Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Jebakan.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Kamar bercat biru muda itu terlihat muram dengan pencahayaan minim yang berasal dari lampu tidur. Kamar muram itu selaras dengan pemiliknya yang juga tengah berwajah muram memandang langit malam kota Jogja melalui jendela kamar yang di biarkannya terbuka lebar. Semilir angin membelai lembut paras cantik dengan kulit yang kini sedikit kecoklatan oleh paparan sinar matahari.


Kamar tidur ini sudah lama kosong karena sudah hampir tiga tahun Nuril tidak pernah datang kesini, dan lebih senang menghabiskan waktunya di tanah kelahiran kedua orang tuanya. Namun, entah kenapa untuk sekarang Nuril enggan untuk kesana karena beberapa dua alasan sekaligus.


Tiga bulan sesungguhnya bukanlah waktu yang sebentar untuk terus tinggal dalam kepatahan hatian. Itu hanya berupa ketidak puasan semata, ketika diri tidak rela untuk memindahkan hati ke tempat yang lain, ataupun mau menerima kesiapan hati untuk orang lain.


Selama tiga bulan dalam pelatihan, bukan tidak ada seseorang senior yang mendekati Nuril. Hanya, Nuril terlalu enggan untuk menanggapi mereka dan lebih memilih fokus untuk tugasnya, dari pada harus berurusan soal hati. Tentu, juga karena janjinya kepada orang tuanya.


Mengulur waktu yang di perkirakan Nuril akan lama, ternyata itu hanya seperti kedipan mata saja. Buktinya sekarang dia sudah berada dalam Istana orang tuanya, dan menunggu waktu yang mendebarkan untuk bertemu dengan musuh bebuyutannya.


Beruntung, Nuril tidak perlu datang ke kota Si Kampret Sarungan. Meski dalam hati Nuril yang terdalam menginginkan hal itu. Bukan untuk Si Kampret Sarungannya, melainkan untuk seseorang yang memiliki rumah kecil di atas bukit sana.


"Setiap senja akan pergi berganti dengan pekat malam yang juga memiliki keindahannya tersendiri, dan alangkah beruntungnya seseorang yang bisa menikmati indahnya bintang gumintang bersamanya di rumah itu." Gumam Nuril, tanpa mengalihkan pandangannya dari langit yang tengah penuh bintang.


Suasana hati seperti ini nampak jauh berbeda dengan hari hari Nuril. Malam ini benar benar nampak seperti seorang gadis lemah. Dan memang benar cinta itu mampu menjungkir balikan seseorang dengan mudahnya. Apa lagi seseong yang sedang di patahkan oleh cinta.


"Wi, makan di luar yuk." Tiba tiba kepala Papa Nuril sudah menyumpal di balik pintu yang memang tidak di kunci oleh Nuril.


"Emang Mama enggak masak.?" Kata Nuril sambil mengalihkan pandangannya ke arah Papanya.


"Mama lagi males masak. Sekalian jemput Kak Nana di bandara." Jawab Papa Nuril dengan santai. "Gak pakai lama, Papa tunggu di bawah." Pintu segera tertutup begitu kalimat terahir di ucapkan oleh Papa Nuril.


Dengan malam Nuril beranjak dari tempatnya, dan langsung menyambar jilbab persegi empat yang sore tadi menemaninya menempuh perjalanan pulang. Lantas mengambil ponsel pribadinya dan memasukannya ke dalam tas kecil yang di belikan Mamanya yang katanya iti hasil rajutan tangan langsung.


"Ya Allah, Wi. Ganti baju sana." Pekik Mama Nuril saat kaki Nuril baru saja menapak tangga terahir, dan dengan santainya Nuril malah melangkah menuju Papanya lantas sudah bersandar di bahu Papanya.


"Cuma makan juga, ngapain mesti ganti baju. Ini bersih lo Ma." Jawab Nuril.


Mama Nuril mengelengkan kepalanya dengan cepat sembari memperhatikan Nuril dari atas hingga bawah. "Ganti bajumu sekarang." Ucap Mama Nuril dengan tegas.


"Ma, Wi males. Lagi makan juga di tempat sendiri juga." Bantah Nuril dengan mengerucutkan bibirnya bertanda bahwa Nuril tidak bersedia dengan ide Mamanya.


"Pa..!" Ucap Mama Nuril.


"Ganti baju sana, Wi. Ini baunya sudah enggak enak." Ucap Papa Nuril sembari mencium lengan Nuril.


"Ini baru ganti tadi Pa."


"Masak sih, tapi ini baunya enggak enak. Beneran." Ucap Papa Nuril, sudah dengan mengendus sana sini, hingga membuat Nurio kegelian dan tidak bisa menahan tawa dengan perbuatan Papanya.


