Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Perjodohan.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Itu yang sedang berjalan kesini putra Bunda sayang. Juwahir bisa memanggilnya, Mas Ali." Ucapan Bunda Ikah masih terekam jelas di ingatan Juju. Bagaimana tidak, baginya Bunda Ikah adalah wanita yang sangat dia sukai dan kelembutan serta kasih sayang yang di berikan pada setiap anak anak membuatnya tidak ragu saat di ajaknya untuk ikut pulang bersama oleh Bunda Ikah, dengan iming iming akan memiliki seorang Kakak Laki-Laki.


Namun, Juju kecil salah mengira akan sama dengan putra semata wayang Bunda Ikah, di balik wajahnya yang manis Mas Ai begitu Juju memanggilnya, ternyata dia adalah sosok yang sangat jahil dan menyebalkan meski dari wajahnya tidak tampak sama sekali nakal dan jahil. Hingga selama 17 tahun lamanya membuat Juju tidak ingin kembali lagi datang kerumah wanita yang sudah di anggapnya sebagai Ibu kedua bagi Juju, meski setiap kali datang berkunjung ke Banyuwangi akan bertemu dengannya.


Jangankan untuk mendatanginya, mendengar nama Mas Ainya di sebut saja hatinya serasa mau meledak lantaran menahan kebencian juga dendam yang membara dan mungkin juga sebenarnya RINDU yang dalam juga menyesakan. Dan lihatlah sekarang dirinyan harus terjebak oleh kedua orang tuanya yang katanya ingin mengajaknya ke rumah saudara, malah sekarang sedang berada di jalan yang masih sangat dengan jelas dia ingat, jalan menuju rumah Bunda Ikah.


"Harus banget, Mama sama Papa ngelakuin ini ke, Juju." Ucap Juju dengan bibir mengerucut maju kedepan semua, dan matanya yang jernih bergerak gerak kesal.


"Itu hukuman karena semalam kamu kabur." Ucap Mamanya Juju dengan santai.


"Bukan kabur, Ma. Tapi, memang Juju sedang ada keperluan." Belanya.


"Keperluan apa, keperluan untuk kabur." Ujar Papanya Juju tak kalah santai, yang memang sudah hafal betul dengan kebiasan Putri bungsunya yang tidak bisa untuk di paksa.


"Ju, Bundamu itu kangen sama kamu." Kata Mamanya Juju lagi, kali ini dengan sengaja menoleh ke belakang dimana Juju sedang duduk dengan wajah sebalnya.


"Kan bisa ketemu di tempat lain, Ma. Kenapa juga mesti ke rumahnya." Jawab Juju lagi.


"Lha namanya silaturahim ya kerumahnya bukan di warung, lagian siapa suruh kamu semalam enggak ikut." Kata Mamanya Juju lagi. "Apa kamu enggak kangen juga sama Bundamu. Ini sudah Lima tahun kamu tidak bertemu dengan dia." Lanjut Mamanya Juju.


Juju terdiam menghempaskan punggungnya ke sandaran jok mobil, lantas mendengus dengan kesal sambari bergumam. "Kangen." Katanya pelan sambil membuang pandangannya ke kaca mobil yang di luar tampak selat bali dengan pasir hitam legamnya.


"Nah, jadi apa salahnya kalau kita mengunjunginya." Sahut Papanya Juju.


"Coba saja Bunda Ikah, enggak punya anak yang nyebelin kayak Si Kampret sarungan itu." Kata Juju tak acuh, dan kata kata Juju sukses memancing kedua orang tuanya tertawa terbahak bahak.


"Kamu yakin enggak akan jatuh cinta sama Mas Aimu, kalau ketemu nanti. Jangan terlalu berlebihan jika benci." Ucap Papanya Juju dengan wajah jehilnya mengolok Juju.


"Iya bener kata Papa. Semalam saja Mama hampir di buat tidak percaya kalau itu Mas Aimu, Ju. Dia sopan sekali, juga sangat kharismatik persis Abinya." Timpal Mamanya Juju.


"Bodo amat." Ucap Juju acuh tak acuh.


"Papa jadi mikir deh, Ma. Emang sebenernya selama dua tahun tinggal bareng sama Fika, Juju sebegitu menderitanya yah.?"


