Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Lily mengingatkan tentang Juju


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Suasana jalanan Ibu Kota Semarang cukup membuat Mas Naufal pusing, di tambah dengan kemacetan panjang yang terjadi di sekitar Rumah Sakit Umum. Membuat musik Gambus yang mengalun pelan itu seakan tidak ada indah indahnya sama sekali. Mas Naufal dengan muka datarnya sesekali bedecak kesal saat baru berapa putaran rodanya berjalan sudah harus berhenti kembali. Sementara Gus Ali malah terlihat santai dengan buku di tangannya, tanpa memerdulikan Mas Naufal yang sudah sangat bosan.


"Kapan kemacetan ini akan terurai." Gumam Mas Naufal pelan, dan melirik sebentar ke arah Gus Ali yang seperti tidak mendengar ucapan Mas Naufal, namun bibirnya menyungging senyum tipis. "Kapan juga disini tidak macet, perasaan setiap lewat sini selalu macet. Apa lagi saat musim hujan." Lanjut Mas Naufal.


Gus Alipun menutup buku dan menaruh di depannya, lantas menyambar keripik kentang sisa Mas Naufal tadi. "Mas Fikri ngajak bicara Ali atau menyampaikan kritik untuk PemKot Semarang." Ujar Gus Ali santai.


"Hemmm. Udah gerah banget, mau buruan sampai dan mandi di kolam berlakang rumah Mbak Zilla." Jawab Mas Naufal.


"Masak, malam-malam mau renang." Jawab Gus Ali.


"Tidak ada yang salah dengan malam-malam renang, toh airnya disini kan anget, enggak kayak di Water Park dekat rumah." Kata Mas Naufal pelan. "Macet lagi macet lagi, gara gara si dia lewat." Lanjut Mas Naufal, sambil menunjuk sebuah motor gede yang sedang konvoi, tidak hanya itu saja tapi juga karena yang di bonceng menggunakan pakain yang super ketat, hingga membuat mereka tak henti hentinya terus beristighfar, sambil mengalihkan pandangan mereka.


"Namanya malam minggu Mas." Ujar Gus Ali pelan, setelah motor terahir dari rombongan convoi motor gede itu melintas.


"Iya ya, kita saja yang enggak pernah malam mingguan, taunya malam Jum'ahan. Udah gitu juga enggak ke Caffe kayak mereka.ha.ha.ha." Jawab Mas Naufal dan itu berhasil membuat keduanya sama sama berderai tawa, dan terus semakin tertawa lebar saat membahas kebiasaan kebiasaan di Pesantren.


"Mas Fikri. Ini kelewat.!" Seru Gus Ali.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jam menunjukan pukul 22.35, saat mobil yang di kemudikan oleh Gus Ali juga Mas Naufal memasuki halaman luas ketiga rumah yang berada dalam satu pagar, namun memiliki tiga pintu gerbang juga halaman yang berbeda beda tanaman hiasnya.


Rumah yang berada di rumah penuh dengan tamanan Mawar, Rumah yang penuh dengan bunga Mawar warna warni itu adalah tempat tinggal Mbak Zilla, dan sang empunya Rumah juga sudah berdiri di teras saat mendengar suara Klakson dari mobil yang di kendarai oleh Gus Ali dan Mas Naufal.


Senyum orang yang berdiri di ambang pintu semakin merekah, saat melihat tamu yang datang melangkah menuju tempat mereka sedang berdiri.


"Assalamu'alaikum." Ucap Gus Ali, dan di teruskan pula oleh Mas Naufal.


"Wa'laiakumussalam." Jawab dr.Rama, dan kemudian langsung menyalami Gus Ali dan Mas Naufal.


"Mari silahkan masuk Gus, Mas." Kata Mbak Zilla dengan membuka lebar pintu rumahnya dan mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam.


"Biar saya bawakan masuk tasnya, Mas." Ucap seorang pemuda yang baru saja keluar dari dalam rumah sembari mengulurkan tangannya untuk menyalami Gus Ali serta Mas Niafal. Pakainnya tidak jauh berbeda dengan Gus Ali ataupun Mas Naufal. Sarung khas Kang Santri dengan atasan kaos oblong serta peci hitam yang menutup kepalanya.


"Bang Yudha di rumah, belum berangkat ke Pesantren lagi.?" Tanya Gus Ali.


"Insya'Allah minggu depan Gus." Jawab Bang Yudha sembari tersenyum tipis. Senyum yang hanya tipis itu sungguh tidak bisa menyembunyikan garis ketampanan Bang Yudha yang di warisi dari kelaurga Ibunya yang berdarah biru di Aceh sana, padahal saat ini Bang Yudha masih berusia Lima belas tahun.

