
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
5 Tahun kemudian.
Kamar berdiameter empat kali enam yang di dominasi warna putih terasa muram. Muram karena kini kamar itu sedang di penuhi oleh suara isak tangis. Menengelungkupkan wajahnya dalam pangkuan Gus Ali, Nuril terus saja menangis tanpa mengindahkan kata kata Gus Ali agar menyudahi airmatanya.
Ujian dalam rumah tangga datang dengan berbagai jenisnya. Dan selama lima tahun ini, tidak ada ujian yang berarti bagi mereka beredua, kecuali belum hadirnya buah hati untuk melengkapi bahtra rumah tangga yang mereka arungi bersama. Sebelumnya, mereka selalu menulikan telinga, akan segala rupa pertanyaan serta keprihatinan dari keluarga mengenai keturunan.
Tapi, sekali lagi. Jodoh, maut, rezeki itu jelas murni urusan Allah semata, dan sebagai hamba tidak ada upaya lain selain ikhtiar dan meminta kepada sang maha pengasih atas rahmatnya. Nuril sadar betul akan hal itu, juga Bunda Ikah yang selalu memberinya kekuatan lewat kata kata bijaknya. Namun, entah karena begitu menginginkan atau karena takut akan di tinggalkan oleh Gus Ali membuat Nuril tak mampu menahan air matanya saat ini.
Seusai menjengguk Ning Nila tadi pagi, anak dari Ammu Ni'am yang baru melahirkan kemarin. Hati Nuril di liputi kesedihan yang mendalam, kesedihan karena satu omongan orang yang membuatnya Nuril melupakan betapa besar cinta Gus Ali untuk Nuril, dan ikhtiar segala hal yang sudah mereka lakukan. Namun, tetap semua akan kembali kepada Allah semata.
Selayaknya ucapan mendiang Abi Farid dua tahun lalu sebelum beliau menghadap keharidaan Ilahi. "Anak itu, adalah rezeki juga ujian terbesar dalam berumah tangga, meski itu juga merupakan nikmat yang luar biasa ketika kita mampu mendidik anak anak kita menjadi waladin sholihin. Tidak bisa di gesa gesakan. Jika, belum saatnya memiliki, maka akan banyak waktu untuk mempersiapkan diri karena sejatinya mungkin Allah menganggap kita belum mampu dan layak untuk itu."
Nuril ingat semua itu, juga mengingat cerita Bunda Ikah akan perjuangan dan kesabarannya hingga hadir Gus Ali di tengah tengah mereka. Namun, hati tetaplah hati, akan merasakan sedih juga disaat ketidak mampuan yang di miliki menjadi bahan perbincangan orang lain.
Tidak ada hal yang bisa sempurna, karena sudah di tetapkan oleh Allah, bahwa manusia itu akan mencapai tahapan masing masing dengan cara mereka masing masing, dan nilai kesempurnaan itu tidak akan pernah terpuaskan di hadapan manusia. Karena sifat manusia itu selalu kurang.
Bagi pandangan orang orang di sekitar, Nuril dan Gus Ali adalah pasangan sempurna yang menjadi idola. Sehingga satu kekurangan saja dari mereka berdua, membuat orang yang menganggap mereka sempurna menilai dengan cepat. Dan memastikan tidak ingin ada kekurangan atau kesalahan bagi keduanya. Sampai sampai mereka melupakan, bahwa Gus Ali dan Nuril hanyalah manusia biasa yang tak lepas dari kesalahan dan kekurangan.
"Sudah puaskah dengan seperti ini.?" Tanya Gus Ali setelah suara isakan Nuril berhenti. Lalu di angkatnya kepala Nuril dengan kedua tangan Gus Ali yang senantiasa menangkup hangat pipi Nuril. Nuril mengangguk pelan.
"Katakan, apa yang membuatmu sedih. Apa masih hal yang sama.?" Ucap Gus Ali dengan nada tenang.
__ADS_1
"Anaknya Ndhok Nila lucu sekali." Singkat Nuril dengan mata yang kembali berair.
Terlihat sebuah helaan nafas Gus Ali dalam, kemudian Gus Ali memperbaiki cara duduknya, lantas membawa Nuril dalam dekapannya. "Hapuslah rasa iri dalam hatimu, Ju. Sesungguhnya orang yang masih belum bisa melepaskan rasa irinya dengan nikmat orang lain, mereka adalah golongan orang yang masih kufur akan nikmat yang Allah berikan atas dirinya sendiri."
"Aku tau, tapi.."
