
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Ada yang sedang jatuh, namun tidak sakit. Melainkan jatuh dengan debaran hebat dan di barengi dengan kepala yang saling tertunduk malu malu. Panah panah cinta Dewa Amor telah bekerja begitu kerasnya, hingga membuat dua orang yang duduk saling berhadapan itu tertancap begitu dalamnya, sampai sampai setiap degub dari dadanya seakan seirama meski keduanya tidak bersuara.
Kaca mata renang berwarna biru yang tergletak di tengah tengah meja bundar seakan menjadi mata mata bagi mereka berdua yang diam dalam kebisuan panjang larut dalam pikiran masing masing. Memang benar tidak ada kata yang keluar dari bibir keduanya, namun mata mereka yang sesekali mencuri pandang lewat lirikan sudah cukup memberi tahu bagi orang orang di sekitar mereka, bahwa pertemuan mereka kali ini menyiratkan sebuah kebahagiaan.
Malu malu dan mengemaskan, itulah yang bisa di tangkap dari tingkah mereka berdua. Dan akan semakin menggemaskan lagi saat kedua mata mereka saling bersirobak dan kompak untuk kembali menunduk dengan senyum samar yang saling terulas di bibir mereka berdua.
"Saya hampir melupakan kalau saya pernah memiliki Kaca Mata Renang ini." Lirih Nuril mengumpulkan keberanian memecah kecanggungan di antara keduanya.
Perlahan Nuril mengeluarkan buku bersampul hitam milik Ustadz Salman beserta dengan gelang kertas lusuh milik sebuah Water Park. "Tapi, dari kehilangan saya juga menemukan sesuatu." Lanjut Nuril dengan meletakan kedua benda itu searah jarum jam dengan Kaca Mata Renang miliknya.
"Saya tidak merasa kehilangan apapun, kecuali dari ketenangan saya yang terganggu dengan sebuah nama yang tidak pernah bisa untuk saya lupakan. Dan sungguh indah rahasia Allah. Karena pada ahirnya saya di pertemukan dengan pemilik nama itu." Ucapan pelan Ustadz Salman itu mampu membuat wajah Nuril terasa panas hingga mengantarkan pemerah alami di kedua belah pipinya.
"Ipda Nuril, Cinta tak memberikan apapun, kecuali keseluruhan dari dirinya, utuh penuh. Diapun tak mengambil apapun, kecuali dari dirinya sendiri. Cinta tak memiliki ataupun memiliki, karena cinta telah cukup untuk cinta." Seketika semburat rona merah di pipi Nuril menghilang, berganti dengan perasaan yang nyeri hinggap di relung hatinya.
Menelaah dari kata kata Ustadz Salman barusan, Nuril tidak berani berfikir lebih, apa lagi meminta lebih lagi. Karena dari ucapan itu jelas sekali, jika Ustadz Salman tidak ingin mendewakan cintanya, dan memilih membiarkan begitu saja seperti air yang mengalir. Sementara bagi Nuril, Ia butuh kepastian untuk sebuah hubungan. Setidaknya nama dari hubungan ini apa.?
"Namun Ipda Nuril." Kembali suara bass Ustadz Salman menggetarkan gendang telinga Nuril, dan kali ini Nuril beranikan diri untuk mengangkat kepalanya untuk menatap seraut wajah yang kini juga tengah menatapnya dengan serius.
"Cinta itu juga adalah perasaan hangat, dan yang akan mampu membuat kita menyadari betapa berharganya kita, dan adanya seseorang yang begitu berharga untuk kita lindungi. Terlebih lagi untuk menjadikannya alasan bagi kita untuk penanenang hati dalam beribadah karena kehadirannya."
Kali ini Nuril benar benar gugub dan hanya bisa terus diam sembari terus menggigit bibir bawahnya untuk menentralkan segala rasa bahagianya yang berlebih di dalam dadanya. Sungguh dalam mimpipun, Nuril tidak pernah membayangkan akan semanis ini ungkapan ungkapan yang di rangkai oleh seorang Salman A.R.
"Akan Egois memang jika saya meminta sampean untuk selalu berada di samping saya saat ini. Sementara sampean masih harus mengejar cita cita sampean, dan saya tidak ingin menjadi alasan gagalnya cita cita sampean. Maka dari itu, tetaplah bersemangat untuk tugas tugas sampean." Nuril menutup matanya dengan senyum tipis yang menghias di bibirnya, sementara jauh dalam otaknya Nuril tengah memilih dan memilah kata.
"Apa sampean akan menunggu..?" Ahirnya hanya kata itulah yang bisa Nuril keluarkan dan membuat senyum samar Ustadz Salman jadi melebar.
"Apa sampean keberatan jika saya menunggu.?"
Reflek kepala Nuril menggeleng dengan cepat dan itu berhasil membuat senyum keduanya semakin melebar meski masih dengan malu malu.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Matahari sudah bersembunyi di belahan dunia yang lain, tapi sinarnya yang hangat masih menyisa di dada Nuril, setiap kali mengingat percakapannya tadi siang dengan Salman A.Rnya. Setiap rangkaian kata yang keluar dari bibir Salman A.Rnya terpatri seperti sebuah Mantra bagi Nuril, hingga membuat pipinya tak henti hentinya mensuplai perona alami.
Bahkan perasaan bahagia itu juga sampai terbaca oleh Bu Ari yang tadi sore sedang melalukan panggilan vidio dengan Nuril. Benar adanya, jika seseorang menyebut bahwa jatuh cinta itu membuat seseorang menjadi gila. Apa lagi jatuh cinta dan cintanya terbalas. Lebih lebih lagi, cinta yang di landaskan pada sebuah tujuan baik.
