
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Air di wastafel mengalir berirama, gemiriciknya menenangkan. Tapi, ada yang jauh menenangkan lagi bagi Nuril yang tengah mencuci piring bekas sarapan mereka bersama sama seorang Khadima. Yakni, sebuah keharmonisan keluarga. Nuril masih bisa mendengar tawa Gus Ali bersama dengan Ning Kia, yang memang sedang berada tidak jauh dari tempat Nuril.
Usai dengan kegiatannya, Nuril berjalan pelan menghampiri dimana keluarganya tengah berkumpul. Hal yang menggembirakan hati Nuril, di sela sela candaan Gus Ali dan Ning Kia, ternyata mereka masih sambil menyisipkan beberapa pelajaran. Menyimak hafalan Ning Kia, itulah yang di lakukan Gus Ali.
Sementara di sofa panjang sampingnya, tengah duduk Bunda Ikah yang tengah mengupas buah Mangga. Di balik kemesraan Bunda Ikah dna Abi Farid, masih di sisipi Ilmu yang tak tertulis namun langsung terpraktekan secara nyata. Memang, keindahan setiap tutur dan prilaku itu jika keseluruhan bisa di ambil contoh bagi orang lain, tanpa harus mengutarakan.
"Ayo, sini duduk sebelah Bunda, Ndhok." Ucap Bunda Ikah begitu melihat Nuril yang masih berdiri memperhatikan mereka semua.
Nuril mengukir senyumnya sekilas dan berlahan berjalan menuju ke arah Bunda Ikah. "Kok sudah musim Mangga, Nda.?" Nuril berbasa basi, sembari melirik seseorang yang berada di sebrangnya. Nuril hampir tidak percaya dengan orang yang berada di sebrangnya. Kenapa.? Karena, dia bisa berbeda sikap seratus delapan puluh derajat.
Sekarang di depan orang banyak, Gus Ali nampak berwibawa, anteng dan kalem. Jika, sudah berdua saja dengan Nuril di kamar, maka seperti orang yang berbeda. Sebagai contoh adalah pagi tadi. Nuril harus bekerja keras hanya untuk mengambil Wudhu. Dan Masya'Allah suka gombalnya, membuat Nuril harus rela menyetok air es guna mengkompres pipinya agar tidak memerah.
"Dari kebun, tanaman suamimu ini." Nuril kembali menatap Gus Ali begitu mendengar jawaban Bunda Ikah. Dan orang di depannya terlihat sangat acuh, hingga membuat Nuril merasa sebal di buatnya.
"Coba rasakan." Bunda Ikah mengangsukan garpu berisi potongan mangga ke depan Nuril.
Mengunyah pelan, Nuril merasakan manis buah Mangga yang pecah di mulutnya. "Manis sekali, Nda."
"Coba, Abi mau." Kata Abi Farid dan Bunda Ikahpun menyuapinya, membuat Nuril merasa malu sendiri. "Benar benar, manis."
"Masak sih, Bi." Ucap Bunda Ikah sudah hendak memakan buah Mangga hasil kupasannya, namun di tahan oleh Abi Farid.
"Abi suapkan biar makin manis." Ucapan Abi Farid sukses membuat Gus Ali berdehem pelan dan segera menyudahi kegiatannya dengan Ning Kia.
"Mbak Ibuk, Kia juga mau." Ucap Ning Kia sembari segera menuju ke tempat Bunda Ikah berada dan memakan buah Mangganya dengan lahap, lantas segera pergi karena panggilan dari Mbak Afiqah.
"Mana bisa mesra mesraan di depan kami seperti itu." Ucap Gus Ali segera duduk di tengah tengah antara Bunda Ikah dan Abi Farid.
__ADS_1
"Mesra mesraan apa." Jawab Bunda Ikah sembari menabok bahu putranya.
"Itu tadi, suap suapan." Lanjut Gus Ali.
"Kalua mau ya minta di suapin sama Istrimu sana." Timpal Abi Farid.
Mata jernih Nuril seketika langsung bertubrukan dengan netra teduh milik Gus Ali. Hanya untuk seperkian menit, kemudian mata itu berubah jahil seiring dengan sudut bibir Gus Ali yang terangkat bertanda menyetujui perkataan Abi Farid. Dan, Nuril harus kalah satu langkah lagi, karena Gus Ali cukup pandai dalam mengambil situasi tanpa kesan bahwa dirinya merayu Nuril.
"Jadi apa rencana sampean hari ini, Mas." Ucap Bunda Ikah, setelah beberapa suapan yang di berikan Nuril untuk Gus Ali.
