Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Cinta perlu di perjuangkan


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Kemacetan panjang di tengah matahari siang yang tengah terik teriknya, sudah sangat langganan terjadi di sekitaran Wonocolo, apa lagi di tambah dengan adanya petugas Sanlantas Operasi Zebra yang sedang betugas merazia kendaraan tanpa surat surat, juga pengendara yang tidak mau mengikuti tata tertib berkendara dengan benar.


Sejujurnya itu, patut di lakukan mengingat begitu banyaknya kasus pencurian kendaraan dan bisa di perjual belikan secara bebas tanpa memerdulikan kelengkapan surat suratnya. Juga sekaligus memberi sanksi bagi pengendara yang memiliki kesadaran rendah, bahwa apa yang mereka anggap sepela bisa membahayakan diri sendiri terlebih untuk orang lain.


Seolah tanpa merasa kepanasan sedikitpun, berpuluh puluh pasukan berseragam coklat itu tetap berdiri dengan tegap meski panas dari Matahari menyorot membakar kulit mereka. Tidak hanya Polisi Laki-Laki saja yang tengah menyebar, tapi juga Polisi Wanita yang tidak kalah tegas juga terlihat bertanggung jawab dengan tugasnya meski panas dari Matahari membakar kulit mulus mereka.


Di barisan Polwan, juga tengah berdiri seorang Polwan muda yang tampak berseri dengan senyum yang terus mengembang mengatur lalu lintas di sebrang Operasi Zebra sedang beralangsung. Jilbab di bawah topi tugasnya sudah sedikit basah oleh keringat, namun sama sekali tidak menyurutkan kegigihan Polwan cantik itu untuk menjalankan kwajibanya sebagai tugas seorang abdi Negara.


Tidak juah dari keberadaan Polwan Cantik itu, juga tengah berdiri sama sama mengatur lalu lintas Polisi Laki-Laki dengan tubuh tegapnya dan otot tubuhnya yang menyumpal dibalik baju seragam ketat membungkus tubuhnya. Iptu Jonathan, yang dari mulai dua minggu sejak kehadiran junior Polwan cantik itu, terus saja berusaha untuk melirik dan tak segan segan mendekatinya. Termasuk dari usahanya hati ini.


"Ipda Nuril." Sapanya saat Satlantas Operasi Zebra sudah selesai.


"Siap. Iya Iptu Jonathan." Jawab Polwan Cantik yang di sapa. Nuril, Polwan cantik yang baru saja di pindah tugaskan di Polda Surabaya.


"Jangan terlalu formal." Kata Iptu Jonathan dengan tersenyum sembari memberikan botol air mineral kepada Ipda Nuril.


"Terima kasih Iptu Jonathan." Nuril menerimanya dengan senyum yang kembali mengembang sembari mengangguk pelan.


Nuril melangkah hendak bergabung dengan rekan rekannya, namun Iptu Jonathan terus saja menjajari langkahnya sembari mengajaknya untuk bercakap cakap yang jika di dengar oleh Nuril jelas itu jauh dari bahasan soal kepentingan pekerjaan. Tapi, Nuril enggan berkomentar lebih dan memilih untuk tetap fokus dengan tujuannya dan memperhatikan jalannya.


"Ipda Nuril, cocok sekali." Ucap salah satu rekan Nuril dengan memberikan dua jempolnya. "Iptu Jo, pepet terus, jangan kasih kendor." Lanjut rekan Nuril dengan tag nama Bripda Rita.


"Apa coba." Jawab Nuril dengan memberikan botol air mineral dari Iptu Jonathan kepada Bripda Rita. "Maaf enggeh Iptu Jonathan, airnya saya berikan kepada Bripda Rita, karena saya tidak minum air es." Lanjut Nuril dan melangkah menuju ke arah mobil Patroli dimana Nuril meletakan botol air minum yang selalu di bawanya, dan menyisakan tatapan melongo Iptu Jonathan.


Nuril hampir saja tersedak oleh air yang di minum olehnya, saat mendengar suara Iptu Jonathan yang sedang meneriakan sebuah nama, apa lagi saat Nuril ikut memperhatikan Iptu Jonathan yang tengah berlari mendekat ke arah motor Vespa di sebrang jalan. Nuril hampir saja berhenti bernafas untuk sejanak bahkan air dari botolnya sampai tumpah mengenai seragamnya saat seseorang yang di panggil Mas Salman oleh Iptu Jonathan membuka helm yang di kenakannya.


"Tidak, aku tidak salah lihat. Itu benar Salman A.R." Gumam Nuril masih dengan memandang ke arah Iptu Jonathan dan Gus Ali yang tengah bercakap cakap di pinggir jalan.


