Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Hukuman atas kebimbangan.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Kebetulan yang di buat oleh Allah itu indah, dan jauh lebih indah dari rencana yang telah di susun jauh jauh hari oleh otak dan pikiran. Itulah yang sedang di rasakan oleh Gus Ali saat ini. Dari pertama menaiki bukit, dadanya sudah memberi peringatan dengan berdegub lebih kencang dari sebelumnya, namun sama sekali tidak di hiraukannya. Dan baru saat mata Gus Ali menangkap sesosok gadis yang tengah berdiri memandang heran ke arah Gus Ali dan Bang Jo. Gus Ali baru tersadar, jika ternyata alarm itu untuk seseorang yang telah berhasil membuatnya terus memikirkannya.


Ipda Nuril. Kebetulan yang indah ini bertemu dengan Ipda Nuril di tanah kelahirannya, dan hampir tidak ingin mempercayai kebetulan ini, jika seseorang yang telah berhasil mencuri hatinya juga memiliki darah tanah kelahirannya. Kebetulan ini terus berlanjut saat Ipda Nuril dengan sedikit sungkan menerima tawaran Bang Jo untuk ikut serta bersama Gus Ali ke kebun buah, yang sudah tiga tahun ini Gus Ali jadikan sebagai sampingan usahanya.


Senyum tipis yang selalu membingkai wajah manis Ipda Nuril, membuat Gus Ali kesulitan untuk memalingkan penglihatannya dari itu semua. Dan juga sekaligus mengingatkan bahwa itu tidak sepatutnya Gus Ali lakukan. Mengingat dengan apa yang di bicarakan kedua orang tua Gus Ali semalam mengenai acara yang akan di gelar dua hari lagi.


Juwahir, nama itu mengusik hati Gus Ali. Dan juga membuat Gus Ali berusaha sangat keras untuk mengenyahkan segala sesuatu mengenai seseorang yang sekarang sedang tertawa girang memetik berbagai buah buahan.


Ujian Ikhlas, adalah di kala dirimu di paksa untuk tiba tiba melepaskan hal yang sudah menetap di hatimu. Bisik kecil hati Gus Ali, yang entah kenapa tiba tiba merasa bahwa baginya segalanya sudah usai saat ini juga mengenai Ipda Nuril. Dan yang sejujurnya segalanya belum pernah di mulai olehnya.


Gus Ali seperti biasanya, tidak banyak bicara dan hanya menjadi pendengar setia antara Bang Jo dan Ipda Nuril, yang tengah asik memetik buah sembari mengobrol kesana kemari. Dan sejujurnya Gus Ali merasa jika, kali ini Ipda Nuril terlihat sangat berbeda meski penampilannya biasa saja.


Menurut Gus Ali, Ipda Nuril terlihat seperti seorang gadis yang tengah malu-malu, bahkan sesekali mencuri lihat ke arah Gus Ali dengan wajah bersemu merah. Tapi, entahlah. Gus Ali hanya merasa seperti perasaannya bisa di baca oleh Ipda Nuril, saat Gus Ali juga diam diam sering mencuri pandang ke arahnya. Apa lagi saat mata keduanya kompak bertemu.


Di tambah saat Ipda Nuril terjatuh dengan indah dalam dekapan Gus Ali, itu berhasil membuat jantung Gus Ali ingin loncat keluar dari tempatnya, serta tatanan rencana mengenai acara dua hari lagi benar benar buyar dari pikirannya. Semuanya terjadi begitu saja, tanpa di nyana, dan otak Gus Ali benar benar tidak ingin mengikuti peringatan yang telah di buatnya.


Terlebih lagi, saat di lihatnya wajah Ipda Nuril yang langsung memerah setelah terjatuh dalam pelukan Gus Ali, dan keduanya kompak tidak bisa keluar dari jerat mata yang telah di perangkapkan oleh syetan. Jika bukan karena Bang Jo yang kembali setelah dari kamar mandi, tentu keduanya masih akan terus saling tatap dan tetap mengisi bayangan masing masing dengan pemikiran mereka sendiri sendiri.


