Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Kejutan...


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Matahari meremang di ufuk barat, berserta dengan mega yang berarak bergerombol layaknya pulau pulau berjajaran yang terpisahkan oleh lautan. Matahari terahir musim panas di Afrika Selatan, juga matahari terahir bagi Nuril, sebelum esok Nuril kembali ke Indonesia.


Mata elok Nuril, terus lurus menatap sinar yang menjingga oleh bola api raksasa di balik jendela camp yang di biarkan terbuka lebar. Gerak matanya terlihat gelisah. Bibirnya terus berkomat kamit melantunkan ayat demi ayatnya dan enggan sekali terputus. Tangan yang terlihat biasanya saja itu, juga tidak kalah gelisah dengan terus meremas benda kecil yang senantiasa di jaganya.


Gelang. Gelang pemberian Bunda Ikahlah yang terus di putar putarnya untuk memberikan alasan tenang. Nuril tidak tau persis alasannya terus mejaga benda pemberian Bunda Ikah. Hingga dirinya hampir meregang nyawa tiga bulan lalu, Nuril kekeh mempertahankan gelang itu dalam genggamannya. Bahkan, Nuril sampai harus mendapatkan luka bakar di telapak tangannya, untuk menjaga gelang itu.


Semua rekan rekan Nuril tampak bahagia dengan berahirnya masa tugas mereka hari ini. Begitupun dengan Nuril, hanya saja perasaan Nuril sedikit sentimentil ahir ahir ini. Berahirnya tugas, itu artinya harus kembali ke Indonesia. Nuril ingin, Nuril mau. Tapi, Nuril ingin tetap disini. Bukan hanya sekedar tugas yang menjadi kambing hitamnya, melainkan untuk bersembunyi. Bersembunyi dari seseorang yang di cintainya.


Penolakan untuk perpanjangan tugas yang di ajukan Nuril, membuat Nuril memutar otaknya dengan keras. Dan helaan demi helaan nafas dalamnya terlihat penuh dengan tekanan dan kesakitan yang luar biasa. Bukan Nuril tak ingin kembali dan melepas rindu dengan semua orang yang di cintainya, hanya saja sejak kejadian tiga bulan lalu, Nuril sering terlihat tidak percaya diri hanya sekedar untuk menatap wajahnya di cermin. Bekas luka bakar di wajah Nuril, mengerogoti jiwa percaya dirinya.


Tidak begitu kentara memang, apa lagi luka itu akan tertutup jilbab yang di kenakan Nuril. Karena, luka yang berbekas itu berada memanjang di pipi dalam Nuril hingga ke kening Nuril dan hanya terlihat sedikit jika jilbab Nuril sedikit tersibak. Tapi, rasa Nuril tidak cukup puas mengingat pembicaraan terahir dengan Papanya sebelum melepas Nuril pergi.


Rasa tidak pantas. Itulah yang mendominasi hati Nuril. Rasa bahwa Mas Ainya berhak memiliki yang sempurna di banding dengan Nuril. Oleh karena itulah, Nuril membuat berjuta alasan kepada Papanya untuk membatalkan semuanya. Hingga protesan keras serta kemurkaan Papanya, Nuril siap menerimanya, tanpa memberikan kejelasan alasannya.


Matahari telah benar benar kembali keparaduannya dan perlahan Nuril meninggalkan jendela camp dengan perasaan bercampur baur jadi satu. Malam semakin merayap berselimut bintang yang bertaburan. Nyayian, tarian serta tawa semua menjadi satu paket di depan api unggun besar yang berada di tengah tengah mereka semua, sebagai perayaan pesta perpisahan ala prajurit. Dna semua tampak suka cita dengan harapan harapan yang terus mereka serukan.


Sejenak Nuril ikut larut dalam uforia pesta yang di gelar itu dan penuh suka cita bersama rekan rekannya. Dan gelar sebagai Prajurit teladan dan terbaik juga Nuril dapatkan, hanya saja itu suka cita itu tidak sampai pada hatinya.