Gus Ali berdiri di samping motor Vespanya dan tampak begitu memesona mata dengan balutan jaket jins Silver pudar dan Sun Glass hitam yang bertengger menempel sempurna di atas hidung mancungnya. Dan Nuril benar benar tidak bisa di buat berpaling dari wajah rupawan Gus Ali hingga rekannya mengajaknya untuk bergabung dengan yang lain.


"Asli, dunia ini sempit sekali." Gumam Nuril sambil mengikuti langkah rekannya dan sesekali masih mencuri pandang ke arah Iptu Jonathan juga Gus Ali yang masih berbincang. Yang semakin membuat Nuril lebih tercengang lagi, saat hampir semua seniornya mengenal Salman A.Rnya.


"Ustadz Salman keren banget ya." Suara bisik bisik dari sesama rekan Nuril.


"Sumpah, kalau saja Ustadz Salman mau cari jodoh biar itu Istri kedua atau ketiga aku siap jadi kandidatnya." Timpal yang lain, dan membuat Nuril kembali melempar pandangannya ke arah Gus Ali dan Iptu Jonathan yang tengah tertawa tawa, tanpa tau bahwa tawa lepas dari Gus Ali telah membuat beberapa hati terpesona begitu dalam termasuk Nuril.


"Ipda Nuril, rekapan surat tilang serta laporan nanti akan saya tunggu di kantor." Ucap senior Nuril.

__ADS_1


"Siap lakasanakan." Jawab Nuril dan bergegas menggelangkan kepalanya pelan dan menuju ke arah mobil Patroli sesaat sesudah di pastikan bahwa Operasi Zebra di titik satu sudah selesai di laksanakan.


Nuril terus saja berjalan tanpa memerdulikan lagi, seseorang yang membuatnya merasa salah tingkah hanya dengan melihatnya tersenyum. Dan tersisip sedikit harapan bahwa sempitnya dunia ini membawa pada sebuah kisah yang sudah tertulis indah sebagai takdir bagi masa depan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Gus Ali pulang dari kampus lebih awal hari ini, dan di tengah terik yang sedang menjilat bumi di tambah dengan kemacetan panjang Gus Ali memilih berteduh di pinggir jalan menunggu sampai kemacetan karena Operasi Zebra itu terurai. Gus Ali bukan tidak ingin cepat sampai di tempatnya hanya saja Gus Ali tidak ingin ada yang memberhentikannya karena mengenalinya.


Begitu kemacetan sudah terurai Gus Alipun segera melajukan kembali Vespanya. Belum juga roda Vespa berputar dengan maksimal, saat Gus Ali mendengar namanya di teriakan oleh seorang Polisi yang sudah menjadi sahabat bagi Gus Ali selama Setahun terahir di Kapolda Surabaya.


"Mas Salman, kebetulan sekali." Ucap Iptu Jo, begitu sudah berada di dekat Gus Ali dan Gus Ali turun dari motornya sembari melepas helmnya.


"Untung Bang Jo, saya tadi bawa helm juag surat surat lengkap." Ujar Gus Ali sambil hendak mengeluarkan surat surat kendaraannya.


"Mas Salman ini bisa saja. Itu tidak perlu, Mas." Kata Iptu Jo sambil tertawa pelan. "Saya takut kalau saya di suruh memeriksa kelengkapan sampean, terus ternyata ada yang kurang dan sampean duduk disana, di hadapan para Polwan malah enggak jadi kerja mereka." Lanjut Iptu Jo dengan tawa yang semakin melebar dan Gus Alipun juga ikut tertawa lebar.


"Sampean ini ada ada saja, Bang Jo." Kata Gus Ali di sela sela tawa renyahnya.


"Bisa langsung redup pesona saya, di hadapan Polwan cantik cantik begitu Mas Salman berada disana." Kembali Iptu Jo berkata dengan tawa yang semakin melebar dan begitupun dengan Gus Ali. "Kayaknya kurang tepat tmepat ngobrol disini, karena tidak ada secangkir kopi yang menemani." Lanjut Iptu Jo sebagai ajakan untuk mengajak Gus Ali untuk Ngopi.


"Tugas Negara di sambi Ngopi, Bang." Canda Gus Ali kepada Iptu Jo dan kembali keduanya tertawa renyah, tanpa tau bahwa tawa keduanya telah memancing beberapa mata terus memperhatikan keduanya.


"Tugas sudah selesai, Mas. Sudah waktunya kembali ke kantor." Jawab Iptu Jo dengan santai.


"Berarti ngopinya di ganti besok malam minggu saja, Mas Salman. Sehabis acara bulanan."


"Oh iya, saya juga mau menanyakan hal itu, kenapa acaranya di ganti malam minggu. Soalnya pas undangan di sampaikan saya masih berada di Rumah saya." Tanya Gus Ali.


