
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Ustandz Salman.." Sebuah seruan datar dari arah belakang Gus Ali, dan panggilan baru baginya yang sudah beberapa kali mengisi acara bimbingan keagamaan di Polda-Surabaya ini. Gus Ali menghentikan langkahnya lantas menoleh kebelakang dan menemukan seseorang yang tengah berjalan dengan sedikit tergesa menuju ke arahnya.
"Puji Tuhan masih ketemu." Ucapnya lagi. Gus Ali menatap sesaat ke arah Laki-Laki bertubuh tegan dengan balutan seragam Polisi ketat hingga menampakan otot ototnya yang tercetak sempurna . Mungkin jika Gus Ali adalah seorang perempuan akan langsung jatuh cinta dengan Polisi di depannya ini.
"Ustadz Salman." Ucap Polisi itu lagi saat melihat Gus Ali masih memperhatikannya dengan seksama. "Maaf, menyela langkah anda, Tadz. Perkenalkan nama saya Jonathan." Lanjut Polisi di depan Gus Ali yang memperkenalkan dirinya dengan sebutan Jonathan dan itu persis dengan nama yang tercetak di baju sebelah kanan Iptu Jonathan dengan mengulurkan besarnya ke hadapan Gus Ali.
Gus Ali tersenyum tipis kemudian menyambut uluran tangan Iptu Jonathan. "Salman." Ucap Gus Ali.
"Saya senang sekali dengan yang Ustadz Salman sampaikan malam ini. Ke indahan berAgama serta toleransi. Saya dua kali ini terus mendengarkan materi yang anda kupas, dan itu membuat saya tertarik ingin mengenal anda lebih dekat." Ucap Jonathan lagi dengan masih mempertahankan senyumnya untuk Gus Ali.
"Iptu Jonathan. Jangan panggil saya Ustadz, panggil Salman saja." Jawab Gus Ali.
"Kalau begitu jangan panggil saya Iptu, panggil Jo saja." Jawab Iptu. Jonathan. "Apa bisa kita berbicara sebentar sebelum anda kembali." Lanjut Iptu Jonathan dengan bahasa lugas Polisi, yang terkesan tegas dan langsung pada poinnya.
Gus Ali menatap sebentar jam di tangannya, dan kemudian segera mengangguk pelan saat dilihat jam di pergelanagan tangannya masih menunjukan pukul 21.10. Masih ada waktu satu jam kedepan sebelum gerbang Pesantren di tutup.
"Kalau begitu mari, Mas Ali." Ujar Iptu Jonathan dengan mengarahkan tangannya untuk mengajak Gus Ali berjalan meningalkan parkiran menuju ke samping bangunan.
"Enggeh, Bang Jo." Jawab Gus Ali, dengan berjalan pelan mengikuti derap langkah Iptu Jonathan yang berjalan menjajarinya.
Gus Ali terus mendengarkan Iptu Jonathan berbicara mengenai materi yang di kupas oleh Gus Ali tadi sembari terus berjalan, dan kekagumannya terhadap Gus Ali sungguh membuat Gus Ali merasa dirinya tidak pantas jika terlalu di sanjung sedemikian rupa, padahal Gus Ali masih merasa perlu banyak belajar, karena sejatinya Gus Ali hanya bisa bertutur saja belum pernah berada dalam posisi yang di utarakan olehnya tadi.
"Mbak Ratih. Kopi hitam dua." Ucap Iptu Jonathan dengan santai lantas mengajak Gus Ali untuk duduk di kursi berhadapan dengan meja kecil bundar di tengahnya. "Tidak masalah kan, Mas Salman dengan Kopi hitam."
"Tentu tidak, Bang Jo" Jawab Gus Ali.
"Saya baru kali ini bisa begitu nyaman dengan isi dari Tausiyah, Mas Salaman." Kata Iptu.Jonathan lagi dengan mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya dan menaruhnya di atas meja untuk di persilahkan ke Gus Ali.