Mungkinkah, Ipda Nuril tau bahwa orang yang pernah di tolongnya adalah aku. Atau taukah Ipda Nuril bahwa kaca mata renangnya masih tinggal bersamaku. Sesekali pertanyaan itu muncul di benak Gus Ali, tapi itu hanya akan berhenti di sana saja. Lantaran sesuatu telah di putuskan untuk Gus Ali, sebagai pilihannya pilihannya, yakni Juwahir.


Gus Ali tidak ingin menjadi orang yang Dholim, karena telah mencabang cabangkan hatinya. Namun, itu tidak semudah yang di bayangkan oleh Gus Ali, lantaran hatinya masih berat terhadap Ipda Nuril, apa lagi setelah adegan jatuh tanpa sengaja. Gus Ali semakin di buat bimbang dengan debaran hatinya.


Kebetulan tadi pagi, membuat Gus Ali sedikit resah juga sekaligus mengalihkan beberapa fokusnya mengaenai acara yang akan berlangsung siang ini. Bahkan saat Bang Jo yang tiba tiba pamit harus kembali ke Surabayapun, Gus Alipun tidak menanyakan detail tentang tugas apa yang membuat Bang Jo harus bergegas kembali.


Gus Ali sudah bersiap dengan seragam keluarga besar yang di persiapkan untuknya. Kemeja waran Dusty Ungu yang di beri aksen warna hitam, Gus Ali padukan dengan kain sarung berwarna hitam polos, serta di tambah dengan peci waran hitam, membuat Gus Ali terlihat sempurna. Bahkan Bunda Ikah terus saja tersenyum menyaksikan putra semata wayangnya yang tengah berjalan mendekat ke arahnya.


"Persis Abi saat masih muda." Bisik Abi Farid pelan, dan membuat Bunda Ikah mengangguk setuju yang di ikuti dengan senyum malu malu Bunda Ikah.


"Ada apa, Bi, Nda.? Apa ada yang salah sama Ali.?" Tanya Gus Ali dengan heran.


Kedua orang tua Gus Ali menggeleng pelan. "Tampan sekali putra Bunda." Tangan Bunda Ikah sudah menyentuh lembut pipi Gus Ali.


"Itu jelas turunan, Abi." Timpal Abi Farid dengan membelai lembut bahu Bunda Ikah, dan langsung di sambut tawa renyah oleh Gus Ali.


"Tentu karena keduanya. Ali beruntung memiliki Abi dan Bunda sebagai orang tua Ali." Ucap Gus Ali dengan penuh ketulusan dan sudah segera merangkul kedua orang tuanya dengan hangat. "Terima kasih sudah menjadi orang tua yang penuh cinta untuk Ali. Terima kasih untuk kasih sayang yang njenengan berdua berikan kepada Ali."

__ADS_1


Tidak ada balasan atas kata Gus Ali untuk Abi dan Bundanya selain hanya dengan beberapa do'a yang di panjatkan oleh mereka, atas rasa syukur karena telah di beri titipan yang mampu menjadi penyejuk sekaligus penenang bagi hati orang tuanya, apa lagi di tambah ahlaq yang di miliki oleh Gus Ali.


"Ayo segera turun, di bawah sudah banyak orang. Sekalian Mas, segera temui Mas Fikri kayaknya dia gugub sekali. Mas Ali sih sibuk sama temannya saja dari kemarin." Ucap Bunda Ikah ketika terdengar suara Bude Rany yang sudah memanggil mereka dari lantai bawah.


"Enggeh, Nda. Ayo." Ucap Gus Ali, lalu segera meraih tangan Bunda Ikah dan menggandenganya untuk segera turun.


