Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Tukang Gombal


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Meja makan sudah selesai di bersihkan setelah makan malam usai, kini seluruh anggota keluarga sedang bercengkrama di ruang keluarga yang di dominasi warna putih salju. Duduk di tengah keluarga suami, tanpa suami di sampingnya memang sangat tidak menyenangkan. Dan yang lebih menyebalkan lagi bagi Nuril adalah, Gus Ali meninggalkan Nuril di rumah orang tua Gus Ali, setelah resepsi usai tiga hari lalu. Untung bagi Nuril, keluarga suaminya sudah di kenalnya sejak lama dan menganggap Nuril selayaknya anak sendiri.


Di salah satu sudut ruangan itu, sedang tidur tengkurap Abi Farid dengan Gus Yolan anak kedua dari Mbak Afiqah naik di punggung Abi Farid, sementara Bunda Ikah memijat kaki Abi Farid. Sedangkan, Mbak Afiqah sendiri sedang memeriksa hasil belajar Ning Kia. Lalu, bagaimana dengan Nuril. Nuril hanya terus memperhatikan keseluruhan dari gerakan semuanya, sembari menjawab segala tanya yang di layangkan padanya.


"Assalamu'alaikum.." Suara berbass milik Gus Nayif memecah keseruan mereka semua, dan dengan cepat Gus Yolan segera turun dari punggung Abi Farid dan berlari menuju kepelukan Abinya.


"Wa'alaikumussalam.." Jawab kompak semuanya, Mbak Afiqah segera menyambut tangan suaminya, sejurus kemudian sudah sibuk dengan bawaan Gus Nayif.


Nuril masih memandang dimana Gus Nayif tadi datang sembari berharap orang yang pergi bersama Gus Nayif tiga hari lalu juga kembali hari ini. Tapi, harapannya sia sia belaka, karena setelah beberapa waktu masih saja tidak ada orang yang muncul dari sana.


Sikap Nuril yang seperti itu, sepertinya di sadari oleh Bunda Ikah. "Alinya kemana Mas Nayif..?" Tanya Bunda Ikah, setelah Gus Nayif duduk dengan Gus Yolan berada di pangkuannya.


"Ali masih ada satu urusan, Nda." Jawab Gus Nayif santai.


"Itu salah Abi." Ucap Mbak Afiqah begitu masuk lagi ke ruang keluarga dengan nampan berisi beberapa cangkir teh.


"Kok jadi Abi yang salah.?"


"Abi yang nyuruh Ali pergi sama Mas Nayif, harusnya itu kan bisa di wakili sama Mas Naufal. Mana pengantin baru lagi." Bluss, wajah Nuril seketika memerah mendengar penuturan Mbak Afiqah. "Mas Nayif juga gitu, kenapa Ali enggak di ajak langsung pulang."


Tidak ada yang bersuara untuk menjawab omelan Mbak Afiqah, hanya saja Nuril merasa oksigen di sekitarnya terasa menipis seiring dengan berpasang pasang mata yang tengah menatap ke arah Nuril.


"Jadi kapan Ali datangnya.?" Lanjut Mbak Afiqah, dan membuat Nuril memasang telinganya sembari berharap apa yang akan di dengarnya tidak akan membuatnya menunggu lagi.


"Tidak tau, Mi. Ali cuma berpesan agar dek Juju tidak perlu menunggunya malam ini." Jawab Gus Nayif kalem.


"Huh, dasar anak itu." Gerutu Mbak Afiqah. Dan seterusnya Nuril tidak begitu mendengar apa yang di bahas, karena pikiran Nuril telah terbang membumbung tinggi menjumpai orang yang selama tiga hari ini begitu kejam meninggalkannya tanpa kabar.


Jam seolah olah berputar begitu lambat, hingga sudah beberapa kali Nuril menoleh ke arah jam dinding masih saja di sekitaran jam 09 lebih sedikit. Dan begitu Bunda Ikah menyuruh Nuril untuk istirahat, Nuril tanpa ragu segera bangkit dari tempatnya dan ingin sesegera mungkin menjumpai kamar bukan untuk cepat istirahat, melainkan untuk ponselnya.


Duduk di atas ranjang yang di rasa dingin, Nuril terus saja memijat mijat benda pipih di tangannya. Sedangkan bibirnya tak henti hentinya terus saja bergumam, entah apa yang di gumamkannya. Lantas, meletakan ponselnya di atas nakas dengan sedikit kasar.


"Suka suka saja. Aku tidak akan menghubungimu lebih dulu." Kata Nuril sembari beranjak ke kamar mandi dengan sekalian meraih baju tidur berupa sebuah daster berbahan katun Bali.

__ADS_1


Keluar dari kamar mandi Nuril mematikan lampu kamarnya, dan naik ke atas ranjang. Mata indahnya tak ingin terpejam hingga beberapa saat, justru di setiap kali matanya tepejam wajah Gus Ali mendominasinya. Apakah seperti ini merindu..? Harusnya jawabannya iya, hanya saja Nuril terlalu jaim untuk mengakui bahwa hatinya telah di penuhi oleh kerinduan.


Berlahan Nuril menggeser tubuhnnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Kembali tangannya sudah meraih ponselnya, sudah di bukanya aplikasi percakapan dan terlihat foto profil Gus Ali. Ketik hapus, ketik hapus, begitu seterusnya hingga waktu bergerak dengan cepat dan yang mampu Nuril tulis hanyalah satu kalimat saja.


