
Happy Reading...
ππππππ
Suasana akrab dan hangat masih sangat terasa di ruangan yang masih meriah, meski sebagian dari orang orangnya sudah membubarkan diri. Di sudut sofa bludru, Nuril masih duduk dengan senyum yang tak pernah lepas membingkai bibirnya, dan telah benar benar melupakan rasa yang tidak nyaman beberapa hari lantaran ada satu alasan yang tepat namun tidak benar. Ustadz Salman lah alasan Nuril masih terus mempertahankan senyum di wajahnya.
Suara kalem, tawa renyah juga wajah yang bisa Nuril nikmati dengan leluasa, seperti menghipnotis Nuril dan membuat Nuril berandai andai jauh ke dalam khayalannya sendiri.
"Es teh anget, Ril.?" Kata teman Nuril dengan menepuk bahu Nuril sembari tertawa terbahak bahak. "Beteweh, itu dagu di topang mulu, apa berat banget dia yang lagi ada di kepala." Lanjut teman Nuril begitu sudah duduk di samping Nuril.
Nuril tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya pelan mencoba mengenyahkan pikiran tentang seseorang yang juga tengah duduk di sebrangnya dan hanya berjarak 3 kursi darinya. Mungkin, karena dia begitu dekat dengan Nuril dan bisa leluasa berbicara tanpa ada batasan soal seragam dan yang lainnya, sehingga membuat sosok itu bisa begitu saja menyelinap ikut masuk dalam pikiran Nuril.
"Hemm, malah senyum senyum enggak jelas." Kata teman Nuril lagi, dan dengan cepat sudah menyodorkan mikrofon ke arah Nuril.
Nuril melebarkan matanya dengan kedua alisnya terangkat sembari menutup mikrofon di depannya agar gumamannya tidak terdengar oleh yang lain. "Ngapain..?"
"Nyanyi dong, suara kamu kan bagus." Jawab teman Nuril tanpa tedeng aling aling, bahkan dengan suara sedikit keras yang masuk ke mikrofon sehingga sukses membuat semua orang yang menatap ke arah Nuril.
Sadar dengan tatapan semua orang, termasuk Salman A.Rnya, Nuril hanya bisa mengerucutkan bibirnya dan tidak menyadari bahwa tingkahnya yang seprti itu membuat dada Salman A.Rnya bertalu talu.
"Ayo, Ri. Aku bantu dengan do'a." Lagi ujar temna Nuril, dan di sambut dengan sahut menyahut dengan teman teman yang lainnya.
Nuril menghela nafasnya dalam kemudian meraih mikrofon yang masih di sodorkan ke arahnya, lantas ikut berdiri seperti temannya yang kemudian di sambut dengan tepukan tangan meriah oleh teman temannya.
"Oke, baiklah. Tapi, saya minta maaf. Saya tidak begitu pandai dalam bernyanyi, jadi saya ganti dengan puisi saja." Ucap Nuril dengan memandang ke semua arah dan berhenti beberapa detik dimana Ustadz Salman juga tengah memandangnya.
"Bohong banget, padahal suara kamu bagus banget." Timpal teman Nuril yang lain.
"Beneran, kalau nyanyi tidak begitu bisa." Jawab Nuril dengan mencoba meyakinkan kepada semuanya, bahwa apa yang di katakannya tidak sebuah kebohongan. Dan pada kenyataanya memang seperti itu, meski suara Nuril bagus, tapi Nuril memang tidak begitu tau soal lagu lagu dan juga tidak hafal.
"Baiklah, apapun itu. Ayo di mulai." Ucap teman teman Nuril, dan suasana berubah menjadi hening. Kegugupan membuat dada Nuril kembali berdegub lebih cepat, apa lagi saat semua mata menatap ke arahnya, terlebih lagi saat netranya beradu pandang dengan netra teduh milik Salman A.Rnya. Kembali dengan helaan nafas dalam dan cengkraman erat di gagang mikrofon, suara Nurilpun mengalun pelan menembus gendang telinga mengantar getaran kepada seseorang yang tengah duduk tertunduk untuk menetralkan deguban di dadanya.