Gus Ali tersenyum simpul tanpa menyentuh bungkus rokok tersebut. Lantaran Gus Ali bukanlah perokok aktif, hanya sesekali saja jika memang perlu untuk menghisapnya karena otak yang tiba-tiba buntu dan membutuhkan penghilang stress.
"Monggo, Mas Salman." Kata Iptu Jonathan mempersilahkan Gus Ali dengan menggeser salah satu cankir kopi hitam yang masih mengepulkan asapnya di udara ke arah Gus Ali.
"Matur suwun, Bang." Jawab Gus Ali.
__ADS_1
Iptu Jonathan terus mengajak Gus Ali mengobrol sembari menikmati secangkir kopi hitam mereka, dan begitu banyak sekali tanya yang di sampaikan oleh Iptu Jonathan mengenai seluk beluk Islam menurut pandangan Gus Ali. Hingga tanpa sadar waktu merambat begitu cepat, lantas membuat Gus Ali harus meminta diri tepat pada saat kopi di cangkirnya hanya meninggalkan ampasnya saja.
"Sudah sangat larut, Bang Jo. Maaf lain kali bisa di sambung lagi." Ucap Gus Ali sambil melirik jam tangannya.
"Oh iya tentu, Mas. Seharusnya saya yang minta maaf karena telah menyita waktu sampean." Ucap Iptu.Jonathan lantas segera bediri begitupun dengan Gus Ali yang juga mengikutinya berdiri.
Setelah membayar dua cangkir kopi yang di nikmati bersama, Iptu Jonathan ikut melangkah ke Parkiran dimana Gus Ali tengah memarkirkan Alexa si Vespa jadul, sembari terus saja mengobrol ringan.
"Hemm, selera yang bagus, Mas Salman." Ujar Iptu Jonathan sembari menyentuh Alexa dengan pelan. "Di rumah saya, di Manado sana saya punya Si Black. Ternyata kita memiliki hobi yang sama." Lanjut Iptu Jonathan sembari mengulas senyumnya tipis.
"Ini Properti Pesantren, Bang. Saya hanya pinjam saja." Jawab Gus Ali.
"Hemm.." Iptu Jonathan manggut manggut sebentar lantas dengan cepat segera menguluarkan ponselnya dan memberikan kepada Gus Ali seraya berucap. "Kalau boleh, saya minta nomer sampean, Mas Salman."
"Tentu saja." Jawab Gus Ali dan dengan cepat segera mengetikan nomer Ponselnya dan memberikan kembali kepada Iptu Jonathan. "Sudah larut sekali, saya permisi, Bang Jo." Lanjut Gus Ali lagi.
"Assalamu'alaikum. Bukankah seperti itu yang di ajarkan di Agama sampean, Mas Salman." Ucap Iptu Jonathan dengan senyum tipis.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Gus Ali. "Benar sekali." Lanjutnya.
"Insya'Allah, Bang Jo." Ucap Gus Ali lantas dengan pelan meninggalkan Iptu Jonathan dengan senyum hangat di antara keduanya, dan Gus Ali kembali membawa Vespanya menyusuri jalan kota Surabaya untuk kembali dimana dia mencari Ridho dari Guru juga orang tuanya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Tidak terasa perputaran waktu dari gelap ke terang, dan dari terang ke kalamnya malam, telah berputar begitu cepatnya dan membawa hari terus berganti selayaknya daun yang berguguran terus bergantian dengan tunas yang baru. Begitupun dengan Gus Ali, yang ternyata dua tahun sudah lamanya dia berada di Kota Pahlawan Surabaya dan menjalin persahabatan baik dengan para Polisi yang berada di Polda Surabaya, terutama dengan Iptu Jonathan.
