
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Api berkobar dimana mana dan menambah panas malam mencekam di puncak musim panas yang tengah melanda Afrika Selatan. Kekacauan yang terjadi di iringi dengan penjarahan oleh pihak pihak yang mengatas namakan keadilan orang orang lemah. Tangis serta teriakan semua berbaur menjadi satu, antara takut, panik dan meminta tolong. Hingga itu benar benar membuat suasana semakin kacau balau.
Hal seperti ini sudah akrab sekali bagi Nuril, mengingat sudah sembilan bulan lamanya Nuril mengabdikan dirinya. Namun, malam ini benar benar malam yang cukup menguras tenaga Nuril. Senjata laras panjang masih senantiasa berada dalam dekapannya sejak berawalnya kerusuhan siang tadi, hingga kini sudah tujuh jam berlalu dan itu juga belum ada tanda tanda akan berahir.
Nuril masih sigap dengan sikap siapnya dan berdiri di barisan Sniper dengan sikap waspada. Karena jauh di belakang Nuril ada banyak anak anak kecil yang salah satunya merupakan anak orang penting dalam jajaran pemerintahan. Dan pemboikotan ini jelas ada hubungannya dengan anak tersebut.
Sikap sigap Nuril seketika berubah bersiap dengan meletusnya satu tembakan peringatan dari pemimpin misi Nuril. Dan dengan langkah lebarnya Nuril beserta rekan sejajarannya mulai menjalankan strategi yang sudah di sepakati sebelumnya. Berada dalam pasukan sayap kiri, Nuril beserta beberapa rekan rekannya sudah merayap siap dengan posisi masing masing, dan tinggal menunggu aba aba yang di berikan berikutnya.
Senjata laras panjang Nuril sudah mengacung tepat ke arah bidikan dan hanya tinggal menarik pelatuknya saja, maka timah panas yang barada di dalamnya akan siap meluncur. Semenit dua menit, semua masih berjalan lancar tanpa hambatan. Hingga, pada menit ke sepuluh lah, semua terasa lebih mencekam lantaran tanpa di nyana para pemboikot dengan cepat sudah melempar Bom Molotov secara brutal.
Mata awas Nuril memicing di tengah kilauan cahaya dari api yang membara dimana mana, tatkala Nuril mendengar suara teriakan anak kecil meminta tolong. Dan begitu Nuril menangkap siluet anak kecil yang tengah terjebak di antara bara api dengan luka bakar di bagian kaki kirinya.
Tanpa pikir panjang, Nuril segera bangkit dari tempatnya dan berlari secepat kilat membelah api yang sudah menjilat jilat dimana mana. Gerakan Nuril yang spontan membuat para pemboikot itu juga ikut bergerak cepat memperhatikan Nuril yang berseragam lengkap dengan senjata tanpa Nuril sadari.
Tembakan demi tembakan terus menjadi irama yang memekakan telinga seiring dengan tapak kaki Nuril yang mengayun meninggalkan rekan rekannya. Nuril segera meraih anak itu dalam dekapannya dan kembali berlari membawa anak itu menuju pusat pertolongan.
Separuh jalan Nuril sudah lalui, dan gerakan gesitnya seketika terhenti mana kala sebuah serangan mendadak mengepung Nuril dari berbagai arah.
"Prang.." Suara botol pecah dan seketika menyemburkan hawa panas lewat api yang dengan cepat berkobar mengepung tubuh ramping Nuril. Nuril segera meringkuk guna melindungi anak kecil yang berada dalam dekapannya. Lantas kembali bergerak dengan gesit menembus api yang tengah berkobar saat di lihatnya salah satu rekannya memberikan kode baginya untuk melempar anak dalam dekapannya ke sana.
Helaan nafas lega Nuril terlihat jelas tatkala sang anak berhasil tertangkap dalam dekapan rekan Nuril setelah sesaat tadi Nuril melempar tubuh kurus dalam dekapannya. Namun, kelegaannya itu hanya sesaat saja, karena lemparan Bom Molotov itu kembali menerjang Nuril dan itu tidak hanya satu atau dua, melainkan beberapa hingga Nuril benar benar terkepung di dalamnya tanpa satu rekan sekalipun.
