjulurkan lidahnya ke dalam susu hingga beberapa kali dan setelah itu Nuril segera menatap Gus Ali dengan tatapan jengkel, karena Gus Ali sukses mengerjai Nuril lagi. "Ini sudah manis kok." Kata Nuril.
"Masak sih." Kata Gus Ali dan langsung meneguk susunya hingga habis tak tersisa. "Alhamdulillah." Ucap Gus Ali tanpa wajah berdosa dan mengacuhkan tatapan Nuril yang miminta penjelasan darinya.
__ADS_1
"Jadi apa maksudnya..?" Kegeraman Nuril ahirnya tak dapat di tahan lagi, dan memilih meminta penjelasan dari Gus Ali.
Gus Ali tersenyum dan memegang dagu Nuril dengan lembut. "Andai Bidadari meludah ke dunia ini hanya satu tetes saja, maka seisi dunia akan jauh lebih manis daripada madu. Buktinya, susu tadi langsung manis hanya dengan sentuhan lidah Bidadariku." Terbiasa dengan gombalan Gus Ali, tapi untuk yang satu ini sungguh membuat Nuril tidak bisa berkutik, apa lagi saat Gus Ali mengikis jarak di antara keduanya dan lembut campur manis bibir Gus Ali menyentuh hangat bibir ranum Nuril.
Syurga dunia tercipta dengan semakin menghangatnya sentuhan berpahala, dan menerbangkan segala keabu abuan bersama melodi cinta yang berirama syahdu di bawah langit yang bertaburan bintang. Namun, sebelum semuanya terlanjur jauh, Gus Ali masih ingat akan janjinya dan sunah sunah yang harus di jalani sebelum merengkuh indahnya alunan Syurga dunia.
"Bolehkah aku mendapatkan hak ku.?" Bisik Gus Ali dengan nada serak. Bibir Nuril tak mampu berucap, matanya tak mampu menatap kabut yang menebal, hatinya tak ingin menolak, karena memang tidak ada alasana baginya. Maka, satu anggukan kecil dari kepala Nuril mampu menerbangkan tubuh Nuril dalam gendongan Gus Ali.
"Ayo kita shalat hajat." Bisik parau Gus Ali begitu menurunkan tubuh Nuril di kamar mereka. Lagi, Nuril hanya bisa mengikuti ritme yang di buat oleh Gus Ali hingga keduanya mata keduanya bertemu kembali seusai salam.
Gus Ali masih tak mengalihkan tatapannya dari Nuril, sementara Nuril yang mendapat tatapan dari Gus Ali merasa dirinya seolah seekor kelinci yang sudah terjebak oleh Harimau. Tak mampu berkutik. Apa lagi saat Gus Ali mengulurkan tanganya dan mendarat di pelupuk mata Nuril. Nuril hanya bisa meresapi setiap sentuhan lembut yang begitu memujanya.
"Bintang, membutuhkan sinar lain untuk membuatnya bersinar. Dan itu selayaknya aku, yang membutuhkanmu sebagai cahaya dalam setiap hidup yang akan kita jalani. Karena kamu adalah permata yang berkilauan. Ya Hurien In. Bidadariku yang bermata jeli." Usai dengan kata katanya Gus Ali meninggalkan jejak di kening Nuril cukup lama. Lantas membawa Nuril keperaduan dimana hanya ada nafas cinta yang memburu setelah Gus Ali menarik pelan tirai penutup tipis di atas ranjang bulat itu, agar bintang tak iri dengan melodi cinta yang tengah mereka mainkan.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Ahirnya, Unboxing juga Gus Ali. Pas di juga di malam Jum'ah. 🤭🤭🤭🤭
Selamat malam Jum'ah Reader semuanya. Jangan lupa perbayak sholawat dan amalannya di malam Jum'ah.
Like, Coment dan Votenya di tunggu.
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi.
@maydina862
__ADS_1