
Happy Reading...
ππππππ
Semilir angin pagi membawa hari baru dan juga hari pertama di awal minggu. Rumput hijau lapangan Polda di penuhi oleh barisan barisan seragam coklat lengkap dengan antribut mereka. Dan sudah juga menjadi kegiatan rutin bagi intansi intansi pemerintahan di senin pagi untuk melakukan Apel pagi. Tak terkecuali Nuril yang sudah ikut berdiri dengan sikap siapnya dengan balutan seragam kebanggaannya.
Dengan khidmat semua mendengarkan protokol sambutan yang di sampaikan oleh Pak Kapolda Mansyahri. Semua tampak manggut manggut setuju dengan apa yang di sampaikan oleh Pak Kapolda. Karena sejatinya memeng benar, jika semua yang di lakukan harus dengan niatan Ikhlas beramal seperti semboyan dan sumpah para aparat.
Hampir satu jam Nuril juga rekan rekannya mengikuti Apel pagi. Lantas kembali berkutat dengan tugas masing masing setelah kegiatan Apel usai. Langkah lebar juga tegas Nuril mengayun begitu pasti menuju tempat tugasnya sembari mengechek ponselnya untuk memberi kabar kepada orang orang terdekatnya, bahwa kegiatannya hari ini akan cukup menyita waktunya.
Nuril baru saja hendak menonaktifkan ponsel pribadinya, saat chat yang dari semalam di tunggu tunggunya tak kunjung datang tapi justru datangnya pagi ini. Sampai sampai semalam Nuril tidak lekas tidur karena menunggu Ustadz Salmannya menelfonya. Juga sebenarnya karena rasa penasarnanya juga, soal Lily dan tanda tanya besar mengenai Mas Agus Lily kenapa ada di pernikahan sepupu Nuril. Meski ahirnya Nuril menyimpulkan bahwa mungkin saja Ustadz Salmannya merupakan teman dari Fikri.
Ulasan senyum tipis menyungging di bibir Nuril, setelah membaca beberapa larik kata maaf orang yang di cintainya, dan seketika segala tanya langsung menguap begitu saja seiring dengan kata kata semangat untuknya yang terus terusan memenuhi layar pipih di tangan Nuril.
Sembari melangkah hendak bergabung dengan rekan rekannya, tangan Nuril tidak henti hentinya juga ikut menari lincah di atas benda pipihnya, guna memberi semangat yang serupa untuk orang yang tengah tersenyum simpul juga di sebrang karena kata kata Nuril.
"Senyuman kecil dari sampean sudah cukup untuk saya. Namun, tak sepatutnya yang kecil akan di anggap kecil di sisimu." Moodbooster yang di berikan Ustadz Salman berupa gombalan membuat senyum Nuril langsung melebar.
"βΊοΈβΊοΈβΊοΈβΊοΈβΊοΈ." Balasan yang di berikan oleh Nuril, dan itu berhasil membuat Ustadz Salman mengerutkan keningnya.
"Hari ini saya akan banyak sekali kegiatan dan sepertinya akan sampai beberapa hari."
"Sama, hari ini hingga beberapa hari ke depan saya juga akan sibuk dengan pelatihan." Balas Nuril.
"Hari ini akan ada kegiatan apa.?"
"Saya akan berpanas panasan di lapangan hari ini. Jadi, nanti kalau kulit saya makin exsotic jangan pangkling yah." Tulis Nuril.
"Yang hitam itu akan manis dan menginspirasi. Seperti kopi. Manis, pahit dan menghangatkan."
Nuril makin melebarkan senyumnya.
"Gombalannya receh bener Bang. Nyontek dimana tuh." Tulis Nuril dengan tawa yang semakin melebar saja.
"Boleh di kata receh, tapi jangan mencontek. Karena ini bukan ujian pelajaran sekolah, ini soal ujian hati yang jawbananya tidak bisa di tebak oleh yang lain.."
