Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Kejutan Part 2


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Jika mendung tidak berarti hujan, maka gerimis juga tidak pula di artikan sebagai lambang kesedihan. Dan nyatanya gerimis yang terjadi di dada Nuril, adalah gerimis bahagia. Pelukan demi pelukan telah terurai beriing dengan do'a yang di rapal oleh orang orang terkasih Nuril. Dan linangan air mata kerinduan telah berganti dengan canda dan tawa di ruang keluarga yang penuh kehangatan.


Bibir kecil Nuril terus saja menceritakan segala kegiatannya disana dan di sambut antusias oleh Kakek dan Neneknya. Duduk dalam apitan kedua Neneknya, Nuril terlihat begitu damai dan melupakan segalanya untuk sejenak. Hingga tangan Nenek Khofsoh lbu dari Papa Nuril menyentuh pipi Nuril yang menyisakan belas luka, membuat Nuril menoleh pelan ke arah Neneknya yang tengah memandang Nuril dengan iba.


"Ini kenapa, Dhok cah ayu.?" Ucap Nenek Nuril pelan, dan Nuril langsung merasa oksigent di sekitarnya menipis seiring dengan seluruh mata mengarah kepadanya.


Tersenyum getir Nuril meraih tangan Neneknya, dan melempar pandangannya ke semua orang, lantas berhenti cukup lama dimana Papanya memandang Nuril dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. "Hanya luka kecil, Mbah Ibuk."


"Seperti ini kok luka kecil. Lihat Ne.?" Kata Nenek Nuril dari pihak Ibunya segera menyela, sembari tangannya meyibakkan jilbab Nuril lebih kedalam, sehingga luka di wajah Nuril cukup terlihat jelas dan membuat semua orang ternganga.


"Ini apa, Wi. Kamu menyembunyikan ini." Kata Kakak Nuril dengan nada kwatir.


Nuril ingin menjawab, namun sama sekali tidak mendapat kesempatan. Dan hanya bisa menatap kearah kedua orang tuanya yang juga tengah menatapnya dengan pandangan yang menyakitkan bagi Nuril.


Harus seperti ini, harus seperti itu, harusnya begini, harusnya begitu. Begitu banyak harus yang di dengar Nuril dari Kakaknya yang terkenal cerewet, dan itu berhasil mengalihkan segala fokus semua orang dari Nuril. Dan alih alih mau mendengar pendapat Nuril, malah semua setuju dengan saran yang di ucapkan Kakak Nuril.


"Ah, itu terlalu di buat Drama, Kak Nana." Ucap Nuril dengan membetulkan jilbabnya.


"Tidak sesederhana itu, Marimar." Ucap Kakak Nuril sambil mencubit pipi Nuril dengan gemas. "Lagian alat kecantikan itu sekarang pada canggih canggih."


"Apa ini sakit, Dhok.?" Kata pelan Mbah Ibuk Nuril, hingga membuat semua orang terdiam dan kembali fokus ke arah Nuril.


Nuril menggeleng pelan dan mengulas senyum tipisnya. "Mboten, Mbah Ibuk."


Mbah Ibuk Nuril justru menangis tergugu mendengar jawaban Nuril. Dan membuat semua terkaget kaget, tapi tidak untuk Papa Nuril yang begitu memahami Ibunya itu. "Ya Allah Gusti. Genah koyok ngene bekas e. Lalau bagaimana rasa sakitnya ketika luka ini masih basah." Ucap Mbah Ibuk Nuril di sela sela isak tangisnya.


Suasana seketika mendung dengan ucapan Mbah Ibuk Nuril. Dan dengan cepat Nuril segera mengalihkan topik dan menceritakan kisah kisah lucu seputar anak anak kecil yang di kenal Nuril disana. Dan mendung kembali menghilang di kalahkan oleh sang cahaya permata.


Segalanya sudah di bahas, dari senyum yang merambat ke tawa, tawa berubah ke air mata, dan airmata kembali ke tawa. Dan tanpa terasa sudah cukup lama juga mereka menghabiskan waktu di ruang keluarga untuk bercengkrama.


"Krruukkk.." Bunyi suara perut ponakan Nuril membuat tawa semakin kencang, dan seketika membuayarkan keseruan di ruang keluarga.


"Uwi mau mandi dulu sekalian ganti baju." Ucap Nuril pamit untuk ke kamarnya.


"Mandi susu sana biar kinclong. Lagian nanti Su.., awi, sakit Ma." Pekik Kakak Nuril begitu tangan Mama Nuril sudah mencubit lengannya dengan keras.

__ADS_1


"Isht, kamu ini Na, ada ada saja." Nuril menatap heran ke arah kedua wanita di sambingnya. Dan ingin curiga dengan delikan tajam Mama Nuril ke Kakaknya, namun Nuril sama sekali tidak menemukan alasan untuk ceriga. Justru kecurigaan Nuril tertuju pada sikap tenang Papa Nuril. Padahal Nuril telah membuatnya murka tiga bulan lalu.


"Apa mungkin Papa sudah berubah pikiran." Bisik hati Nuril sembari melangkah pergi meninggalkan ruang keluarga.


Dengan perasaan riang, Nuril melangkah menuju kamarnya. Dan mengedarkan pandagannya ke seluruh ruangan yang sudah setahun tak di huninya ini begitu langkahnya di giring ke sebuah kamar bernuansa pink soft tersebut. Cukup lama, Nuril menjelajahkan pandangannya dan sedikit tertekun sebentar di meja belajarnya.


Tumpukan buku, Nuril hendak melangkah ke arah meja belajarnya dimana terdapat tumpukan buku. Namun di urungkannya karena dering ponselnya yang meraung raung minta segera di angkat. Setelah mencari dengan cepat poselnya di saku bajunya, justru gerakan Nuril melambat. Saat di lihatnya, nomer yang menghubunhinya adalah nomer baru.


