Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Nuril Maydina Juwahir


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Rona merah masih saja menghias di pipi putih Nuril, itu seolah menjadi blus-on alami, dan juga memiliki stok yang melimpah. Buktinya sedari pagi tadi semburat merah itu masih tetap bertahan di pipi Nuril setiap kali dirinya mengingat kejadian pagi tadi.


Kebun buah jeruk, kebun buah Naga, Pepaya, Avocado, Bahkan juga buah kesukaannya Durian juga ada di atas bukit tadi. Bukan karena buahnya yang lebat, hingga membuat Nuril terus tersenyum dan memerah sendiri setiap melihat pantulan dirinya di depan cermin, melainkan kejadian tanpa sengaja yang melibatkan dirinya dan Ustadz Salman.


Memang itu tanpa sengaja terjadi dan sedikit memalukan. Tapi, bagi orang yang jatuh cinta, itu bisa membuat dada jempalitan tak menentu, atau bahkan salto juga seplit 180 drajat. Jatuh dengan indah, katakanlah seperti itu. Dan jatuhnya dalam pelukan Ustadz Salman yang ternyata dadanya juga keras seperti papan penggilasan cuci baju. Dan otak liar Nuril justru membayangkan bagaimana bentuk otot otot itu jika menggunakan kaos ketat seperti Polisi Polisi muda.


Aih, aih, Nuril. Otak keluyuran kemana mana padahal sebelum sebelumnya, Nuril tidak pernah memikirkan hal ngaco seperti itu, dan itu semua karena Ustadz Salman yang telah benar benar membuatnya menjadi wanita gila. Gila karena cinta, gila karena pesona Ustadz Salman, juga gila karena Ustadz Salman nyatanya tidak beriak sama sekali setelahnya.


Ketengan sikap Ustadz Salman mengusik hati Nuril, dan itu wajar saja karena bagi orang seperti Ustadz Salman, jelas hal semacam itu terasa salah bahkan salah besar. Meskipun tidak di pungkuri itu juga bagi Nuril, karena itu akli pertama Nuril memeluk Laki-Laki lain selain dari Pacar Sempurnanya.


Keberadaan rumah kecil di tengah tengah kebun yang luasnya sekitar 12 hektar itu, benar benar membuat Nuril jatuh cinta dan menginginkan untuk kembali kesana lagi. Namun, alasan apa yang membuat Nuril bisa kembali kesana, jelas akan terasa mengada ngada. Mengingat sebentar lagi Ustadz Salman akan Tunangan, bahkan bisa jadi beliau sudah bertunangan kemarin atau kemarinnya lagi, entahlah, Nuril juga tidak tau persis. Karena baik Ustadz Salman atau Bang Jo tidak mengatakan apapun soal itu.


Ada juga sesak, saat Nuril mengingat akan Rumah kecil di tengah tengah kebun milik Ustadz Salman di atas bukit. Dan semakin sesak saja jika membayangkan, bahwa akan ada seorang wanita yang tersenyum bahagia bersama Ustadz Salman disana, menikmati hari dengan di kelilingi anak anak mereka yang terus berlarian penuh bahagia, sembari memanggil Ayah dan Bunda.


Mimpi Nuril menjadi Polwan sudah terwujud, dan tinggal mengembangkan sayapnya di profesi yang di gelutinya. Seperti tujuan awalnya, yakni iklas berbakti untuk membantu dengan pengakat dan kedudukan yang di milikinya. Namun, tidak ada yang tahu jauh di dasar hati kecil Nuril, mimpinya hanyalah sederhana saja, sesederhana penapilannya sehari hari.


Menjadi Istri yang berbakti untuk suaminya, menjadi Ibu yang selalu bisa di andalkan oleh anak anaknya, seperti Mamanya juga Bunda si Kampret Sarungan. Dan ketika Nuril sudah bertemu dengan jodohnya, Nuril sangat yakin rela meninggalkan segalanya untuk keluarganya. Namun, seluruh keluarga terlanjur berasumsi, bahwa Nuril sosok gadis yang konsisten dengan apa yang sudah di genggamnya saat ini.