Tapi, yang begitu mencolok dari kehadiran Gus Ali di Polda-Surabaya, adalah menjadinya diri Gus Ali sebagai buah bibir di kalangan Polwan semenjak kehadirannya satu tahun lalu, bahkan ada yang tanpa segan dan tedeng aling-aling sengaja mendekati Gus Ali, salah satunya adalah Bripda Rita. Yang berusaha sangat keras merebut perahatian Gus Ali dengan berbagai cara dan merubah seluruh penampilanya demi Gus Ali meliriknya. Tapi, Gus Ali tetaplah Gus Ali.
Tidak hanya musim yang terus berganti, ataupun dedaunan yang terus menggugurkan dirinya dan berganti dengan tunas tunas yang baru. Tapi, juga dengan para Polisi yang berada di Polda Surabaya, mereka terus ada perevisian baik yang berpangkat atas ataupun di bawah. Karena, meraka sudah pasti akan ada kenaikan pangkat yang di ikuti dengan berpindahnya tugas bagi mereka. Termasuk, dari Kapolda.Rudianto yang malam ini tengah berpamitan secara pribadi kepada Gus Ali, yang sudah purna dari masa jabatannya sebagai Kapolda- Surabaya.
Tidak hanya, Kapolda Rudiatno yang akan Purna jabatannya tahun ini, tapi juga ada beberapa Polisi yang akan berganti dengan yang baru. Dan nampak sekali hiruk pikuk yang terjadi untuk pergantian jabatan esok hari. Begitupun dengan Gus Ali yang juga sedang sibuk menata beberapa barang barangnya untuk di bawanya pulang, lantaran kabar kurang baik yang di dengarnya.
Ya, pagi tadi Gus Ali mendengar kabar bahwa Bunda Ikah kurang enak badan, oleh karena itulah Gus Ali malam ini bisa tidak bisa bergegas untuk kembali ke Kampung halamannya setelah mengurus ijin cutinya dari Kampus selama satu minggu kedepan.
Dengan di antar oleh Iptu.Jonathan, Gus Ali meluncur menuju ke Stasiun Gubeng Baru, dan akan menikmati perjalan malam dengan menggunakan kereta malam satu-satunya Mutiara Timur, yang akan sampai di tanah kelahirannya tepat subuh esok harinya.
Sembari menunggu Kereta Api datang, Gus Ali dan Iptu Jonathan terus berbincang baik mengenai pengetahuan umum ataupun agama masing-masing, dan selalunya Iptu Jonathan ingin lebih faham tentang Islam yang menurut Iptu Jonathan itu sangat menarik, hingga tak lama Kereta yang di tunggu benar benar datang memisahkan mereka berdua.
__ADS_1
Gus Ali melangkah masuk ke dalam Kereta yang untuk sejenak rame oleh beberapa orang yang hendak menempuh perjalan serta mengikis jarak tujuan mereka, lantas segera mendudukan dirinya ketika sudah mendapatkan nomer tempat duduknya.
Gerbong tempat Gus Ali cukup sunyi, karena hanya berisikan beberapa orang yang duduknya juga lumayan berjauhan. Dan begitu pengeras suara mengatakan bahwa Kerata akan segera berangkat lampu gerbongpun segera di matikan dan hanya menyisakan lampu tamaram dari cabin-cabin yang memang sengaja di hidupkan oleh penumpang.
Pada awalnya suasana terasa begitu sepi, dan hanya terdengar suara derit dari gesekan rel saja, namun sayup sayup tapi pasti Gus Ali mendengar suara seorang wanita yang tengah bermuroja'ah dengan mengalun lembut, dan mendayu-dayu membawa ketenangan.
Bagi Gus Ali yang seorang Hafidzul Qur'an sudah sangat hafal dengan apa yang di dengarnya, bahkan Gus Ali tanpa sadar juga sudah ikut menyimak juga sekaligus ikut membacanya, dan juga mengakui bahwa bacaan wanita itu cukup fasih meski sedikit ada yang kurang tepat dengan mengulang-ulangnya kembali. Tapi, itu cukup di maklumi oleh Gus Ali, karena mungkin saja dia baru saja khatam atau memang sedang dalam proses menuju Khatam.