Seragam coklat yang Nuril gunakan memang di desain tidak mudah terbakar, tapi bukan berarti itu tidak akan mengakibatkan luka pada tempat yang lain, terutama pada wajah Nuril yang tidak tertutup pengaman.
Api yang menjilat jilat itu, berhasil menjilat bagian pipi Nuril saat Nuril berusaha untuk lari dari kepungan Api yang sudah mengepung dirinya, hingga seragamnya juga ikut terlahap api yang menggila itu. Bahkan, Nuril tak ubahnya seperti api yang tengah berjalan saat dirinya berlari menuju tempat pertolongan pertama.
Nuril sudah hampir kehilangan kesadarannya karena kepayahan yang di rasakannya. Namun, seketika tersadar dengan cepat ketika ikatan gelang yang berada di tangannya hendak terlepas dari pergelangannya dan segera meraih gelang itu dalam gengaman tangannya erat erat.
Tidak ada yang Nuril pikirkan saat ini, selain dari wajah wajah orang yang mencintainya dengan tulus. Dan seluruh senyum keluarga Nuril tergambar jelas di depan matanya, kepercayaan mereka, harapan mereka, dan impian mereka menyambut kepulangan Nuril tiga bulan lagi, membuat Nuril terus berlari dengan susah payah untuk mendapat pertolongan pertamanya.
__ADS_1
"Bruk.." Tubuh Nuril ambruk tepat dengan beberapa kain basah yang merangkul tubuhnya guna untuk memadamkan api yang membakar seluruh seragamnya. Dan tangan Nuril masih senantiasa mengenggam erat gelang pemberian Bunda Ikah hingga kesadarannya benar benar terenggut darinya bersama dengan senyum Bunda Ikah saat memakaikan gelang itu ke tangan Nuril.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Prang.." Pecahan gelas berserakan seiring dengan tergelincirnya gelas itu dari tangan Gus Ali dan dengan itu debaran demi debaran ikut juga berirama di dada Gus Ali. Debaran itu bukan debaran yang aneh ataupun debaran yang membuat hati Gus Ali melonjak bahagia. Melainkan sebuah debaran kekwatiran. Dan itu sama sekali tidak ingin berhenti begitu saja, meski bibir Gus Ali sudah beristighfar berulang ulang kali.
"Mas, hati hati." Suara Bunda Ikah juga tidak kalah gelisah seperti hati Gus Ali saat ini. Apa lagi saat di lihatnya Gus Ali sama sekali tidak fokus dengan beling beling yang tengah di pungutinya. "Kenapa, ada apa..?" Tanya Bunda Ikah lagi sembari ikut berjongkok dan memunguti pecahan beling itu bersama Gus Ali.
"Nda, biar Ali saja yang membersihkan. Bunda duduk saja, Ali takut tangan Bunda tergores." Jawab Gus Ali sembari menarik tangan Bunda Ikah dan menuntun Bunda Ikah agar berdiri lantas mendudukannya di kursi makan.
"Bunda kenapa jam segini belum tidur.?" Lanjut Gus Ali lagi sembari meneruskan pekerjaannya.
"Bunda mau ambil air minum buat Abi, Mas." Jawab Bunda Ikah singkat saja dan membuat Gus Ali memaliangkan wajahnya guna menatap Bundanya. Bukan apa apa, hanya saja dari nada bicaranya Gus Ali cukup faham, bahwa Bundanya sedang gelisah. Lantaran, air minum Abinya sudah di bawanya tadi saat masuk ke kamar.
"Sampean kok belum tidur jam segini, dan kenapa masih berada di dapur. Sampai sampai memecahkan gelas." Lanjut Bunda Ikah.
"Ali mau ambil air minum, Nda. Tapi, tidak sengaja gelas di tangan Ali tergelincir tadi." Jawab Gus Ali berbarengan dengan selesainya kegiatannya membersihkan beling beling itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Hati hati, Mas." Ucap Bunda Ikah lagi.
