Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Jelas seperti hukum Idhar


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Suara gemerisik angin pantai seolah berbisik pada pasir hitam legam yang mengabarkan bahwa seseorang telah begitu terjatuh dalam sebuah rasa yang kembali salah. Dan entah sudah berapa lamanya Mbak Hafiza masih berdiri di pinggir pantai dan membiarkan wajahnya yang ayu di belai lembut oleh angin yang berhembus. Jilbab kecilnya melambai lambai seperti daun nyiur yang juga sedang menari nari lewat nada syahdu debur ombak yang terus berkejaran.


Bukan tanpa alasan Mbak Hafiza terus berdiri di pinggir pantai untuk menenangkan pikirannya saat ini, itu terjadi lantaran seminggu lalu setelah acara Wisuda, orang tua Mbak Hafiza mengatakan bahwa akan ada yang datang melamar ke rumahnya. Dan tanpa meminta persetujuan dari Mbak Hafiza, orang tuanya memutuskan bahwa dia akan bahagia bersama dengan pilihan yang orang tuanya sudah setujui.


Dan kegelisahan Mbak Hafiza semakin menjadi saat Bunda Ikah ikut bersuara semalam setelah sorogan. "Pulanglah besok pagi, Mbak Fiza. Bantu orang tua sampean menyipkan segalanya, besok saya dan keluarga juga akan ada disana." Ucap Bunda Ikah dengan senyum ramah yang memang tidak pernah meninggalkan wajahnya.


Dan disinilah Mbak Hafiza sekarang berdiri dalam delima. Tawadhuknya terhadap orang tua juga gurunya terbelah oleh rasa yang mungkin hanya di milikinya seorang saja. Lantaran setelah perbincangan singkat dengan Mas Naufal di kala dirinya menumpang di mobil Mas Naufal dua tahun lalu, hatinya dengan mudah berpindah haluan mengaggumi sosok Mas Naufal di banding dengan Mas Ali yang sudah bertahun tahun bertahta di hatinya.


Dan begitu tidak beruntung dirinya, karena setelah saat itu sama sekali Mas Naufal tidak membahas apapun dan seolah memberi jarak untuk Mbak Hafiza. Juga jarang berkunjung ke Ndalem Abi Farid, sekali berkunjungpun Mas Naufal hanya sebentar sebentar saja, kadang Mbak Hafiza juga tidak punya kesempatan untuk sekedar bertegur sapa dengan Mas Naufal.


Hatinya memang sangat kurang ajar sekali, karena telah berharap pada sinar rembulan untuk dirinya, padahal keadaannya jauh di bawah awan hitam, sementara sinar rembulan tidak bisa menembus pekatnya awan hitam.


"Za, di suruh pulang sama Ibumu, rombongan calon tunanganmu sudah datang." Suara saudara sepupu Mbak Hafiza membuyarkan rasa gelisah yang sedari tadi mengungkungnya.


"Iya. Aku akan pulang." Ucap Mbak Hafiza datar, dan perlahan Mbak Hafiza meningalkan tempatnya dengan berusaha menetapkan hatinya kepada pilihan orang tua juga gurunya.


Apa lagi yang bisa di lakukan oleh Mbak Hafiza selain dari pada itu, lantaran untuk memilih jelas tidak akan mampu baginya, karena dia bukan Ning Afiqah, atau anak dari seorang yang memiliki harta benda berlimpah sehingga bisa seenak hatinya menolak lamarna yang datang. Dengan dirinya di minta baik baik dari keluarganya dan keluarganya ridho serta gurunya merestui bukankah itu sudah sangat terhormat baginya.


Rasa itu juga tidak harus melulu sampai pada tempatnya, karena rasa yang tidak sampai pada tempatnya justru akan menjadi cerita yang akan indah jika di kenang kemudian hari.


Mbak Hafiza berjalan pelan memasuki pekarangan rumahnya yang sempit lewat bagian pekarangan belakang, dan dari tempanya berjalan dapat terlihat 3 mobil yang tengah berjajar di jalan masuk halamanan sempit rumahnya.


"Bunda Ikah juga sudah datang." Gumam Mbak Hafiza saat melihat mobil keluarga Abi Farid, dan segera masuk ke rumahnya lewat pintu belakang.


"Ini dia calon mantennya." Ucap Kakak Ipar Mbak Hafiza dan dengan cepat Ibu Mbak Hafiza meyongsong putrinya.


"Kamu darimana saja, Za. Lihat mukamu berminyak sekali." Ucap Ibu Mbak Hafiza sambil menyeka keringat Mbak Hafiza yang tiba tiba datang karena gugub. "Nik, ambilkan bedak di atas Kulkas itu." Lanjut Ibu Mbak Hafiza sembari mengelap wajah Mbak Hafiza dengan kain yang sudah di basahi terlebih dulu.


