Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Selamat Jalan Juwahirku.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Bandara Adisucjipto pagi menjelang siang ini cukup ramai, bahkan parkiran juga tidak lengang dari hilir mudik kendaraan yang terus saja bergonta ganti. Koper besar, koper kecil hingga tas, menjadi pemandangan yang sangat lumprah di lihat mata. Itupun juga yang terlihat di mata orang lain untuk Nuril. Cuma, yang membuat berbeda adalah seragam yang membalut tubuh Nuril.


Dalam balutan seragam kebanggaan Negara, Nuril terlihat berbeda dengan Nuril yang semalam. Bahkan sikap Nuril siang ini juga sama sekali tidak mencerminkan bahwa Nuril adalah seorang anak yang manja. Di tambah dengan baret warna biru yang bertengger di kepalanya membuat Nuril terlihat lebih garang lagi.


Wajah tanpa make up Nuril yang berbinar, seketika meredup dengan semakin mendekatnya rombongan yang kemarin malam di temui oleh Nuril di sebuah Hotel. Apa lagi ketika mata jernih Nuril menangkap sang pembuat hati Nuril galau, Nuril semakin merasa tidak nyaman berada di tempatnya. Tentu saja itu karena tatapan yang di layangkan kepada Nuril oleh Gus Ali.


Kaos polos warna hitam yang di padu dengan Sarung tenun khas Madura yang di kenakan oleh Gus Ali, membuat Gus Ali terlihat makin memukau mata andai Nuril tidak memilih untuk membuang pandangannya dengan cepat.


Wajah ambigu Nuril berubah merona saat Bunda Ikah memuji penampilan Nuril yang baru kali ini di lihat oleh Bunda Ikah mengenakan seragamnya. Apa lagi saat Bunda Ikah terus memujinya dengan sebutan Ipda Nuril yang di kagumi Ustadz Salman. Nuril semakin tersipu tanpa bisa berucap apa apa. Dan Nuril hanya bisa menunduk sembari menyimak pembicaraan orang orang tua tersebut.


"Hati hati disana ya, Ju." Ucap Bunda Ikah pelan sembari menyentuh pipi merona Nuril. Tangan halus dan hangat itu menjalar hingga ke hati Nuril yang ikut menghangat oleh sikap Bunda Ikah.


"Enggeh, Bunda. Pandongane." Jawab Nuril sembari mengangkat wajahnya. Dan tanpa di sengaja mata Nuril bersitubruk dengan netra teduh Gus Ali yang juga sedang menatap ke arah Nuril. Senyum tipis yang di ulas oleh Gus Ali membuat Nuril kembali menundukan kepalanya.


Semua kecanggungan yang di rasakan oleh Nuril seketika berubah melegakan ketika terdengar suara pengumuman bahwa Pesawat yang akan membawa Nuril beserta keluarganya ke Jakarta akan di berangkatkan, dan itu menandakan bahwa Nuril dan keluarganya harus segera masuk ke dalam pesawat.


"Ini di jaga baik baik ya, Ju." Kata Bunda Ikah sembari mengangkat tangan sebelah kiri Nuril dan memakaikan sebuah gelang berbahan tali hitam, dan terdapat emas di tengah tengahnya yang berbentuk love sejumlah tiga.


Untuk sesaat Nuril masih terpukau dengan gelang yang sedang di sematkan oleh Bunda Ikah, hingga Nuril tersadar bahwa dalam mengamban tugas kali ini Nuril tidak bisa mengenakan barang barang yang tidak benar benar di butuhkan untuk menunjang tugasnya.


"Tapi, Nda. Juju tidak bisa menggunakan barang seperti ini disana." Kata Nuril tanpa melepas pandangannya dari gelang yang melingkar apik di tangannya.


"Tidak perlu di pakai, di simpan saja. Asal itu bersama sama denganmu. Akan ada yang merasa tenang." Jawab Bunda Ikah dengan senyum yang semakin mengembang.


Entah karena terlalu kagum atau terlalu fokus pada gelang di tangannya, hingga Nuril tidak menanggapi maksud dari ucapan Bunda Ikah yang terahir, dan hanya mengumamkan terima kasih lantas membiarkan Bunda Ikah kembali meraih tubub Nuril dalam dekapannya.


Setelah semua berpamitan, tiba giliran Nuril berhadapan dengan Gus Ali dan tidak ada banyak kata yang keluar dari keduanya, hanya ucapan selamat tinggal seperti biasa persis seperti ucapan Ustadz Salman kepada Nuril beberapa bulan lalu. Itu, membuat sesuatu mencubit hati Nuril.

__ADS_1


Langkah lebar coba Nuril ambil, agar sesuatu yang menganjal di dadanya segera terganti dengan beranjaknya Nuril dari tempatnya. Dan semua lekas terganti dengan segala tugas dan tak perlu risau soal urusan hati lagi. Karena, jelas ketika sudah sampai disana tidak akan ada kesmpatan untuk memikirkan soal hati. Lantas semua akan semakin terbiasa dengan berjalannya waktu. Atau malah akan menumbuhkan rasa lain di relung hati yang sempit. Dan itu di sebut Rindu.


