Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Ujian Ikhlas


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Mas Ai, Mas Ai. Tolong Juju, tolong Juju Mas Ai. Juju tidak bisa berenang." Tangan kecil Juju melambai lambai di tengah kolam mandi Kang Santri di sertai dengan kepalanya keluar dan masuk lagi ke permukaan kolam.


"Mas Ai, Ai." Gus Ali mencoba bangkit dari tempatnya terduduk syok melihat tubuh kecil Juju yang sudah mulai tenggelam. Namun, tubuh Gus Ali seperti terikat oleh beberapa tali dan hanya bisa terus duduk tanpa bisa menolong gadis kecilnya dari dalam kolam sehingga tubuh kecil itu tenggelam lantas di angkat oleh Kang Santri sudah membiru.


"Huh, Kolam cuma sejengkal saja bisa tenggelam." Suasana cepat berubah dalam waterpark dan Gus Ali bukan lagi anak laki laki, melainkan sudah remaja laki laki. Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh air kolam, dan Gus Alipun hingga merasakan nafasnya tersengal sengal. Di tengah nafasnya yang terus tersengal itu Gus Ali masih terkesima oleh seorang gadis yang tengah tersenyum manis di kala Gus Ali membuka matanya.


Senyum itu terus mengiringi perjalan singkat Gus Ali, hingga sampai pada sebuah telaga yang di penuhi oleh Bunga Teratai. Teratai bermekaran menyongsong matahari, dan dari sekian banyak Teratai yang bermekaran ada satu tangkai Teratai berwarna putih bersih tepat di tengah tengah telaga itu.


Bunganya jauh meninggalkan daunnya dan tumbuh tinggi di antara sekian banyak bunga lainnya. Tidak jauh dari tempatnya berada, terdapat sampan kayu dan duduk seorang wanita yang sedang bersusah payah mendayung sampan tersebut. Gus Ali memicingkan matanya untuk melihat wajah si gadis yang berkhimar blue ice tersebut.


Khimarnya melambai lambai di terpa angin pagi, dan semakin susah untuk menilik wajah gadis itu lantaran sinar matahari yang jatuh di telaga membiaskan cahaya ke wajahnya yang bercahaya. Suara suara burung, serta hewan hewan lain yang menyambut pagi tetiba berhenti, tatkala sebuah suara lantunan lembut ayat ayat suci ikut menyeruak seiring dengan semakin dekatnya sampan tersebut mendekat ke arah Gus Ali.


Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar, dan berangsur angsur cahaya yang bersinar di wajah gadis itu memudar hingga terlihat jelas bibirnya yang tengah merapalkan ayat ayat yang mampu membuat Gus Ali merinding di buatnya. Dan perlahan lahan Gus Ali mengikuti lantunan ayat demi ayatnya sembari terus menatap si gadis yang sudah semakin dekat dengan bunga Teratai warna putih tersebut.


Bacaannya berhenti, seiring dengan tangan putih si gadis yang terulur hendak memetik bunga tersebut. Berulang ulang tangan putih ramping itu mencoba meraih bunga tersebut, namun bunga itu seolah bisa berpindah tempat dan semakin mendekat dan mendekat ke arah pinggiran dimana Gus Ali berdiri mengawasi si gadis.


Nafas Gus Ali, kembali sedikit sesak tatkala di lihatnya, sampan yang di naiki oleh si gadis misterius bergolak dan hampir saja menjatuhkan tubuh semampainya ke dalam telaga. Dan Gus Ali ikut tersenyum tipis meninggalkan sesaknya saat tangan ramping si gadis berhasil maraih bunga tersebut, dan terlihat senyum merekah di bibir tipisnya.


Gus Ali seperti mengenali senyum si gadis, dan terus menerus mengucek ucek matanya, agar cahaya yang silau itu menghilang. Dan benar saja, saat cahaya itu benar benar menghilang, Gus Ali dapat mengenali siapa gadis tersebut.


