
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Kabut masih memeluk Bumi, terlihat di ufuk timur semburat jingga berpendar menandakan bahwa Matahari akan segera keluar dari peraduannya. Nuril sudah bersiap dengan pakaian oleh raganya. Setelan longgar berwarna abu abu membuatnya terlihat semakin cantik, apa lagi kerudung waran hitam yang pas di kepalanya juga menambahkan dirinya tampak sempurna.
Nuril baru saja hendak menali sepatunya saat seorang laki laki keluar dari samping rumah Nenek Nuril. Laki laki itu, masih menggunakan baju koko serta sarung, bahkan pecinya saja masih bertengger di kepalanya, dan tampak uban yang meski tidak terlalu banyak, tapi cukup menyita perhatian.
"Mau kemana, Wie." Tanya laki laki.
"Biasa Pakde, kebiasaan pagi. Joging." Jawab Nuril tanpa melihat siapa yang bertanya dan fokus ke arah sepatu yang berada di kakinya. "Pakde mau kemana.?" Tanya balik Nuril.
"Juga kebiasaan pagi, Joging." Nuril menoleh sebentar lantas tertawa terbahak bahak melihat penampilan Pakdenya, yang merupakan saudara satu satunya yang di miliki Ibu Nuril.
"Pakai kayak gitu.?" Kata Nuril di tengah tawanya yang membahana.
"Kenapa, sah sah saja."
"Ya memang, juga tidak ada yang melarang." Jawab Nuril lantas berdiri dan memulai pemanasan ringan.
"Nah itu tau." Di pukulnya bahu Nuril dan mengikuti cara pemanasan Nuril yang tengah meregangkan otot kaki. "Harusnya jam segini kamu itu sudah di dapur, bantu bantu Uti." Lanjut Pakde Nuril setelah mereka cukup lama saling diam.
"Hemm. Juga sekaligus mendengarkan Omelan Uti." Jawab Nuril dengan melempar senyum jahil.
"Kamu itu tidak pernah berubah. Mamamu tau kamu disini.?" Tanya Pakde Nuril lagi.
"Tau, semalam Uwi sudah ngabarin." Jawab Nuril acuh tak acuh.
"Kamu tumben langsung kesini, biasanya ke rumah Mbah Ibukmu dulu."
"Kan biasanya Uti sama Pakde enggak di rumah." Jawab Nuril dengan sudah mulai lari alri di tempat. "Lagi ini sudah 4 tahun lebih Nuril tidak kesini."
"Iya juga sih. Ya sudah ayo kalau Joging." Kata Pakde Nuril lagi.
"Pakde yakin mau ngikutin Uwi."
"Kenapa enggak boleh.?"
"Boleh saja, cuma Uwi enggak mau Pakde Ikut, kelamaan. Uwi mau ke Bukit." Jawab Nuril dan sudah menyalip larian kecil Pakdenya.
"Bukit.? Itukan jauh, Wi." Kata Pakde Nuril dan sudah mensejajari larian kecil Nuril.
"Makanya Pakde enggak usah ikut. Nanti pulangnya Uwi bawain Mangga muda." Usai dengan kalimatnya Nuril sudah memacu larinya sedikit, dan meninggalkan Pakdenya di belakang yang tengah berteriak teriak memanggilnya.
"Cepat pulang, nanti Mamamu keburu menjemputmu. Bukannya nikahan sepupumu hari ini." Teriak Pakde Nuril sembari masih mengikuti Nuril yang berlari sedikit kencang.
"Akan nikahnya masih habis Dzuhur Pakde." Jawab Nuril dengan melambaikan tangan menandakan bahwa dirinya tidak ingin di ikuti dan segera akan berlari dengan kencang.
"Ehh, Wi. Bukit itu sudah tidak ada buah Mangganya." Pekik Pakde Nuril, namun sia sia belaka karena Nuril sudha jauh dan juag sekaligus headseat juga sudah melingkar di atas kepalanya hingga telinganya. Hingga menyisakan gelengan kepala ringan oleh Pakde Nuril.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Suasan pedesaan dengan kayu Randu besar besar di pinggir jalan, membuat suasana asri begitu terasa. Nuril terus saja berlari pelan sembari mengisi paru parunya dengan pasokan oksigen yang masih perawan ini. Hamaparan padi yang masih hijau juga menambah segar pemandangan mata.
Dan perlahan sawah sawah itu bergeser dengan tumbuhan Ilalang saat Nuril sudah mulai naik ke kaki bukit yang hendak di tujunya. Nuril tercengang saat sudah sampai di puncak bukit, alih alih dirinya menemukan pohon pohon Mangga besar yang dulu sering sekali Nuril naiki jika sedang berkunjung ke Rumah Utinya. Nuril justru menemukan sebuah beteng tinggi yang tidak tau seberapa lebarnya luag luasnya, karena sejauh mata memandang, benteng itu memanjang hingga tidak terlihat tepinya.