__ADS_1


"Masih di Krapyak atau sudah pindah.?" Tanya Gus Ali lagi dengan menyerahkan tas ransel yang di bawanya.


"Monggo Gus masuk dulu, baru nanti di lanjut ngobrol. Bang Ayo." Ucap Mbak Zilla dengan menyentuh lengan Bang Yudha.


"Enggeh Buk." Jawab Bang Yudha, lantas masuk mengikuti Mbak Zilla hingga masuk ke dalam Kamar tamu yang sudah di siapkan oleh Mbak Zilla.


Di ruang tengah Gus Ali, Mas Naufal, dan dr.Rama sedang berbincang bincang hangat, sedangkan Mbak Zilla dan Bang Yudha sibuk di dapur membuatkan minuman untuk Gus Ali juga Mas Naufal. Dan segera membawaknya keluar begitu minuman sudah selesai di buat.


"Bagaimana kabar keluarga di Banyuwangi Gus." Ucap Mbak Zilla sambil menurukan cangkir dari nampan yang di bawa oleh Bang Yudha.


"Alhamdulillah semua baik baik saja Mbak Lala." Ucap Gus Ali pelan. "Juga, menyampaikan salam dari Abi juga Bunda, terlebih Mbak Afiqah, untuk keluarga dr.Rama. Kapan akan berkunjung kesana.?" Lanjut Gus Ali.


"Alaika Wa'alaikumussalam." Jawab dr.Rama juga Mbak Zilla.


"Itu Yah, kode. Kapan kita akan mudik lagi, masak nunggu Mas Ali nikah baru Ayah ngambil cuti buat liburan kesana." Ucap Mbak Zilla dengan memandang dr.Rama sembari mengerucutkan bibirnya.


"Ya masak Dek Ali dulu Mbak Zill, do'akan saya juga cepet laku, siapa tahu nanti pas dr.Rama sama Mbak Zilla bisa datang kesana." Kata Mas Naufal, lantas sekilas meraih cangkir teh hangat yang tadi di sajikan oleha Mbak Zilla.


"Masak orang seganteng ini masih belum laku. Apa mau tak carikan Perawat di Rumah Sakit tempat saya kerja." Ucap dr.Rama dengan nada bercanda.


"Boleh itu Dokter, saya juga nitip satu." Timpal Gus Ali. Dan sejenak suasana menjadi sangat ramai oleh gelak tawa suara ketiga Laki-Laki.


"Bang Yudha, ayo bantu Ibu." Ujar Mbak Zilla saat melihat mereka masih asik dengan candaan yang mereka buat.


"Tidak apa apa Gus, semua sudah siap hanya tinggal mindah ke meja. Jadi, sekarang Gus Ali dan Mas Fikri bersih bersih dulu. Bukan begitu Yah." Jawab Mbak Zilla.


"Iya, betil itu Gus. Ayo saya antar ke kamar." Ucap dr.Rama dengan sudah berdiri dan di ikuti juga oleh Gus Ali juga Mas Naufal.


"Ngomong ngomong anak anak dimana Mbak Lala kok sudah sepi." Ucpa Gus Ali sebelum beranjak mengikuti dr.Rama.


"Sudah pada tidur. Kak Deasy tidur di rumah Om Ghaninya, Bang Aby tadi di ajak Oma Murni suruh nemenin tidur. Dan yang satu itu anak Ayahnya banget, Ibunga enggak kebagian." Jawab Mbak Zilla dengan melebarkan senyumnya.


"Lily, masih sama kayak dulu, tidak bisa tidur kalau tidak dengan sampean dr.Rama.?" Tanya Mas Naufal.


"Ya, seperti itulah Mas." Jawab dr.Rama dengan senyum ramah.


"Tapi, besok pasti Mas Fikri sama Gus Ali di buat kaget sama anak itu. Saya saja sampai bingung bagaimana bilanginnya." Jawab Mbak Zilla yang sudah sampai di ambang pintu dapur,. "Tau Gus Ali mau kesini, Lily antusias sekali dan sudah di tunggu dari tadi, sampai ketiduran masih dengan menggunakan seragamnya." Lanjut Mbak Zilla lantas segera masuk ke dalam dapur bersama dengan Bang Yudha.