Gus Ali dan keluarganya terus saja memandang kepergiaan Nuril beserta dengan Papa dan Mamanya hingga menghilang di balik pintu kaca dan meninggalkan siluet yang semakin lama semakin mengecil lantas benar benar tak terlihat lagi dari jangkauan mata mereka.


"Mas, ayo." Ucap Bunda Ikah sembari menyentuh bahu putra kesayangannya.


Gus Ali menoleh ke arah Bundanya dengan senyum tak secerah tadi. "Enggeh, Nda."


"Sampean punya hak untuk mencegahnya kalau tidak ingin di tinggalkan." Kata Bunda Ikah lagi.


"Cinta tidak akan egois, Nda. Itu semua demi cita cita mulia yang sudah di dambanya sejak dulu, jauh sebelum Ali datang. Ali tidak akan menjadi penghalang dan mencegah apa yang di inginkannya." Jawab Gus Ali sambil merangkul bahu Bundanya.


"Melepasnya pergi dalam bahaya dan tidak menjelaskan apapun tentang kalian berdua."


"Tidak semua kebenaran itu akan baik di sampaikan jika waktunya tidak tepat. Ali hanya tidak ingin Juju berfikir terlalu banyak disana. Cukup dia fokus dengan tugasnya, dan semua pasti akan berjalan lancar disana." Jawab Gus Ali dengan bijak. Jelas itu Gus Ali lakukan untuk menenangkan hati Bundanya yang sesungguhnya sedang kwatir dengan kepergian Nuril.


Hati siapa yang tidak akan kwatir ketika orang terdekat pergi menjalankan tugas di Negara yang tengah berkonflik. Bahkan Gus Ali juga kwatir akan hal itu. Hanya saja Gus Ali berusaha sangat tenang agar semua nampak baik baik saja.


"Setahun itu tidak akan lama, Nda. Setelah itu pasti semua akan seperti yang Bunda inginkan." Lanjut Gus Ali.


"Bukan hanya keinginan Bunda seorang, Mas. Tapi, Bunda minta itu juga menjadi keinginan sampean." Jawab Bunda Ikah.


"Tentu, tentu saja. Semua berkat do'a Abi dan Bunda." Kata Gus Ali dengan meraih tangan Bunda Ikah dan menciumnya berulang ulang.


Bunda Ikah tersenyum hangat dengan sikap Gus Ali. "Mas, Abi ngelihatin terus tuh disana." Segera Bunda Ikah menarik tangannya dari gengaman Gus Ali dan menunjuk ke arah Abi Farid yang tengah memperhatikan keduanya dengan menggelengkan kepalanya.


"Abi suka cemburan banget sama, Ali." Ujar Gus Ali lantas dengan sengaja justru semakin merapatkan tubuhnya ke arah Bunda Ikah sembari mengikis jarak dengan Abi Farid.


Gus Ali berdiri di jendela kaca besar ruang tunggu pesawat yang akan membwa mereka kembali ke Tanah Blambangan. Pandangan matanya di bawah kaca mata hitam sama sekali tidak teralihkan dari pesawat yang hendak lepas landas di tengah tengah lapangan, dan dengan tatapan jauh kedepan, pikirannya juga jauh berkelana menjelajahi waktu.


"Setahun tidak akan lama. Selamat jalan Juwahir ku. Aku akan menunggumu kembali dan bertemu dengan perasaan cinta yang semakin menggebu di tengah ruang rindu yang menjadi pemisah kita." Ungkap Gus Ali dalam hati saat pesawat yang di perhatikannya dari tadi sudah benae benar mengudara meninggalkan jejak debu yang berterbangan.

__ADS_1


Sementara Nuril yang duduk di cabin peswat hanya terus memandang di kaca kecil yang menampakan sayap dari pesawat yang tengah membelah awan awan yang bergerombol. Pikirannya tertuju pada wajah datar Gus Ali yang tidak sama sekali merangakai kata untuknya, hingga Nuril berfikir bahwa kepergiaannya tidak akan berarti apa apa bagi Gus Ali.


"Kenapa sampean tidak bertanya, alasan apa yang membuatku berani pergi jauh. Dan tidak pula sampean mengatakan bahwa akan menunggu kepulanganku." Berisik hati Nuril di tengaj helaan nafas dalam yang berkali kali dia ambil.


Menerbangkan segalanya lewat do'a dan agar cepat atau lambat semuanya akan menemukan jalannya. Seperti rasa Nuril yang sampai juga pada jalannya, namun Nuril masih tidak merasa puas. Karena tidak ada jalan terjal yang di lalui. Nuril hanya ingin di perjuangkan sebagai Nuril oleh Ustadz Salman. Bukan Juju yang menyetujui perjodohannya dengan Mas Ainya. Hingga Mas Ainya dengan mudah saja merebut hatinya dari Uatadz Salman. Meskipun itu orang yang sama.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Berangkat beneran ke Afrika Ipda Nuril. Hati hati disana ya Ipda Nuril, saya benar benar berharap sampean baik baik saja loh. Jika, terjadi sesuatu pada sampean jelas Emak yang akan di demo..🤣🤣🤣


Like, Coment dan Votenya di tunggu enggeh.


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2