Nuril masih terus berdiri di jalan besar berbatu tertata rapi itu, dan matanya masih terus saja memandangi beteng tembok setinggi dua meter lebih yang berada di depannya. "Sejak kapan disini jadi Rumah. Lagian apa ada Listrik masuk ke sini." Gumam Nuril sembari menyeka bulir bulir keringat yang bertebaran di wajahnya.
Nuril mengira akan menyenangkan duduk di atas dahan pohon Mangga sembari menikmati pemandangan pagi di sisi jauh dari Bukit yang menyajikan pemandangan hijau pedesaan. Namun, perhitungannya benar benar salah kaprah kali ini, hingga membuatnya sekarang duduk di pinggiran jalan dengan selonjoran.
"Papa saja tidak mau membeli bukit ini, katanya tidak menghasilkan. Lah ini yang beli jelas orang nekat." Ucap Nuril masih dengan memperhatikan gerbang besi yang tertutup rapat dengan gembok besar yang mengikat rantai.
Cukup lama Nuril menikmati kesendiriannya, sembari memikirkan kemungkinan yang terjadi nanti di acara akad nikah adik sepupunya. Helaan nafas berulang kali Nuril lakukan, setiap kali teringat bahwa kali ini Nuril tidak bisa menghindari pertemuan dengan Kampret Sarungan musuh bebuyutannya. Dan entah apa yang harus Nuril lakukan nanti ketika bertemu dengan orang itu.
Nuril segera bangkit dari tempat duduknya, ketika terdengar suara raungan mesin motor dua tak. Dan seketika dadanya berdegub dengan sangat kencangnya saat melihat siapa yang mengendarai Motor tersebut. Bahkan Nuril sampai menyakinkan penglihatannya dengan menyeka beberapa kali matanya, bahwa apa yang di lihatnya bukan merupakan pemampakan Jin penunggu bukit.
Sekita Nuril menoleh kembali ke Beteng tinggi di belakangnya, dan cerita cerita seram tentang Bukit ini berputaran di kepalanya. Namun, usaha Nuril menggelang juga tidak ada hasilnya, karena tetap saja bayangan itu benar adanya. Bahkan motor satunya yang berada di belakang orang yang membawa motor pertama benar benar orang yang Nuril kenal.
Nuril terlambat berbalik, hingga membuat kedua orang yang tenga menaiki motor tersebut menyadari keberadaan Nuril dan sama terkejutnya dengan Nuril, bahkan sampai sampai mengerem dengan mendadak agar berhenti tepat di dekat Nuril.
"Ipda Nuril. Nuril. Tidak salah. Yakin ini." Ucap Iptu Jonathan dengan antusias. Dan Nuril hanya bisa menunduk sembari mengusap tengkuknya. Gugup, jelas sudah pasti. Dan it penyebabnya adalah dia yang sedang duduk di atas Motor dengan pakaian lain dari biasanya.
Jika biasanya Ustadz Salman, menngunakan baju ala ala santri, ataupun baju baju sopan dan cendrung formal dengan kendaraan Alexa si Vespa butut. Tapi, kali ini pemandangan ini sungguh membuat Nuril enggan berpaling. Hoodie Abu Abu bergambar di padu dengan celana Jins warna hitam, di tambah dengan topi yang di balik membuat penampilan Ustadz Salman sungguh luar biasa gagah tak kalah dari Iptu Jonathan.
"Nuril, harusnya seperti itu saja. Kan kita sedang tidak berada di kesatuan." Tutur Iptu Jonathan lagi, dan membuat Nuril tersadar dengan apa yang tengah di lakukannya. Mengaggumi seseorang yang telah berpunya.
"Bang Jo, seperti itu saja. Bukan begitu Mas Salman."
"Boleh Bang Jo. Assalamu'alaikum Ipda Nuril." Sapa Ustadz Salman.
Setelah menjawab salam Ustadz Salman. Nuril mencubit tangannya sendiri, dan dirasakan sakit bahkan Nuril juga sadar, ini artinya dirinya sedang tidak berhalusinasi ataupun sedang di giring ke dimensi lain oleh mahluq astral penghuni Bukit. Dan artinya dirinya memang benar benar bertemu dengan Uatadz Salmannya. Tapi tunggu, bukankah Nuril sudah berjanji akan melupakan Ustadz Salamannya. Lantas apa ini, kenapa Nuril merasa sangan gugub juga bahagia bertemu dengannya.
Seseorang tolong ingatkan Nuril, jangan bahagia berlebihan, agar nanti juga tidak kecewa berlebihan juga.
"Tunggu, kenapa kamu ada disini. Bukannya kamu berasal dari Jogja ya meski lahir dan sedikit besar di Bali." Ucap Bang Jo.
"Keluarga Ibu juga Ayah saya berasal dari sini Iptu Jo."
"Ralat, harusnya Bang Jo." Kekehan kecil meluncur dari bibir Bang Jo. Membuat Nuril nyengir kuda sebentar dan segera mengalihkan pandangannya karena netranya bersitubruk dengan netra coklat milik Gus Ali. "Hemm, bisa ketemu calon mertua." Lanjut Bang Jo kembali terkekeh sendirian, karena kedua orang yang berada di sampingnya justru saling tersenyum kaku.