"Buk, Fiza." Kata kata Mbak Hafiza terhenti di kerongkongan saat di lihat netra Ibunya menyorot penuh bahagia sambil membuka bedak kecil di tangannya dan setelahnya segera memoleskan bedak pada wajah Mbak Hafiza yang putih.

__ADS_1


"Mau ngomong apa.?" Tanya Ibu Mbak Hafiza sembari memandang Netra Putri bungsunya yang sejak kecil sudah di ambil oleh Bunda Ikah.


"Tidak jadi, Buk. Fiza hanya gugub." Jawab Mbak Hafiza.


"Itu sudah pasti, apa lagi kalian kan.."


"Sudah jangan di teruskan, Nik. Tamunya sudah menunggu." Ucap Ibunya Mbak Hafiza dan kemudian dengan cepat sudah memberikan nampan berisi teh kepada Mbak Hafiza. "Kamu bawa ini keluar ke ruang tamu." Lanjut Ibu Mbak Hafiza.


"Tapi, Buk. Fiza malu." Ujar Mbak Hafiza.


"Ibu sama Mbak Nanik juga akan kesana, di kira Mbak tidak penasaran apa sama Gus mu itu." Entah karena begitu gugupnya atau terlalu fokus pada acara lamaran ini, hingga Mbak Hafiza sama sekali tidak merospon ucapan Kakak Iparnya yang mengatakan ingin lihat Gus Mbak Hafiza.


Dengan menunduk dalam di sertai debaran di dadanya yang membahana, Mbak Hafiza berjalan memasuki ruang tamu rumahnya mengekori Ibu juga Kakak Iparnya. Ruang tamu terlihat sedikit lebar karena di gelar karpet, dan di sana tidak banyak orang seperti bayangan Mbak Hafiza, di sisi kiri ruangan sempit duduk beberapa wanita yang salah satunya adalah Bunda Ikah juga Kakak ipar Bunda Ikah yang tak lain adalah Ibunya Mas Naufal. Selebihnya Mbak Hafiza tidak mengenalinya namun tetap menyalaminya dengan takdzim.


Sedang di sisi yang lain Mbak Hafiza sama sekali tidak berani untuk menolehnya lantaran begitu gugub juga sekaligus malu yang begitu luar biasa. Apa lagi jika sampai bertemu pandang dengan calon tuangannya.


"Duduklah disini, Mbak Fiza." Ucap Bunda Ikah dengan menepuk nepuk tempat di tengah tengah antara Bunda Ikah dan Ibu Mas Naufal. Setelah melihat Ibunya mengangguk Mbak Hafizapun mendudukan dirinya di sana dengan menundukan wajahnya semakin dalam.


Dan dada Mbak Hafiza semakin berdegub lebih kencang lagi, saat Abi Farid sudah mulai membuka katanya dan semua diam tanpa suara, seolah Mbak Hafiza dapat mendengar suara dari dadanya yang seperti genderang di tabuh, juga sekaligus dapat di dengar oleh semua orang yang tengah duduk di ruang tamu tersebut. Keringat dinginpun juga ikut berlomba lomba melompat kaluar dari sisi mana saja dapat beringsek juga tidak ketinggalan tangan Mbak Hafiza yang saling menaut juga basah oleh keringat dingin.


"Pak Mughni, maksud kedatangan kami sekeluarga datang silaturahim kemari tidak lain dan tidak bukan untuk memastikan kepada Pak Mughni sekeluarga tentang lamaran Putra kami dua tahun lalu." Mendangar ucapan Abi Farid dengan segera Mbak Hafiza mengangkat kepalanya dengan pelan dan menatap lurus ke depan dengan dada yang semakin bertalu talu seolah ingin meloncat keluar dari tempatnya.


Melihat dua sosok yang tengah duduk di depanya Mbak Hafiza tidak dapat berfikir lagi. Gus Ali yang duduk degan kepala tertunduk tampak sekali wajah datarnya, sementara Mas Naufal juga duduk dengan kepala tertunduk dengan sedikit senyum yang tercetak tipis di ujung bibirnya. Mabk Hafiza tidak ingin menebak nebak terlalu serakah untuk dirinya dan hanya bisa kembali menunduk dengan dalam sembari meremas kedua tangannya dengan terus mendengarkan perbincangan serius dua keluarga ini, sampai Bapak Mbak Hafiza menanyainya.