"Mas, Abi harus menggandeng siapa sekarang. Harusnya sampean sudah punya gandengan sendiri, jangan lagi berebut sama Abi." Ucap Abi Farid dan membuat Bunda Ikah melebarkan bibirnya untuk menyunggingkan senyum, lantas keduanyapun membahas acara yang bakal di gelar dua hari lagi, hingga membuat Gus Ali ikut tersenyum, meski hanya sebuah senyum kaku semata.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Gus Ali baru saja keluar dari kamar Mas Fikri untuk mengambilkan jam tangan yang tertinggal, dan baru saja hendak melangkah pergi ke tempat dimana Mas Fikri tengah menunggunya sebelum rombangan iring iringan pengantin ini berangkat. Namun, baru beberapa langlah saja berjalan, terdengar seruan Bude Rany yang memanggil nama Gus Ali.


Gus Alipun ahirnya menoleh dan berjalan menghampiri Bude Rany beserta Bunda dan beberapa keluarga yang lainnya. Senyum Gus Ali sudah sungingkan untuk menyapa tamu yang beberapa Gus Ali kenal, salah satunya adalah Bulek Anne dan Mbah Asoh, yang merupakan Ibu dan Mbah Utinya Juju.


"Jadi dimana, Juju, Mbak Anne.?" Tanya Bude Rany begitu Gus Ali sudah berada di antara mereka.


Gus Ali langsung mengusap tengkuknya yang terasa langsung merinding. Bukan karena apa, hanya saja tetiba itu terasa berbeda ketika nama Juju di sebut. Karena Gus Alilah yang memberikan nama panggilan Juju itu kepadanya, dengan alasan agar lebih mudah memanggilnya. Dan Gus Ali tidak menyangka bahwa panggilan itu masih di gunakan di keluarganya hingga kini.


"Masih di belakang sama Bapakannya. Secara dia anak Bapak banget." Jawab Bulek Anne. "Juga sekaligus gugub kali, kalau ketemu sama Mas Ai. Soalnya bersiapnya lama bener." Imbuh Bulek Anne sambil tersenyum jahil ke arah Gus Ali, dan membuat Gus Ali semakin salah tingkah. Juga sekaligus lega, karena setidaknya Gus Ali tidak harus bertemu dengan Juju saat ini.


Bukan Gus Ali tidak ingin bertemu saat ini dengan Juju, hanya saja pertemuannya dengan Ipda Nuril pagi tadi, benar benar berhasil membuat Gus Ali dalam delema, dan Gus Ali merasa purlu sedikit waktu untuk mengembalikan tatanannya seperti semula, sebulum nantinya Gus Ali benar benar menetapkan pilihannya.


"Mas, jalanya kesana bukan ke arah situ." Ucap Bunda Ikah saat mengetahui Gus Ali berjalan ke arah yang salah, hingga membuat Gus Ali di tertawakan oleh semuanya.


Aneh memang, jika Gus Ali benar benar tidak ingin bertemu dengan Juju ataupun tidak menginginkan Juju, lantas kenapa harus ada gugub juga hanya karena mendengat namanya di sebut. Apa ini murni hanya karena rasa bersalahnya sewaktu kecil, atau karena ada perasaan lain yang sesunggunya sudah di sugesti darinya sendiri.


Jika, memang Gus Ali tidak perduli dengan Juju, kenapa Derren masih saja berada di kamar Gus Ali. Lalu, alasan apa yang membaut Gus Ali tetap menyimpan kaca mata renang milik Ipda Nuril juga. Dadanya berdetag lebih kencang hanya dengan memikirkan Ipda Nuril. Tapi, apa itu cukup bagi Gus Ali untuk menuruti nafsunya, dan mengejar Ipda Nuril.


Sementara Ipda Nuril dan dirinya memiliki besic yanh berbeda, hingga membuat Gus Ali tidak berani melangkah sedikit maju, hanya karena tidak ingin mengikat Ipda Nuril dalam kehidupan yang mengharuskannya meninggalkan apa yang mungkin saja telah menjadi mimpinya, ketika Ipda Nuril bersama dengan Gus Ali.


