
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Hujan yang mengguyur sebelum fajar kadib sempat menampakan diri, membuat hawa dingin terasa membelai kulit Nuril yang sebelumnya seperti tengah hangat dalam pelukan seseorang. Dalam alunan indah gemericik air hujan, Nuril ingin sekali merapatkan selimutnya kembali andai saja seluruh saraf dan otak Nuril mengajaknya untuk bangun.
Mengusap wajahnya pelan, Nuril mulai beranjak dari tempat tidurnya. Deg, pergerakan Nuril seketika berhenti manakala mata Nuril menangkap seonggok tubuh tengah meringkuk di sofa panjang sudut kamarnya. Nuril mengenali sarung yang di kenakann olehnya, dan itu adalah sarung yang sama di kenakan oleh Mas Ainya.
Nuril sudah hendak berteriak begitu menyadari bahwa ada laki laki di kamarnya. Namun, seketika suaranya berhenti di tenggorokan dan dengan cepat Nuril membekap mulutnya sendiri begitu ingatannya kembali di siang kemarin. Bahwa dirinya tidak lagi seorang gadis lajang, melainkan sudah bersuami.
Di bawah sinar tamaram lampu tidur. Nuril dapat melihat wajah Gus Ali yang tengah lelap dalam tidurnya. Dan stok kagum Nuril kembali tumbuh, saat terlihat wajah rupawan Gus Ali tampak begitu damai, sudah barang tentu tidak menyebalkan seperti saat Gus Ali tengah bersama Nuril seorang.
Gus Ali berlahan merubah posisi tidur yang seperti kurang nyaman, lantaran sofa yang di gunakan untuk membaringkan tubuhnya tidak menampung panjang dari tubuh Gus Ali. Sempat Nuril tergagap, saat Gus Ali membalikan tubuhnya yang sepertinya merasa kedinginan.
Nuril berjalan kembali ke arah ranjangnya, dan menarik selimut yang tadi di gunakannya, lantas menyelimutkan kepada Gus Ali yang tengah meringkuk mencari kehangantan dengan tangan yang diapitkan kekedua kakinya.
Kaki Nuril masih tidak ingin pergi dari tempatnya, lantaran tanpa sadar matanya terus terpesona dengan wajah tenang Gus Ali yang memabukkan. Dan tanpa bisa mengontrolnya tangan Nuril sudah terulur hendak menyentuh alis rapi Gus Ali, yang sedari dulu memang menjadi favorit Nuril.
Belum tangan Nuril sampai pada tempatnya. Tangan besar Gus Ali sudah lebih dulu menangkapnya, hingga membuat Nuril terjerembab jatuh tepat di atas tubuh Gus Ali. Dan dada Nuril seketika menggila di sertai dengan wajah yang sudah memerah karena malu. Untungnya lampu kamar tidak menyala, hingga Nuril tidak perlu menyembunyikan wajahnya di hadapan Gus Ali, yang pasti akan mengoloknya.
"Tidak perlu mencurinya jika ingin menyentuhnya." Suara serak khas bangun tidur Gus Ali semakin membuat Nuril malu. Dan dengan susah payah Nuril berusaha untuk bangkit dari tempat terjatuh yang nyaman, namun membuatnya tegang. Apa lagi tangannya seperti terkena lem yang super lengket, hingga untuk melepaskan itu saja Nuril butuh kekuatan extra.
"Siapa juga yang mau menyentuh, orang saya cuma kasih selimut. Takut aja mati kedinginan." Ketus Nuril begitu sudah bisa terlepas dari tangan Gus Ali.
"Hemm, takut jadi janda yah." Jawab Gus Ali sembari duduk.
"Masih belum juga subuh, jangan ngajakin berantem." Masih bertahan dengab nada judesnya Nuril menjawab ucapan Gus Ali, hingga membuat Gus Ali terkekeh geli.
"Dhemm." Gus Ali membersihkan suaranya dan berlahan melipat selimut yang berada dipangkuannya. "Siapa yang ngajakin ribut, aku sih mau banget ribut, apa lagi ribut di ranjang. Ayo saja."
__ADS_1
Nuril membulatkan matanya lebar lebar, tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Kalau kamu tidak mau ngaku mencuri pandang dari tadi juga tidak apa apa. Toh, aku juga semalaman tidak hanya memandangmu." Lanjut Gus Ali santai.
