
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Suasana duka sangat kental terasa, bahkan langitpun juga seperti ikut berduka dengan terus mencucurkan tetesan kristal tawar sedari siang tadi. Tidak ada duka yang lebih mendalam bagi seorang manusia, kecuali dirinya di pisahkan dengan seseorang yang sangat di cintainya dalam keadaan yang sedang dalam puncak kebahagiaan.
Kesedihan, rasa kehilangan, juga duka mendalam yang seperti separuh dari dirinyapun ikut pergi bersama sang pujaan hati meski beberapa hari sudah berlalu. Itulah yang Gus Ali lihat dari dr.Rama saat ini. Dan terlihat jelas bagaimana dr.Rama berusaha untuk tetap tegar di hadapan orang. Gus Ali tidak tau persis apa yang di kesedihan mendalam seperti apa yang di rasakan oleh dr.Rama, tapi Gus Ali dapat melihat bahwa itu telah benar benar mengguncang jiwanya.
Tapi, ada yang jauh lebih mengiris hati Gus Ali. Lily, gadis kecilnya yang periang itu kini tidak berbinar sama sekali. Lily, tampak dingin seperti nama yang tersemat padanya. Lily, benar benar meredup dan tak tersentuh oleh siapapun. Bibirnya terus terkatup, dan hanya akan sesekali bersuara jika itu sangat perlu untuk Lily katakan.
Dan oleh karena soal Lily itulah Gus Ali saat ini masih saja berdiri di samping jendela kamarnya yang tetap di biarkannya terbuka dengan tatapan jauh menembus pekatnya malam dengan pikiran yang tidak terbaca seperti sebuah misteri jauh di kedalaman samudra.
"Mas, kok jendelanya di biarkan terbuka." Ucapan pelan Bunda Ikah menyadarkan lamunan Gus Ali. Dan menggeser pandangannya dari kerlap kerlip lampu Nelayan Benur yang memanjang seperti sebuah kota yang tidak jauh dari bibir pantai.
"Udara segar biar terus berganti, Ndha."
Bunda Ikah berjalan pelan mendekat ke arah putra semata wayangnya. "Nanti masuk angin." Tangan Bunda Ikah terulur menutup jendela kaca tanpa menutup kordennya.
"Lekaslah Istirahat, Mas. Bukannya besok Mas Ali akan berangkat pagi pagi sekali ke Surabaya." Lanjut Bunda Ikah sembari menyentuh bahu Gus Ali lembut.
"Ali tidak tega dengan Lily, Ndha." Ucapan pelan di sertai helaan nafas dalam Gus Ali berhasil membuat gerakan tangan Bunda Ikah terhenti. "Tidak bisakah Abi dan Bunda meminta pada dr.Rama, agar Lily bisa tinggal bersama kita." Lanjut Gus Ali dengan tatapan memohon kepada Bundanya.
Bunda Ikah menghela nafasnya dalam dalam, kemudian tersenyum tipis ke arah Gus Ali seraya berucap pelan. "Bunda sudah bicara dengan dr.Rama beserta keluarganya. Bunda sudah berusaha seperti dulu meminta Juju untuk tinggal dengan kita."
Gus Ali menutup matanya rapat rapat, dan sejurus kemudian segera meraih Bunda Ikah dalam dekapannya setelah gelengan pelan dari Bunda Ikah yang di sertai dengan tetesan air mata menetes dari sudut matanya, dan itu sudah seminggu ini Gus Ali lihat dari netra tua Bundanya semenjak kepergian Mbak Lalanya.
"Tidak ada yang tau jatah umur kita di dunia akan sampai dimana. Tapi, andai Bunda bisa meminta. Bunda ingin melihat Mas Ali membina rumah tangga dengan bahagia, setel.."
"Sestt.., tidak, tidak lagi. Ali tidak ingin mendengar Bunda berbicara seperti ini."
"Mas, setiap detik yang berganti membawa kita lebih dekat pada kepastian. Hanya tinggal menunggu waktunya saja. Dan sebelum Bunda sampai pada keyakinan itu, hanya itulah harapan terahir Bunda, walau itu bukan orang yang Abi atau Bunda pilihkan buat Mas Ali."
Gus Ali menatap dalam mata Bunda Ikah, dan faham betul di giring kemana arah pembicaraan ini. Tapi, Gus Ali juga tidak memberi kepastian akan harapan terbesar Bunda Ikah, yakni menjadikan Juju sebagai Putri menantunya seperti yang selalu di gadang gadangkannya dulu sewaktu Gus Ali dan Juju masih kecil.