Maka dari itulah, seluruh keluarga menyutujui perjodohan bodohnya dengan musuh bebuyutannya sedari kecil. Dengan alasan, hanya si Kampret Sarunganlah yang bisa membuat Nuril patuh dan menetap di tempatnya dan tidak pecicilan lagi. Padahal tanpa itu semua, Nuril juga aidah berfikir jauh tentang rumah tangga.


"Nuril Maydina Juwahir." Pekik sebuah suara sembari menjewer telinga Nuril dengan pelan.


"Apa sih, Ma. Teriak teriak enggak jelas." Dengan muka tanpa dosa Nuril membetulkan Khimar panjangnya dan memutar mutar tubuhnya di depan cermin besar.


"Kamu itu yang enggak jelas. Mama sudah panggil kamu ada sepuluh kali, sampai berbusa mulut Mama." Jawab Mama Nuril dengan menggelang gelengkan kepalanya. "Dari setengah jam tadi di depan cermin, masih saja belum selesai." Tangan Mama Nuril sudah meraih wajah putrinya untuk menghadapnya.


"Apaan sih, Ma." Kata Nuril salah tingkah, karena Mamanya menatapnya dengan intens.


"Kamu pakai blus-on.?" Tanya Mama Nuril tiba tiba. "Kamu sengaja make-up, biar nanti pas ketemu sama Mas Aimu kelihatan berbeda."


Nuril memutar bola matanya jenggah. "Siapa juga yang mau bertemu sama si Kampret Sarungan. Kalau bukan Mama yang ngebet nyuruh Uwi pulang, Uwi juga enggak bakal pulang." Gerutu Nuril. "Ini Mama pakai ukuran siapa sih jahit bajunya, di pakai kok agak longgaran." Nuril mengalihkan bahasan dengan mengomentari baju seragam yang di pakainya.


"Halah, nanti kalau ketemu beneran pasti lain yang di omongin." Kata Mama Nuril sembari menilik baju yang katanya kelonggaran. "Ini kamunya saja yang agak kurusan, makanya longgar."


"Mama garis bawahi ya, Uwi pulang demi Fahri, demi Bulek Rany, Paman Hanan. Jadi tidak ada sangkut pautnya sama Kampret itu." Kata Nuril dengan nada kesalnya.


"Yang kamu bilang demi Fahri, demi Bulek Rany, demi Paman Hanan, itu juga keluarga Mas Aimu, Ju. Jadi mau tak mau kamu nanti juga ketemu sama dia." Jawab Mama Nuril lagi.

__ADS_1


"Ya udah, Uwi enggak usah ikut, biar nunggu di rumah Bulek Rany saja." Ketus Nuril dengan sudah meraih Khimarnya hingga terlepas dari kepalanya, berbarengan dengan pintu kamar yang terbuka dan menampakan sosok Pacar Sempurna Nuril yang sudah berdiri di depan cermin.


"Ada apa lagi, berantem lagi. Heran, ketemu juga baru tadi beberapa jam lalu, sudah berantem saja." Ucap Pacar sempurna Nuril sembari melangkah masuk dan di ikuti oleh Mbah Uti Nuril.


"Lho, Cah Ayu. Kenapa kok Jilbabnya di lepas lagi." Ucap Mbah Uti Nuril dengan tergesa gesa mendatangi Nuril yang tengah cemberut sembari menekuk wajahnya.


"Mama tuh cari gara gara." Jawab Nuril.


"Mama yang salah, biar nanti Uti yang negur Mamamu. Sudah sekarang di pakai Jilbabnya, sebentar lagi sudah mau berangkat kok Jilbabnya belum di pakai." Bujuk Uti Nuril sembari meraih Khimar yang berada di tangan Nuril.


"Ada apa lagi sih, Ma. Sudah Papa bilang, nanti kita bicarakan bareng bareng, jangan gegabah." Kata Pacar sempurna Nuril dengan memainkan matanya yang memberi isyarat penuh makna. Namun, Nuril enggan untuk bertanya, lantaran moodnya terlanjur rusak begitu mendengar nama Kampret di sebut oleh Mamanya.