"Tapi, kamu kalah. Sudahlah, jangan selalu seperti ini setiap kali usai menjengguk handai tolan yang baru melahirkan. Buatlah itu sebagai penyemangat serta sematkan do'a disana, semoga nikmat anak anak sholih juga akan kita dapatkan kelak." Belaian lembut tangan Gus Ali di pucuk kepala Nuril melegakan hati.
"Sungguh aku juga menginginkan hal serupa sepertimu. Tapi, saat Allah menginginkan hal yang lain agar kita selesaikan dulu, apa kita bisa menolaknya. Segala upaya sudah kita lakukan, hanya tinggal menanti kapan Allah berkehendak memberikan nikmatnya kepada kita." Lanjut Gus Ali.
"Usia kita tidak akan muda lagi. Apa akan cukup jika hanya kita berdua saja. Apa sampean tidak berniat menghadirkan Dewi Hajar di tengah ten.."
"Ucapan apa ini." Gus Ali terlampau kaget dengan ucapan Nuril hingga membuat Gus Ali mengurai dekapannya dan memandang Nuril dengan lekat.
"Menikahlah lagi, demi keturanan yang akan terus bertasbih kepada Allah." Nada suara Nuril terdengar kembali serak, mata jernihnya juga kembali di penuhi oleh kaca yang sudah hendak pecah. Namun, senyuman berusaha keras Nuril sungingkan untuk Gus Ali.
"Kamu saja masih tidak yakin dengan itu, Ju. Oleh sebab itu jangan pernah katakan lagi hal itu. Karena meskipun kamu bisa ikhlas, aku tidak yakin akan mampu untuk adil." Lanjut Gus Ali dengan dada yang bergetar hebat.
Sesungguhnya di dasar hati Gus Ali, begitu terluka dengan penglihatannya saat ini. Bagaimana mungkin Gus Ali sanggup terus tersenyum di tengah airmata yang terus merebak di mata indah Nuril, dimana Gus Ali pernah berjanji disana, hanya akan ada binar kebahagiaan. Namun sekali lagi, ujian dalam rumah tangga itu berbagai bentuknya, dan Gus Ali lalai bahwa segala ucapannya hanya akan menjadi janji saja ketika Allah tak berkehendak akan menjadi nyata.
"Anak anak yang sholih itu tidak hanya milik mereka yang beruntung dengan di titipkan lewat rahim mereka. Akan tetapi, menjadi orang tua yang mendidik dan mengajarkan akan ilmu serta kesalihan juga merupakan jihat yang tidak bisa di pandang sebelah mata, meski mereka tidak pernah bersemayam dalam rahim mu." Nuril mengangkat kepalanya menatap Gus Ali yang tengah tersenyum penuh arti kepada Nuril.
"Oleh sebab itu Allah menyebutkan sebagai Waladin sholihin atau anak anak yang sholih, tidaklah anak dari bapaknya yang sholih. Jadi, apa masih kurang nikmat yang kita punya dengan anak anak yang selalu bersama kita, anak anak yang senantiasa memanggilmu dengan sebutan Umma. Jika iya. Maka tingkatkan sabarmu lebih lagi agar menjadi keharusan." Lanjut Gus Ali.
Nuril kembali mengeratkan pelukannya dan tak lupa seraya bersyukur karena memiliki seorang suami yang mampu menjadi guru sekaligus sahabatnya. Tidak ada satu nikmat yang luar biasa, selagi kita tidak lupa untuk bersyukur bahwa nikmat itu sempurna untuk masing masing orang.
__ADS_1
"Jangan pernah anggap mereka anak adopsi kita, Ju. Walau bagaimanapun, suatu saat nanti ketika mereka sudah dewasa dengan bekal Ilmu yang kita wariskan dan kasih sayang yang kamu berikan. Mereka juga tidak akan kalah dengan anak anak yang kamu lahirkan sendiri. Baik di dunia juga kelak di Ahirat."
Nuril tersenyum paham, dan semakin mengeratkan kedua tangannya yang tengah merangkul pinggang suaminya. Benar tidak akan satu nikmat di dunia ini yang lebih nikmat lagi, kecuali nikmat yang masih mampu dirasakan sampai ke ahirat. Dan itu adalah anak anak yang sholih sholihah.
.
.
.
.
.
Bersambung Extra partnya.
####
Selalu yakin untuk para pembaca yang masih berjuang demi garis dua. Yes, Anak yang sholih itu bukan sekedar mereka yang pernah bersemayam di rahim kita, akan tetapi mereka yang kita besarkan dan kita didik dengan bekal ilmu keagamaan do'anya juga mampu menembus Arsy.
Terus semangat yah..😘😘😘😘😘😘
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862