Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Sedia Payung Sebelum Hujan


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Halo, Assalamu'alaikum." Kembali suara lembut itu menyapa, dan mengantarkan hangat pada wajah Nuril sehingga mencetak rona merah di pipinya.


Setelah mengambil nafas dalam, Nuril mencoba menjawab salam dari Gus Ali meski dengan bibir yang bergetar. "Wa'alaikumussalam."


Tarikan nafas lega dari Gus Ali, jelas sekali terdengar oleh Nuril dan keduanya sama sama diam untuk beberapa waktu, hingga denting jam di dinding seperti terdengar nyaring di telinga Nutir Nuril terus saja menggigiti kuku ibu jarinya dengan gelisah, karena seseorang di sebrang sana yang telah berhasil membuatnya seperti kehilangan segala kemampuannya, bahkan sampai membuat lidahnya kelu.


"Ap." Sekalinya ingin bicara, keduanya juga barengan.


"Silahkan sampean dulu." Ujar Gus Ali setelah berdehem pelan untuk menjernihkan tenggorokannya.


"Sampean dulu saja." Jawab Nuril masih dengan suara yang sedikit terbata.


Kembali helaan nafas Gus Ali terdengar oleh Nuril. "Ponsel kita tertukar." Tutur Gus Ali dengan nada pelan tapi pasti. Nuril mengangguk pelan, dan setelah tersadar bahwa dirinya sedang telfonan segera dia mengeluarkan suaranya untuk menjawab kata kata Gus Ali.


"Inggeh, Ustadz." Jawab Nuril kaku.


"Ipda Nuril, betul kan.?" Tanya Gus Ali.


"Leres Gus.(Betul Gus.)"


"Dhemm." Suara deheman Gus Ali kembali terdengar. "Jadi, apa ada panggilan untuk saya tadi, seperti yang berada di Ponsel sampean."


Nuril terdiam sesaat, dan berfikir. Bukankah seharusnya dia langsung saja pada intinya, di balikin dimana ponselnya. Gumam Nuril dalam hati.


"Ipda Nuril apa sampean masih disana" Kembali Suara lembut Gus Ali menyapa Nuril yang masih tidak menjawab.


"Enggeh Tadz, itu tadi ada yang telefon atas nama Bunda. Maaf, saya mengangkatnya, maafkan kelancangan saya." Ucap Nuril.


Hening sesaat, dan denting jarum jam seakan menertawai Nuril yang masih senantiasa deg degan, hanya karena mendengar suara seseorang yang di telah membuat jantungnya jempalitan tak karuan. Memalukan sekali, hanya dengar suaranya saja bisa membuatnya susah untuk menarik nafasmu. Rutuk hati Nuril.


"Maaf, saya juga lancang mengangkat panggilan dari Pacar Sempurna sampean." Ucap Gus Ali dengan nada yang sedikit, atau itu hanya perasaan Nuril saja.


"Jadi kita impas." Selonoh Nuril.


"Saya akan melewati Kantor, jika sampean ada waktu kita bisa menukarkan ponsel disana." Kembali Gus Ali bertutur.


"Maaf Tadz, hari ini saya sedang bebas tugas. Saya ada rencana lain di daerah Wonokromo." Jawab Nuril dengan sedikit ambigu, karena sejujurnya Nuril ingin segera menukarkan ponsel mereka, hanya saja hari ini dia sudah terlanjur berjanji dengan pemilik Panti Jompo untuk segera datang ke sana.


"Oh, kebetulan sekali. Saya juga ada arah ke dana. Kita bisa bertemu disana." Apa ini tidak terlalu berlebihan, jika Nuril memikirkan ini seperti sedang mengatur janji seperti sepasang kekasih. Lagi lagi, hanya dengan memikirkan itu wajah Nuril merona.

__ADS_1


"Monggo pun Tadz, terserah Njenengan saja." Kata kata Nuril terdengar melonjak sedikit lebih ceria karena opini dari pikirannya sendiri.


"Baiklah, sampean tetapkan saja tempatnya nanti." Ujar Gus Ali.


"Sampean saja yang menetapkan Tadz, saya masih belum terlalu faham daerah sini." Jawab Nuril.


"Kalau begitu nanti sampean kasih lokasi lewat GPS saja."


"Oh iya, seperti itu juga bisa." Kata Nuril dengan menepuk keningnya pelan.


"Baiklah, saya harus segera bersiap Ipda Nuril, sampai jumpa disana nanti. Asalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Jawab Nuril kemudian segera menutup panggilannya dan jingkrak jingkrak tidak jelas.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


🎶


Polisi juga manusia...