Dia...
Segala rasa yang tercurah dalam setiap untaian do'a.
Dia...
Sang pengenggam jiwa, penambat raga.
Dia...
Yang terapal di do'a. Namun, tak tergapai dalam nyata.
Karena dia...
Segala resah menyerah...
__ADS_1
Segala gelisah enyah...
Juga segalanya musnah...
Ada rasa yang tak terarah..
Ada rindu yang tak terserah...
Tapi...
Ada celah yanh juga tak memberi celah
Untuk kita terus searah..
Karena...
Kelopak telah jatuh ke tanah..
Hening berangsur angsur berirama tepuk tangan dan juga beberapa kata yang memuji Nuril, atau lebih tidak tepatnya tidak percaya bahwa Nuril bisa membuat kata kata yang lumayan keluar dari karakter Nuril yang di kenal oleh teman temannya. Juga, itu berhasil membuat sudut bibir Salman A.Rnya menyungingkan senyum samar yang misterius.
Jangankan semua orang, Nuril sendiri juga heran dengan kata kata yang keluar dengan spontan dari bibirnya, dan itu semua karena seringnya Nuril membuka buku catatan Salman A.Rnya yang berisikan kata kata manis. Ingin sekali Nuril segera mengembalikan buku itu kepada pemiliknya, namun Nuril tidak memiliku nyali untuk itu. Dan jika itu Nuril lakukan, artinya Nuril harus bersiap menghadapi konsekwensinya ketika mengakui perasaanya kepada Salman A.Rnya.
Konsekwensi terbesar yang harus di hadapi Nuril, sudah di ketahui oleh Nuril saat ini, dan akan lebih baik jika buku itu tetap berada dalam tangan Nuril. Karena, setidaknya Nuril masih memiliki hal mengenai Salman A.Rnya meski tidak dapat bersama dengan orangnya.
Ingin Nuril tidak tau malu, dan berteriak dengan lantang, ataupun bersikap seperti rekan rekannya yang tanpa malu malu mendekati Salman A.Rnya. Tapi, Nuril masih percaya dengan kekuatan do'a yang di langitkannya. Namun, saat Nuril rasa do'anya tidak sampai mengoyang Arsy', dengan jawaban bahwa nama orang lainlah yang tertulis untuk Salman A.Rnya, Nuril tidak berkecil hati. Karena Nuril juga yakin akan ada nama lain yang tertulis baginya di Lauhul mahfudz.
ππππππ
Murottal dari beberapa Imam besar dari Tanah Haram mengalun pelan di audio mobil, yang kini hanya menyisakan Nuril dan Salman A.Rnya saja. Karena hanya Nuril seorang yang tempat tinggalnya sedikit jauh dari yang lain juga sekaligus searah dengan Ustadz Salman.
Tadi Nuril ingin ikut mobil Iptu Jonathan, karena Iptu Jonathan lah yang membawanya ke tempat itu. Tapi, Iptu Jonathan berkata sedang ada kepentingan lain di luar arah jalan pulang, jadi menitipkan Nuril kepada Ustadz Salman. Dan inilah hasilnya sekarang, Nuril duduk dengan malu malu di jok belakang dengan sesekali melirik untuk menikmati bibir Salman A.Rnya yang bergerak mengikuti alunan Murottal yang di setelnya.
Tidak sekali dua kali Nuril tersipu, saat bibirnya juga ikut bergerak mengikuti gerak bibir Salman A.Rnya. Dan jangan pernah bertanya bagaimana nikmatnya, bisa saling sahut menyahut hafalan meski itu tidak di lakukan secara terang terangan oleh keduanya.
Nuril harusnya bisa menyangka, jika Salman A.Rnya juga seorang penjaga sama seperti dirinya. Namun, hati yang sudah terlampau jatuh itu, cendrung tidak ingin mencari tau apapun, dan hanya cukup tau bahwa dirinya jatuh dalam sebuah rasa yang hanya bisa di alunkan lewat do'a saja.