"Beri waktu Ali, Ndha. Setidaknya untuk kami sama sama siap, bukankah kejadian tempo hari juga sudah cukup menjadi bertanda bahwa ini harus di tunda untuk beberapa waktu dulu." Ucap Gus Ali sembari kembali kembali memeluk Bunda Ikah.
"Berapa lama.?" Tiba tiba sebuah suara berat dan dalam ikut bersuara dan membuat keduanya sedikit tersentak kaget untuk seaat, namun kembali berpelukan hangat hingga membuat Abi Farid meradang cemburu oleh anaknya.
"Tidak bisa di pastikan akan berapa lama." Ucap Gus Ali santai.
"Tidak boleh lama lama, karena itu akan mengurangi jatah pelukan buat Abi." Ucap Abi Farid dengan langsung menarik pelan tangan Bunda Ikah, agar terlepas dari rengkuhan Gus Ali.
__ADS_1
"Abi, ngalah dong sama Ali. Masak mau rebutan sama anak sendiri." Ucap Gus Ali sembari mempertahankan tangan Bunda Ikah yang satunya agar tetap melingkar di pinganggnya.
"Sudah saatnya sampean cari yang di peluk, bukan malah nyurangin Abi dengan nyuri Bunda di jam Istirahat seperti ini."
"Ini bukan nyuri, Bi. Bunda kok yang datang ke kamar Ali."
Mereka terus saja berdebat, hingga membuat bibir Bunda Ikah yang tadinya hanya menyunging senyum dengan seketika melebar hingga menampakan giginya. "Kebiasaan sekali."
"Jadi, Bunda milih mana. Ali atau Abi.?" Ucap Gus Ali di tengah perdebatan sengitnya dengan Abi Farid.
"Bunda,.?" Tunjuk Bunda Ikah pada dirinya sendiri, dan di angguki oleh kedua laki laki tercinta dalam hidupnya. "Bunda akan memilih bersama Ndhok Kia saja." Lanjut Bunda Ikah setelah melihat harapan di mata keduanya
"Tidak ada Ndhok Kia, Ndha. Hanya ada Abi dan Ali." Jawab Gus Ali.
"Kalian debat saja dulu, nanti kalau sudah ada pemenangnya baru kalian kabari Bunda. Jika Bunda di suruh memilih, jelas Bunda tidak akan bisa, karena Abi adalah denyut jantung Bunda." Ucap Bunda Ikah dengan membelai lembut pipi Abi Farid yang sudah tidak sekencang dulu. Dan membuat Abi Farid tersenyum puas ke arah Gus Ali. "Sedangkan Mas Ali, adalah darah yang mengaliri seluruh tubuh Bunda." Lanjut Bunda Ikah.
"Terima kasih, Bunda." Ucap Gus Ali, dan sudah hendak menarik Bunda Ikah lagi dalam dekapannya, namun Abi Farid segera menarik pinggang Bunda Ikah dan berhasil menguasai Bunda Ikah lebih dulu.
"Maaf, Abi lebih dulu. Jadi, kesimpulannya Mas Ali segera cari yang halal buat di peluk peluk, atau kalau enggak bisa cari nurut saja sama yang di pilih oleh kami." Ucap Abi Farid dengan memeluk Bunda Ikah dengan posesif sembari sesekali mencium pucuk kepala Bunda Ikah, hingga membuat Gus Ali berdecak kesal.
"Pergi, pergi sana. Jangan suka pamer kemesraan di hadapan Jomblo." Ucap Gus Lai dengan wajah di buat lucu dan berhasil memancing tawa kedua orang tuanya. Lantaran teringat akan masa kecil Gus Ali yang sering ngambek ketika melihat Abi Farid dan Bunda Ikah sedang menunjukan rasa cinta mereka.
Tak jarang pula, Gus Ali langsung menengahi mereka atau dengan sengaja membuat ulah agar kedua orang tuanya memperhatikannya, dan yang parah adalah saat Juju tinggal bersama mereka. Lantaran Jujulah yang selalu menjadi sasaran kejahilan Gus Ali agar mendapat perhatian. Dan itu tidak dapat pungkuri justru membuat Gus Ali dan Juju menjadi sangat dekat, meski sudah seperti Tom dan Jerry saat bertemu.
"Beri waktu Ali, paling tidak satu tahun setengah. Dan ketika Ali sudah membawanya kesini, Abi dan Bunda wajib setuju, tidak boleh tidak." Ucap Gus Ali dan membuat kedua orang tuanya menghentikan langkahnya.