"Kapan sampean pulang. Hati hati di jalan." Dan masih sama, satu centang saja hingga setengah jam lamanya. Lantas Nuril memutuskan untuk istirahat.


Nuril merasakan sebagian tubuhnya kebas, juga sekaligus terasa sebuah tangan besar melingkari di pinggangnya, tepat di jam jam kebiasan Nuril terbangun. Deruan nafas seseorang yang memelukanya dengan sangat posesif dari belakang juga mampu membuat bulu bulu halus Nuril meremang, pasalnya itu tepat berada di leher Nuril tanpa lapisan apapun.


Pelan Nuril mencoba melepaskan dirinya dari kungkungan Suaminya, ya tentu saja itu Gus Ali yang sedang memeluk Nuril dari belakang. Namun, si pemilik tangan justru semakin mengeratkannya sembari berucap dengan nada serak khas orang bangun tidur.


"Biarkan seperti ini sebentar lagi. Aku baru tidur sejaman." Ucap Gus Ali dengan mengeratkan pelukannya.


Nuril tak mampu menggerkan tubuhnya jangankan itu, untuk berbicara saja Nuril tak mampu, takut kalau kalau seseorang yang sedang mendekapnya menyadari dengan debaran Nuril yang semkin menggila seiring dengan kecupan lembut yang Gus Ali daratkan di pundak Nuril yang terbuka.


"Ini jauh memabukan ketimbang arak." Ucap Gus Ali pelan.


"Kapan sampean datang." Lirih Nuril dengan suara sedikit bergetar.


"Tengah malam mungkin." Jawab Gus Ali. "Bagaimana hari harinya bersama Bunda, apa menyenangkan.?"


"Sangat menyenangkan, dan Bunda tidak pernah berubah sama sekali." Jawab Nuril.


"Ndhok Kia juga sangat menghibur." Cicit Nuril.


"Kamu suka..? Nuril hanya mengangguk pelan sebagai jawaban untuk Gus Ali. "Kalau Yolan.?" Tanya Gus Ali.


"Suka, dia juga sangat lucu. Meraka seperti anak anak Kak Nana."


"Baiklah, kalau kamu menyukainya, kita bisa punya dua yang seperti Ndhok Kia dan Yolan." Nuril seketika terbatuk batuk hebat mendengar penuturan Gus Ali. Sehingga membuat Gus Ali melepaskan dekapannya dan duduk bersila sembari memperhatikan Nuril.


Di mata Nuril Gus Ali terlihat lebih tampan lagi dengan rambutnya yang berantakan, dan begitupun dengan apa yang di lihat oleh Gus Ali dengan Nuril.


Mengikat rambutnya asal asalan Nuril bergegas bangkit dari tempat tidur dan melangkah meninggalkan Gus Ali yang masih saja terus memandang Nuril, seolah tanpa bosan Gus Ali terus saja menggiring matanya untuk menjelajah wajah ayu Nuril, hingga Nuril menghilang di balik pintu kamar mandi.


Wajah basah Nuril yang semakin terliaht ayu, membuat Gus Ali masih saja betah berlama lama memandangnya, hingga si pemilik wajah jenggah dengan tingkah suaminya itu.


"Lekaslah bangun. Segarkan diri sampean, kalau memang tak ingin tidur lagi." Ucap Nuril sembari memberikan Gus Ali sebuah handuk.

__ADS_1


"Kayaknya tidurku akan sia sia belaka.? Ucap Gus Ali sembari meraih handuk yang di angsukan Nuril untuknya.


Nuril mengerutkan keningnya, merasa tidak tau dengan apa yang di ucapkan oleh Gus Ali. "Kenapa.?" Ahirnya keluar juga tanya Nuril.


"Karena membuka mata dan terus memandang mu jauh lebih indah di banding mimpi bertemu dengan seribu bidadari." Ucap Gus Ali.


"Dasar tukang gombal." Cebik Nuril lantas dengan cepat sudah menggunakan mukenanya.


"Kan sudah aku bilang, aku bukan tukang gombal."Kata Gus Ali lantas bangkit dan berjalan pelan menuju ke arah Nuril. "Aku hanya ingin menjadi rumah bagimu, sejauh dan senyaman apapun kamu di tempat lain, tetap kepadakulah tempat ternyaman kamu kembali. Cup." Lanjut Gus Ali dengan meninggalkan kecupan lembut di pipi Nuril hingga membuat Nuril terpaku di tempatnya.


"Aku suka pipimu yang gembil dulu, Ju. Lebih empuk, meski kalau boleh jujur rasanya sama saja sih, sama sama manisnya." Lanjut Gus Ali lagi sambil terkekeh geli melihat reaksi Nuril yang masih terpaku dengan tangan yang mengelus pipinya.


"Mas Aiii...." Pekik Nuril tertahan sembari melempar Gus Ali dengan sajadah yang hendak di bentangkannya. Sementara Gus Ali sendiri sudah berlari masuk ke dalam kamar mandi dengan tawa pecahnya begitu menyadari bahwa singanya sudah mulai mengamuk.


"Persis seperti dulu waktu kecil." Ucap Gus Ali begitu di dalam kamar mandi masih dengan senyum yang saat ini terasa behitu murah tersunging di bibirnya. Mungkin karena Gus Ali sudah menemukan alasan senyumnya tetap tinggal di wajahnya.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Nungguin manis manisnya mereka yah, kurang afdol kalau enggak di bikin rusuh dulu..😅😅😅


Like, Coment dan Votenya masih di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz Kopi


@maydina862


__ADS_2