Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Nikahin Saja


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Gemericik air dari filter kolam ikan terus menimbukan suasana yang tenang semakin menyenangkan. Sedikit buih itu terus berarak dan membuat ikan ikan Koi saling berebutan, di tambah dengan tangan Nuril yang sesekali melemparinya dengan pelet membuat ikan ikan itu terus berebut ke permukaan dengan mulut terbuka lebar.


Langit Jogja di malam hari masih sama saja seperti biasanya, sama panasnya seperti sebelum seblumnya. Dan mungkin karena cuaca panas ini, hingga membuat wajah Nuril terus saja memerah. Tapi, jika di lihat dari bibirnya yang sesekali melengkungkan senyuman kecil. Jelas, itu bukan karena cuaca panas yang sedang terjadi. Melainkan karena alasan tertentu. Dan itu bisa jadi, karena kejadian pagi tadi.


Ya itu benar adanya. Dan terbukti dengan gelengan kepala Nuril yang sesekali terlihat berbarangan dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Bahkan, usapan kedua tangan Nuril juga tidak kalah menjadi bukti, bahwa Nuril sedang dalam mode malu malu tapi ....


Kaki putih Nuril yang terjulur ke dalam kolam ikan membuat gerakan lembat ke kiri ke kanan, menambah keterlihatan dari seseorang di sekitar Nuril, bahwa Nuril tengah memikirkan sesuatu yang membuatnya tersipu malu. Dan itu tidak luput dari penglihatan Papa dan Mamanya Nuril. Hingga kedatangan mereka di dekat Nuril tidak bisa di rasakan oleh Nuril.


"Dhemmm..." Tangan Papa Nuril mendarat di bahu Nuril berbarengan dengan deheman pelan.


Nuril menoleh dengan wajah datar, dan berubah kesal begitu melihat wajah kedua orang tuanya yang tengah tersenyum ke arahnya dengan expresi seperti mengejek. Itu, sebenarnya tidak benar. Hanya, Nuril saja yang merasa seperti itu, lantaran perdebatan perdebatan sebelumnya mengenai Mas Ainya.


Kedua orang tua Nuril ikut duduk di samping Nuril, sehingga Nuril berada tepat di tengah tengah mereka dan kedua tangan Nuril di raih oleh kedua orang tuanya, sehingga suasa hangat begitu kental terasa. Tangan kiri Nuril yang berada dalam genggaman Papanya beberapa kali di elus oleh Papa Nuril. Sedang tangan kanan Nuril berada hangat dalam genggaman kedua tangan Mama Nuril.


"Itu ikan yang warna kuning, adalah ikan yang kamu beli waktu kamu mau berangkat pendidikan AKPOL, Wi." Ucap Papa Nuril pelan.


"Yang bener, Pa.?" Kata Nuril dengan nada agak kaget.


"Iya, dan yang warna putih itu, yang kamu beli pas kamu libur pertama kali." Jawab Mama Nuril.


"Hemm, sudah pada tumbuh gede. Cukup lama juga Uwi enggak lihat. Uwi sudah lupa, karena banyak yang berubah." Kepala Nuril disandarkan di bahu Papanya. Kaki Nuril terus bergerak gerak membuat riak riak di kolam ikan.


"Kayak Mas Aimu." Kata Mama Nuril dengan cekikian. Nuril seketika memanyunkan bibirnya ke arah Mamanya, dan berhasil membuat tawa Mama Nuril semakin melebar saja. "Baiklah, Ustadz Salmanmu." Kata kata Mama Nuril, sukses membuat Nuril merajuk ke Papanya dengan manja.


"Pa, lihat deh Mama."


Papa dan Mama Nuril saling tatap untuk sesaat, lantas seperti ada kesepakatan dari keduanya lewat pandangan mata yang tidak di sadari oleh Nuril.


"Ma, jangan gitu ah." Kata kata Papa Nuril, membuat Nuril bersungut penuh kemenangan ke arah Mamanya. Tapi, itu tidak berlangsung lama. Karena Papa Nuril segera meneruskan kata katanya dan membuat Mama Nuril menyeriangai penuh kemenangan. "Tapi, Papa juga penasaran, Wi. Bagaimana hubungan mu dan Uatadz Salman."


"Apa apain sih, Papa. Itu sama sekali tidak penting banget tau." Sergah Nuril dengan cepat. Itu tentu dengan wajah yang memerah karena malu.


"Masak enggak penting.Coba kala.."


"Ma, itu buka.."


"Ih, mukanya merah. Malu tapi mau banget." Potong memotong ucapan terus saja Nuril dan Mama Nuril lakukan. Hingga membuat Nuril benar benar meresa jengkel.


"Pa, Mama nyebelin banget deh. Bantuin, Uwi dong." Rajuk Nuril.

__ADS_1


"Papa mesti bantu gimana, kan Papa juga pingin tau gimana hubunganmu dan Ustadz Salman." Jawab Papa Nuril.


"Ahh, semuanya nyebelin." Ucap Nuril dengan berusaha melepaskan tangannya dari kedua orang tuanya. Namun, sia sia belaka. Karena, terlihat sekali jika kedua orang tuanya ingin berbicara serius dengan Nuril.


"Ayo dong Pa, Ma. Please." Mohon Nuril.


Gelengan tegas kepala Papa dan Mamanya Nuril, membuat Nuril tidak bisa berbuat apa apa selain hanya pasrah dengan kekutan kebersamaan mereka. Dua banding satu, dan saat ini Nuril merasa kehadiran Kakaknya begitu dia harapkan.


