
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Langit langit kamar masih sama seperti seminggu lalu di kamar Ipda Nuril, dan itu memang tidak ada yang berubah dari pertama kali Ipda Nuril datang ke tempat ini. Tapi perasaan Ipda Nuril saja yang sedang tidak karuan, hingga membuat langit langit itu tampak begitu suram dan seakan akan hendak runtuh menimpa dirinya.
Setiap dari jengkal tatapan yang seperti sedang menguliti sudut sudut langit langit kamar itu, sesungguhnya adalah tatapan yang tengah dalam fase bingung tak menentu. Bingung karena sebuah nama yang mati matian tak di izinkan membuat hatinya gelisah, tapi justru mampu membuat Ipda Nuril tak berkutik. Terlebih setiap detail ucapan dari Pacar Sempurnanya terus melekat di benaknya.
"Dengan Gus Ali datang ke sini sendiri, dan menginginkan bertemu denganmu. Itu cukup menjadi bukti, bahwa ada niat yang cukup serius. Jadi Papa minta cukup kucing kucinganya, Wi. Bertemulah dengan dia, bicarakan, agar semuanya jelas." Kata kata itu terdengar biasa, namun bagi Ipda Nuril itu lebih seperti sebuah kalimat perintah yang menekankan baginya.
Bukan Ipda Nuril tak ingin bertemu dengan Mas Ainya, hanya saja begitu banyak pertimbangan dan perdebatan di hatinya, yang membuat Ipda Nuril tidak ingin kecewa untuk kesekian kalinya. Terlebih saat ini sudah ada Ustadz Salman di hati Ipda Nuril.
Hanya saja, entah kenapa sudah seminggu ini, Ustadz Salman belum sama sekali menghubunginya sejak kepulangannya ke tanah kelahirannya. Apa mungkin terlalu sibuk dengan keluarganya, atau karena ada hal yang lain. Dan justru hal lain itu lah yang membuat pikiran Ipda Nuril trevelling kemana mana.
Apa dia baik baik saja, apa keluarganya baik baik saja. Setidaknya tanya itulah yang senantiasa terbersit di antara ribuan tanya dan alasan Ustadz Salman tidak menghubunginya. Ingin sekali Ipda Nuril terlebih dulu menghubunginya, hingga sudah berapa kali Ipda Nuril terus menerus mengusap layar pipih di samping dia tengah berbaring.
"Seperti yang Papa pernah katakan, Wi. Kalau kamu punya pilihan lain, dan itu lebih dari pilihan Papa, maka kami sebagai orang tua tidak akan menolaknya." Kembali kata kata Pacar Sempurna Ipda Nuril, terngiang di ingatan Nuril yang sudah seperti setan yang mengalir di setiap aliran darah melalui pembuluh pembuluh darah.
Tidak ada jawaban yang pasti di berikan kepada Pacar Sempurna Ipda Nuril selain dari alasan semata. Karena Ipda Nuril sadar betul dirinya tidak bisa memaksa Ustadz Salmannya untuk datang menemui kedua orang tuanya. Bukan karena Ipda Nuril tidak yakin dengan Ustadz Salman, hanya saja Ipda Nuril ingin semua berjalan selayaknya, tanpa ada campur tangan orang tua lebih dulu. Agar Ipda Nuril bisa lebih fokus untuk menyelesaikan ikatan dinasnya yang hanya tinggal beberapa bulan saja.
Dan entah kenapa, ini seperti di gesa gesakan oleh orang tuanya. Terlebih dengan kedatangan Mas Ainya ke Jogja. Dan lagi, Ipda Nuril juga belum siap jika harus membicarakan ini dengan Ustadz Salman. Belum siap dengan kemungkinan terburuk Ustadz Salman.
"Jika kamu bukan takdirku, maka cukup bagiku bahwa kamu adalah pilihanku." Putus Ipda Nuril dengan hati yang seperti tercabik cabik, membayangkan nasib cinta pertamanya.