"Enggak tahu Pa, seingat Mama sih. Juju yang enggak mau pulang dan ngintilin Mas Ainya terus." Kata Mamanya Juju sambil cekikikan menutup mulutnya.


"Itu karena kalian berdua yang sibuk." Bela Juju dengan kembali meninggikan suaranya ke arah kedua orang tuanya.


"Masak sih, perasaan setiap seminggu sekali Mama ngajak pulang, kamu selalunya nangis meraung raung dan nyampai rumah selalu badannya panas."


"Bener, sampai sampai harus pakai Sarung punya Mas Aimu itu untuk selimut baru bisa tidur." Timpal Papanya Juju dengan tawa yang semakin melebar begitupun dengan Mamanya Juju, sementara orang yang berada di jok belakang mukanya tengah merah padam, ibarat Gunung Api siap menyemburkan lava pijarnya saat ini juga.

__ADS_1


"Tidak ingatkan Mama sama Papa terahir kali Juju pulang dari sana. Juju juga pernah hampir mati oleh orang itu." Semprot Juju dengan lantang dan membuat kedua orang tuanya langsung terdiam, bahkan Papanya Juju sampai menghentikan mobilnya secara mendadak dan langsung menoleh wajah putrinya yang tengah memerah menahan amarah.


Juju cukup memiliki kontrol emosi yang bagus, tapi Juju tidak akan bisa menahan emosinya, jika sudah menyangkut soal Mas Ainya, apa lagi saat kedua orang tuanya membahas soal perjodohannya dengan Mas Ainya beberapa bulan lalu. Juju semakin uring uringan tidak jelas, bahkan sampai hampir kabur lagi dengan mengajukan tugas jauh di luar kota yang terpencil, agar tidak perlu lagi bertemu dengan Mas Ainya.


Tapi, pada saat mengingat kembali, bahwa kemarahannya itu untuk Mas Ainya, lantas kenapa harus menghukum orang lain yang menyayanginya dengan menjuah dari mereka, itu sama saja dia juga menghukum dirinya sendiri.


Sunyi, tidak ada kata kata yang keluar dari mereka bertiga dan hanya terdengar suara ac dari mobil serta deburan ombak yang menghantam karang di luar sana. "Maafkan kami." Ucap Papanya Juju ahirnya, sambil berusaha mengelus kepala putrinya.


"Kami mengira kamu sudah melupakan peristiwa itu." Ujar Mamanya Juju. Ikut mengelus lengan Juju. "Kami tidak akan memaksa lagi. Ya sudah, ayo kita kembali saja, Pa." Lanjut Mamanya Juju.


"Tidak perlu, Ma. Kasihan Bunda Ikah pasti sudah menunggu, biar Juju jalan ke pantai sana saja." Ucap Juju sembari meraih tasnya dan beringsek membuka pintu mobil. "Nanti telefon saja kalau sudah mau pulang, Juju tunggu di warung kopi yang di pojok jalan sana. Salam buat Bunda juga Abi, nanti kalau Juju sudah siap pasti akan datang kesana." Lanjut Juju sembari menyalami tangan kedua orang tuanya.


Setelah menyalami tangan kedua orang tuanya Juju bergegas berjalan menuju ketepian pantai yang tidak begitu jauh dari jalan yang di lewatinya. Di hirupnya udara sebanyak banyaknya untuk memenuhi rongga dadanya, dan dihembuskan secara kasar saat ingatannya kembali di masa dia tengah berjuang berenang untuk sampai di pinggir kolam, sementara Mas Ai yang begitu di sayangnya hanya terus berdiri di samping kolam tanpa ada keingingan untuk menolongnya.


Seminggu di Rumah Sakit, tak sekalipun Mas Ainya menjenguknya atau sekedar untuk minta maaf karena telah membuat Darren boneka kelinci kesayangannya terjebur ke kolam mandi Kang Santri yang sampai saat ini tidak tahu diamna keberadana boneka itu. Dan mungkin karena itulah Juju menjadi membencinya, karena Mas Ainya tidak lagi perduli padanya dan malah pergi ke Pesantren tanpa pamit padanya juga, lantas hingga kini mereka tidak pernah bertemu lagi setelah selama 17 tahun berpisah.


"Aku benci kamu, Mas Ai..." Teriak Juju sembari mengentak hentakan kakinya dan terus berteriak sesukanya hingga kelelahan, lantas mendudukan dirinya di tepian pantai dengan cemberut dan mata yang melirik dengan expresi antara kesal, benci, tapi juga rindu.



🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara di tempat lain, Gus Ali terlihat terus mondar-mandir di depan lemarinya, hendak membukanya namun seperti ada sebuah keraguan yang begitu luar biasa di rasakan. Dan setelah melalui perdebatan yang sengit dengan hatinya, Gus Ali berlahan lahan membuka lemarinya sembari menutup matanya rapat rapat. Setelah hembusan nafas panjang juga dalam Gus Alipun membuka matanya dan tertegun untuk sesaat.


Sebuah boneka Kelinci dengan mata bulat lucunya dan telinga panjang bertali pita warna coklat muda menyita seluruh pandangan Gus Ali. "Darren." Ucap Gus Ali pelan lantas mengambil boneka kelinci tersebut dan membawanya serta ke meja belajar Gus Ali dan terus menadangnya hingga entah berapa lamanya.


Bagi Gus Ali kehadiran Juju di tengah keluarganya sangat membuatnya bahagia, meski setiap kali apa yang di lalukan Gus Ali terhadap Juju selalu membuat Juju menangis dan merengut kesal juga sekaligus akan mengomel dengan bibir tipisnya yang akan maju kedepan.Tapi, justru itulah yang membuat Gus Ali sangat menyukai Juju, karena bagi Gus Ali, Juju akan terlihat sangat manis saat sedang ngambek dan bibir tipis ranumnya semua maju kedepan, di sertai dengan matanya yang jernih bergerak gerak lucu.


Di masukin sarung, di kentutin, rambut kritingnya di buat mainan oleh Gus Ali sampai di sisir susah, sama sekali tidak membuat Juju merasa jera terus mengintili Gus Ali. Bahkan kemanapun Gus Ali pergi harus minta ijin dulu sama Juju, atau kalau perlu harus menghilang secara diam diam agar Juju tidak mengikutinya.


Namun, karena kejadian di kolam mandi Kang Santri yang membuat Gus Ali harus kehilangan sosok Juju yang sudah di anggap sebagai adiknya hingga 17 tahun berlalu, sekaligus menyisakan trauma yang hanya di ketahui oleh beberapa glintir orang saja.


Hembusan nafas Gus Ali semakin berat saja, saat mengingat kejadian terahir kali dan membuat semua orang salah mengira terhadapnya dan juga sekaligus Gus Ali segera di antar pergi ke Pesantren tanpa di beri kesempatan untuk menemui Juju sekedar minta maaf sekaligus pamitan. Dan hingga saat kini Darren masih berada di tangan Gus Ali, tanpa bisa mengembalikannya kepada Juju.


"Mas.." Suara lembut Bunda Ikah menyadarkan Gus Ali dari lamunannya dan dengan segera menoleh ke arah pintu dimana Bunda Ikah sedang melongakan kepalanya disana.


"Enggeh, Nda." Jawab Gus Ali pelan sembari menyembunyikan boneka yang tidak terlalu besar itu di belakang punggungnya.


"Bunda boleh masuk." Ucap Bunda Ikah.


Gus Ali mengulas senyumannya. "Tentu saja, Nda." Jawab Gus Ali sambil berdiri dan setengah duduk di meja belajarnya agar Darren tidak terlihat oleh Bunda Ikah. Karena menurut Gus Ali olokan semalam ketika sedang bertemu dengan orang tua Juju sudah sangat cukup.


"Apa Mas Ali sedang sibuk." Kata Bunda Ikah lagi, saat sudah berada di depan Gus Ali.


Gus Ali melebarkan lengkungan di bibirnya, lantas meraih Bunda Ikah dalam dekapannya. "Ali merasa ada rayuan yang akan membuat Ali delima." Ucap Gus Ali.

__ADS_1


"Cepat sekali ke tebaknya." Ucap Bunda Ikah mengurai pelukan putrnya dan memandangnya lekat untuk sesaat dengan tangannya mengulur menyusuri wajah bersih putranya sembari tersenyum tipis. "Di tunggu Abi di Perpustakaan." Lanjut Bunda Ikah.


"Jadi rayuannya langsung menggunakan jurus dari Abi." Jawab Gus Ali dengan mengajak Bunda Ikah menjauh dari meja belajarnya dengan merangkul bahu Bunda Ikah untuk memastikan Bunda Ikah tidak melihat boneka di atas meja belajarnya.


