
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
*Mawar tak selalu merah. Dan Mawar tak selalu mengungkapkan cinta.
Pada ahirnya harus sampai disini, diam diam aku juga terluka hati.
#patahhati
@maydina862*
Tulis Nuril pada keterangan foto yang di unggah dalam akun IG nya dan kemudian segera kembali memasukan ponselnya dalam tas kecil yang berada di pinggangnya dan lekas keluar lebih dulu sebelum Iptu Jonathan, saat mobil yang di kemudikan oleh Iptu Jonathan berhenti dengan sempurna di parkiran kantor Bhayangkari dimana Bu Ari sedang menunggu kedatangan mereka berdua.
Ulasan senyum Bu Ari menyambut kedatangan Nuril dan senyumnya semakin melabar saja saat tidak lama Iptu Jonathan berjalan dengan langkah tegapnya menyusul langkah Nuril lantas mensajajari Nuril. Tidak cukup Bu Ari saja, bahkan beberapa Ibu Ibu Bhayangkari yang lain juga ikut tersenyum ke arah Nuril juga Iptu Jonathan setelah Bu Ari berbisik bisik pelan.
Sesuai prosedurnya, Nuril sudah bersiap dengan tugasnya. Mengawal Bu Ari menjalani rutinatasnya sebagai Ibu dari Kapolda, dan kali ini kegiatan Bu Ari sedang ingin melakukan tinjauan ke Polres di luar Kota Surabaya. Mengingat apa yang terjadi pagi ini di Polda membuat kami harus lebih waspada dan mengawal Ibu Ibu Bhayangkari ini dengan pengawalan sepenuh hati, hingga sampai dan kembali lagi dengan selamat.
Dalam perjalan kali ini Bu Ari tidak banyak menanyai Nuril tentang hal hal pribadinya. Namun, beliau justru mengolok Nuril dengan kehadiran Iptu Jonathan yang datang bersama sama dengannya. Dan itu membuat Nuril tidak percaya, bahwa Bu Ari yang dia kenal sebagai pribadi yang tegas juga bisa mengolok Nuril sepanjang perjalanan berlangsung.
Mobil yang di kemudikan olah Nuril berhenti di gerbang jalan tol menuju Sidoarjo, dan bertepantan dengan itu sebuah mobil juga berhenti tepat di samping mobil yang di kendarai oleh Nuril. Dan itu langsung membuat Nuril memfokuskan pandangannya ke jalan di depannya begitu kaca mobil di sampingnya terbuka.
Songkok hitam dan Sunglass membuat penampilannya sesungguhnya membuat Nuril ingin berlama lama terus memandangnya, namun karena ada juga seorang gadis manis yang tengah duduk di jok sampingnya, membuat Nuril tidak berani menatapnya lantaran ada rasa nyeri di dadanya saat melihat senyum gadis manis itu di balas dengan senyuman hangat oleh Ustadz Salmannya.
Kepura puraan Nuril tidak melihat Ustadz Salman yang berada di samping mobil yang di kendarainya, sia saia belaka. Karena, Bu Ari meliahtnya dan menyuruh Nuril untuk memajukan mobilnya sedikit. Dengan patuh Nuril memajukan mobilnya dan terdengar sapaan Bu Ari yang di balas dengan hangat oleh Ustadz Salman.
Nuril sudah mewanti wanti dirinya agar tidak menoleh ke arah Ustadz Salman, namun kepalanya menghianati otaknya dan justru Nuril tidak kuasa memalingkan pandangannya kembali ke arah jalan setelah tatapan meraka bertemu dan mengunci untuk beberapa saat.
Anggukan kepala serta senyum tipis Ustadz Salman kepada Nuril, semakin membuat Nuril tidak mampu mendengarkan otak serta hatinya agar menjadi wanita yang memiliki marwah serta malu di depan orang yang di sukainya. Hingga suara klakson dari mobil di belakangnyalah yang membuat Nuril tersadar dan kembali fokus ke arah jalan di depannya.
Singkat memang, bahkan sangat singkat. Namun, itu berhasil membuat semburat merah di pipi Nuril, setiap kali mengingat senyum tipis yang tertuju untuknya. Dan berangsur angsur semburat merah itu menghilang saat Nuril teringat akan ucapan Iptu Jonathan perihal Ustadz Salman yang akan segera bertunangan di ahir bulan ini.
Akan lebih baik semua sampai disini saja. Salahku karena memaksakan kehendak atas dirinya di setiap malamku dengan meyisipkan namanya di rapalan do'a do'aku. Batin Nuril, dan Nuril hanya mampu menghembuskan nafas berat serta dalam atas apa yang tengah dirakan hatinya saat ini. Diam diam Nuril menyimak perbincangan Bu Ari beserta rekan sejawatnya yang sedang membicarakan Uatadz Salman.
"Benarkan, Ipda Nuril.?" Kata Bu Ari dengan tiba tiba melibatkan Nuril dalam percakapan mereka.
"Siap, benar." Jawab Nuril.