"Pasti Bar Bar kayak Mbak Zilla dulu." Jawab Mas Ali kalem, dan membuat Mas Naufal cekikikan begitupun dengan dr.Rama, tapi Mbak Zilla justru hanya tersenyum tipis sembari memandang lekat ke arah dr.Rama, dan sadar dengan tatapan dari Mbak Zilla, dr.Rama segera memutus tawanya. Karena dari pandangan mata Mbak Zilla jelas terlihat tulisan. "Awas saja nanti." 🤭🤭


🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Suara ketukan pintu terus menerus di iringi dengan suara nyaring dari seorang gadis kecil, membuat deresan sehabis subuh yang di lakukan oleh Gus Ali segera terhenti, dan dengan segera Gus Ali berjalan pelan menuju ke pintu dan mendapati seorang gadis kecil dengan rambut kriting yang masih awut awutan belum di sisir, berdiri di depan pintu kamar yang di huninya bersama Mas Naufal.


Gadis kecil itu tersenyum lebar, dengan mamerkan gigi ompongnya yang bagian atas. Dan segera merapikan bajunya dengan mengencangkan sabuk berwarna kuning di pinggangnya, yang menunjukan tingakatan dari seni beladiri Taekwondo.


"Assalamu'aliakum, Mas Gus. Semalam Lily lama menunggu sampai sampai tertidur." Ucap Lily dengan nada cepat sekali.


"Wa'alaikumussalam, Lily kecil Mas Agus." Jawab Gus Ali dengan mengacak rambut yang selalu jad idola buat Gus Ali, karena rambut Lily persis dengan rambut Juju kecil. Dan mungkin juga karena itulah Gus Ali sangat menyukainya dan mengingatkan dengan Juju, yang sudah 15 tahun lebih tidak pernah sama sekali di temui olehnya.


Lily merengut sebentar dengan menyingkirkan tangan Gus Ali dari kepalanya. "Lily tidak lagi kecil, Lily sudah besar. " Cicit bibir kecil itu.


"Oh iya, baiklah kala begitu Lily besar Mas Agus." Jawab Gus Ali, dan naifnya anak anak hanya dengan kata kata sederhana itu Lily sudah kembali melebarkan senyumnya lantas sedikit menajuh dari Gus Ali.


"Mas Gus lihat, Lily." Ucap Lily dengan sudah memamerkam beberapa gerakan dari Taekwondo yang memang sudah hampir setahun ini di pelajari olehnya, begitu Gus Ali sudah memperhatikannya.


"Ye..ye..ye. Itu tadi bagus sekali, nama gerakannya apa.?" Mas Naufal bersorak sorak dan langsung muka Lily yang tadinya senang langsung merengut, karena Lily jika dengan Mas Naufal tidak begitu cocok, itu lantaran Mas Nuafal yang suka sekali menjahilinya setiap ketemu dengan Lily.


Jika Gus Ali sangat menyukai rambut Lily, maka lain dengan Mas Naufal. Justru, suara cempreng juga nyaring Lilylah yang membaut Mas Nuafal merindukannya. Dan tak jarang memangas Naufal sengaja membuat Lily sebal agar meneriakinya.


"Iya, Kak Ly. Itu tadi gerakan apa, Mas Agus belum tahu juga." Timpal Gus Ali.


" Itu tadi gerakan Ap-Seogi." Jawab Lily.


"Apa itu Ap-Seogi.?" Tanya Mas Naufal lagi, padahal dalam hal Taekwondo Mas Naufal tidak perlu di ragukan lagi. Karena Mas Naufal sudah tergolong pelatih handal, bahkan beberapa kejuaran tingkat Nasional juga sudah di dapatnya.


"Ap-Seogi itu, kuda-kuda pendek." Jawab Lily dengan muka berbinar binar.


"Mana Kudanya.?" Kata Mas Naufal lagi, dan itu membuat Lily langsung berteriak sembari menyerang Mas Naufal. Mas Naufal sendiri segera berlari kesana kemari dengan Lily yang terus mengejarnya, hingga membuat seisi Rumah keluar dari kamar masing masing.


Gus Ali masih terus menikmati pemandangan Lily yang berlarian dengan rambut kritingnya yang berterbangan kesana kemari. Dan Gus Ali terus saja mengikuti kemana mereka beralarian hingga sampai di belakang rumah, dan langkah Gus Ali langsung terhenti saat di lihatnya Mas Naufal yang sudah masuk ke dalam kolam tersebut dan Lily ikut menceburkan dirinya. "Juju, maafkaan Mas Ali tidak bisa menyelamatkanmu." Gumam lirih Gus Ali.


Bersambung...


####


Tetap sambung menyambung jadi satu..🤭🤭🤭


Like, Coment dan Votenya masih di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz kopi


@maydina862


__ADS_2