Mama Nuril memutar bola matanya jenggah, dan sudah hampir saja menyemprotkan ungkapan kekesalan pada dua orang yang tengah mencurahkan rasa cinta meraka. Namun, tidak jadi lantaran suara ponselnya yang berdering dengan keras. Maka, dengan cepat Mama Nuril segera menjauh dari mereka berdua yang tengah saling menggelitiki satu sama lain. Hingga tawa mereka berdua menggema dimana mana.

__ADS_1


"Sudah sana ganti baju, keburu Mama datang ngomel lagi." Ucap Papa Nuril setelah mereka lelah.


"Siap, laksanakan." Jawab Nuril dan segera berlari meninggalakan Papanya begitu saja.


Tidak butuh waktu lama, Nuril sudah turun kembali. Dan dengan balutan blouse berwarna Lavender yang berpaduan rok tutu warna hitam, Nuril tampak terlihat anggun, apa lagi jilbab lebar segi empat berwarna hitam yang di kenakannya menambah paras ayu Nuril semakin memancar.


"Gitu dong cantik." Ucap Papa Nuril. "Panggil Mama suruh cepat, Papa tunggu di mobil." Lanjutnya.


"Ihh, Mama suka gitu deh. Tadi nyuruh cepet cepet." Kata Nuril, sambil melangkah mencari keberadaan Mama Nuril.


Nuril terus mengayunkan langkahnya mencari kesana kemari, dan baru menemukan Mamanya yang tengah berbisik bisik di sambungan terlfon. Nuril mengnedap endap mendekati Mamanya yang tengah serius dengan posel menempel di telinganya.


"Enggak apa apa, Fik. Aku cuma sangsi saja nati.." Kalimat Mama Nuril seketika terhenti saat dirinya membalikan badannya, dan mendapati Nuril yang tengah mengendap endap. "Iya Jeng, tidak apa apa. Ya, sudah kami berangkat dulu. Ini anak saya sudah siap."


Sadar dengan rencana mengagetka Mamanya gagal, Nuril langsung saja mengembungkan pipinya. "Ma, buruan. Sudah di tunggu Papa di depan." Ucap Nuril sudah hendak berbalik. Namun, terhenti oleh tangan Mama Nuril yang sudah meraih lengan Nuril.


"Wah, anak Mama cantik bener kalau gini." Kata Mama Nuril dengan tatapan mata berkaca kaca.


"Mama kenapa nangis.?" Nuril sadar betul dengan tatapan itu.


"Mama enggak nyangka kamu sudah besar." Ucap Mama Nuril mengalihkan tangannya di pipi Nuril. "Kayak baru kemarin Mama ngambil kamu dari Rumah Bundamu. Ehh, sekarang sudah mau pergi jauh saja." Lanjut Mama Nuril.


"Hem, setahun juga enggak akan lama, Ma." Jawab Nuril sembari meraih tangan Mamanya dan mencium kedua telapak tangan Mamanya bergantian.


"Apa keputusan itu tidak bisa di ubah." Ucap Mama Nuril.


"Tapi, kenapa mesti ke Afrika sih, Wi. Mama kwatir, kalau terjadi apa apa gimana.?" Mau tak mau Nuril kembali menatap mata Mamanya yang sarat akan kekwatiran.


"Mama percaya sama Allah, seperti itu Uwi percaya dengan kekuatan do'a Mama. Mama tidak mungkin sejenak saja meninggalkan do'a yang terbaik untuk Uwi. Selagi Mama mendo'akan yang terbaik untuk Uwi, Uwi pasti baik baik saja." Jawab Nuril. "Ayo, Papa sudah nunggu di mobil." Lanjut Nuril dengan menggandeng tangan Mamanya.


Alasan ini tepat untuk Nuril menepi dengan menenggelamkan diri atas nama pengabdian. Namun, Nuril juga tidak pernah lupa, bahwa sejatinya pengabdian seorang anak itu adalah kepatuhan kepada orang tuanya. Dan hingga saat ini Nuril menjujung tinggi itu. Tapi, patah hati itu benar benar membuat hati menjadi tumpul atas pengetahuan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jalanan kota Jogja cukup ramai. Barisan barisan angkringan yang berjajar rapi di tepi tepi jalan dengan mengantarkan aroma yang berbeda beda, dan itu menambah warna tersendiri bagi kota Jogja yang terkenal dengan kulinernya. Dan sudah barang tentu Papa Nuril menyumbang itu semua, karena memang Papa Nuril merupakan salah satu pelaku usaha Kuliner yang cukup sukses di Jogja.


Lampu lampu jalan yang jatuh di kaca mobil terus berkejaran seiring dengan laju kendaraan yang semakin cepat. Dan seperti sedang di buru buru oleh sesuatu kedua orang tua Nuril terus bergantian melirik jam dan sesekali juga terlihat saling lirik gelisah.


