
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Burung burung berterbangan kesana kemari hendak kembali ke sarangnya saat langit sudah mulai menjingga, suara kicaunya membawa kabar bahwa langit akan segera berubah warna menjadi gelap seiring dengan bergesernya sang surya yang hendak kembali ke peraduan dan meninggalkan dunia dalam kegelapan malam yang hanya bersinarkan rembulan.
Nuril juga sudah bersiap dengan tas kecilnya untuk kembali le Kostannya, setelah mengajar yang menjadi tugas kesekian kalinya setelah dirinya menganggalkan seragam Coklatnya setiap harinya. Tidak banyak yang tahu memang bahwa dirinya mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik setelah profesi bahaya yang di gelutinya. Itu hanya terbatas beberapa keluarga saja yang tahu.
Tapi, hari ini. Kedatangan Ustadz Salmannya ke tempat Nuril berbagi Ilmu, membuat Nuril tidak bisa menyembunyikan lagi tentang dirinya, ketika ketua Takmir yang tanpa tedeng aling aling malah memperkenalkan Nuril dengan beberapa rahasia yang selalu Nuril sembunyikan dari rekan sejawatnya, terlebih kepada Ustadz Salman.
Inginnya Nuril memotong percakapan itu, namun lidahnya langsung kelu begitu saja, saat tatapan matanya jatuh pada sepasang kaki putih bersih yang berada di depannya. Dan debaran di dadanya begitu menyebalkan, hingga kegugupan tidak bisa di abaikan begitu saja. Alih alih ingin bertanya mengenai ucapan Ustadz Salman sebelum Nuril terluka, untuk menatap reaksi wajah seseorang yang berada di depannya saja Nuril tidak sanggup.
Hingga Nuril pergipun, tanya tentang maksud ucapan Ustadz Salman sebelum terluka tidak bisa keluar dari bibir Nuril. Dan harusnya seperti apa hubungan ini, meski dengan jelas Nuril tau, bahwa dirinya tidak bisa menjalin komitmen untuk saat ini. Namun, jika Ustadz Salman memberi kejelasan tentang maksud ucapannya dan mau menunggu dirinya untuk satu tahun ke depan, jelas Nuril akan bersemangat untuk itu.
Nuril berjalan pelan dengan tas slempang yang mengantung di pundak kirinya. Meninggalkan halaman luas Masjid dengan tatapan penuh harap pada motor Vespa yang masih terparkir di tempatnya. Itu menandakan bahwa sang pengendara masih berada di tempat ini.
Langkah Nuril berlahan menjauh dari gerbang Masjid dengan pikiran yang di angapnya muluk untuk dirinya. Karena mengharpakan seseorang yang tidak memberikan kepastian bagi dirinya. Tidak gampang memang bagi seorang pria, terlebih pria yang sudah dewasa untuk menentukan sikapnya. Terlebih untuk seorang seperti Ustadz Salman. Nuril sadar betul akan hal itu.
Andia kata, orang tua Mas Ainya bukan sahabat baik kedua orang tuanya, juga sekaligus mereka tidak terlibat dalam janji, sudah barang tentu Nuril juga tidak akan menjadi pilihan untuk putra mereka.
Annasu bila hubba, kal laili bila najmi. Wal hubba bila qoidzi kal qahwati bila sukarin. Gumam Nuril pelan lantas melanjutkan jejak kakinya kembali ke tempat tinggalnya. Dan sepertinya keputusan Nuril kali ini harus di imbangi dengan kegiatan yang lebih banyak lagi, agar bisa melupakan perasaan bucinnya.
"Ipda Nuril." Langkah Nuril langsung terhenti mendengar namanya di serukan oleh eseorang yang baru saja memenuhi pikirannya. Ya Ustadz Salmanlah yang memanggilnya. Tubuh tinggi Ustadz Salman melangkah pelan, seperti gambaran slow motion dalam drama romantis, apa lagi berlatar belakang matahari yang tengah menjingga membuat seliet itu semakin mempesona di mata Nuril.
Dosa, dosa. Bisik pelan hati Nuril dan dengan cepat Nuril ingin menundukan kepalanya. Ahh, tapi dosa ini sangat indah, dan Nuril hanyalah wanita biasa yang tak lepas dari nafsu. Hingga bisikan syetan itu mampu menyesatkannya, dengan terus menatap lurus ke arah sosok laki laki yang telah lama menjadi idamannya.
Kain sarung Ustadz Salman melambai lambai seiring dengan pergerakannya menuju ke arah Nuril berdiri dengan kedua tangan saling menaut, sedangnya pipinya yang sedikit memerah di kembungkannya sehingga itu tampak sekali mengemaskan di mata Ustadz Salman. Kubah Masjid terlihat megah dengan cahaya matahari yang jatuh menimpanya, menjadi latar belakang yang sangat apik, selaras dengan gamis Nute yang tengah di pakai oleh Nuril.
Keduanya diam dalam cahaya senja dengan keromatisannya, andai itu tidak berada di pinggir jalan dan banyak lalu lalang anak anak yang tengah bermain sepeda. Namun, itu sama sekali tidak bisa menembus hati keduanya yang tengah di penuhi oleh rasa yang sesungguhnya sama.
__ADS_1
"Ipda Nuril." Kembali dua kata itu saja yang keluar dari bibir tebal Ustadz Salman, setelah melawan begitu banyak argumen dalam dirinya.
"Iya Ustadz Salman." Ahh, nyatanya gugub itu membuat orang benar benar menjadi kelu.