"Ri, ikut ayo." Kata Bang Jo lagi.
Nuril kembali mengangkat kepalanya dan melihat kedua orang di depannya. "Kemana, bukannya ini sudah di puncak." Jawab Nuril sembari melihat jalan yang berahir di depan pintu gerbang dari besi tersebut.
"Panen buah kata Mas Salman, benarkan Mas Salman.?"
"Kurang lebih seperti itu, Bang Jo." Jawab Ustadz Salman.
"Ayo ikut saja." Lanjut Iptu Jonathan.
__ADS_1
Nuril tidak langsung menjawab, tapi justru melihat ke arah Ustadz Salman sebentar untuk menyakinkan dirinya sendiri.
"Monggo ikut saja Ipda Nuril." Kata Ustadz Salman dengan senyum tipia yang menjadi racun bagi Nuril.
"Baiklah." Jawab Nuril pelan.
"Jadi, kamu mau tak boncengin apa bonceng Mas Salman." Tanya Bang Jo dengan senyum nakalnya.
Tentu saja milih di bonceng Ustadz Salman, pekik hati Nuril. "Saya naik motor sendiri saja." Jawab Nuril dengan pelan.
"Oke, Ustadz Salman tak bonceng ya." Kata Bang Jo, dan tanpa berkata apa apa Ustadz Salman bergegas turun dari motornya dan memberikan kunci motornya pada Nuril.
"Terima kasih Ustadz Salman."
"Sama sama." Jawab Ustadz Salman, dan bergegas berjalan mendekati gerbang yang tengah tertutup itu, tidak naik ke boncengan motor Bang Jo.
Setelah pintu gerbang terbuka, seketika mata Nuril terbelalak. Karena pemandangan kebun jeruk dengan buah yang sungguh sangat lebat memenuhi pemandangan matanya, bahka hampir hampir saja air liur Nuril menetes. Pohon jeruk yang belum terlalu besar itu berjajar rapi, dan di tengah tegahnya terdapat jalan yang cukup untuk jalan dua mobil sekaligus.
Nuril tak berhenti tabjuk, hingga motor yang ti naiki mengukuti motor di depannya berbelok di sebuah rumah yang tidak cukup namun berlantai dua. Balkonnya berpagarkan kayu kayu jati yang di ukir dengan cat mengkilap, membuat kesan rumah ini persis seperti Villa di pegunungan di Kota Batu yang Nuril pernah kunjungi.
Masih dengan kagum Nuril mengikuti langkah pemilik kebun yang mengajaknya untuk ke Gazebo yang tidak jauh dari rumah tersebut. Air mengalir di sebuah kolam ikan Koi yang jumlahnya lebih dari seratus itu, dan tampak sekali jika itu adalah air sumber asli, karena airnya sangat dingin.
"Mas Salman, boleh ya memetik buah jeruknya." Ujar Bang Jo, lantas setelah mendapat anggukan pelan dari Ustadz Salman, Bang Jo segera berdiri dan tempatnya duduk dan mengajak Nuril ikut serta sembari mengajaknya terus berbicara kesana kemari, yang hanya di sahuti datar saja oleh Nuril, hingga mereka kembali lagi kr Gazebo lagi dengan menenteng buah jeruk cukup banyak.
"Ini masih belum masak, Bang Jo." Kata Ustadz Salman dengan menyisihkan beberapa buah yang masih terlihat hijau.
"Masak sih." Tanpa pikir panjang Bang Jo segera mengupasnya dan benar adanya dalamnya masih terlihat sedikit putih, juga tanpa mau mendengarkan ucapan Ustadz Salaman lebih dulu, Bang Jo segera memakannya hingga wajahnya langsung berubah karena keasaman, dan itu berhasil membuat Nuril juga Ustadz Salman tertawa tanpa canggung lagi.
Meraka terus saja bercengkrama di Gazebo dengan tawa yang tidak pernah lepas, karena Bang Jo senantiasa membuat banyolan yang sesunggunya garing namun dapat di bungkus dengan tingkah kocaknya. Dan hingga tanpa sadar lirikan lirikan kecil yang sempat di curi Nuril tertangkap basah oleh Ustadz Salman, lantas menbuat Nuril kembali teringat jika ini tidak seharusnya dia lakukan.
Tapi, sisi hati kecil Nuril lainnya berkata. Biarkan aku menikmati kebetulan ini, menikamati senyumnya, menikmati berada di sekitarnya, sebelum ahirnya aku benar benar melepasnya dan menyimpan ini sebagai kenangan yang tidak akan pernah terulang.
Bersambung...
####
Nungguin Tunangan yah.. Sabar yah. Nunggu baju lebaran Emak kelar dulu.
Tetap semangat menjalani Puasanya.
Like, Koment dan Votenya di tunggu yah...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
@maydina862
__ADS_1