Dan terus saja Gus Ali merangkul Bunda Ikah, hingga sampai di Perpustakan pribadi Abi Farid, dimana Abi Farid tengah duduk dengan kitab berada di tangannya. Gus Ali tetap merangkul Bunda Ikah sampai duduk di hadapan Abi Farid, dan berhasil membuat Abi Farid berdecak dengan senyum yang melengkungi bibirnya.


"Baiklah Abi di duakan." Ucap Abi Farid sembari meletakan kitab di atas meja di samping beliau tengah duduk. Ucapan Abi Farid barusan berhasil membuat Gus Ali semakin memindahkan tangannya yang semula berada di bahu Bunda Ikah melingkar di pinggang Bunda Ikah dengan over protectif.


Obrolan hangat terjalin dalam keharmonisan sebuah rumah tangga, dan semua mengalir begitu saja karena pembicaraan di giring begitu hangat oleh Abi Farid juga Bunda Ikah, hingga tanpa sadar Gus Ali sudah terjebak dalam pembicaraan yang sesungguhnya mengarah ke arah yang serius tanpa merasa tertekan sebelumnya.


Jika, biasanya Gus Ali akan menolak membicarkan soal pernikahan yang ujung ujungnya adalah ke perjodohan. Tapi, kali ini memilih menyampaikan pendapatnya saat Abi Farid mulai menyingung tentang perjodahan Gus Ali dengan salah satu teman Bunda Ikah.


"Apa ini mutlak harus Ali lakukan, atau Ali punya opsi lain. Semisal memilih sendiri gadis pilihan Ali." Ucap Gus Ali santai, dan membuat orang tuanya saling pandang untuk sejenak lantas memandang Gus Ali dengan lekat.


"Mas punya pilihan lain, kalau begitu bawa kesini kenalkan sama Bunda juga Abi." Ucap Bunda Ikah dengan menatap Gus Ali dengan lekat.


"Asalkan dia memiliki keunggulan kenapa tidak, bukan begitu, Nda." Timpal Abi Farid.


"Tapi, Bunda inginnya Juju yang. Ups." Bunda Ikah langsung memutup mulutnya begitu melihat wajah Gus Ali yang tadinya santai berubah sedikit menegang mendengar nama Juju di sebut sebagai seseorang yang hendak di jodohkan untuknya.


Dan membaca keterkejutan Gus Ali, Abi Farid segera menyampaikan alasannya juga sekaligus mengemukakan jika Gus Ali tidak harus terbebani dengan keingian kedua orang tuanya, jika Gus Ali memang memiliki pilihan sendiri untuk masa depannya.


"Beri waktu Ali dua tahun, jika selama kurun waktu dua tahun Ali belum mengajak Abi juga Bunda untuk mengkhitbah gadis pilihan Ali, perjodahan dengan Juju bisa di teruskan." Jawab Gus Ali memberi ketegasan akan keinginan orang tuanya.


"Itu bisa di terima Bunda.?" Tanya Abi Farid kepada Bunda Ikah.


Bunda Ikah tersenyum tipis, kemudian menatap kedua laki laki terkasih dalam hidupnya. "Tidak masalah. Juju juga belum bisa di bujuk, juga masih harus melaksanakan tugasanya. Dan selama dua tahun kedepan Bunda akan merayu kepada pemilik hati, untuk jodoh terbaik bagi Putra Bunda." Jawab Bunda Ikah sembari membelai lembut tangan Gus Ali.


Ada kelegaan dari helaan nafas dari ketiganya, dan kembali berbincangan hangat terjalin meninggalkan tentang perjodohan. Tapi, menggiring perasaan Gus Ali pada sebuah rasa rindu, sekaligus rasa bersalah yang begitu hebatnya. Dan apa yang paling menyebalkan yang di sembunyikan atas kata RINDU, selain daripada ocehan masa depan juga sekaligus keingian bertemu dengan yang di rindukan.


Bersambung...


####


Kok mulai mumet saya nulisnya. Sama sama enggak mau di jodohkan, tapi juga enggak nolak..🤔🤔🤔


Benci tapi cinta, Cinta tapi benci mengakui rindu. 😅😅😅😅😅


Like, Coment dan Votenya masih di tunggu yah...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2