Memang iya, tidak ada nama dalam hubungan Nuril dan Ustadz Salman. Juga Ustadz Salman tidak menamainya PACARAN dalam hubungan mereka, seperti anak anak muda saat ini. Tapi, cukup tegas juga perkataan Ustadz Salman, bahwa Ustadz Salman akan menunggunya hingga usai dengan ikatan dinasnya. Bukan kah itu berarti Ustadz Salman tidak menganggap main main soal hubungan ini.
Masalah main main, ini dia yang menjadi beban pikiran bagi Nuril saat ini. Nuril terus berfikir bagaimana caranya memberi tahu kepada orang tuanya soal Salman A.Rnya, dan meminta kepada mereka untuk membatalkan perjodohannya dengan Mas Ainya.
Kalau sampai satu kata saja keluar soal Salman A.R. kepada Pacar Sempurnanya, bukan tidak mungkin Nuril akan di sidang dan mereka akan meminta untuk di pertemukan dengan Salman A.R. lantas yang terjadi seterusnya adalah membanding bandingkan Salman A.R dan Mas Ainya.
Tidak boleh terjadi, akan lebih baik saat ini aku diam lebih dulu, dan menikmati hari dengan hadirnya Salman A.R sebagai penyemangatku. Putus Nuril ahirnya.
Malam semakin larut, dan Nuril sama sekali belum bisa memjamkan matanya, padahal sudah beberapa kali dia terus membolak balikan bantal serta tubuhnya. Bahkan Muroja'ah juga sudah mendapat beberapa Juz, tapi matanya sama sekali enggan terpejam. Alih alih terpejam, bahkan dalam keadaan terbuka lebar saja bayangan wajah Salman A.R terus menari nari di otaknya.
Dan setelah sekian lama mata Nuril tak ingin terpejam, ahirnya di raihnya buku kecil milik Salman A.Rnya, lantas dengan cepat sudah berselancar di dalamnya, yang sesungguhnya isinya sudah hampir Nuril hafal semuanya, karena seringnya dia baca.
Tapi, Nuril sama sekali tidak memiliki keberanian untuk sekedar membuka layar obrolan dengannya. Dan hanya bisa terus menatap foto profil yang tersemat disana.
"Salman A.R. Bahkan A.R itu saja aku tidak tau kepanjangannya apa." Kata Nuril pelan sambil tersenyum geli memikirkan perasaannya yang aneh itu. "Mungkin saja dia juga tidak tau nama panjang ku.ha.ha.ha. Lucu sekali sih kami. Lain kali akan ku tanyakan itu." Lanjut Nuril sembari meninggalkan aplikasi hijaunya dan beralih ke Sosmednya.
Sudah cukup lama Nuril tidak berselancar ke Sosmednya. Bukan karena tidak ada waktu, tapi bagi Nuril aplikasi seperti itu hanya untuk hiburan semata, terlebih bagi seseorang seperti Nuril hal hal semacam ini selalu di pantau. Oleh sebab itulah Nuril memiliki dua akun setiap Sosmednya. Bukan untuk gaya gayaan, tapi memang itu tuntutat pekerjaan. Juga sekaligus untuk keprevasian dirinya sendiri.
Baru saja Nuril hendak meninggalkan Sosmednya, karena matanya yang sudah hendak terpejam. Namun, segera kembali terbuka saat @maulana_sar2727 mempsoting sebuah foto lengkap dengan captionnya yang membuat Nuril tersentil.
Foto sebuah Mawar merah yang baru akan mulai mekar berlatar belakang matahari terbit, bahkan embun masih menempel di pucuk bunga tersebut, membuat siapapun yang melihatnya pasti langsung merasa segar dan ikut bersemangat seperti bunga yang hendak menyambut matahari dengan kelopak kelopak yang merekah.
"Minas sahl an tathruda jaisyul isti'mar min wathonika. Walakin, minas sho'b an tahruthal hubba ista' maro qolbaka."
Nuril terus mengerutkan keningnya dengan itu, apa lagi sesaat setelahnya begitu banyak komentar yang silih berganti membuat Nuril tersenyum malu. Malu karena merasa komentar komentar itu seakan mengolok dirinya saat ini yang sedang berbunga bunga. Dan jawaban jawaban @maulana_sar2727, juga tidak kalah manisnya lagi. Seolah olah pemilik akun itu juga sedang merasakan hal yang sama seperti Nuril.
@nauf_rim. Halalin gercap.
__ADS_1
Nuril tercengang dengan salah satu akun yang baru saja muncul, karena Nuril tau persis itu milik siapa. Itu adalah akun milik sepupu keduanya. Anaknya Tante Rany, dan juga sepupunya Mas Ainya. Tapi, Nuril enggan untuk berfikir terlalu jauh, karena ini dunia maya, bahkan dirinya juga bisa berbalas koment dengan siapa saja.
Nurilpun ahirnya menutup aplikasi Sosmednya dan memilih membaringkan tubuhnya yang sudah terasa lelah, meski di tengah tengah antar pejam dan jedanya dirinya masih terngiang ucapan dari Salman A.Rnya. "Aku akan menunggu."
Akan seperti apapun ahir dari sebuah penantian itu, yang pasti Nuril akan merayu pada pemilik hati agar tidak akan menjadi sia sia apa yang di inginkan hatinya. Jikalaupun nanti rayuannya tidak terindahkan, maka Nuril meminta di beri keluasan hati agar mampu untuk bersabar. Karena sejatinga, kepada Allahlah segala hati akan kembali berlabuh. Dan jika semua dapat di pasrahkan dan di niatkan hanya karena Allah semata, maka tidak akan berat jalannya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
###
Nopo maleh tho niku Gus, tambah mumet Emak e lek mekaten.
Like, Koment dan votenya selalu di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
@maydina862
__ADS_1