"Hari ini." Gus Ali memperhatikan jam yang melingkari tangannya untuk sesaat, sebelum ahirnya melanjutkan ucapannya. "Pagi ini Ali mau ke kebun, Nda. Sorenya seperti biasa, menggantikan Abi."
"Ajaklah Istrimu." Lagi lagi, tatapan Nuril bersirobrak dengan Gus Ali.
"Betul, dengarkan ucapan Bundamu." Abi Farid membenarkan duduknya, lantas menyuruh Gus Ali berpindah tempat. "Nanti biar Mas Nayif yang menggantikan Abi. Kang Dawam dan para Asatidz yang mengakali jam mengajar sampean. Habiskan waktu beberapa hari untuk berdua dengan Istrimu. Bukan begitu, Nda.?"
Wajah Nuril memerah sempurna, tidak menyangka bahwa Abi Farid yang terlihat pendiam bisa bertutur seperti itu. Dan kali ini Nuril yakin seratus persen. Gombalan Gus Ali selama ini jelas turunan dari Abi Farid. Secara, kebucinan Abi Farid terhadap Bunda Ikah, baru Nuril sadari setelah beberapa hari tinggal bersama sama.
"Benar, hitung hitung itu sebagia bulan madu." Kali ini Nuril hanya bisa semakin menunduk mendengar penuturan Bunda Ikah.
Bulan madu. Kata itu seperti sebuah amunisi yang menghujam di dada Nuril. Bulan madu, sebuah hari yang di penuhi oleh kasih sayang, hari hari yang hanya milik berdua tanpa ada gangguan dari orang lain. Membayangkan saja, Nuril sudah merinding dengan sendirinya. Membayangkan, bagaimana Gus Ali dan dirinya hanya berdua saja untuk beberapa waktu lamanya.
Akan seperti apa Gus Ali ketika hanya berdua saja dengannya. Berdua di dalam kamar saja sudah cukup membuat Nuril repot, apa lagi berdua tanpa gangguan, pasti ujung ujungnya Nuril yang akan di buat Gus Ali menderita. Jahil dan manis sikap Gus Ali, membuat Nuril tidak berani berfikir lebih. Dan ada yang jauh lebih Nuril pikirkan lagi kesiapannya, yakni ketika Gus Ali meminta haknya.
"Bagaimana.?" Ucap Gus Ali membuyarkan lamunan Nuril. Nuril tergagap karena tidak tahu menahu dengan apa yang di tanyakan Gus Ali padanya. Pikirannya terlalu spaneng dengan kata Bulan madu Bunda Ikah.
"Terserah sampean saja." Gus Ali terkekeh geli mendengar penuturan Nuril begitupun dengan Bunda Ikah. Dan itu sukses membuat Nuril kembali hanya bisa tertunduk dengan wajah memerah.
"Mau ikut ke kebun atau mau menemani Bunda pengajian di desa sebelah. Pertanyaanku tadi seperti itu." Ucap Gus Ali lagi.
"Sampean itu Mas, kok malah di tanya. Budna bisa pergi sama Mbak Afiqah nanti. Biar Juju ikut sampean saja ke kebun. Biar cepat atut , dan cepet pula punya anak." Sela Bunda Ikah.
__ADS_1
"Anak itu kan rezeki tho, Nda. Tidak bisa di segerakan, juga tidak bisa di tolak kehadirannya. Yang terpenting sekarang mereka bahagia saja dulu. Jangan di buru buru, biar menikmati masa masa pengantin baru." Jawab Abi Farid dengan bijak.
"Abi sama Bunda tenang saja. Kami sudah membicarakan semalam.ckckkc." Jawab Gus Ali dna itu sukses mendapat hadiah delikan tajam dari Nuril.
"Ya sudah sana segera siap siap, katanya mau ke kebun. Ini sudah jam berapa." Ucap Bunda Ikah lagi.
Gus Alipun bangkit dan mengajak Nuril ikut serta dengannya kembali ke kamar. Dan Nurilpun terus mengintil Gus Ali dengan kepala tertunduk. Sampai sampai, Nuril tidak sadah bahwa Gus Ali sudah berhenti dan Nuril menabrak tubuh Gus Ali yang sudah menghadap Nuril.
Tubuh Nuril menegang saat di rasakan Gus Ali erat mendekap Nuril tepat berada didepan pintu kamar mereka. Dan Nuril semakin menegang saat Gus Ali berbisik pelan di telinga Nuril. "Akankah malam ini aku mendapatkan hak ku." Setelah mengucpakan kata itu, Gus Ali segera membuka pintu kamar dan bersiul riang sembari memasukinya.
"Otewe Bulan Madu." Desis Gus Ali sembari melirik Nuril.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Like, Coment dan Votenya di tunggu..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862