Setelah tertegun sesaat, Nuril mengusap layar hijau di poselnya. "Assalamu'aiakum." Ucap Nuril pelan.


Sepi, tidak ada sahutan dari sana. Sehingga membuat Nuril mengalihkan ponsel yang melekat di telinganya dan memperhatikannya. "Terhubung." Gumam Nuril. "Halo, halo." Ucap Nuril lagi, lantas segera menutup panggilan yang terjadi dengan alis ternagkat menandakan keheranan.


Nuril sudah hendak kembali menuju meja belajarnya lagi, tapi kembali tidak kadi, karena dentingan suara di ponselnya.


"Selamat datang, Ipda Nuril." Ponsel Nuril segera luruh dari tangannya dan berganti dengan degupan hebat di dadanya yang menjalar hingga ke seluruh tubuhnya. Nuril, tidak ingin percaya bahwa yang barusan menelfonya adalah Ustadz Salmannya. Tapi, degupan di dada Nuril memberi kabar dengan cepat bahwa itu dia.


Nuril, masih tidak ingin percaya, setelah setahun tanpa kabar. Ralat, bukan tanpa kabar. Yang benar adalah dia tidak memberi kabar, kenapa saat ini malah mendadak muncul. Bahkan Nuril sempat berharap pada saat Nuril menolak dirinya tiga bulan lalu, Ustadz Salmannya akan segara menghubunginya untuk meminya alasan.


Harusnya, kata kata Papa Nuril, bisa Nuril artikan bahwa Ustadz Salman atau Mas Ainya sudah setuju dengan apa yang sudah di setujui oleh Papa Nuril. "Iya, Pertuangan itu sudah di batalkan sejak lama." Kata kata itu bukan hanya gurauan saja bagi Papa Nuril untu dirinya kan. Lantas apa alasan Ustadz Salman mengirimi Nuril chat. Semua menjadi teka teki bagi Nuril.


"Tok..Tok..Tok.." Suara ketukan pintu kamar Nuril, membuyarkan segala spekulasi Nuril dengan hatinya. Dan dengan cepat Nuril kembali ke arah pintu. "Ehh, Amira. Ada apa sayang.?" Kata Nuril begitu melihat keponakannya berdiri di depan kamarnya dengan sebuket mawar merah.


"Ini buat Aunty, yah.?" Tanya Nuril, setelah membalas kecupan ponakannya.


"Iya. Mira turun dulu. Aunty cepat mandi, semua sudah menunggu di bawah." Jawab ponakan Nuril dengan riang, lantas segera berlari menuruni tangga.


Nuril terus saja memandangi buket bunga di tangannya, sedikit tidak menyangka bahwa dirinya akan mendapat buket bunga dari ponakannya. Semerbak harum bunga Mawar memenuhi paru paru Nuril sebelum ahirnya Nuril melangkah masuk ke kamar mandi, dan bersiap dengan rutinas bercinta dengan air, yang selama setahun ini menjadi hal mahal, lantaran di Afrika Selatan tergolong susah air.


Segar, tampak jelas di wajah Nuril setelah menghabiskan waktu, hampir satu jam. Sembari mengosok gosok rambut kritingnya dengan handuk, Nuril melangkah keluar dari kamar mandi. Sesekali air menetes dari rambutnya yang belum kering sempurna.


🎶


Da'unii da'unii unaji bi habibi..


Walaa ta' dzuluuni fa'adzilii haram..


Walaa ta'dzuluuni fa'adzilii haram..


🎶

__ADS_1


Suara merdu Nuril menggema di seluruh kamarnya, seperti tanpa beban Nuril terus saja bersholawat ria, sembari berusaha untuk mengeringkan rambutnya.


"Ehh,." Nuril sedikit kaget begitu melihat seonggok boneka Kelinci yang berada di atas ranjangnya. "Ini punya Amira atau punya siapa..?" Gumam Nuril lagi sembari meraih boneka itu.


"Ehh, apa ini.?" Ucap Nuril lagi, saat melihat kotak kecil yang terjatuh begitu Nuril mengangkat boneka yang kelihatan sudah cukup lama. Kening Nuril mengeryit melihat sepasang cincin emas putih yang terdapat di kotak kecil tersebut.


"Darren, yang membawa cincin untuk, Tuan Putri." Dada Nuril bertalu talu mendengar suara lembut itu.


"Plekk.." Mata jernih cantik Nuril bersirobrak dengan sepasang mata yang tengah menyorot lembut ke arah Nuril dari cermin besar meja rias Nuril.


Hening, tidak ada kata yang keluar. Dan untuk sesaat dunia seakan berhenti sejenak. Karena Nuril masih terpaku dengan seseorang yang tengah duduk dengan santainya di sofa panjang kamar Nuril. Kaos lengan panjang warna abu abu sangat sempurna di padukan dengan sarung batik tulis yang di kenankannya, di tambah peci hitam yang bertengger di kepalanya membuat nilai semakin plus plus saja.


Angin yang berhembus dari jendela membelai lembut wajah Nuril, membawa serta kesadaran Nuril. "Apa, apa yang kamu lalukan di kamar ku...!" Pekik Nuril, dan cepat sudah menutup kepalanya dengan handuk di tangannya, hingga seseorang yang tengah duduk di sofa itu terkekeh geli dengan sikap spontan Nuril, apa lagi saat Nuril sudah melemparinya dengan segala sesuatu yang bisa di jangkau oleh tangannya, kekehannya semakin melebar seiring dengan langkah pelan yang di kisis olehnya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Lho, kok sudah di kamar. Kapan masuknya..


Like, Coment dan Votenya di tunggu enggeh..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2