"Mungkin benar apa yang di katakan oleh Mama, bahwa cinta pertama itu jarang yang berhasil sampai ke pelaminan." Gumam Ipda Nuril lagi sembari membalikan tubuhnya, dan berusaha keras menutup matanya agar mau untuk beristirahat.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jam berdentang sebanyak sepuluh kali, Nurilpun sudah siap dengan stelan baju hariannya. Jilbab warna hitam yang di padu dengan gamis garis garis warna senada membuat Nuril terlihat semakin cantik saja. Dan hari ini, Nuril sudah berjanji akan memanjakan dirinya sendiri dengan berkeliling ke Toko Buku untuk mengalihkan pikirannya mengenai dua orang laki laki yang sedang berdebat di hatinya.
Ehh, bukan dua orang laki laki saja. Tiga, karena ada juga Pacar Sempurna Nuril yang menjadi penengah, meski wasitnya lebih condong ke arah Kampret Sarungan tentunya. Dengan tekat bulat, Nuril sudah melangkah keluar dari kost kostannya. Dan tidak mau ambil pusing soal apapun, pokonya hari ini me time bagi Ipda Nuril.
Dua, tiga Toko Buku sudah di kelilingi Ipda Nuril, dan kini langkahnya di giring memasuki sebuah mall, juga tujuannya adalah toko buku di dalamnya. Dengan hati yang sudah sedikit lega, Nuril melenggang memasuki toko buku yang berada di lantia tiga tersebut.
Semenit, dua menit hingga ke puluhan menit Nuril masih sibuk menjajakan matanya melihat detail dari buku buku serta novel yang menjadi buruannya, hingga sebuah suara yang sangat di kenalnya mengusik hatinya dan membuat kepalanya menoleh mencari asal suara tersebut untuk mengikuti perintah otaknya.
Yap, tidak jauh dari tempatnya berada. Tengah berdiri seseorang yang membuat hatinya gelisah seminggu ini. Terlihat gurat lelah di wajah lembut itu, meski senyum masih tersunging di wajahnya untuk seorang gadis yang berdiri tidak jauh di depannya dengan dua buah buku di tangannya.
__ADS_1
Nyeri menelusup di dada Nuril, terlebih saat keduanya sama sama tersenyum setelah berdebat sesaat soal buku di tangan gadis itu. Senyum gadis itu membuat mata Nuril enggan untuk berpaling darinya, meski rasa tak nyaman di dada begitu kuat mempengaruhinya. Juga, sesuatu yang ikut bersuara di pikirannya.
Jadi, sebenarnya dia sudah ada di sini. Dan mungkin gadis itu yang menjadi alasannya tidak menghubungiku. Teriak hati Nuril. Dan bodohnya orang cemburu, karena tidak ingin mengkonfirmasi dengan apa yang di lihat, cendrung membaut asumsi sendiri. Padahal Nuril seorang Polwan. Ya, sepandai pandainya orang, saat sudah di hadapkan dengan perasaan cemburu akan terlihat juga sisi bodohnya. Karena cendrung membuang rasionya dan memilih memakai perasaan.
"Mas, Nila mau yang ini saja." Kalimat gadis ini tedengar seperti rayuan di telinga Nuril, terlebih embel embel Mas yang di sematkan olehnya.
"Yakin, ini yang di butuhkan di Kampus.? Tidak cari yang lain lagi.?" Juga dengan jawaban yang di sampaikan oleh Ustadz Salman juga terdengar lembut, seperti saat sedang berbicara dengan Nuril. Dan itu berhasil membuat dada Nuril mendidih.
"Ehh, kenapa Mbak yang disana terus menatap kita, Mas." Deg, seketika Nuril tersadar saat kalimat itu meluncur dari bibir gadis di hadapan Ustadz Salman. Apa lagi saat kepala Ustadz Salman ikut berputar dan Nuril terlambat menghindari netra teduh itu menyisir wajah merahnya yang tengah di bakar api cemburu. Cemburu yang tidak tepat seharusnya.
"Ipda Nuril."
"Mas A."
"Ustadz Salman." Ucap ketiganya bersama sama, dan dengan langkah lebar Ustadz Salman segera menghampiri Ipda Nuril, yang di ikuti oleh gadis itu di belakangnya.
"Mas, Nila lapar." Sela gadis yang bernama Nila, saat di antara keduanya tidak ada yang ingin lebih dulu membuka suara.
"Baik, Ndhok Nila ke Food Corner dulu. Nanti Mas susul kesana." Ucap Ustadz Salman.