Gus Ali terus menyimak lantunan ayat demi ayatnya hingga benar-benar terlena dengan Murothal yang di senandungkan oleh wanita Misterius itu, hingga tanpa sadar Gus Ali berulang-ulang menoleh punggung si Wanita yang tengah duduk membelakangi tidak jauh darinya, dengan mufrod yang berada di tangan si wanita tanpa terbuka.
Karena pencahayaan yang minim, Gus Ali kesusahan sekedar mengenali wajah sang wanita misterius, dan sekali ada kesempatan lampu menyala saat tiba di Stasiun wanita itu juga tidak menoleh ke arahnya dan hanya terlihat gamis warna Army yang di gunakannya saja, serta Jilbab syar'i lebar yang hampir membungkus separuh dari tubuhnya.
Ingin sekali Gus Ali mendatanginya, jika tidak ingat bahwa mungkin saja wanita itu sudah bersuami dan sekaligus menjaga marwah si wanita juga. Ahirnya Gus Ali hanya bisa menikmati suara itu hingga di telan oleh sunyi dan derit dari rel Kereta Api lantas membuainya di ke dalam alam mimpi indah masa kecilnya dulu saat menjahili Juju.
Gus Ali mendapatkan kesadarannya kembali saat Kereta Api yang di tumpanginya berhenti tepat di Stasiun kedua di Kota kelahirannya pas Subuh tiba dan tanpa di komando Gus Ali segera menoleh ke arah tempat duduk si wanita misterius semalam berada, yang sekarang tengah sibuk dengan koper besarnya di sertai dengan suara ponselnya yang berdering pelan, jugamasih tetap membelakangi Gus Ali.
Gus Ali segera beristikhfar saat dirasa, rasa penasarnanya telah begitu basar menguasai hatinya, dan segera berpaling dari tatapannya lantas duduk kembali dengan benar. Suara seretan dari roda koper besar di sertai semerbak farfum khas wanita menguar memenuhi indra pendengaran juga penciuman Gus Ali, namun Gus Ali memilih untuk merundukan kepalanya daripada mengikuti hawa nafsunya untuk memandang wanita yang sedari semalam membuatnya penasaran, lantas baru saja mengangkat kepalanya saat suara dari wanita itu memecah gendang telinganya.
Sebenarnya bukan karena suara dari wanita itu yang membuat Gus Ali ingin memandangnya, melainkan nama yang di sebut oleh si wanita yang membuat Gus Ali sedikit syok juga terus memandang punggungnya hingga menghilang di pintu keluar. Dan terus saja Gus Ali mencoba memperhatian wajah si wanita di bawah lampu terang stasiun, juga keremangan pagi yang sudah menunjukan Fajar Shodiq, lewat jendela di sampingnya duduk. Namun, tetap hanya punggungnya saja yang terlihat oleh Gus Ali, lantaran dia sama sekali tidak menoleh ke belakang.
Jika Gus Ali tidak salah dengar, wanita misterius tadi tengah berbincang di Ponselnya, "Percayalah, Ma. Juju sudah sampai di Stasiun dan Kakung akan menjemput Juju." Ucapan itulah yang membuat Gus Ali serasa di kagetkan oleh petir hingga membuat dadanya berdebar begitu hebatnya dan juga sekaligus ingin tahu wajah dari si wanita misterius yang bisa jadi adalah musuh masa kecilnya dulu. Juju.
Bersambung...
####
Hemm, Mbak Juju sudah muncul ke permukaan, jadi njenengan musti siap-siap Gus Ali. Pastinya Mbak Juju akan menjadi kandidat yang patut di perhitungkan oleh Bunda Ikah..🤭🤭🤭🤭.
Like, Coment dan Votenya di tunggu enggeh...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
@maydina862
__ADS_1