Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Masih Saja Jaim.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Langit seakan tidak puas dengan tangisnya setelah hujan hampir semalaman, hingga pagi datang masih saja setia dengan lelehan air tawar yang sekan ingin memuaskan bumi menyerap setiap tetesannya. Jangan di tanya bagaimana keadaan langit yang tentu saja gelap gulita oleh mendung yang rapat menyelimuti setiap inci dari permukaan yang seharusnya sekarang sudah hangat oleh mentari pagi. Semendung wajah Nuril yang masih uring uringan dengan sebab yang pasti.


Mas Ai, tentu yang menjadi alasan Nuril uring uringan tentu juga di barengi dengan dada yang bersorak sorak sebenarnya. Hanya saja Nuril terlalu malu jika harus mengakui itu. Meski jika boleh jujur, muka konyol Nuril itu terlihat sangat tidak bisa membohongi Papa dan Mamanya, terlebih bagi Kakak Nuril. Tentu saja juga buat Gus Ali sendiri tentunya, oleh sebab itulah Gus Ali gencar sekali menjahili Nuril, hingga Nurip belingsetan seperti sekarang.


Mau bohong apa lagi coba. Sejak tadi selepas sholat subuh dan deresan rutin, Nuril terus saja memandangi pintu kamarnya sembari mengharapkan seseorang yang membuat hatinya jedag jedug masuk kedalam, lantas membuat ulah kembali dengan meporak porandakan kegengsiannya. Kalau di suruh mengakui untuk hal itu seratus persen menjamin Nuril tidak akan sudi, meski dalam hatinya ngarep banget. (Ini hanya persepsi yang nulis..).


Senyum malu malu terus tersunging di bibir Nuril yang kemudian di ikuti dengan menjalarnya semburat merah di pipi Nuril, siapapun akan tau jika terjadi sesuatu di hatinya. Apa lagi tangan Nuril yang sesekali mengusap pucuk kepalanya dan kemudian dengan cepat sudah menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, jika dalam ilmu peyidikan itu sudah bisa di jadikan bukti yang kuat untuk menjadi tersangka.


Tapi, perasaan itu suka ruwet. Seruwet Nuril yang tak ingin mengakui kalah oleh Mas Ainya, namun mendamba Ustadz Salman. Bukankah mereka satu orang yang sama. Dan ahirnya Nuril juga yang di buat repot oleh drama yang di ciptakan sendiri olehnya, gara gara gengsi tingkat dewa.


Hingga jam di kamar Nuril menunjukan hampir jam Enam, Nuril masih bermalas malasan di kamarnya, yang biasanya pada jam jam seperti ini dirinya sudah di penuhi oleh peluh yang berderedes dimana mana. Baru, saat di lihat langit sudah mulai berbenar sedikit terang dan guyuran air benar benar sudah tidak ada, Nuril bangkit dari tempat semedinya.


Membuka lemari bajunya Nuril kembali di buat tercengang lagi. Karena, sebagian dari isinya merupakan pakaian laki laki dan tentu saja itu pakaian dari Mas Ainya. Fix, sekarang semua milik Nuril sudah dengan mudah di kuasai oleh Gus Ali, hanya tinghal hati Nuril saja kapan akan luluh mengakui keberadaan Gus Ali di hadapan keluarganya.


Clingak clinguk sudah seperti maling Nuril keluar dari kamarnya. Dan berjalan dengan cepat saat terlihat ruangan yang seharusnya sudah rame masih sepi seperti tidak berpenghuni, entah pada pergi kemana semua orang sepagi ini.


Nuril, enggan mencari tau juga masih tidak ingin di olok jika harus bertemu dengan salah satu dari mereka pagi ini, lantas bergegas berjalan ke taman belakang untuk olah raga rutin tentunya. Baru juga menggeser pintu kaca pembatas antara rumah dan halaman belakang. Nuril, sudah keburu kepergok oleh Mbah Ibuknya yang baru saja keluar dari dapur.


"Lho cah ayu mau kemana.?" Pertanyaan itu sederhana saja, tapi dari cara pandang Mbah Ibuk Nuril yang meneliti pakaian Nuril dari atas hingga bawah membuat Nuril merinding sendiri, apa lagi gelengan pelan kepala orang sepuh itu, benar benar membuat Nuril salah tingkah sendiri.


Pakaian Nuril tidaklah terbuka, hanya saja Nuril sedang menggunakan Trening Joger berwarna hitam agak ketat serta di padu dengan kaos lengan tidak terlalu panjang waran hitam juga. Sementara jilbabnya Nuril menggunakan jilbab instan yang hanya setas dada. Karena Nuril pikir Nuril hanya akan pemanasan Cardio di belakang rumah saja. Dan melupakan bahwa sekarang sedang ada keluarga besarnya sedang berkumpul.


Mbah Ibuk Nuril masih menunggu jawaban dari Nuril sembari berjalan mendekat ke arah Nuril. "Masak mau keluar pakai baju kayak gini. Saru, Cah ayu."


"Eh, Uwi hanya mau ke taman belakang, Mbah Ibuk. Uwi mau olah raga." Jawab Nuril dengan cepat, agar Mbah Ibuknya tidak salah faham.


"Ya, bagiamanapun harus di biasakan pakai pakaian yang sopan, Ndhok. Takutnya nanti pas di rumah mertua kebiasaan."

__ADS_1


"Gluk." Saliva Nuril serasa berisikan batu saja, saat mendengar nasehat Mbah Ibuknya. Ada benarnya juga apa yang si sampaikan oleh Mbah Ibuk Nuril, hanya saja kenapa itu terasa ada yang tidak tepat di hati Nuril. Dan Nuril ingin membantahnya, namun bibir Nuril sama sekali tidak ingin terbuka.