"Mama cuma ngingetin, Pa. Nanti bisa saja bertemu sama Ali disana. Eh, Jujunya malah ngambek. Enggak pantes bener jadi Polwan, ngambekan gitu." Masih saja Mama Nuril meledeknya, sembari berallu dari kamar dan meyerahkan kekacauan yang di sebebkannya kepada Suami juga Ibu Mertuanya. Karena, Nuril jika sudah ngambek, Nuril hanya bisa di bujuk oleh Pacar Sempurnanya saja.


"Owalah Cah Ayu, jangan seperti itu tho. Gus Ali itu kan cal.."


"Buk, Juju biar pakai Jilbabnya dulu. Ibuk sama Anne berangkat kesana dulu, nanti saya sama Juju biar nyusul langsung di belakang rombongan." Ucap Papa Nuril memotong ucapan Uti Nuril, yang sudah kadung membuat Nuril berasumsi sendiri tentang kata terahir yang di ucapkan oleh Uti Nuril.


"Baiklah." Jawab Uti Nuril pelan, lantas melangkah pergi meninggalkan mereka berdua yang masih diam. Dan tak lama Papa Nuril sudah membuka percakapan, dan berhasil mengajak Nuril keluar kamar dengan sudah kembali tersenyum dan bergelayut manja di lengan Pacar Sempurnanya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jajaran para pengiring pengantin wanita langsung membuat barisannya, begitupun dengan para Laki-Laki. Busana warna Dusty Ungu memenuhi tenda di depan sebuah rumah kecil dengan pekarangan yang sudah di sulap bak taman bunga kerajaan kerajan kuno. Sebuah pelaminan bernuansa serba putih berdiri kokoh di ujung dari tenda.


Calon apa.? Itulah yang jadi pertanyaan bagi Nuril, karena waktu Nuril menanyakan itu kepada Pacar Sempurnanya, Papanya hanya mengatakan bahwa semua pasti akan bertemu jodohnya, dan itu sudah hak. Perkara itu siapa dan seperti apa hubungannya, hanya Allah saja yang tau. Jelas, Nuril faham tentang hal hal semacam itu.


Dan yang menjadi beban pikirannya saat ini, apakah hal itu merujuk pada perjodohan yang pernah di singgung oleh kedua orang tuanya beberapa tahun terahir ini. Dan yang lebih Nuril tidak bisa percayai adalah, ternyata perjodohan ini belum di batalkan sesuai permintaan Nuril sebelum berangkat ke Surabaya beberapa bulan lalu.


"Maaf, Kakak." Pekik seorang anak yang tiba tiba menabrak tubub Nuril dari belakang, hingga membuat Nuril terhuyung hampir jatuh.


Sejenak Nuril memperhatikan gadis kecil yang tengah tersenyum memperlihatkan gigi putihnya, lantas kemudian segera berjongkok menyamai tingginya dengan mengelus rambut kriting yang sama persis dimiliki oleh Nuril.


"Tidak apa apa sayang. Cantiknya, siapa namanya cantik.?" Tanya Nuril.


"Lily." Jawab Lily dengan masih mempertahankan senyum manisnya.


"Lily, nama yang cantik. Jilbabnya mana..?" Tanya Nuril lagi sembari menyentuh rambut Lily yang di biarkan mengembang begitu saja tanpa menguncirnya.


"Gerah, besok saja kalau sudah besar baru di pakai." Jawab Lily cuek saja lantas hendak berlari. Namun, Nuril segera meraih tangan Lily lantaran kembali hendak menabrak orang yang tengah lalu lalang hendak menyaksikan Akad Nikah yang bertempat tepat di depan pelaminan.


"Hati hati, ayo kesana saja sama Kakak.Tuh lihat orang orang semua pada berdiri, berebut tempat mau lihat pengantin." Ucap Nuril, dan tanpa persetujuan dari Lily, Nuril sedah menuntun Lily menjauh dan duduk di kursi paling belakang.

__ADS_1


"Kakak bukan penculik kan.?" Tanya Lily dan membuat Nuril tertawa renyah mendengar ucapan Lily. "Abang Lily, mau sekolah Tentara jadi jangan berani berani culik Lily."


