
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Nuril mencoba merangkai serpihan ingatan mengenai Mas Ainya sewaktu kecil, dan mengumpulkan memori dari yang sekecil kecilnya. Lantas, mencoba membandingkan dengan sosok yang tengah tersenyum ramah di depannya, tapi bagi Nuril senyum itu tampak terlihat mengejeknya.
Kumis tipis di atas bibir tebalnya, membuat Nuril ingin sekali mencabutinya satu persatu, apa lagi saat di buat tersenyum ke arah Nuril. Membuat Nuril benar benar gemas dan jiwa ingin balas dendamnya terasa membara sembari membayangkan bagaimana orang di depannya akan mengaduh kesakitan saat bulu bulu itu sudah berada di tangannya. Sama seperti dirinya dulu, waktu rambut kritingnya di buat mainan oleh Mas Ainya, dan akan menangis saat rambutnya di sisir.
Kalau saja, Nuril tidak ingat bahwa sedang berada di tempat umum, pasti Nuril tidak akan menahan tangannya yang gatal untuk mengulur ke arah kumis tipis kayak kumis ikan Lele tersebut.
"Kok enggak kelihatan kayak Polwan." Ucap orang yang berada di depan Nuril, yang Nuril yakini sebagai Mas Ainya.
"Apa mesti bawa Senpi, biar kelihatan kayak Polisi. Lagian tuh kumis kenapa di pelihara, cuma sebiji juga, udah kayak kumis Lele, bagus juga kumisnya Lele.." Jawab Nuril dengan sewot, hingga membuat semuanya menatap Nuril heran. Tak terkecuali dengan seseorang yang berada di depan Nuril yang tengah melongo melihat perubahan sikap Nuril.
"Wi, Enggak sopan." Ucap Mama Nuril dengan cepat. Nuril tidak menjawab apa apa, hanya langsung melengos sembari mengerucutkan bibirnya.
Dalam hati Nuril tidak puas bahwa orang yang di depannya adalah Mas Ainya. Meski wajahnya cukup lumayan ganteng. Tapi, tidak seganteng yang di gadang gadangkan oleh orang tuanya. Ehh, tapi sejak kapan sih ukuran orang suka itu terletak pada Ganteng wajahnya.
"Biarkan saja, An. Aku jadi ingat saat mereka yang masih kecil suka banget berantem. Tapi, begitu salah satu tidak ada, sibuk nyari nyari." Ucap Bunda Ikah dengan senyum kalemnya, dan mendengar itu membuat Nuril langsung menunduk dalam, meski sebelumnya sempat Nuril menatap orang yang berada di depannya dengan tatapan sebal setengah mati. Dan itu hanya di tanggapi tawa ringan oleh orang yang berada di depannya.
Nuril masih asik sendiri dengan pikiran tentang seseorang yang berada di depannya, dan sama sekali tak ingin menanggapi kisah masa kecilnya bersama Mas Ai yang tengah di kilas balikan oleh Bunda Ikah hingga membuat semua orang yang sedang duduk disana tertawa, tak terkucuali Si Kampret yang juga tertawa riang. Seolah olah dirinya tidak merasa malu dan menganggap itu lucu baginya.
Jelas dari cerita itu, Nurillah yang paling terdengar menderita. Bagaimana tidak, karena Bunda Ikah terus saja menceritakan saat Nuril kecil begitu antusias dengan segala sesuatu yang di ajarkan oleh guru tercintanya, yakni Mas Ainya. Meski, dalam mengajari selalu kejahilan yang pertama di lakukan kepadanya.
Cerita terus saja berlanjut hingga beberapa saat dan sepertinya tidak ada tanda tanda akan segera memesan makanan, dan ini membuat Nuril merengut, apa lagi saat orang di depannya terus saja tertawa menikmati cerita yang membuat Nuril menambah stok membencinya. Hingga, sebuah suara lembut yang sangat Nuril kenal membuat kepala Nuril terangkat dan menatap dengan kaget bahwa itu benar adanya.
"Ehh, Ustadz Salman." Ucap Nuril dan menbuat Ustadz Salman Nuril berpaling menatapnya dengan tatapan tidak kalah terkejutnya.
"Ipda Nuril, kok ada disini." Jawab Ustadz Salman.
__ADS_1
Kekagetan keduanya tidak sebanding dengan kekagetan semua keluarga mereka. Karena, mereka tidak menyangka bahwa keduanya ternyata sudah saling kenal. Dan dari gelagatnya bukan sekedar kenal biasanya, karena keduanya terlihat canggung.