"Awas..!" Seru Ustadz Salman dan itu terlambat Nuril sadari hingga sepeda Gunung menabrak pelan tubuh Nuril. Tubuh Nuril terjerembab jatuh menatap pagar Masjid dan tas slempangnya luruh lantaran talinya putus tertarik besi pagar lantas membuat isinya berserakan tepat di bawah kaki Ustadz Salman.
Buku kecil berwarna hitam yang terbuka, membaut Nuril tidak bisa berkata kata, terlebih saat netra coklat milik Ustadz Salman juga ikut fokus menatap itu. Membuat Nuril semakin kehabisan oksigent untuk bernafas karena rasa malu yang begitu luar biasa di rasakannya.
Nuril sangat menyesali keputusannya membawa buku milik Salman A.Rnya kali ini.
Nuril segera berjongkok memunguti barang barangnya dengan cepat, namun saat tanganya terulur hendak menyentuh buku bersampul hitam itu, tangan besar Ustadz Salman lebih dulu telah menyentuhnya, hingga membuat Nuril menutup rapat matanya sembari menggigit bibir bawahnya dengan cemas.
Usai sudah. Lirih hati Nuril dan dengan tergesa gesa segera berdiri lantas berjalan dengan tergesa tanpa memerdulikan Ustadz Salman dengan pikiran mengenai dirinya yang telah berani menyimpan buku milik Ustadz Salman selama beberapa tahun ini. Ingin Nuril percaya bahwa Ustadz Salman tidak mengingat tentang buku kecil itu, tapi ketika mata Nuril menangkap kekagetan yang tergambar jelas di wajah Uatadz Salman membuat Nuril tidak berani untuk tetap berdiri di tempatnya.
Nuril semakin memacu langkahnya agar segera sampai di tempat tinggalnya, dan segera menyembunyikan dirinya dari rasa malu ini, tanpa menyadari bahwa Ustadz Salman mengejarnya setelah tersadar dari keterkejutannya.
"Ipda Nuril, Tunggu." Seruan itu tidak di indahkan oleh Nuril dan memilih mempercepat langkahnya dengan pikiran yang campur baur jadi satu. Dan di dominasi tasa malu yang begitu luar biasanya.
Tidak ada yang salah memang, bahkan jatuh cinta juga tidak dosa dan itu juga manusiawi. Dan tidak ada salahnya juga jika wanita jatuh cinta lebih dulu kepada Laki laki. Bahkan Sayidatinna Khadijah juga jatuh cinta leboh dulu kepada Baginda Nabi, juga melamarnya lebih dulu. Tapi, dalam hal ini Nuril tidaklah seperti Sayidatinna Khadijah, Nuril hanya wanita biasa.
"Ipda Nuril tunggu, dengarkan saya bicara lebih dulu." Tubuh tinggi Ustadz Salman sudah berdiri menjulang di depan Nuril, sehingga mau tidak mau Nuril menghentikan langkahnya dan menunduk semakin dalam.
"Maaf kan saya." Lirih Nuril di sisa sisa keberaniannya.
"Tidak, tidak ada yang perlu di maafkan. Itu sepadan dengan apa yang saya lakukan beberapa tahun lalu. Salah satu barang sampean juga ada pada saya." Jawaban itu sontak membuat Nuril semakin menunduk dengan tanda tanya besar di kepalanya. Tapi, alih alih ingin bertanya soal itu, justru Nuril semakin menunduk tak kuasa mencari kebenaran lewat mata Ustadz Salman.
"Ini tidak elok di pandang orang. Saya tunggu sampean besok di Panti Jompo tempat kita pernah bertemu dulu, tepat setelah sampean usai tugas esok." Ucap Ustadz Salman dengan nada rendah namun cukup membuat dada Nuril memacu darah menuju saraf sarafnya lebih cepat.
Di balik kepala Nuril yang tertunduk mata Nuril menangkap tangan bersih Ustadz Salman terulur memberikan buku bersampul hitam yang sesungguhnya adalah milik Ustadz Salman. Perlahan tangan Nurilpun terulur menerima buku itu dengan bergetar.
__ADS_1
"Zuyyina lin naasi hubbusy syahawaati minan nisaa'i wal baniina, wal qonatiiri muqantarati, minaz zahabi wal fiddati, wal khailil musawwamati, wal an'aami', wal hars, dzaalika mataa'ul hayatid dun yaa, walla'ahu indahuu husnul ma'aab." Seketika Nuril mengangkat kepalanya dan mendapati senyum samar Ustadz Salman setelah mengucapkan itu.
Dan tanpa berani menjawabnya Nuril berbalik dan segera berlari kecil dengan perasaan yang membuncah bahagia dengan pipi yang merona sempurna, karena dirinya telah mendapati jawaban atas tanyanya juga sekaligus jawaban atas kepastiaan perasaannya. Dan itu sangat manis dirasa Nuril.
Tak perduli akan seperti apa kedepannya, yang pasti saat ini perasaan Nuril tidak berahir seorang diri seperti yang selalu di khawatirkannya. Karena Salman A.Rnya memberi alasan yang tepat untuk rasa indah itu tetap singgah di hatinya. Dan akan seperti apa itu kedepannya, biarlah itu menjadi takdir yang selalu di minta Nuril dalam setiap do'anya. Menjadikan Salman A.Rnya Imam juga sekaligus alasan untuk Ibadah.
.
.
.
.
.
Bersambung...
####
Gus Ali nopo tho niku wau artine, kok Mbak Nuril mesam mesem piyambak. Kan Emak jadi kepo..
Surah Ali Imran, ayat 14
Jangan lupa Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
By: Ariz kopi
@maydina862