Hingga helaan nafas lega keduanya sama sama terlihat tanpa beban saat tiba di sebuah Hotel Bintang 3. Nuril merasa pegangan tangan Mamanya cukup erat berada di lengannya, dan Nuril bisa merasakan bahwa itu adalah perasaan gugub atau sejenisnya. Namun, apa yang membuatnya gugub, ini hanya acara makan malam biasa saja.


"Ma, jangan erat erat gini. Uwi enggak mungkin lari." Bisik Nuril pada Mamanya. "Apa jangan jangan Mama kelaparan." Lanjut Nuril, dan langsung mendapat reaksi keras dari Mamanya berupa tabokan di bahunya.


"Sakit Ma." Desis Nuril pelan.


"Eh, itu mereka Pa." Kata Mama Nuril begitu langkah kaki mereka memasuki sebuah restoran di lantai ke tiga dari Hotel tersebut.

__ADS_1


Tubuh Nuril seketika menegang, saat di lihatnya tiga orang yang tengah duduk tidak begitu jauh dari mereka berdiri. Dua wajah itu sangat di kenal Nuril, karena belum lama ini mereka sempat bertemu. Namun, bukan itu yang membuat Nuril enggan untuk melangkah ke tempat jebakan kedua orang tuanya. Melainkan, pada sosok yang tengah duduk membelakangi mereka.


Sosok itu terlihat gagah dengan peci hitam bertengker di atas kepalanya. Pangkasan rambutnya yang rapi memperlihatkan separuh tengkuknya yang tak tertutup kemeja yang di kenakannya. Sarung, fokus Nuril langsung terarah pada sarung warna mustard yanh di kenakanya.


"Ayo, Wi." Ucap Mama Nuril sembari menyeret Nuril yang seperti kehilangan kesadarannya. Nuril ingin marah, tapi semua sudah terlambat. Karena, Nuril sudah terjebak oleh permainan yang di buat oleh kedua orang tuanya. Kalau, marah kenapa harus marah, bukankah Nuril juga sudah berjanji kepada orang tuanya. Hanya saja kenapa harus sekarang. Bukannya janjinya besok. Apa itu artinya, kedua orang tua Nuril belum bisa mempercayai Nuril. Dan kwatir bahwa Nuril akan lari lagi.


"Assalamu'alaikum.." Sapa Papa Nuril terlebih dulu. Dan setelahnya Nuril tidak lagi mendengar siapa yang menjawab terlebih duku. Lantaran dada Nuril lebih berisik dari pada suara yang lainnya hingga mata Nuril sampai terpejam untuk mengontrol debaran itu di balik kepala yang tertunduk dalam.


"Juju, cantik sekali." Nuril baru membuka matanya, saat di rasa sebuah tangan yang lembut nan hangat menyetuh kedua pipinya mengangkat kepalanya pelan.


Sebuah senyuman kaku Nuril sungingkan kepada pemilik wajah teduh di depanya. Di raihnya tangan lembut itu namun belum sampai pada bibir Nuril, tangan itu sudah beralih dengan cepat, dan meraih tubuh kaku Nuril dalam dekapannya.


Dalam dekapan hangat itu, Nuril sama sekali tidak berani untuk melirik seseorang yang tengah duduk di kursi yang hanya berjarak dua kursi dari Nuril. Dan rasanya siatuasi saat ini jauh lebih horor dan menegangkan dari pada tugas tugas yang pernah di emban oleh Nuril.


"Sini, duduk di samping Bunda." Ucap Bunda Ikah, saat semuanya sudah kembali duduk.


Nuril terus saja menundukan kepalanya, tak ingin sedikitpun mengangkatnya. Entah kemana perginya Nuril yang cerewet dan manja tadi dengan Papanya. Kini, Nuril tampak seperti seorang santriwati yang tengah di hadapkan pada Pengasuh Pesantren. Dan Nuril seperti kehilangan seluruh tenaganya, hanya sekedar untuk menjawab tanya yang di utarakan padanya.


"Enggeh, dua hari lagi Uwi akan berangkat. Tapi, akan ke Mabes Polri dulu, baru setelah itu berangkat dinas." Kalimat terpanjang yang Nuril keluarkan setelah beberapa saat.


"Jadi Polwan.?" Sebuah kata yang terdengar menjengkelkan keluar dari seseorang yang tengah duduk di sebrang Nuril. Dan sontak saja itu membuat kepala Nuril terangkat sebentar. Ehh. Nuril tercengang untuk sesaat dengan seraut wajah yang berada di sebrang mejanya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Hujat, hujat saja. Emang sengaja di buat bersambung disini..🤭🤭🤭🤭🤭


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz Kop


@maydina862


__ADS_2