__ADS_1
"Hemm, baiklah baiklah. Soal mengolah kata saya akui sampean jagonya. Tapi, maaf harus di skip untuk nanti saja. Karena saya sudah harus bertugas. Assalamu'alaikum.." Balas Nuril dengan cepat. Sesungguhnya di dalam hati Nuril tak ingin menyudahi ini, namun apa daya semua rekan rekannya sudah menunggunya dan memperhatikan tingkah Nuril yang tengah tersenyum sendiri dengan ponsel di tangannnya.
"Selamat bertugas, Wa'alaikumussalam."
Begitu jawaban chat muncul di layarnya Nuril segera menonaktifkan ponselnya, lantas segera mengantonginya dan bergabung dengan rekan rekannya yang sudah beberapa dari mereka mengolok sikap Nuril yang sedikit berubah. Ih,ih ,ih, Cinta itu memang suka enggak ada ahlaqnya, dan suka suka dia saja, begitu sudha mampu menjerat seseorang untuk terjatuh di dalamnya, maka dengan segala tipu muslihatnya di buatnya orang yang sedang jatuh cinta mabuk kepayang.
Untungnya Nuril, bukanlah tipikal orang yang suka memeperlihatkan kebahagiaan yang berlebih kepeda rekan rekannya, sehingga olokan itu tidak berlangsung lama. Karena wajah Nuril kembali datar dan fokus Nuril cukup bisa di acungi jempol untuk menutupi apa yang di rasakan hatinya.
Pagi yang tenang dan hangat merambat dengan cepat menuju siang dengan panas dari bola api yang memendar dengan garangnya di atas sana. Dan dengan peluh yang bercucuran Nuril masih saja sigap dengan sikapnya di atas pelana Kuda. Entah ini sudah yang ke berapa kali putaran Nuril menunggangi Kuda jenis Morgan dengan rambut hitam legam bercahaya.
Ke gagahan Kuda jenis Morgan, memang sangat cocok untuk kuda tunggangan dan pacuan. Karena dari postur tubuhnya yang tinggi dan panjang, jelas Kuda jenis ini memiliki derap langkah yang panjang. Dan ini tentu sangat membantu tugas Polisi untuk pengamanan di tempat tempat yang ramah lingkungan ataupun tempat wisata.
Lebih dari selusin Kuda yang berada di lapangan luas itu saling berkejaran dan tidak sedikit juga Masyarakat sekitar yang antusias menyaksikan kelincahan Kuda begitupun dengan penungangnya yang selain memiliki paras yang cantik juga ganteng, tentu saja para Penunggang itu memiliki tubuh yang atletis juga.
"Ipda Nuril makin keren saja." Puji rekan Nuril di sela sela waktu Istirahat mereka.
"Masih keren anda, AKP Arjun." Jawab Nuril.
"Anda terlalu memuji saya Ipda Nuril. Suatu saat nanti pasti anda akan lebih hebat dari saya. Percaya sama saya." Lanjut rekan Nuril sembari memberikan air dingin kepada Nuril.
Tangan Nuril terulur menerimanya, namun tidak segera menegak minuman itu, melainkan di taruhnya dan justru mengambil botol minum miliknya. "Maaf AKP Arjun, saya tidak minum air dingin." Kata Nuril sambil mengacungkan botol miliknya. Dan hanya di sambut senyum cerah oleh AKP Arjun.
ππππππ
Bahkan perasaan penuh tanya yang sebelumnya memenuhi hati Nuril, tergeser begitu saja. Tergeser karena lupa, lupa karena terlalu banyak kata kata manis yang di rangkai oleh kedunya saat sedang chat. Maklum, lagi dalam fase dunia milik berdua, yang lain cuma boleh ngekost. Padahal itu belum yang benar benar milik mereka beneran.
Malam minggu ini, kelabu bagi Nuril. Karena selain hari ini Nuril bebas tugas, besok juga akan sama. Tapi juga adalah chat sore tadi yang datangnya dari Ustadz Salmannya. Ustadz Salman sedang pulang kampung. Dan itu sebenarnya juga sudah di bahas minggu lalu, tapi entah kenapa begitu tiba waktunya Nuril merasa sepi. Mungkin karena sudah terbiasa dengan chat mereka berdua.