"Ipda Nuril." Gumam Gus Ali pelan. Tapi, gumaman Gus Ali seolah sebuah panggilan untuk si gadis dan seketika gadis itu menoleh ke arah Gus Ali dengan ulasan senyum manis yang terbingkai sempurna di bibirnya. Kelembutan serta keangungan yang tadi sempat di lihat oleh Gus Ali, seketika sirna saat Ipda Nuril mengerlingkan matanya ke arah Gus Ali. Itu membuat Ipda Nuril terlihat manja dan menggemaskan.

__ADS_1


Gus Ali baru hendak membalas kerlingan itu dengan sebuah senyuman, namun seketika tertambat begitu saja, lantaran telaga yang tadinya tenang tiba tiba beriak dan berombak hingga membuat sampan dari Ipda Nuril bergeming dan seketika membalik.


Tubuh semampai Ipda Nuril, terjun bebas ke telaga dan melambai lambai meminta pertolongan ke arah Gus Ali yang terpaku. "Mas Ai, Mas Ai. Tolong Juju, tolong Juju. Juju tidak bisa berenang." Seketika tubuh Gus Ali lemas dengan keringat dingin mengucur di sekujur tububnya, namun sama sekali tubuhnya tidak bisa bergeming dari tempatnya, dan terus bergumam memanggil dua nama bergantian.


"Juju, maafkan Mas Ai. Maaf. Maaf." Kata Gus Ali hingga dirinya terbangun dari tidurnya dengan keringat memenuhi sekujur tubuhnya. "Astaghfirlloh, ternyata mimipi." Ucap Gus Ali segera duduk dari tempatnya tidur dan meraup wajah dengan kedua tangannya sembari terus beristighfar pelan hingga benar benar hatinya merasa tenang.


Di tolehnya jam wakker yang berada di dekat tempat tidur Gus Ali, disana menunjukan pukul 02.55. Gus Alipun langsung beranjak dari tempatnya dan menuju kamar mandi.


Butiran air membasahi wajah putih bersihnya, dan dengan tenang tangannya sudah mengayun ke udara mengucap takbirotul ikhrom lantas khusyuk dengan sujud panjangnya untuk meminta petunjuk atas apa yang sedang membingungkan niatan yang sesungguhnya baik itu. Usai dengan salam terahirnya, Gus Ali masih khusyuk bercinta dengan tasbih yang terus berputar di tangannya hingga dirinya yakin dengan sendirinya, bahwa apa yang di pilih oleh orang tuanya adalah yang terbaik bagi dirinya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Waktu beralalu dengan cepatnya, tidak terasa seperti baru kemarin Gus Ali bertemu dan berbincang hangat dengan Ipda Nuril. Namun, saat ini sangat terasa jika semuanya terasa sangat jauh untuk di dekati. Bukan tanpa alasan, jika Gus Ali tidak ingin memperjuangkan rasanya, hanya saja ada beberapa pertimbangan yang membuat Gus Ali tetap diam.


Pertama-tama, lantaran penjelasan dari Pak Ari, bahwa untuk Polisi yang yang baru menggemban tugas tidak di perbolehkan menjalin hubungan selama masa bakti dua tahun. Sementara bagi Gus Ali, hubungan itu tidak untuk main main, apa lagi sekedar pacaran san pacaran sini. Jadi Gus Ali, memilih diam karena untuk kenyamanan orang yang disukai itu sendiri. Gus Ali tidak ingin menjadi alasan tidak tercapainya cita cita seseorang, lantaran keegoisan dirinya.


Ketiga, karena drama ponsel yang tertukar waktu itu, sehingga membuat Abi juga Bunda Gus Ali memutuskan untuk segera mempertemukan Gus Ali dengan Juju, meski sebelumnya mereka sudah setuju untuk menangguhkan perjodohan ini, hingga Gus Ali memperkenalkan gadis pilihannya.


Namun, seolah terhipnotis dengan persiapan pernikahan Mas Naufal, hingga membuat Bunda Ikah memutuskan sepihak jika pertunangan akan di laksankan pada hari minggu tepat sehari acara di Rumah Mas Naufal selesai di gelar.