Punya rasa punya hati...


🎶


Suara riang Nuril membahana di sela sela kegiatannya mempersiapkan diri untuk menuju ke tempat yang sudah di rencakannya dari seminggu lalu. Tapi, bukan karena rencanya yang berjalan sesuai jadwal, melainkan ada kecelekaan kecil yang mungkin saja akan berubah menjadi kebetulan yang indah.


Gamis warna nute dengan khimar panjang warna senada sudah di gunakannya, namun untuk beberapa saat kembali Nuril lepaskan, sambil bergumam pelan. "Ini bukan pengajian, Ri. Kamu itu mau ke acara sosial yang menuntutmu untuk bergerak cepat." Kembali Nuril mengobrak abrik isi lokernya.


"Ahh, ini menyebalkan sekali. Kenapa jatuh cinta mesti serepot ini. Kenapa juga aku harus perduli dengan penampilanku di hadapannya. Aku ya aku, toh aku juga seorang abdi Negara, bahkan pekerjaanku setiap harinya menuntutku untuk tampil berbusana tidak dalam katagori sebagai wanita yang anggun." Putus Nuril dengan menarik rok plisket dengan kaos berlengan panjang, lantas di balutnya dengan Cardigan warna mint sebatas lututnya.


Jilbab instant milik brand ternama dengan panjang cukup menutup dada juga punggungnya, membuat Nuril terlihat lebih manis dari kesehariaanya yang biasanya menggunakan sragam kesatuan pres body. Dan saat pasti orang yang baru melihat Nuril saat ini, tidak akan mengira bahwa Nuril adalah seorang Polisi Wanita yang memiliki keahlian khusus dalam menembak, juga sekaligus lulus dari Akademi Millter Kepolisian sebagai pelari tercepat seangkatannya.


Penampilannya memang sangat jauh berbeda ketika Nuril sudah menjadi Nuril yang sesungguhnya. Nuril lebih terlihat seperti seorang Santri Putri, dan itu tidak heran. Lantaran Nuril memang tumbuh besar di Pesantren, dan keputusannya untuk mengejar cita citanya menjadi Polisi Wanita juga sangat di tentang oleh keluarganya.


Bukan sekedar untuk pembuktian kepada orang tuanya saja, jika Nuril masih bisa mempertahankan segala sopan santun, aturan keluarga juga cara berpakiannya ketika sedang terbebas dari tugasnya. Tapi, ini lebih pada karena Nuril merasa nyaman ketika terlihat dengan balutan baju gamis ataupun baju baju longgar lainnya.


Setelah mengambil keputusan dengan tidak memperdulikan apa yang akan di pikirkan oleh Gus Ali nanti, Nuril melangkah pasti dengan sepatu putih bersih mengiringi jalannya untuk berbuat baik hari ini. "Aku siap, semangat Ri." Ucap Nuril sembari berjalan meninggalkan gerbang asrama yang di tinggalinya.


Di dalam angkutan Umum Nuril mencoba untuk tidak perduli dengan apa yang sedang di debatkan oleh hatinya. Namun, keinginan acuhnya benar benar menganggunya saat teringat mungkin saja Ustadz Salman yang menempati hati juga pikirannya, bahkan sudah berhasil merajai hati Nuril, memiliki selera yang jelas bukan seperti dia. Hanya memikirkan itu saja membuat Nuril lehilangan semangatnya seketika.


"Ayolah, Ri. Setidaknya kamu tidak pernah berbohong dengan karktermu, hanya sekedar untuk menarik perhatian orang lain." Putus Nuril, kemudian dengan cepat memgalihkan fokusnya ke hafalannya dari pada memikirkan hal hal yang sejatinya tidak terlalu penting untuk di pikirkan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Senyum Nuril terlihat melebar, saat dirinya menginjkan kaki di depan sebuah Panti Jompo. Dan dengan begitu saja Nuril sudah melupakan apa yang tadi sempat membuatnya berfikir keras ketika sambutan hangat di dapatnya.


Tidak butuh waktu lama, Nuril sudah larut dalam kebahagiaan yang sedari kecil akan di rasakannya ketika Nuril bisa berbagi. Terlahir dari keluarga kaya, dengan kerajaan bisnis yang di miliki Papanya, tidak serta merta membuat Nuril besikap sesukanya menghambur hamburkan uang yang di berikan oleh orang tuanya.