Bukan Nuril tidak ingin menceritakan soal Ustadz Salman kepada orang tuanya. Hanya saja, sekarang jauh berbeda. Andai saja Ustadz Salmannya itu bukan Mas Ainya, dan bukan orang yang sama, jelas akan lain ceritanya. Ini, gimana Nuril mau cerita, jika orang yang di cintai Nuril juga sekaligus orang yang di bencinya.


Dengan suara lirih, Nuril ahirnya perlahan lahan membuka suaranya dan dengan menunduk dalam menahan malu, bibir tipis Nuril terus menceritakan kedekatan dirinya dengan Ustadz Salmannya atau Mas Ainya. Dan di setiap dari cerita Nuril itu, tidak pernah sama sekali kedua orang tuanya berhenti mengulum senyum, karena merasa lucu dengan apa yang di alami Nuril dan Gus Ali.


Saling, lari dari perjodohan, saling menghindar. Tapi, justru saling jatuh cinta di tempat lain. Dan kemudian, saling melepaskan atas nama ridho kepada orang tua. Yang pada ahirnya memberi jalan pada keduanya untuk bersama.


"Kalau begitu tidak akan sulit kan sekarang. Ustadz Salmanmu ternyata Mas Aimu. Jadi, semuanya akan berjalan lancar. Dan kamu bisa tidak perlu berangkat besok siang.". Kata Mama Nuril.


"Itu tidak mungkin, Ma. Dalam ikatan dinas seperti Uwi, tidak mudah kayak beli sate. Orang beli sate aja kalau mau batalin pesanannya juga enggak seenak kita aja. Apa lagi yang Uwi lakukan menyangkut mandat dan sumpah." Jawab Nuril. Tanpa harus memperjelas segalanya Nuril sudah cukup tau arah pembicaraan ini di giring kemana. Dan itu tidak jauh jauh dari soal perjodohan tentunya.


"Bisa sih enggak, Pa. Besok kita nikahin saja Uwi sama Gus Ali sebelum berangkat.?" Kata Mama Nuril spontan. Dan itu membuat Nuril langsung tersedak salivanya hingga terbatuk batuk hebat.


"Mama apa apain sih. Siapa juga yang mau nikah sama Si Kampret Sarungan." Jawab Nuril dengan nada sewot.


"Lha kan, ternyata orang yang kamu sukai adalah Mas Aimu, Wi. Lalu, apa lagi yang kamu tunggu lagi." Ucap Mama Nuril.


"Pa, katakan sesuatu." Melas Nuril kepada Papanya.


Papa Nuril hanya terus tertawa dan tertawa melihat Nuril yang terlihat lucu. Di mata Papa Nuril. Sikap Nuril yang menolak di bibir dan mengiyakan lewat tatapannya, membuat Papa Nuril tidak tahan untuk menggodanya.


"Seperti yang kamu bilang tadi, Wi. Semua akan berjalan berubah. Seperti Mas Aimu, yang menjadi sosok yang kamu kagumi."


"Pa, yang Uwi kagumi itu Ustadz Salman." Tegas Nuril.


Kedua orang tua Nuril kembali tertawa terbahak bahak. "Ustadz Salman itu Mas Aimu, Wi. Mereka orang yang sama." Kata Mama Nuril.


"Beda, Ma. Mereka tidak sama. Mas Ai itu menjengkelkan sekali. Sedang Ustadz Salman itu lembut dan manis." Jawab Nuril.


"Lha kan mereka satu orang apanya yang beda. Cuma panggilannya saja yang beda." Timpal Papa Nuril.


"Pokoknya beda. Pokoknya Uwi enggak mau Mas Ai. Titik." Jawab Nuril.


"Berarti mau sama Ustadz Salman.?" Kata Papa dan Mama Nuril hampir bersamaan.


Nuril memandang keduanya bergantin dan kemudian lekas berdiri. "Bodoh amat. Pokoknya Uwi enggak mudah di rayu rayu." Kembali wajah jutek Nuril tergambar seiring dengan tawa kedua orang tua Nuril yang semakin berderai.

__ADS_1


"Besok mereka mau kembali ke Banyuwangi, apa kamu yakin enggak ma.."


"Enggak Pa." Kata Nuril tegas dan langsung berdiri dari temptanya.


"Engggak apa.?" Tanya Papa Nuril dengan nada mengejek.


"Pokonya ya enggak." Jawab Nuril Ambigu.


"Sarungnya Mas Aimu tadi bagus lho, Wi." Kata Mama Nuril tiba tiba dan itu berhasil membuat wajah Nuril memerah sempurna, lantaran teringat dengan ucapan Gus Ali yang membahas soal masuk ke dalam sarung..


"Jadi, besok mau nikah sebelum berangkat." Teriak Mama Nuril, dan itu berhasil membaut Nuril menghentak hentakan kakinya dengan sebal. Namun, tidak ada kata kata penolakan dari bibir Nuril.


"Sikapnya enggak kayak Polwan banget kalau kayak gitu." Lanjut Mama Nuril sebelum Nuril menghilang di balik pintu.


Kedua orang tua Nuril tersenyum penuh misterius, sebelum ahirnya Papa Nuril mengangkat poselnya dan mendial salah satu kontak. Dan seketika nada suaranya berubah saat sambungan terlfonya terangkat dan percakapan panjangpun berlangsung hingga berahir dengan senyum puas dari kedua orang tua Nuril.


Sementara Nuril terus saja ngedumel tidak jelas sembari berjalan menuju kamarnya. Dan berahir dengan kembali tersipu malu saat pembahasan soal sarung dengan Mas Ainya terlintas di otaknya. Dan kata katanya membuat orang yang mendengarnya berfikir keras tentang masuk ke dalam sarung. Tak terkucuali Mama Nuril yang baru saja tadi berhasil menyindirinya dengan terang terangan.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Sarung lagi sarung lagi...


Like, Coment dan Votenga di tunggu enggah.


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2