Nuril selalu teringat akan kedua orang tuanya yang tidak pernah membantah sama sekali saat para orang tua membarikan nasehat ataupun sekedar memberi saran kepada mereka, walau itu terkadang cendrung kuno. Dan itu Nuril anggap sebagai nasehat yang tanpa mereka ucapkan cukup menancap di jati Nuril. Ya, mungkin karena cara kerja nasehat itu seperti minum obat, kadang manis, terkadang juga pahit. Namun, jika ingin sembuh maka mau tak mau harus menelan obat itu meski bagaimana rasanya.


"Ya Uwes kono. Koyone tadi Bapakmu juga ada di belakang." Dengan mengulas senyum penuh pengertian Mbah Ibuk Nuril menyuruh Nuril untuk keluar rumah. "Nanti habis ini jangan lupa, mbantu mbantu masak Mbah Ibuk. Biar nanti kalau sudah rumah sendiri Suaminya krasan di rumah." Lagi lagi, ucapan Mbah Ibuk Nuril membuat Nuril tidak mampu menyangkalnya dan memilih mengguk pelan sembari tersenyum kaku, lantas segera beranjal dari tempatnya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Keringat sudah membanjiri seluruh tubuh Nuril, padahal baru setengah jam Nuril melakukan Cardio, dan ini jauh lebih efektif di bandingkan dengan beberapa olah raga yang menyita waktu banyak. Dan anehnya setengah jam Nuril berada di taman belakang Nuril belum menjumpai Papanya yang katanya tadi juga berada di belakang.


"Minum dulu." Suara berat Gus Ali membuyarkan konsentrasi Nuril, hingga Burpee yang di lakukan oleh Nuril seketika berantakan, lantaran botol air minum yang di sodorkan ke arah Nuril. Bukan salah botol air minum, yang benar karena senyum manis sang pemberi air tentunya.


Sempat Nuril terkesima oleh Gus Ali, yang penampilanya membuat Nuril enggan untuk berpaling. Karena ini kali pertama Nuril melihat Gus Ali berpakaian lain dari biasanya.


Kaos pendek sebatas atas siku serta Trening Joger di tambah dengan topi dengan warna yang senada membuat Gus Ali benar benar membuat senam yang di lakukan Nuril terasa sia sia belaka. Bagaimana tidak, jantung Nuril lebih menggila dengan pemandangan di depannya daripada olah raga yang di lakukannya.


"Cie cie yang kembaran bajunya.." Waktu yang seakan untuk beberapa menit terhenti bagi keduanya, seketika kembali lagi seiring dengan suara olokan Papa Nuril. "Sehati banget." Lanjut Papa Nuril.


"Idih, siapa juga yang mau kembaran, dia aja yang mau nyama nyamain, Uwi." Ketus Nuril. Dan di balas hanya dengan tawa oleh Papa Nuril, itu sukses membuat Nuril kembali menunjukan wajah kesalnya lagi.


"Imut banget ya Gus, kalau cemberut gitu. Hahaha.." Gus Ali hanya bisa terseyum sambil mengusap tengkuknya salah tingkah saat ucapan Papa mertuanya dirasa benar oleh Gus Ali.


"Anak Papa, Uwi apa dia sih. Harusnya Papa ada di pihak Uwi." Sembari mengatur nafasnya Nuril semakin kesal dengan tawa Papanya yang semakin membahana. Apa lagi, saat Nuril menatap kepada Gus Ali yang seakan menjadi orang yang pendiam dan pemalu, itu jauh sekali berbeda dengan Gus Ali yang hanya berduan saja dengan Nuril tadi sebelum subuh di kamar.


"Anak Papa kamu sih, Wi. Cuma, Papa kan lagi demen demennya punya anak Laki Laki." Jawab Papa Nuril.


Melengos sebal Nuril berujar. "Mantang mentang baru. Coba saja udah kadal warsa."


"Manja kan, Gus." Gus semakin salah tingkah. Ingin mengiyakan perkataan Papa mertuanya, namun begitu melihat tatapan membunuh dari Nuril membuat Gus Ali hanya bisa tersenyum kikuk. "Enggak apa apa, Gus. Jangan takut, nanti kalau marah kasih saja coklat sama permen yang banyak."


"Apa apaan sih, Pa. Enggak lucu banget deh." Ucap Nuril sembari meraih botol di tangan Gus Ali dengan kasar, lantas dengan cepat kembali duduk di matrasnya sesaat setelah itu segera menenggak air dalam botol itu hingga tinggal separo.

__ADS_1


Gus Ali semakin melebarkan senyumnya dan itu disadari oleh Nuril. "Apa senyum senyum." Ketus Nuril lagi.


"Jangan galak galak napa. Entar di tinggal pulang nangis nangis kangen" Kata Papa Nuril dengan wajah menggolok.


"Uhuk, uhuk, uhuk." Nuril seketika tersedak oleh air yang kembali di minumnya bukan lantaran mendengar ucapan Papanya, melainkan simbol love yang di berikan oleh Gus Ali persis seperti Oppa Oppa korea, di tambah dengan kerlingan mata nakal Gus Ali. "Kita perlu bicara." Ucap Nuril dengan cepat dan di ikuti gerakan dengan cepat pula berdiri dari tempatnya lantas berjalan menjauh meninggalkan Papanya.


"Kalau bicara jangan sambil ngamuk ngamuk, Wi. Sambil peluk peluk kan enak." Ucap Papa Nuril sembari terkekeh geli dan sukses membuat Nuril berbalik sambil mendelik ke arah Papanya..


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Mau nguping ahh besok apa yang di bicarain..😅😅😅😅


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2