Nuril kecil sangat gemar menabung, lantas akan membantu orang orang yang membutuhkan dengan uang yang telah di kumpulkannya. Dan itu berlangsung hingga kini, juga untuk hari ini.


Kesibukan Nuril membantu segala kegiatan sembari mendengarkan cerita dari para penghuni panti, membuat Nuril lupa akan waktu hingga tidak terasa sudah Dzuhur. Dengan senyum yang masih senantiasa tersungging di bibirnya, Nuril melangkah meninggalkan tempat makan dan menuju ke Musholla yang berada tidak jauh di tempatnya berada saat ini.


Cukup lama, Nuril tenggelam dalam sujudnya dan juga beristikomah dengan deresannya meski hanya untuk beberapa lembar. Setidaknya itulah yang selalu di ingatnya sedari masih kecil, saat dirinya mendengar seseorang menasehati anaknya, ketika memutuskan untuk menjadi seorang Hafidzul Qur'an.


Setelah dirasa cukup, Nurilpun kembali melangkah kembali ke ruang makan dari Panti Jompo. Dan sudah ikut menyiapkan beberapa obat obat yang akan di berikan sesuai dangan keluhkan, serta sesuai dari resep Dokter. Nyatanya melakukan kegiatan yang di sukai bisa melupakan hal lain, dan itu nyata Nuril rasakan. Bahwa ada janji lain yang telah di lupakannya, yakni memberikan lokasi keberadannya kepada Ustadz Salmanya.


"Mbak Nuril, ponselnya bunyi terus." Kata salah seorang yang sedang berada di dekat meja dimana Nuril menaruh tas slempangnya.


"Enggeh Bu." Jawab Nuril dan langsung bergegas menuju dimana tempat tasnya berada.


Untuk beberapa saat dada Nuril kembali bertalu talu, begitu di lihatnya layar ponsel yang ada di tangannya memperlihatkan nomer ponsel miliknya. Dengan dada berdebar hebat, Nuril mengeser tombol hijau dan menempelkan perlahan ke telinganya.


"Assalamu'alaikum, Ipda Nuril." Lagi dan lagi jantung Nuril jempalitan tidak karuan hanya dengan mendengar suara dari Gus Ali. Dan Nuril merasa ini akan segera menjadi kelemahannya, jika Nuril dengan tidak cermat segera menangani hal yang begitu sensitif yang sering di sebut cinta ini.


Huh, Cinta. Kenapa juga Nuril harus terjebak di dalam pusaran cinta ini, bahkan juga merawatnya hingga bertahun tahun lamanya, bahkan melanggitkan namanya juga. Tapi, apa ini disebut kesalahan, jika di sebut dosa mungkin iya.


Ini terlalu drama, ahh. Cecar hati Nuril, dan segera menjawab salam dari Gus Ali agar tidak perlu mengulang ulang salamnya seperti tadi pagi.


"Wa'alaikumussalam. Enggeh Tadz." Jawab Nuril dengan sedikit menjauh dari keramaian.


"Sampean belum mengirimi saya lokasinya, apa sampean masih sibuk. Kalau iya saya bisa menunggu sambil istirahat." Ucap Gus Ali.


Nuril mengerutkan keningnya sebentar. Nuril tidak ingin Ustadz Salman berfikir bahwa dirinya sengaja melakukan hal ini, untuk menahan ponsel milik Gus Ali berada di tangannya ataupun sebaliknya. "Oh, tidak Ustadz. Kebetulan saya sudah selesai, cuam saya lupa mengabari njenengan." Jawab Nuril. "Saya kirim lokasinya sekarang, enggeh. Assalamu'alaikum." Lanjut Nuril dan segera memutuskan panggilannya begitu mendengar jawaban dari Gus Ali.


Walau seberapa sukanya Nuril dengan Gus Ali, namun sama sekali dia tidak ingin terlihat begitu di hadapannya. Ini hanya perasaan yang di miliki oleh Nuril seorang, jadi tidak baik jika di awal pertemuan ini Nuril terlalu berharap banyak akan hal yang mungkin saja sudah ada yang memiliki dan mendambanya lebih dulu. Dan menyiapkan segalanya akan lebih baik, ibarat pepatah Sedia payung sebelum hujan. Perkara nanti tidak jadi hujan setidaknya payung bisa berguna untuk berlindung dari panas juga.


Bersambung...


####


Emak juga mau siap siap ah. Gus Ali, Emak tunggu di gerbang masuk Panti Jompo yah...


Like, Koment dan Votenya masih di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz kopi


@maydina862


__ADS_2