"Ahh, takutnya." Jawab Nuril semakin melebarkan senyumnya.


"Itu lihat Abangnya Lily." Tunjuk Lily pada seorang pemuda yang tengah duduk di tempat para laki laki. "Dan itu yang sedang berdiri namanya Mas Agus." Lanjut Lily menunjuk dengan dagunya kepada laki laki yang tengah berjalan membelakangi mereka.


Untuk sesaat Nuril, terus memperhatikan punggung lebar milik pemuda yang menggunakan baju berwarna sama dengan dirinya dengan bawahan kain sarung waran hitam polos, dan itu artinya dia termasuk kelaurga inti dari Bulek Rany ataupun Paman Hanan. Tapi, Nuril seperti familiar dengan punggung itu, itu persis seperti punggung Ustadz Salman.


"Kak, Kakak.?" Ucap Lily sembari mecolek tangan Nuril, membuat Nuril berjingakt kaget dan langsung kembali fokus kepada Lily yang berada di depannya. "Kakak kok gitu amat lihat Mas Agusnya Lily."


"Emmm, Kakak hanya kepikiran saja. Apa.Mas Agusnya Lily juga seorang Tentara, atau calon Tentara, atau Polisi mungkin.?"


"Tidak keduanya, tapi Ayah Wiwi Lily dulunya Tentara. Sebenarnya Lily tidak suka Abang jadi Tentara, tapi karena Abang mau, jadi Lily suka saja." Dan terus saja Lily bercerita banyak hal hingga membuat Nuril pusing dengan cerita yang berputar putar dari satu orang ke orang lain, yang sama sekali Nuril tidak ketahui. Tapi, sejujurnya Nuril sangat menyukai Lily yang berada di depannya ini, yang menjadi teman baginya di kala semua orang tengah sibuk dengan kamera ponsel untuk mengabadikan moment pernikahan sepupu keduanya itu.


Detik berubah ke menit, menit lantas berubah ke Jam. Tidak terasa sudah hampir dua jam setengah Nuril mengikuti acara Akad Nikah serta Walimatul Usry, dan benar benar menjadi wanita yang super lembut. Juga ikut senyam senyum malu malu seperti kedua mempelai yang berada di atas pelaminan. Saling tertunduk dan sesekali curi curi pandang, lantas semakin menunduk tak kala Gus Nayif yang mengisi Mauidhoh Walimatul Ursy menggoda mereka. Dan acara benar benar berahir dengan Do'a yang di bacakan oleh Abi Farid.


"Ini Juju.Semakin cantik saja anak gadis Bunda." Sapa Bunda Ikah saat mereka semua sudah keluar dari tenda dan menuju mobil masing masing, yang baru Nuril tau ternyata mobil Pacar Sempurnanya bersebelahan dengan mobil keluarga Abi Farid.


Nuril segera menyalami tangan Bunda Ikah dan Abi Farid dengan Takdzim, lantas terus saja menunduk sembari menjawab beberapa tanya yang di peruntukan kepadanya. Dan sikap Nuril yang seperti itu benar benar terlihat sangat manis, selayaknya seperti beberapa santri yang berada di belakang Bunda Ikah.


"Bagaimana hafalannya, Ndhok.?" Tanya Abi Farid kepada Nuril yang sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya, lantaran ada satu khwatiran jika saja ada seseorang yang tetiba muncul di antara mereka yang tengah berbincang.


"Pendongane mawon, Bi. Semoga bisa selalu istiqomah." Jawab Nuril.


"Amin, amin. Allah mengijabah." Jawab Bunda Ikah dan Abi Farid, berbarengan dengan sebuah suara yang memanggil Abi Farid, dan itu berhasil membuat kerja jantung Nuril meningkat hingga seperti hendak keluar dari tempatnya..


Bersambung...


####


Sengaja banget Mak bersambungnya..


🤭🤭🤭🤭🤭🤭


Tetap semangat menjalani ibadah puasa..


Like, Koment dan Votenya selalu di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz Kopi


@maydina862


__ADS_2