Abi Farid dan Bunda Ikah saling tatap sembari tersenyum samar, karena apa yang di rencanakan untuk menarik Gus Ali agar mengeluarkan apa yang sudah di rahasiakannya ahirnya berhasil.
"Lama sekali satu setengah tahun.?" Ucap Abi Farid. "Apa deposit Abi sampai ke tahun itu ya." Lanjut Abi Farid dan itu sukses membuat tangan Bunda Ikah terulur mencubit pinggang Abi Farid hingga mengaduh. Dan itu jika di lihat dari pandangan Gus Ali, lagi lagi adalah drama Romantis kedua orang tuanya.
"Jadi, kenapa harus selama itu, Mas.? Apa Bunda boleh tau alasannya.?" Tanya Bunda Ikah lembut, sembari mengajak Gus Ali duduk di atas ranjangnya, dan meninggalkan Abi Farid yang tengah menatap keduanya penuh kehangatan. "Gadis seperti apa dia." Lanjut Bunda Ikah, dan sukses membuat Gus Ali salah tinggah dengan pertanyaan Bunda Ikah.
"Dia gadis sepeti apa, ya seperti gadis pada umumnya. Dan Ali tidak tau banyak tentang dia. Yang Ali tau dia masih dalam percobaan tugas selama dua tahun lamanya." Jawab Gus Ali dengan senyum tipis, karena dalam otaknya menari nari wajah Ipda Nuril yang sedang mengulum senyuman.
"Aparat..?, Apa yang waktu itu mengangkat panggilan dari Bunda.?"
"Iya." Jawab Gus Ali lemah, saat terdengar nada kekagetan dari Bundanya mengenai sosok gadis yang menjadi ratu di hatinya.
"Sejauh mana hubungan kalian..?" Kali ini ganti Abi Farid yang bertanya.
"Tidak ada, kami tidak ada hubungan apa apa, Bi. Bukankah Allah yang mengetahui segala rahasia dalam hati manusia, dan yang mengerakkan hati setiap insan. Maka dari itu, Ali memilih meminta hatinya lewat do'a." Jawab Gus Ali tegas dan menerbitkan senyum lega di wajah kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Seorang laki laki itu, yang di pegang adalah ucapannya Mas. Jangan sampai hanya do'a saja yang sampean rapal, hingga lupa berusaha untuk ta'aruf dengan gadis itu." Ucap Bunda Ikah.
"Insya'Allah, Ndha. Do'anya saja, semoga memang nama dia yang tertulis untuk Ali." Jawab Gus Ali.
"Tapi, kalau boleh jujur, Bunda yakin dengan Juju." Lanjut Bunda Ikah dengan nada sedikit berubah.
"Ndha, kita akan bicarakan itu lain kali." Timpal Abi Farid. "Ini sudah malam, lebih baik lekas istirahat, besok Abi ada acara pagi pagi sekali di Desa sebelah." Lanjut Abi Farid, dan di sambut sunggingan senyum oleh Bunda Ikah kemudian lekas bangun dari tempat duduknya.
Keduanya pamit, setelah menyuruh Gus Ali untuk lekas istirahat, dan berjalan meninggalkan kamar Gus Ali dengan Bunda Ikah bergelayut manja di tangan Abi Farid. Sayup sayup, Gus Ali dapat mendengar percakapan kedua orang tuanya sebelum pintu kamarnya tertutup sempurna.
"Bagaimana soal janji kita sama Anne, Bi."
"Itu hanya soal waktu, Ndha. Biarkan saja Ali bahagia dengan pilihannya tidak perlu menekannya. Memang janji adalah hutang, dan yang membuat hutang itu kita, bukan Ali dan Juju."
Gus Ali terus bertanya tanya dalam hati akan ucapan Abi Farid dan Bunda Ikah, yang membahas soal janji, dan itu pasti janji soal perjodohannya dirinya dengan Juju. Tapi, bagaimanakah janji itu bisa terikrar itulah yang membuat Gus Ali terus bertanya tanya dalam hati. Dan mungkin jalan satu satunya untuk membatalkan janji itu adalah dengan cara Gus Ali bertemu dengan Juju, untuk membahasnya. Dan itu akan Gus Ali lakukan sesegera mungkin.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..
###
Mumet sendiri Mak e. Inginnya mereka segera ketemu dan tau bahwa Nuril itu Juju, Ustadz Salman itu Gus Ali. Tapi, Emak juga mau bikin drama..🤭🤭🤭
Like, Koment dan Votenya selalu di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
__ADS_1
@maydina862