"Jangan terlalu formal, kita sedang tidak berada dalam kesatuan." Jawab Bu Ari dengan senyum melebar. "Menurut Ipda Nuril, Ustadz Salman lumayan cakep kan.?" Lanjut Bu Ari.
__ADS_1
Nuril tidak langsung menjawab, tapi justru mengernyitkan keningnya sembari menatap Bu Ari dari spion tengahnya. "Siap, benar." Jawab Nuril dan kekehan kedua orang yang berada di jok belakang membuat Nuril semakin tidak tahu harus menjawab apa.
Jangankan untuk menjawab mereka, Nuril saja saat ini sedang tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan yang muncul di otaknya mengenai bagaimana cara melupakan Ustadz Salman yang terlanjur merajai hatinya.
"Kalau saya jadi Ipda Nuril, sudah tepe tepe sama Ustadz Salman."
"Jadi Ustadz tadi itu masih single ya, Bu." Kata teman sejawat Bu Ari.
"Betul, Bu. Selain mengisi kajian di Polda, Ustadz Salman juga salah satu Dosen di UIN Sunan Ampel, Bu." Jawab Bu Ari.
"Wahh, hebat sekali ya. Beruntung sekali yang menjadi mertuanya kelak. Coba saja saya punya anak perempuan yang sudah cukup umur, tidak segan saya akan melamarnya lebih dulu.." Nuril nyaris tersedak salivanya sendiri saat mendengar penuturan teman sejawat Bu Ari.
"Itulah, Bu Dimas. Saya juga mikir seperti itu. Coba saja Ines sudah dewasa." Timpal Bu Ari dan keduanya langsung terkekeh pelan.
"Saya ada keponakan baru lulus kuliah, tapi apa ya mungkin mau Ustadz Salman nya. Wong tadi yang duduk di sampingnya saja jilbabnya sampai nutup separuh tubuhnya." Lagi lagi, ucapan teman Bu Ari menbuat Nuril kembali menyadari tentang dirinya.
Ya, memang benar. Nuril sering berpenampilan seperti gadis manis di samping Ustadz Salman tadi. Tapi, itu jika dirinya menjadi Nuril bukan Ipda Nuril seperti sekarang. Dan jelas semua orang hanya akan melihat penampilannya yang seperti sekarang saja.
"Iya, kalau di pikir pikir benar juga, Bu Dimas. Dan itu tadi yang berada di sampingnya pasti seseorang yang spesial buat Ustadz Salman."
Nuril terus saja menyimak percakapan kedua Istri petingginya, sembari merasakan sedikit ngilu ngilu sedap di dadanya saat dirasa apa yang di bicarakan keduanya sedikit banyak benar menurut Nuril.
"Ya meraka kan tidak hanya berdua, di jok belakang tadi juga ada satu orang gadis lagi, Bu Dimas. Kalau saudara mana mungkin. Karena menurut Suami saya Ustadz Salman itu berasal dari daerah timur Jawa Timur." Seketika bahu Nuril kembali merosot mendengar penuturan Bu Ari, lantas memilih untuk memasang Headseat agar tidak perlu mendengarkan tentang apa yang yang sedang mereka bicarakan mengenai Ustadz Salman.
Ini Nuril lakukan, sebagai langkah pertama untuk upaya mengembalikan hatinya pada tempat semula sebelum bertemu kembali dengan Salman A.R. Nuril sadar, bahkan sangat sadar ini tidak akan mudah bagi dirinya, karena tidak hanya sahari dua hari Nuril menyebut nama Salman A.R dalam do'a do'anya, melainkan sudah bertahun tahun berlalu. Dan Nuril harus bisa menerima, jika ahirnya bukan nama Salman A.R yang tertulis baginya di Lauhul Mahfudz.
Konsekwensi terbesar ketika dirimu berani menjatuhkan hati untuk seseorang adalah kerelaan hatimu, jika dirimu bukanlah menjadi tujuan ahirnya. Putus Nuril dalam hati sebagai upaya untuk menyemangati hatinya yang tengah patah sebelum sempat tersambung dengan hati yang di ingininya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Beberapa minggu sudah berlalu dan Nuril menikmati masa masa patah hatinya dengan terus berpura pura tidak terjadi apa apa pada dirinya. Dan itu jelas sangat menyebalkan bagi Nuril, karena di tengah usahanya untuk melupakan perasaannya yang tidak mungkin tergapai lagi, malah dirinya sering bertemu dengan Ustadz Salman secara tidak sengaja.
Mati matian Nuril berusaha untuk bersikap normal di depan Ustadz Salman. Namun, seolah seluruh dunia mengetahui tentang perasaan Nuril kepada Ustadz Salman lewat ke gugupan Nuril serta kekakuan Nuril saat di sapa oleh Ustadz Salman ketika berpapasan.
Dunia memang sangat sengaja mengejek Nuril, dengan kembali mempertemukan Nuril dengan Ustadz Salman kembali ketika Ustadz Salman juga Iptu Jonathan yang hendak berangkat ke kampung halaman Ustadz Salman. Kali ini rasanya airmata Nuril sudah hendak luruh, andai Nuril tidak ingat bahwa dirinya saat ini tengah menggunakan seragamnya.
