Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Terluka.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Dingin angin malam pinggir laut menusuk ke dalam tulang, harusnya di saat saat seperti ini akan sangat nyaman jika menggulung diri di bawah selimut tebal. Namun, tidak bagi seorang abdi Negara seperti Nuril, dia masih tetap berdiri tegak di tempatnya menatap lurus ke arah sebuah Kapal kecil dimana target sedang berada dengan senapan laras panjang membujur siap memuntahkan timah panasnya dengan sekali tarik pelatuknya.


Suasana yang cukup mencekam sangat berbanding terbalik dengan suasana hati Nuril yang tengah di landa hujan bunga, hingga butuh usaha berkali kali bagi Nuril agar dirinya fokus dengan tugas yang sedang di embannya kali ini. Tidak ada salah lagi, semua itu karena pertemuannya dengan Salman A.Rnya sebelum dirinya pergi menjalankan tugasnya, tapi yang membuat hati Nuril terus terusan meledak tatkala dirinya mengingat ucapan Salman A.R dan terus menjadi amunisi semangat yang tidak ada habisnya.


"Karena disini, ada hati yang menunggu kabar keselamatan sampean." Ucapan itu berkali kali terngiang di telinga Nuril, begitupun dengan wajah si empunya kata. Wajah yang biasanya Nuril lihat datar dengan senyum simpul yang sesekali tersunging meski di sembunyikannya lewat kepala yang tertunduk, terlihat berbeda sekali sata mengucapkan kata yang menjadi mantra bagi Nuril.


Di bawah cahaya tamaram lampu jalan, rona merah di tulang pipi bersihnya tidak mampu tersembunyi dengan sempurna, dan itu justru menjadi pemandangan yang lebih memukau di mata Nuril. Apa lagi saat kalimat berikutnya yang keluar.


"Beriring degan do'a, semoga sampean cepat kembali dengan kabar gembira untuk seragam sampean, untuk keluarga sampean, juga untuk saya." Kalimat itu sukses membuat Nuril tidak bisa berkata apa apa dan berlalu meninggalkan Salman A.R begitu saja. Dan kini Nuril menyesalinya karena tidak mengatakan apa apa kepada Salman A.Rnya, semoga saja Salman A.Rnya bahwa apa yang di lakukan Nuril itu, lantaran begitu malu, bukan karena tidak menginginkan Salman A.R.


"Dor, Dor, Dor.." Tembakan yang bertebaran menyadarkan Nuril dari diskusi panjang dengan hatinya sendiri, dan dengan begitu cepat Nuril sudah kembali fokus dengan arahan dari sang Komandan yang memberikan perintah lewat alat bantu dengar yang terselip di telinga Nuril.


Suasana semakin mencekam saja, saat para penyelundup barang barang ilegal itu melawan aparat yang sedang mengepung mereka, bahkan mereka juga memiliki persiapan khusus dengan berbagai senjata api juga senjata senjata lainnya.


Nuril masih terus berdiri di tempatnya dengan satu matanya memicing mengintai lawan dengan timah panas yang sudah siap melesat jika negosiasi yang terjadi tidak menemui titik terang. Hanya tinggal menunggu sekali aba aba dari Komandan pemimpin misi.


Setelah hampir dua jam lamanya, ahirnya Nuril bisa menurunkan senjata yang berada di tangannya, dan bergabung dengan teman teman se timnya, lantaran para penyelundup ahirnya dapat di bekuk meski mereka berusaha kabur dengan kapal cepat. Dan keberuntungan itu tidak semata mata karena tim khusus Nuril saja, melainkan juga karena bantuan dari TNI-AL yang siap siaga mengejar pelarian mereka.


Selusin lebih orang dengan tatto seragam di ringkus, dan di kumpulkan bersama dengan barang bukti yang sedang dalam proses pemindahan. Sesekali mereka terlihat memberi kode satu dengan yang lain dengan tatapan mata. Dan satu orang yang di yakini sebagai ketua mereka masih enggan bersuara meski Komandan telah berulang kali memberikan pertanyaan kepadanya.


Nuril masih dengan seksama terus mengikuti proses penangkapan hingga mereka semua di giring menuju mobil yang akan membawa mereka ke kantor. Nuril berdiri tidak jauh dari kerumunan orang orang yang sedang berjalan berlahan dengan tangan terborgol.


Dan entah karena keteledoran petugas atau karena sudah terlatihnya para penyelundup itu, hingga dengan cepat salah satu penyelundup tangannya sudah berpindah di depan dan meraih senjata dari rekan Nuril, lantas menodongkan kepada para petugas. Tanpa mengindahkan peringatan para petugas, penyelundup itu sudah membrondongkan isi dari senjata itu membabi buta.