Nuril sadar, tidak bisa memaksakan keinginannya kepada Ustadz Salman. Karena, belum ada ikatan di antara keduanya. Dalam artian ikatan yang lebih serius dan di ketahui oleh keluarga masing masing. Bahkan Nuril sendiri belum berani menceritakan tentang Ustadz Salmannya kepada orang tuanya. Terlebih lagi, menceritakan soal Mas Ainya kepada Ustadz Salmannya.
Kok ya jauh banget kesana. Bahkan kedua orang itu belum saling tau nama lengkap masing masing. Darimana mereka berasal, juga orang tua mereka seperti apa. Karena sebulan yang mereka jalani, tak ubahnya seperti hubungan yang meningkat dari seorang yang baru kenal menuju ke arah pertemanan.
"Jika kamu mencintai seseorang, maka kamu juga harus siap kehilangannya. Dan mempersipkan diri, jika bukan kehilangan karena takdir yang tidak berfihak padamu. Maka kamu harus lebih siap lagi, jika perpisahan itu karena Allah lebih mencintainya daripada kamu menyayanginya." Tulis Nuril di akun Medsosnya.
Entah apa yang melandasi dirinya menulis itu, hanya saja Nuril menyadari bahwa tidak ada yang kekal dan abadi di dunia ini. Dan sebaik baiknya cinta yang dimiliki itu, sejatinya adalah cinta milik Allah semata dan kepadanya juga semua akan kembali.
__ADS_1
Mungkin juga Nuril menulis itu lantaran rasa ketidak percayaan diri yang ikut muncul dan mengerogoti kepercayaannya, seiring dengan maksud kepulangan Uatadz Salmannya selain untuk menjenguk orang tuanya, tapi juga untuk mengenalkan Nuril kepada orang tua Ustadz Salman.
Mau sepercaya diri apa, mau seyakin apa. Kalau sudah di hadapkan pada orang tua seseorang yang di cintai rasanya jauh lebih horor daripada ketemu sama setan. Padahal ini belum ketemu beneran, itu saja sudah cukup membuat nyali Nuril menciut. Was was akan reaksi keduanya, juga hal yang paling di takutkan adalah mereka akan membanding bandingkan Nuril dengan gadis pilihan mereka.
Setiap pilihan orang tua pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing. Dan apa yang menurut mereka baik, pasti akan selalu mengelu elukannya. Seperti Papa dan Mamanya Nuril, yang setiap kali menelfonya tidak pernah lupa sedikit menyinggung soal Mas Ainya. Meski Nuril enggan untuk menanggapinya.
Dan itu juga yang di takutkan Nuril kepada orang tua Ustadz Salman. Dan jika di lihat dari sikap dan tutur Ustadz Salman. Dia pasti berasal dari lingkungan yang pemahaman Ilmu Agamanya jelas sangat baik. Sedangkan Nuril bukanlah seseorang yang kebetulan di pilih menjadi Hafidzul Qur'an.
Simpel saja seharusnya. Nuril hanya perlu menyipkan hatinya lebih lagi. Karena Konsekwensi terbesar ketika seseorang berani menjatuhkan hatinya untuk seseorang adalah kerelaan hatinya, jika dia bukanlah menjadi tujuan ahirnya.
Jika Nuril tidak mampu berjodoh dengan seseorang yang Nuril cintai, maka mendo'akan dia menemukan jodoh yang terbaik adalah sebaik baiknya cara untuk melepaskan segala rasa. Setulus tulusnya cinta dan seikhlas ikhlasnya hati. Tapi, apa Nuril akan mampu..?.
Patah hati akan pasti, tapi itulah proses. Karena sebelum kita menemukan dan di temukan oleh tulang rusuk kita, maka kita akan mengalami yang namanya patah hati hebat. Sehingga kita akan tau rasanya menghargai yang ada di genggaman dan mengikhlaskan yang meninggalkan.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Kok dadak bingung Mbak Nuril, kene tak bisik i sopo kwi orang tua Mas Salman.π€π€π€π€
Like, Coment dan Votenya di tunggu enggeh...
Love Love Love...
ππππππ
__ADS_1
By: Ariz kopi
@maydina862