"Ju, dia Mas Aimu." Ucap Bunda Ikah pelan, tapi ucapan itu membuat Nuril seketika membelalakan matanya lebar, dan perasaan Nuril benar benar kacau. Kalau di ibaratkan seperti anak kecil yang kehilangan balon hijaunya yang meletus.
Tidak hanya Nuril saja yang perasaannya kacau, Ustadz Salman atau Gus Ali, juga sama kacaunya seperti Nuril, hingga keduanya hanya terus bisa diam dan menatap penuh keheranan atas takdir yang tertulis untuk mereka berdua, ini perasaan yang tidak bisa untuk di deskripsikan oleh keduanya. Dan bagi Nuril, Nuril lebih senang jika Mas Ainya adalah pemuda berkumis Lele di depannya. Karena dengan begitu Nuril tidak akan merasa malu seperti sekarang.
"Mas, duduklah." Ucap Bunda Ikah setelah melihat putra semata wayangnya tersadar dari kekagetannya. Gus Ali menuruti Bundanya, duduk di samping Abinya yang tengah tersenyum melihat expresi keduanya, itu mengingatkan Abi Farid dengan kebahagiaannya saat menyadari hal yang di anggapnya telah terlepas darinya ternyata justru datang kepadanya dengan restu dan ridho.
"Jadi benar, Ustadz Salman itu. Gus Ali." Ucap Mama Nuril dengan tawa sumringah.
"Itu panggilannya di luar, An." Jawab Bunda Ikah sembari mengelus bahu putranya penuh kasih. "Mas, dia Juwahir, Jujumu." Ucap Bunda Ikah lagi. Dan mereka berdua hanya bisa diam tanpa bersuara meski begitu banyak tanya yang hendak mereka beruda utarakan. Namun, semua terganti dengan perasaan kacau balau tak menentu.
Perasaan bahagia lebih dari bahagia. Dan perasaan yang tidak bisa di jabarkan oleh keduanya. Lantaran apa yang dia anggapnya tidak mungkin untuk di jangkau ternyata berada dalam genggamannya.
"Nuril Maydina, dan sampean yang manambahkan Juwahir di belakangnya." Lanjut Bunda Ikah.
"Mas Salman Ali Ridho Maulana yang itu ya Mbak, jadi sampean salah alamat tadi. Saya Anas." Timpal Gus Anas sembari tertawa penuh kemenangan.
Pembicaraan terjeda sebentar dengan datanganya makanan yang di pesan. Dan kembali berlanjut saat mereka mulai mengisi piring mereka dengan hidangan yang tersaji di atas meja.
"Uhuk uhuk uhuk." Nuril tersedak oleh wortel yang di kunyahnya, lantaran Papa Nuril yang menceritakan tentang perdebatannya dengan Nuril mengenai Ustadz Salman.
"Airnya." Ucap Gus Ali pelan sembari mengarahkan gelas ke arah Nuril. Dan dengan santai Nuril malah meraih gelas milik Papanya, tanpa menghiraukan Gus Ali.
"Enggak taunya, orang yang sama." Tutup Papa Nuril, hingga membuat wajah Nuril memerah sempurna karena malu yang sungguh luar biasa.
"Hampir mirip ya Gus sama kisah sampea berdua." Timpal Mama Nuril, bersamaan dengan ponsel Nuril yang berdering, hingga membuat Nuril mengelap mulutnya.
"Maaf, saya harus mengangkat panggilan darurat." Ucap Nuril dengan langsung berdiri dan setelah mendapat persetujuan dari semuanya Nuril langsung beranjak dari tempatnya tanpa menoleh lagi, dan tidak tahu bahwa Gus Ali terus saja memandangnya hingga Nuril mennghilang di balik pintu.
__ADS_1
"Di kejar saja, Mas." Bisik Gus Anas, dan itu berhasil membuat Gus Ali kembali fokus ke piringnya dan berusaha untuk menekurinya, meski pikirannya sepenuhnya tengah pergi bersama Ipda Nurilnya, yang nyatanya tidak juga kembali hingga acara makan usai.
Ipda Nuril meninggalkan sebongkah perasaan tak nyaman bagi Gus Ali. Dan Gus Ali ingin segera datang menemui Juju ke rumahnya. Namun, Gus Ali tidak mau bersikap kurang ajar dengan tidak menghargai Ipda Nuril yang ternyata adalah Jujunya, dan barang tentu saat ini tengah butuh menenangkan perasaannya yang kacau sama seperti Gus Ali.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Cek mau tembus berapa like dan komentnya. Kalau sesuai target besok pagi Up lagi dah, meski terseok seok..😅😅😅
Cih, Emak tawar menawar..
Biarin, daripada terus di todong Up, coba yang baca tak todong Coment, berani enggak..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862