"Slep.." Satu tembakan yang melesat dan langsung bersemayam di bahu sebelah kanan Nuril, hingga membuat Nuril tersungkur bersimpah darah dan seketika itu juga tiga tembakan langsung menembus dada dari penyelundup, lantas suasana menjelang subuh itupun menjadi gaduh dengan pemberian pertolongan pertama untuk Nuril.


Darah masih senantiasa mengucur dari bahu Nuril meski beberapa petugas yang berada di dalam Ambulance sedang berusaha melakukan tindakan pertama. Dengan usaha yang sangat keras menahan rasa sakit yang teramat sangat, ahirnya Nuril menyerah juga dengan obat bius yang di berikan oleh petugas keselamatan, dan kesakitan itu berangsur angsur menghilang di gantikan dengan sebuah mimpi indah dikala Nuril waktu kecil bersama Mas Ainya.


Mimpi itu seolah nyata bagi Nuril, dan di dalam mimpi itu hanya ada kebahagiaan semata. Itu karena Mas Ainya belum berubah menyebalkan dan meninggal Nuril begitu saja tanpa pamit.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Mas Ai, Mas Ai, Mas Ai. Juju ikut, Juju ikut." Gumaman itu semakin sering dan jelas, hingga membuat seseorang laki laki paruh baya yang tengah tertidur di samping ranjang tersentak dan segera berlari memanggil Dokter yang bertugas, dan tak lama beberapa Perawat juga Dokter jaga kembali bersama Pacar Sempurna Nuril.


Berlahan mata Nuril terbuka, hingga membuat semua orang yang berada dalam ruangan itu tersenyum lega, terlebih lagi lelaki paruh baya yang terlihat sangat lelah dengan mata yang sayu.


"Air." Pelan suara Nuril terdengar dan dengan cekatan Pacar Sempurna Nuril segera mengambilkan air dalam botol dengan sedotan panjang yang langsung di sodorkan ke arah bibir Nuril yang tampak pucat karena terlalu banyaknya kehilangan darah.


"Sudah.?" Nuril menoleh begitu mendengar suara yang akrab baginya, dan dengan usaha sangat keras Nuril menyungingkan senyum untuk Pacar Sempurnanya.


"Pa." Kata Nuril masih dengan suara lemah sembari ingin bergerak, namun seketika hanya erangan kecil saja yang keluar. "Ahh,."

__ADS_1


"Jangan di gerakan dulu." Ucap Pacar Sempurna Nuril dengan nada yang lebih sakit dari Nuril. Ayah mana yang tidak akan lebih sakit, saat menyaksikan putrinya terbaring tidak berdaya dengan luka yang masih basah menganganga di bahunya,


"Uwi, mau agak duduk." Pinta Nuril dengan tatapan memohon, namun arti tatapan yang terpancar dari Pacar Sempurna Nuril, cukup membuat nyali Nuril menciut dan membuang tatapannya pada Dokter yang tengah mengechek beberapa alat yang berada di sisi ranjang Nuril.


Sebongkah rasa bersalah memenuhi hati Nuril, dan seketika airmata Nuril meluncur ketika kembali tatapannya beradu dengan Pacar Smepurnya berbarengan dengan satu kata yang keluar tanpa suara. "Maaf."


"Tidak, Papa bangga dengan Uwi." Ucap Pacar Sempurna Nuril dengan mengelus kepala Nuril pelan dan itu sukses membuat Nuril semakin tergugu oleh tangisnya.


"Jangan nangis gini dong, anak Papa kan wanita hebat. Buktinya Uwi masih bisa bertahan dan kembali membuka mata setelah beberapa sayatan dan jahitan." Kali ini ucapan itu keluar beserta dengan sebuah sapu tangan yang mengusap lembut airmata yang merebak di pipi Nuril. "Papa sudah tidak khawatir, karena Papa sudah sepenuhnya percaya sama yang Uwi inginkan, dan Papa mendukung penuh cita cita Uwi."


Nuril tidak ingin menjawab apapun ucapan Papanya, ucapan itu seperti sebuah belati yang mengiris hati Nuril, lantaran Nuril tidak bisa menepati janjinya terhadap Pacar Sempurnanya. Untuk tidak membuat orang tuanya kwatir dengan cita cita yang di pilihnya. Namun, apa yang terjadi saat ini sungguh membuat Nuril merasa malu sekali.


"Papa sudah dengar semuanya dari Komandan juga rekan rekanmu. Papa bangga sama Uwi." Kecupan mendarat di kening Nuril. "Sudah jangan nangis lagi, mata Papa sakit lihat Uwi nangis, jadi inget pas Uwi nangis karena Mas Ai" Lanjut Pacar Sempurna Nuril dan itu berhasil membuat Nuril langsung menghentikan tangisnya dan merengut sebal kepada Pacar Sempurnanya, lantaran mengingatkan Nuril pada musuh bebuyutannya.