"Ipda Nuril sudah sampai." Ucap Ustadz Salman sembari menoleh ke arah Nuril yang masih asik dengan pikirannya sendiri, hingga ke kagetan yang tampak jelas di wajahnya membuat Salman A.Rnya tersenyum simpul. "Apa saya terlelu mengagetkan sampean.?"
Nuril menggeleng pelan, lantas dengan cepat sudah bergerak hendak membuka pintu. "Pintunya masih di kunci, Uatadz Salman." Kata Nuril dengan wajah tertunduk malu.
"Oh iya, maaf." Jawab Ustadz Salman di barengi dengan suara kunci pintu mobil yang terbuka. Keduanya sama sama turun dari mobil dan berdiri tidak begitu berajuhan namun juga tidak bisa di bilang dekat juga, tapi saling berhadapan dengan kepala sama sama tertunduknya.
"Terima kasih Ustadz Salman." Kata Nuril pelan,
"Sama sama." Hening, dan hanya di isi oleh suara kendaraan yang sedang lalu lalang, serta suara petikan gitar dari pos ronda.
"Sa.."
__ADS_1
"Ma." Ucap keduanya bersamaan, dan berhenti saling bersamaan pula. Hingga membuat keduanya menganggkat kepalanya dan tatapn keduanya saling bertemu untuk sesaat. Namun, dengan cepat keduanya kembali memutus tatapan itu.
"Silahkan sampean dulu." Ahirnya kata Ustadz Salman keluar saat keduanya hening dalam kecanggungan beberapa waktu.
"Sampean saja dulu." Jawab Nuril.
Kembali hening. "Maaf hanya bisa mengantar sampai disini saja."
"Tidak apa apa, Ustadz." Jawab Nuril sembari meremas tali tas slempang yang di kenakannya. "Sekali lagi terima kasih banyak. Saya permisi selamat malam." Lanjut Nuril dan sudah hampir berbalik begitu saja, namun terhenti saat Ustadz Salman menyuruhnya untuk menunggu sebentar.
Ustadz Salman, berlari mengitari mobil dan tak lama kemudian sudah kembali dengan membawa kotak kecil persegi panjang di tangannya, lantas sejurus kemudian sudah terulur kepada Nuril. "Semoga bermanfaat." Ucap Ustadz Salman dengan tatapan hangat. Tidak sadar akan hal itukan Ustadz Salman, dengan tatapan itu membuat apa yang ada di dalam dada Nuril kembali berkobar, setelah bersusah payah mencoba untuk memadamkannya.
Nikmati Ri, Nikmati saja. Ini hari punyamu. Bisik pelan hati Nuril sembari tanganya terulur dan matanya menikmati dosa indah di hadapannya. "Terlalu repot repot, tapi Terima kasih banyak Ustadz Salman." Jawab Nuril dengan sungingan senyum yang lebih melebar. Dan tidak ingin menebak apa isi dari kotak itu, hanya membayangkan bagaimana cara orang yang memberinya mencari kado itu, membuat hati Nuril kembali berada dalam kebun bunga dan berandai andai liar.
Dan dari kesekian kado yang di dapatnya malam ini, mungkin benda kecil yang berada dalam kotak inilah yang akan menjadi benda keramat bagi Nuril selain dari Buku catatan milik Salman A.Rnya.
"Selamat malam, Ipda Nuril. Assalamu'alaikum.." Ucap Ustadz Salman dan segera berbalik kembali ke dalam mobilnya setelah salamnya di jawab oleh Nuril, dengan ******* senyum di balik kepala yang tertunduk. Dan lambaian tangan Nuril mengiring kepergian mobil yang bergerak pelan menyisakan asap yang mengepul bergulung gulung di udara, seperti perasaan keduanya yang juga di biarkan mengudara lewat do'a.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
π€:Kodenya apa..?
βΊοΈ:Kode apa Mak..?
π€:Kodenya Kado..πππ
Masih selalu di tunggu Like, Coment dan Votenya enggeh...
Love Love Love...
ππππππ
By: Ariz kopi
__ADS_1
@maydina862