Nuril, sadar betul. Tidak ada yang sempurna, terlebih abadi di dunia ini. Bahkan nyawa yang terkandung di badan, juga akan berahir tatkala jatah yang di tetapkan sudah usai.


Puncak acara telah berahir dan semuanya berangsur angsur kembali ke camp masing masing dengan perasaan suka cita. Ada yang terus bersenandung karena hendak bertemu dengan anak, istri, suami, juga orang tuanya. Ada yang terlihat menghabiskan waktu mengobrol dengan ponsel masing masing. Tak terkecuali Nuril yang juga mengirim kabar kepada orang tuanya.


Nuril tampak tidak senang, saat ponsel kedua orang tuanya tidak meresponnya. Memang, kedua orang tuanya tengah marah kepada Nuril, lantaran keputusan Nuril yang kekeh membatalkan perjodohannya dengan Mas Ainya. Namun, sata nanti kedua orang tua Nuril melihat apa yang sesungguhnya mrnjadi alasan Nuril, mereka pasti tidak akan memaksa lagi.


Apa Nuril tidak merasakan sesak saat mengambil keputusan menolak perjodohan itu, terlebih Nuril sadar betul bahwa Mas Ainya adalah Ustadz Salman, satu satunya nama laki laki yang pernah Nuril gaungkan dalam do'anya. Bohong, jelas Nuril telah menipu hatinya sendiri untuk itu. Hanya saja, perasaan tidak pantaslah yang menjadi alasan Nuril.

__ADS_1


Jam di pergelangan Nuril menunjukan pukul 00.35 am waktu Afrika Selatan, dan itu artinya pukul 05.35 WIB untuk Indonesia. Dan Nuril lagi lagi merengut kesal, lantaran chat cintanya sama sekali tidak ada respon dari kedua orang tuanya juga sekaligus Kakaknya. Dan dengan perasaan kesal Nuril memilih merebahkan dirinya dengan menguntai do'a juga kalimat rindu untuk orang orang terkasihnya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Upacara penyambutan di Mabes POLRI terlihat meriah. Spanduk, karangan bunga, juga tidak kalah ramainya dengan beberapa isi acara yang sudah di siapkan. Pemberian penghargaan, juga lencana yang di sematkan menambah acara semakin meriah. Bahkan Nuril juga berkesempatan maju ke depan untuk menerima lencana kenaikan jabatan secara simbolis dari atasannya.


Dan kejengekelan hati Nuril makin menjadi saja. Lantaran hingga tiga hari dirinya di Mabes POLRI orang tuanya sama sekali tidak mau mengangkat panggilan yang Nuril buat. Jangankan mengangkat panggilan Nuril, membaca chat yang Nuril kirimkan juga tidak. Yang membuat Nuril semakin sebal lagi adalah, Kakak Nuril, satu satunya pembela Nuril. Kini juga ikut berada di pihak kedua orang tua Nuril, yang juga seiya sekata dengan tidak mau membalas chat Nuril, meski terlihat chatnya di baca.


"Marah marah saja. Tapi, bukan berarti harus kayak gini." Protes Nuril pada Ponsel di tangannya, sembari menarik paksa kopernya memasuki Bandara guna kembali ke rumah orang tuanya di Jogja, setelah mengikuti setiap prosesi penyambutan di Mabes POLRI selama tiga hari.


Nuril berencana menikmati waktu libur seminggunya di Jogja, sebelum ahirnya dirinya kembali menerima surat tugas pemindahan kerja di lain daerah tentunya. Dan Nuril siap menerima konsekwensinya, terlebih ceramah panjang yang akan di dengar dari orang tuanya ketika Nuril menyodorkan mandat tugas untuk persetujuan orang tuanya. Dan itu tidak jauh jauh dari keputusan Nuril soal pembatalan perjodohannya.