"Baiklah." Jawab Ning Nila. "Eh, itu Umi dan Abi malah nyusul kemari." Lanjut Ning Nila, hingga membuat Ipda Nuril melongo kaget saat menyadari bahwa apa yang membakar hatinya ternyata keliru besar. Apa lagi saat kedua orang baruh baya yang sedang berjalan ke arah mereka bertiga memiliki kharisma yang tidak jauh berbeda dengan Ustadz Salman.
"Sudah beli bukunya Ndhok.?" Ucap wanita paruh baya itu saat sudah dekat di samping mereka.
"Sudah Mi. Ini, tapi belum di bayar." Kata Ning Nila sembari memperlihatkan buku di tangannya kepada Uminya.
Suasana yang sesungguhnya ramai terasa sangat sepi bagi Ipda Nuril, apa lagi saat suara berat berbass milik laki laki paruh baya itu menanyakan tentang siapa dirinya.
"Ini siapa Ndhok.?" Tanya Abi Ning Nila.
"Tidak tau Bi, teman Mas A'."
"Ini teman saya Paman Bibi. Tidak sengaja ketemu disini." Potong Ustadz Salman dengan cepat, tapi dengan kepala tertunduk. Hingga membuat senyum tertahan di bibir Abi juga Umi Ning Nila, senyum yang penuh arti di balik sikap keduanya yang tengah sama sama malu malunya.
"Masya'Allah, cantiknya. Siapa namamu Cah ayu." Ucap Umi Ning Nila dengan cepat sudah mensejajari Ipda Nuril. Dengan cepat mengulurkan tangannya dan menyalami tangan Umi Ning Nila dengan takdzim.
"Barokallah. Benar benar cantik, ya Bi. Jadi ngiri sama Mbak Fika." Ucap Umi Ning Nila, dan kali ini sembari memeluk tubuh Nuril yang tengah kaku.
__ADS_1
"Ipda Nuril, perkenalkan ini Paman dan Bulek saya. Paman Hasby dan Bulek Rika. Sedang ini anaknya Ndhok Nila." Terang Ustadz Salman, dan seketika tubuh Nuril sedikit relex, ternyata apa yang di bayangkannya salah. Ternyata mereka bukan orang tua Ustadz Salman.
Nuril membalas menyapa mereka semua dengan salam, dan senyum tulus dari mereka membuat hati Nuril melambung, membayangkan mungkin saja sambutan yang di berikan oleh kedua orang tua Nuril akan sama dengan mereka.
"Ngobrol itu yang paling enak sambil duduk, dan menikmati kopi. Bukan begitu, Mas." Ucap Paman Hasby dengan tenang sembari mengusap bahu Ustadz Salman. Dan itu seperti sebuah kode tersendiri bagi laki laki, hingga mampu membaut wajah Ustadz Salman memerah.
"Benar, Nila sudah lapar dari tadi. Ayo Mbak Nuril." Ucap Ning Nila.
"Maaf, saya tidak ber." Kata kata Nuril terputus begitu saja, saat matanya bersitubruk dengan netra teduh milik Ustadz Salman, yang seolah memintanya untuk menyetujui ajakan mereka.
"Tidak baik menolak rezeki. Ayo." Ucap Bulek Rika dengan sudah meraih tangan Ipda Nuril dan tak lama sudah menyeretnya selayaknya mereka sudah kenal lama.
Ketiga wanita itu berjalan lebih dulu di depan, sementara kedua laki laki itu mengikuti di belakang mereka dengan berbincang pelan dan pembahasannya tidak jauh dari wanita yang berada di depan mereka.
"Pilihan yang sangat bagus. Mengingatkan paman sama Abi dan Bundamu saat masih muda." Ucap Paman Hasby sambil terkekeh pelan. Dan kekehan itu berhasil membuat perasaan Ustadz Salman tidak menentu. Karena, sejatinya Ustadz Salman sudah membuat keputusan dan justru harus bertemu dengan Ipda Nuril tanpa kesengajaan yang membuat hatinya melemah.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Ayo Gus Ni'am tunjukan kekautanmu jadi Mak Jomblang, seperti dulu waktu Gus Mimi dan Mbak Fika..😂😂😂😂
Like, Coment dan Votenya di tunggu yah..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862