"Itu kebijakan dari Kapolda baru, Mas Salman. Alasannya untuk memenimalisir para polisi baru agar tidak banyak keluar di malam minggu." Ucap Iptu Jo sambil tersenyum. "Apa sampean setuju tentang itu, Mas Salman." Lanjut Iptu Jo.


"Itu bagus, Bang Jo. Dan kebetulanya sekali setiap malam Jum'ah kegiatan saya sebenarnya penuh." Jawab Gus Ali sambil dengan memertahankan senyumannya.


"Saya yang kurang begitu setuju kalau begitu." Ujar Iptu Jo dengan muka di buat sedikit memelas.


"Kenapa, apa ada alasan tertentu.?" Tanya Gus Ali.


"Tentu saja, saya lagi naksir Polwan baru, Junior saya di Akpol dua tahun lalu." Jawab Iptu Jonathan dengan senyum sedikit malu malu, dan itu berhasil membuat Gus Ali menyungingkan senyumnya kembali tapi tanpa berkomentar apa apa. "Kalau seperti itu, gimana coba cara saya pendekatan." Lanjut Iptu Jo dan lagi lagi Gus Ali hanya tersenyum tipis saja.


"Cinta kan harus di perjuangkan. Bukan begitu Mas.?" Kembali Iptu Jo berujar yang membuat Gus Ali harus sibuk memikirkan jawabannya, karena jika untuk urusan hati Gus Ali masih sangat awam sekali.


"Mungkin saja seperti itu, Bang. Tapi, bagi saya, bagi sampean juga, bukankah itu sudah ada takdir masing masing." Ahirnya Gus Ali mencari jawaban yang masih di landaskan dengan kepercayaan masing masing.

__ADS_1


"Itulah, Mas Salman. Coba saja saya tahu takdir saya sama siapa kan enak ngejalaninnya, jadi enggak usah ada tuh cerita jagain jodoh orang lain, apa lagi jagain jodoh Teman. ha..ha.ha." Jawab Iptu Jo, sambil kembali tertawa lebar dan Gus Alipun ikut tertawa sembari meliik jam di tangannya yang sudah menunjukan jam dimana dia harus kembali memenuhi panggilan tugasnya.


"Bang Jo, maaf saya harus segera kembali, lain waktu di sambung lagi." Ucap Gus Ali.


"Oh iya Mas, maaf karena telah mencegat sampean dan jadi pusat perhatian Polwan disana tanpa mengenalkan salah satunya." Jawab Iptu Jo dengan nada bergurau.


"Bang Jo bisa saja." Kembali Gus Ali mengenakan Helmnya.


"Baiklah, ngopinya di ganti besok malam minggu habis acara, saya baru dapat rekomendasian tempat ngopi, dan dari diskripsi yang di sampaikan tempatnya lumayan bagus."


"Insya'Allah, jika tidak ada halangan kita akan lihat tempatnya nanti." Ucap Gus Ali dengan sudah menyalakan mesin Vespanya.


"Terima kasih, Mas Salman waktunya. Hati hati di jalan."


"Terima kasih juga Bang Jo. Mari." Ucap Gus Ali dan melaju pelan meninggalkan Iptu Jo yang sudah melangkah menuju ke rekan rekannya.


Gus Ali menoleh sekilas ke arah mobil Patroli yang berada di pinggir jalan saat hendak di lewatinya, dan Gus Ali seperti melihat salah satu senyum Polwan yang sedang menyapanya persis dengan pemilik Kaca Mata Renang yang Gus Ali bawa ke Surabaya seminggu lalu. Namun begitu Gus Ali kembali menoleh ke arah para Polwan itu, tidak di temui senyum itu dan hanya melihat punggung yang sedang membelakanginya.


Gus Ali menggeleng gelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis. Cinta itu harus di perjuangkan. Kata kata Iptu Jo melintas di pikiran Gus Ali dan kembali mengingatkan alasan Kaca Mata Rengan itu berada di Lokernya saat ini. Dan memang tidak ada salahnya jika harus memperjuangkan Cintanya, asal itu untuk alasan penenang hati sebagai jalan ibadah.


Bersambung...


####


Hemmm, masih belum ketemu juga sama si Polwan Cantik ..🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️


😘: Mak mau protes dung..


😌: Iya, apa.Mumpung Emak lagi baik hati dna tidak sombong..


😘: Apapan enggak sombong, orang kita Koment enggak pernah di bales, apa itu namanya enggak sombong. Nyuruh Koment tapi enggak di bales Komentnya, rese' enggak tuh.


😌: Mohon maaf enggeh, Mak suka baper kalua balesin Koment..😅😅😅😅


😘: Alesan..


😌: Asli, tanpa ada imitasi.🤭🤭, tapi meski jarang di bales, Emak selalu baca kok. Jadi jangan berkecil hati dan tetap Like, Coment dan Votenya buat Gus Manisnya yah. Biar Emak makin Love...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz kopi


@maydina862


__ADS_2