"Bunda tidak tau, Mas. Dan ini di bawah kendali Bunda, Mas." Di balasanya genggaman tangan Gus Ali dan untuk beberapa saat membalas tatapan Gus Ali dengan masih di liputi kegelisahan yang sama.
"Abi kan sudah membaik, Nda. Jadi, Buda tidak perlu kwatir berlebihan. Lagi pula sudah ada Ali yang akan meringankan kegiatan Abi." Di usapnya pipi Bunda Ikah oleh Gus Ali yang tengah berlinang air mata.
Bunda Ikah semakin sesenggukan tidak bisa mengontrol perasaannya yang sedang di liputi kegelisahan tidak menentu. Dan dekapan hangat Gus Ali sedikit membuat Bunda Ikah tenang, namun tidak berlangsung lama. Lantaran puncak kegelisahannya mengerucut pada satu nama yang menyangkut soal putranya.
"Mas, Bunda tiba tiba sangat merindukan, Juju." Deg, lirih Bunda Ikah membuat Gus Ali yang tadinya sudah sedikit rilex dengan kegelisahan yang melanda, seketika teringat dengan alasan tergelincirnya gelas di tangannya tadi. Dan membuat Gus Ali menghela nafasnya dalam dalam agar tak terlihat oleh Bundanya, bahwa dirinya juga tengah gelisah oleh hal yang sama.
"Apa anak itu baik baik saja. Bunda benar benar gelisah, Mas." Gus Ali semakin memgeratkan pelukannya.
"Tidak ada penawar paling ampuh gelisah di hati daripada do'a. Bukankah hal itu yang selalu Bunda ajarkan kepada, Ali." Jawab Gus Ali ahirnya.
"Bunda tau itu, tapi ini susah sekali. Sedari tadi senyum Juju terus saja terlintas di mata Bunda." Di urainya pelukan Gus Ali lantas di susuri wajah Gus Ali yang tengah menatap Bunda Ikah dengan senyum tenang khas gaya Gus Ali. "Telfonlah dia, Mas."
__ADS_1
Gus Ali tidak menjawab, dan hanya memandang Bundanya dengan tatapan bingungnya. Karena, jujur jauh di dalam hatinya Gus Ali ingin melakukan itu. Namun, saat mengingat bahwa Ipda Nurilnya disana sedang bertugas, Gus Ali menepis jauh keingianannya itu. Agar dirinya tidak menjadi alasan gagalnya tugas Ipda Nuril meraih mimpi mimpinya.
"Mas.." Gus Ali membuang jauh inginnya dan kembali menekatkan hatinya, bahwa tidak ada yang lebih baik dan indah daripada menghargai keputusan orang yang memenangkan hatinya, ketimbang harus egois untuk mendengarkan keingianan pribadinya.
"Bunda hanya terlalu rindu dengan, Juju." Di raihnya tangan Bunda Ikah yang masih berada di pipi Gus Ali dan di kecupnya beberapa kali. "Hanya perlu bersabar sebentar lagi, Nda. Tiga bulan lagi Juju akan kembali. Bukankah puncak dari segala rasa itu ketika rindu hanya bisa di alunkan lewat do'a, lantas Allah memberikan kesempatan bersua dalam ruang yang menggelora dengan segala cerita bagaimana rindu itu tersampaikan."
Bunda Ikah ikut tersenyum mendengar penuturan Gus Ali, dan itu mengingatkan Bunda Ikah akan dirinya dulu, sewaktu memilih memendam segalanya seorang diri lantas merapalkan segala keresahan hatinya lewat do'a do'a yang berterbangan ke langit di setiap malamnya. Tapi, satu yang membuat Bunda Ikah lega, bahwa apa yang di lakukan putranya juga karena atas nama cinta. Cinta yang benar adanya bukan karena ***** belaka, dan setidaknya semua sudah jelas adanya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Di larang demo dengan apa yang terjadi sama Ipda Nuril yah.🤭🤭🤭
Semoga apa yang terjadi dengan Ipda Nuril tidak akan menjadi alasan kenapa dan mengapa dirinya ... ... ...
Like, Coment dan Votenya masih di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862