Pikiran ini semakin semrawut seiring dengan banyaknya kerabat juga tamu yang datang, dan sejenak karena kerepotan ini membuat Gus Ali fokus pada acara yang sedang berlangsung hingga acara di gelar di kediaman Mbak Hafiza mencapai puncaknya yakni Akan Nikah Mas Fikri.


Dengan pelan dan pasti, Mas Fikri resmi mempersunting pujaan hatinya yang sudah di dambanya sejak lama dengan sekali tarikan nafas. Dengan jabatan tangan kokoh Abi Farid sebagai wali hakim atas Mbak Hafiza yang telah di pasrahkan oleh Ayahnya, maka resmilah Mas Fikri mengambil alih tugas Ayah Mbak Hafiza mengambil alih seluruh tugas yang belum di selesaikan oleh Ayah Mbak Hafiza serta menyempurnakan yang sudah di bekalkan oleh Ayah Mbak Hafiza.


Senyum malu malu kedua mempelai membuat jiwa para Jomblo meronta ronta, tidak terkecuali Gus Ali, yang sedari tadi terus saja di olok oleh beberapa saudara. "Kapan nyusul." Kira kira seperti itulah pertanyaan gampangnya.


Dan dengan santainya Gus Ali menjawab. "Insya' Allah secepatnya." Meski tidak tau persis itu sebuah kode tentang acara dua hari lagi yang akan berlangsung, atau sebuah gurauan semata. Lantaran hingga acara benar benar usaipun Gus Ali nyatanya masih memberi jawaban yang sama.


Setelah semua rombongan pamit akan kembali, Gus Alipun sudah pamit hendak ikut kembali. Namun, Mas Fikri memcegahnya dengan alasan Mas Fikri memerlukan teman. Gus Ali tidak sebelumnya tidak yakin akan hal itu, dan memilih tidak mengindahkan permintaan Mas Fikri, karena takutnya Gus Ali nanti hanya akan menjadi obat nyamuk belaka. Tidak perlu menunggu nanti, saat ini saja Gus Ali sudah merasa malu sendiri melihat lirikan lirikan keduanya yang sama sama menunduk saat kedua mata mereka bertemu.

__ADS_1


Tapi, begitu Gus Ali hendak berjalan mendekat ke arah kedua orang tuanya dan mendapati sebuah punggung tinggi semampai berbalut khimar panjang menjuntai hingga menutupi sebagian tubuhnya, dengan segera Gus Ali merubah pikirannya dan seketika menyetujui permintaan Mas Fikri, meski untuk itu nanti Gus Ali harus menahan baper bersama beberapa Kang Santri yang ikut tinggal bersama Gus Ali.


Gus Ali masih menatap punggung itu, yang Gus Ali yakini itu adalah Juju. Tapi, Gus Ali tidak cukup memiliki keberanian untuk datang menyapa, karena justru apa yang ada dalam pikiran Gus Ali adalag Ipda Nuril. Tentu, Ipda Nuril akan persis seperti itu, jika menggunakan busana seperti yang di kenakan Juju juga keluarga Gus Ali lainnya. Dan sayangnya, Ipda Nuril memiliki penampilan berbeda, serta kemungkinannya Ipda Nuril tidak bisa di tetima di tengah tengah keluarganya, lantaran Profesi yang melekat pada dirinya.


Tidak ada hukuman yang lebih dahsyat dalam kehidupan ini melebihi, ketika kamu mencintai seseorang yang tidak berhak kamu cintai.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Day 23 Fasting day. Semoga masih selalu semangat menjalaninya.


Tidak terasa Ramadhan akan segera pergi meninggalkan kita tahun ini. Semoga amalan Ramadhan tahun ini akan tetap Istiqomah hingga Syawal dan berjumpa di Ramadhan tahun depan. Amin..


Like, Coment dan Votenya masih di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2