Tapi, lain halnya dengan Nuril. Nuril masih tidak menemukan maksud dari ucapan Gus Ali yang mengatakan bahwa tidak hanya memandang. Dan seketika Nuril menjerit histeris, saat teringat dengan pelukan hangat papannya yang datang dalam mimpi Nuril. Ternyata itu bukalah mimpi, melainkan kenyataan yang terbawa oleh mimpi.
"Dasar mesum, pencuri." Teriak Nuril, sembari merapatkan tangannya ke tubuhnya saat Gus Ali bangkit dari tempatnya dan berjalan pelan menuju ke arah Nuril. "Mau apa deket deket." Lanjut Nuril sembari berjalan mundur satu langkah setiap Gus Ali melangkah satu langkah ke arah Nuril.
Nuril sudah hendak berlari dari tempatnya, andai tubuhnya tidak mentok di tembok belakangnya, sementara Gus Ali sudah berdiri menjulang di depan Nuril dan dengan cepat mengunci Nuril dengan kedua tangannya. "Mau, apa." Ucap Nuril dengan wajah tertunduk sempurna.
Dan kekehan geli dari Gus Ali membuat Nuril kembali tersadar bahwa dirinya pasti tengah di kerjai oleh Gus Ali. Namun, untuk mengangkat wajahnya Nuril tidak sanggup, lantaran posisi saat ini terlalu dekat untuk mereka berdua.
"Tidak akan melakukan apa apa. Bukankah tadi kamu yang bilang kalau aku mesum, jadi aku hanya ingin membenarkan ucapanmu saja." Ucap Gus Ali masih dengan nada santai.
"Jangan berani berani ya."
"Kenapa mesti takut. Kan semuanya sudah halal bagiku."
"Aku akan berteriak."
Dan yang membaut semua semakin aneh adalah Nuril. Bukankah Nuril seorang Polwan, bagi seorang Polwan tentu hal kecil saja melumpuhkan lawan dengan posisi seperti sekarang ini. Mengingat Nuril jelas menguasai beberap bela diri. Namun, saat semua di butakan oleh cinta, maka jangan di tanya dimana letaknya otak. Karena seluruh pikiran Nuril hanya tertuju pada debaran dadanya yang menggila.
"Lagian, aku tidak melakukan hal yang aneh juga. Aku hanya memeluk seperti ini." Ucap Gus Ali pelan namun dengan gerakan cepat yang sudah meraih tubuh Nuril dalam dekapannya. "Kemudian menambahkan lagi seperti ini. Cup." Lanjut Gus Ali sembari mendaratkan kecupan lembut di pucuk kepala Nuril.
Untuk sesaat kaki Nuril seperti tak memiliki tulang, lemas layaknya sebuah kain tanpa sandaran. Dan nyatanya berada dalam dekapan Gus Ali membuat Nuril mampu berdiri tegak oleh topangan dada kokoh milik Gus Ali.
"Aku tidak akan melebihi batasanku, jika kamu tidak mengijinkan." Ucapan Gus Ali kali ini menyadarkan Nuril dengan posisi yang, ahh. Tentu posisi hangat dan tepat untuk suasana yang dingin ini. Juga untuk pengantin baru sejujurnya.
"Aww,." Pekik Gus Ali, saat kakinya menjadi mangsa Nuril. "Sakit, Ju." Rengek Gus Ali persis seperti anak kecil yang tengah manja dengan Ibunya.
"Sukurin." Ucap Nuril ketus, sembari melangkah pergi meninggalkan Gus Ali yang tengah meringis kesakitan oleh ulah Nuril. Tapi, itu tidak bertahan lama, begitu Nuril menghilang di balik pintu kamar mandi. Gus Ali justru tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Senyum masih tertahan di bibir Gus Ali, hingga Gus Ali melangkah keluar dari kamar Nuril. Mengingat wajah merona dan tingakh konyol Nuril membuat Gus Ali benar benar seperti orang gila saja. Ya, tentu saja gila karena cinta. Cinta yang tidak hanya di landaskan pada ***** belaka. Cinta yang di dasari akan ikatan halal dengan restu dan ridho semuanya.
"Cinta itu fitrah, tidak ada jarak antara yang mencintai dan yang di cintai. Cinta adalah juru bicara antara rasa dan kerinduan."
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Perlu kesaktian khusus, agar kuat menghadapi kebucinan Gus Ali nanti..😅😅😅😅😅
Like, Coment dan Votenya di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz Kopi
@maydina862