"Mama dimana.?" Tanya Nuril mengalihkan pembicaraan, jika tidak maka yang terjadi adalah pembahasan soal Mas Ai lagi.


"Mama ada di rumah Uti. Papa tidak sengaja ingin datang kemari, karena Papa yang terus kepikiran sama kamu dan Papa belum minta maaf juga soal pertunangan yang gagal sebulan lalu." Nuril membulatkan matanya mendengarkan ucapan Papanya, dan hendak menyahut namun segera di cegah oleh Papanya.


"Maafkan kami yang begitu memaksamu. Terutama Papa."


"Pa, please jangan bahas ini lagi." Tukas Nuril.


"Papa perlu menjelaskan soal ini, Wi." Ucap Papa Nuril dengan serius sembari mengengam tangan Nuril erat. "Tapi, nanti setelah kamu sembuh dulu."


"Apaam sih, Pa. Enggak enak bener senyumnya."


"Tidak ada. Papa cuma mencium ada seseorang yang benci tapi juga rindu."


"Maksud Papa apa..?" Kata Nuril dan tanpa sadar membuat gerakan di bahunya hingga membaut Nuril meringis kesakitan.


"Pelan pelan, belum boleh di buat gerak dulu, karena luka pasca operasi masih basah."


Nuril mendelik kesal dengan sikap Papanya, yang mencoba mengalihkan pembicaraan. "Papa jangan mengalihkan pembicaraan deh. Enggak lucu." Ucap Nuril.


"Siapa yang ngalihin pembicaraan, Papa ngomong apa adanya sesuai kata Dokter."


"Pa, serius dikit kenapa sih."


"Serius yang gimana, Wi. Soal yang orang yang benci tapi rindu.?" Nuril menatap Papanya lagi, dan setiap Nuril berdebat dengan Papanya maka ingatan akan Mas Ainya akan kembali muncul. Karena antara Pacar Sempurna Nuril dan Kampret Sarungan memiliki kesamaan, yakni sama sama suka sekali menjahili Nuril.


"Suka suka Papa deh. Uwi butuh pemulihan tenaga." Kata Nuril dengan langsung menutup matanya, dan menyisakan senyum yang semakin mengembang di bibir Papa Nuril.


"Tidak mau ngaku rindu, tapi selama tidur manggil manggil Mas Ai terus." Sengaja Papa Nuril bergumam agak keras agar terdengar oleh Nuril.


Nuril langsung membuka matanya begitu ucapan Papanya berhenti, dan mendapati Papanya yang tengah tersenyum penuh arti kepada Nuril. "Benci dan Cinta itu tidak beda jauh, Wi. Mungkin karena sangking cintanya kamu sama Mas Ali makanya kamu sekaligus membencinya karena tidak sesuai dengan expektasi. Pikirkan itu."

__ADS_1


Papa Nuril berdiri dari duduknya lantas memberikan ponsel Nuril yang sedari tadi tergeletak di nakas. "Oh iya, siapa itu Ustadz Salman, sedari subuh tadi sudah sangat menganggu terus. Bilang padanya kalau serous suruh ke rumah." Lanjut Papa Nuril lantas beranjak menyisakan beribu pertanyaan dalam benak Nuril dengan sikap Papa Nuril.


"Papa mau kemana..?" Tanya Nuril yang tiba tiba blang begitu saja, saat mendengar bahwa ternyata Papanya memberikan persetujuan tentang pilihannya.


"Papa mau nyari makan malam, kamu mau di belikan apa..?"


"Tidak usah.." Ucap Nuril sembari menggeleng pelan, dan menyungingkan senyum sebagai ucapan terima kasih.


Nuril terus memandang Papanya hingga menghilang di balik pintu yang tertutup lantas mengalihkan pandangannya pada ponsel yang berada di tangan kirinya, seketika senyumnya mengembang saat di ingatnya tentang malam kemarin mengenai seseorang yang mungkin saja saat ini tengah kwatir mengenai dirinya.


"Ceklek.." Suara pintu terbuka dan tanpa menoleh Nuril segera bersuara.


"Cepet bener nyari makannya.?"


"Assalamu'alaikum, Ipda Nuril."


"Buk." Seketika ponsel Nuril jatuh tepat mengenai pipinya, hingga membuat Nuril mengaduh antara kesakitan dan sisanya lantaran malu.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Duh, Mas Taufiq best banget deh jadi Papa. Lope lope sekebon Kurma deh buat Mas Taufiq.


Like, Coment dan Votenya masih di tunggu enggeh..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2