"Ndhok Bapak tanya kepada sampean, apa sampean bersedia menerima Lamaran dari keluarga Abi Farid untuk putranya yang bernama Muhammad Naufal Fikri Karim." Tanya Bapak Mbak Hafiza dengan nada serius, sementara Mbak Hafiza yang tengah syok dengan pertanyaan itu tanpa sengaja langsung mengangkat kepalanya dan bertemu pandang dengan wajah teduh Mas Naufal yang juga tengah menatpanya. Ingin rasanya Mbak Hafiza lari dari tempat itu dan menyembunyikan dirinya agar semua orang tidak bisa melihat wajahnya yang tengah merona. "Ndhok." Lanjut Bapak Mbak Hafiza.


Mbak Hafiza semakin menuduk dalam, setelah mengangguk pelan untuk memberi jawaban kepada Bapaknya. Dan kegelisannya sedari seminggu lalu menguap begitu saja berganti dengan debaran yang entah akan sampai kapan akan terus berlangsung, apa lagi saat matanya lagi lagi bertemu pandang dengan mata Mas Naufal, rasanya Mbak Hafiza akan semakin menggila karena terlampau bahagia.


"Alhamdulillah." Seruan kelagaan langsung bergema di ruangan sempit itu, lantas berganti dengan candaan juga sekaligus penyematan cincin oleh Ibu Mas Naufal di jari manis Mbak Hafiza yang membuat Mbak Hafiza semakin tertunduk dengan senyum yang di kulum.


"Habis ini Mbak Fiza, masih harus tetap tinggal di Pesantren sampai menjelang Akad Nikah. Supaya Fikri tidak nakal sering sering ngapel kesini." Ucap Abi Farid dan di sambut tawa oleh semuanya.


"Sebenarnya yang tidak sabar, Ibunya. Mau cepat cepat di bawa pulang, biar ada yang di cereweti." Ucap Ayah Mas Naufal dan kembali tawa pecah memenuhi seisi ruangan.

__ADS_1


"Jangan percaya sama Ayahnya Fikri, Ndhok. Saya tidak cerewet, cuma suka bicara lebih." Bisik Ibu Mas Naufal ke Mbak Hafiza dengan membelai lembut punggung Mbak Hafiza. "Dek, kayaknya sudah waktunya juga untuk Ali dicarikan teman, kasihan kalau di tinggal nikah sama Fikri dua bulan lagi." Lanjut Ibu Mas Naufal dan kemudian dengan cepat pembullyan terhadap Gus Ali di mulai.


Tapi, Gus Ali hanya menjawab dengan tenang sembari mengulas senyumnya. "Belum saatnya."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Usai dari acara siang tadi, Mas Naufal masih setia dengan senyum yang terus mengembang dan bertingkah konyol sendiri dengan terus merecoki Gus Ali yang tengah fokus dengan buku di tangannya. Ya, sedari pulang dari acara tadi siang Gus Ali dan keluarga masih tinggal di kediaman Bunda Ikah yang sering kosong, lantaran Bapak dari Bunda Ikah lebih senang tinggal di rumah Pakde Hanan, Ayah dari Mas Naufal.


"Fik, Al, turun gih ada Pakde Taufiq sama Istrinya." Ucap Ibu Mas Naufal dari pintu kamar Mas Naufal.


"Enggeh, Buk." Jawab Mas Naufal dengan langsung bangkit dari tempatnya duduk. "Ayo, Dek." Lanjut Mas Naufal mengajak Gus Ali, dan Gus Ali seperti tidak mendengar ucapan dari Mas Nuafal yang mengajaknya untuk turun.


"Mbak Juju mungkin saja juga ada di bawah." Ucap Mas Naufal sambil cekikian, yang langsung di balas oleh Gus Ali dengan meninju pelan lengan Mas Naufal. Dengan tawa pecah Mas Naufal terus menggoda Gus Ali yang tengah salah tingkah dengan bagian telinga yang sudah memerah karena merasa malu terus di olok.


"Jelas sekali, sekarang Cintaku pada Mbak Fiza itu ibarat Tajwid, kayak Idhar. Jelas, sebab dan hukumnya. Tidak kayak rasamu padanya yang berupa Ikhfa' dan akan menghilang saat yang jelas telah berani datang." Ucap Mas Naufal dengan muka penuh ejekan ke Gus Ali yang tengah memasang wajah ambigu.


Jika saja, Mas Naufal tau bahwa Gus Ali tiga hari lalu telah di buat tidak bisa tenang dengan hanya melihat punggung seseorang yang mengaku bernama Juju, jelas Mas Naufal akan semakin mengoloknya dan mengadukan kepada Bunda Ikah yang sering sekali menanyakan kepada Mas Naufal siapa gadis yang di sukai oleh Gus Ali.


Bersambung...


####


Mbak Juju apa ikut ya kira-kira..🤔🤔🤔🤔🤔


Like, Coment dan Votenya masih di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi


by: Maydina862

__ADS_1


__ADS_2