Nuril hendak bergegas berbelok ke jalan lain untuk menghindari berpapasan Ustadz Salman yang telah sukses membuat patah hati Nuril. Eits, ralat. Itu bukan kesalahan Ustadz Salman, itu adalah kesalahan Nuril sendiri karena telah mencintai seorang diri.
"Ipda Nuril." Mau tak mau Nuril, menghentikan langkahnya ketika mendengar namanya di teriakan oleh Iptu Jonathan, yang juga sudah bergegas mendekati dimana Nuril tengah berdiri. "Kok ada di sekitar sini.?" Tanya Iptu Jonathan dengan nada santai, tanpa menggunakan tata tertip kesatuan.
Nuril berusaha untuk menguasai gejolak hatinya, saat tanpa sengaja matanya bersitubruk dengan netra coklat menenangkan milik Ustadz Salman. "Saya sekarang ngekost di sekitar sini, Iptu Jo." Lirih Nuril.
__ADS_1
"Bener, di sebelah mana.?" Lanjut Iptu Jonathan dengan semangat.
"Di deretan ke tiga samping kiri Masjid." Jawab Nuril masih dengan lirih, sembari memainkan tali tas pingangnya.
"Ohh, dua blok dari sini. Menyenangkan kita bakal tetanggaan." Nuril kembali mengangkat kepalanya dan lagi lagi, tatapannya bertemu dengan Ustadz Salman yang sedari tadi hanya diam saja. "Oh iya, bagaimana rencana cutinya, apa di setujui." Lanjut Iptu Jonathan.
Nuril berdehem pelan, untuk menghilangkan kegugupannya sebelum ahirnya menjawab tanya Iptu Jonathan. "Iya di setujui, hanya tiga hari, terhitung dari hari Jum'ah besok."
"Bang Jo, saya bawa masuk ke mobil dulu barangnya, sampean lanjut ngobrol dengan Ipda Nuril." Kata Ustadz Salman dengan tersenyum tipis ke arah keduanya, seolah sengaja memberi ruang buat keduanya. Dan itu sukses membuat Nuril semakin merasa bahwa rasanya benar benar berada di tempat yang salah.
"Oh iya Mas. Sebentar saya menyusul." Jawab Iptu Jonathan. "Sebenarnya tujuan kita sama ke Timurnya Ipda Nuril, bukannya Ipda Nuril asal dari Bali ya. Jangan marah dulu, itu saya lihat dari CV, dan itu sebagai bentuk usaha saya mendekati Ipda Nuril."
"Uhuk uhuk uhuk.." Tiba tiba Ustadz Salman terbatuk batuk hebat, sesaat setelah meraih tas dalam gengaman Iptu Jonathan. Nuril reflex langsung saja memberikan air yang selalu di bawanya kepada Ustadz Salman dan tanpa sengaja tangan keduanya bersentuhan untuk sesaat sebelum dengan cepat Ustadz Salman segera mengeser tangannya.
"Terima kasih." Ucap Ustadz Salman.
"Maaf saya permisi dulu Iptu Jonathan, Ustadz Salman." Kata Nuril sembari melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 21.15. "Semoga perjalannya menyenangkan dan selamat sampai tujuan." Lanjut Nuril.
"Terima kasih Ipda Nuril."
Nuril tersenyum tipis dan kemudian menoleh sebentar ke arah Ustadz Salman yang berdiri tidak jauh dari mereka, lalu mengangguk pelan seraya bergumam salam untuk Ustadz Salman. "Assalamu'alaikum." Ucapnya pelan lantas segera beranjak saat salamnya di jawab tak kalah pelan oleh Ustadz Salman.
Langkah demi langkah Nuril, terasa begitu berat. Lantaran, orang yang berada di belakangnya, dan andai boleh memgumpamakan sendiri. Saat ini adalah saatnya berpamitan bagi hatinya, karena dia Salman A.Rnya akan merajut rencana indah untuk masa depannya dengan wanita pilihannya dan mungkin saja adalah seseorang yang telah tertulis baginya di Lauhul Mahfud.
Langkah berat Nuril sampai juga di kost kostan elit yang di tempatinya baru seminggu ini. Nuril langsung membating tubuhnya di kasur busa dan meneluspkan kepalanya dalam bantal dalam dalamnya sembari terus mendesah pelan.
"Ternyata seperti ini rasanya patah hati. Nyesek. Pantesan saja Maggy Z lebih milih salit gigi yang sudah jelas sakitnya." Gumam Nuril dan langsung meraih ponsel dari tasnya dan mendial dengan cepat sebuah nomer yang tak berapa lama sudah tersambung di salurannya.
"Iya, Juju akan pulang di hari H nya." Kata Nuril dengan pasti dan langsung mematikan kembali ponselnya setelahnya.
Bersambung....
####
Hemm, Nuril, Juju, salah ketika apa emang iya Nuril itu Juju. siapa sih nama lengkap Nuril..??
Like, Koment dan Votenya di tunggu enggeh..
By: Ariz kopi
@maydina862
__ADS_1