Satu jam lebih dua puluh menit, ahirnya Nuril menapakan kakinya kembali dengan senyuman simpul. Dan gerakan kakinya yang gesit ikut berjejal bersama beberapa penumpang yang lainnya untuk segera sampai tujuannya. Ya, Nuril memang memilih menggunakan Pesawat komersial, dengan alasan agar Nuril cepat sampai di rumahnya, dan tidak perlu mengikuti prosedur yang ada.


Alasannya juga tentu karena, Nuril ingin terlihat seperto gadis pada umumnya yang tanpa seragam. Bukan, Nuril tak ingin memperlihatkan seragam.kebanggaannya kepada orang tuanya. Hanya saja, Nuril terlalu malas di segani dan di takuti orang orang awam di sekitarnya. Karena bagi sebagian orang awam, para aparat itu menakutkan.


Kalau di bilang ingin pamer, jelas Nuril ingin pamer. Apa lagi sama Kakaknya. Juga sekaligus memerkan deretan bintang yang telah di dapatkannya. Tapi, bagi Nuril, itu tidak terlalu penting selain dari kembali bisa berkumpul dengan keluargannya.


Dengan menaiki taksi yang di cegatnya, Nuril membanting tubuhnya di kursi penumpang dengan perasaan jengkel juga bersalah. Mau pura pura seperti apa juga, Nuril tetap merasa bersalah. Meski, rasa sesaknya jauh lebih dalam lagi, saat dirinya mengambil keputusan untuk membatalkan perjodohannya. Dan sesekali tangannya meraba pada luka di wajahnya, yang menjadi alasan dirinya kehilangan kepercayaan diri.


Setengah jam berlalu, taksi yang di tumpangi oleh Nuril berjalan berlahan memasuki halaman luas rumah orang tua Nuril yang tengah terbuka lebar. Dan sopir taksi segera mengeluarkan koper Nuril dan menaruhnya di teras, lantas segera pergi setelah menerima beberapa lembar uang dari Nuril.


Nuril menatap dalam ke arah pintu yang dimana kedua sisi pintu itu tengahterbuka lebar untuk menyambut kedatangannya, namun tampak sepi seperti tidak ada kehidupan di dalamnya. Dan dengan langkah mantap Nuril segera masuk setelah salamnya tidak ada satu orangpun yang menjawabnya.


"Pa, Ma." Teriak Nuril sembari memperdalam langkahnya memasuki ruamh besar tersebut. "Banyak kue, cangkir teh juga masih hangat." Gumam Nuril setelah sampai di ruang keluarga.


"Wi, cah ayu." Kepala Nuril segera menoleh ke asal suara dan senyumnya seketika melebar saat mendapati Kakek dan Neneknya dari Papa dan Mamanya yang kompak merentangkan tangannya. Tanpa pikir panjang Nuril segar berlari dan mendaratkan tubuhnya dalam pelukan hangat mereka semua.


Dan suasana hatinya seketika berubah haru, saat dirinya mendapati kejutan yang luar biasa membahagiakan dari kedua orang tuanya, yang kini tengah tersenyum puas melihat airmata juga senyum Nuril yang menjadi satu sebagai bentuk gambarkan kerinduan terhadap orang orang terkasihnya. Memang, Nuril selalu menyangkalnya dengan ucapan. Dan nyatanya orang tua Nuril sangat faham dengan kata tidak yang di ucapkan Nuril adalah merupakan kebalikannya. Oleh karena itulah orang tua Nuril sengaja memberikan kejutan haru ini untuk Nuril. Meski ini belum kejutan yang sesungguhnya.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Waduh, kok belum kejutan yang sesungguhnya. Terus, kejutan intinya apa yah Papa Taufiq..🀭🀭🀭


Next Episode..πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.


☺️: Kumat Mak.


😏: Iya dung, biar dicari cari, ckckkckck...


☺️:Karepmu wez Mak.


Like, Coment dan Votenya masih di tunggu...


Love Love Love...


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


By: Ariz Kopi


@maydina862


__ADS_2