Miris memang, melihat seseorang yang kita inginkan untuk menjadi pelabuhan terahir, menemani dalam kehusyukan ibadah dan bersama menikmati hari. Namun, sama sekali tidak dapat berbuat apa apa selain dari mendukung teman kita sendiri untuk mendekatinya.


Dan malam ini, sebelum berangkat untuk pulang ke Banyuwangi. Gus Ali, menyaksikan sendiri bagaimana Iptu Jonathan melancarkan aksinya mendekati Ipda Nuril, meski hanya di tanggapi datas saja oleh Ipda Nuril. Tidak nyaman di hati, jelas saja itu di rasakan oleh Gus Ali. Namun, Gus Ali tidak bisa berbuat apa apa, lantaran ada hal lain yang hanya bisa di rencanakan saja olehnya, dan Allah yang punya andil penuh atas apa yang dia rencanakan.


Kaca mata renang, kontak Ponsel, sekarang botol minum, ada dalam tangana Gus Ali. Namun, Gus Ali tidak dapat berbuat lebih selain hanya terus menatapnya. Karena, jika Gus Ali nekat menuruti hawa nafsunya maka tidak hanya satu dua orang yang mungkin akan kecewa dengan sikapnya, melainkan beberapa orang juga, termasuk dirinya juga, jika ternyata apa yang dirasa sebenarnya hanya di miliki oleh dirinya seorang.

__ADS_1


Jalan terbaik adalah hanya dengan menghindarinya, sejauh yang di bisa oleh Gus Ali. Namun, itu tidaklah seperti membalikan telapak tangan. Senyum tipis, suara tegas yang kadang juga lembut itu, benar benar membuat Gus Ali berusaha sangat keras untuk membuangnya dari ingatan juga otak Gus Ali. Apa lagi setiap kali berusaha untuk menghidar, seperti keduanya sengaja di pertemukan.


Malam ini, kembali senyum itu memenuhi pikiran Gus Ali, dan membautnya semakin bertanya dalam hati, apa gerangan yang membuat senyum di wajahnya terasa seperti menyimpan pedih di dalam matanya. Apa Gus Ali harus perdulu tentang itu. Inginnya tidak, hanya saja hati dan otaknya ber sahut sahutan sesukanya mencari kebenaran masing masing mengiringi perjalan kembali ke tanah kelahirannya melewati jalur pantura yang sepi di tengah malam seperti ini.


Mungkin saja jika Gus Ali mau berfikir egois, kunci utamanya ada pada Juju. Dan jika Juju masih sama seperti dulu yang Gus Ali kenal, maka akan mudah untuk mengajaknya untuk berkompromi agar menolak perjodohan ini. Namun, Gus Ali tidak akan berbuat sehina itu, karena jika kedua orang tuanya begitu yakin atas perjodohan ini, lantas alasan apa yang bisa di buat Gus Ali untuk menolak Ridho dari kedua orang tuanya.


Pilihannya tidak akan penting, yakinkan saja semuanya pada pemilik rahasia, dan dari sebagain besar rahasia dari manusia, hatilah hal yang paling misterius. Jika jodoh dia akan datang dengan sendirinya dengan cara yang di luar dugaan kita, meski kita hanya diam. Begitulah kata Gud Nayif memberi nasehat untuk Gus Ali waktu itu.


Dan pada ahirnya Gus Ali menyerah juga pada jawaban atas Istikharahnya dan akan menerima Juju sebagai jodoh terbaik di bawah Ridho dan restu kedua orangtuanya. Perkara nanti jika Juju yang menolak, berarti Allah masih memberikan kesempatan bagi Gus Ali untuk memulai semuanya kembali, dan mengejar sesuatu yang di damba oleh hatinya sebagai penenang Ibadahnya.


Mungkin kali inilah, Gus Ali memasuki tahapan ujian untuk Ikhlas. Yakni, ujian Ikhlas untuk tiba tiba berhenti dan meninggalkan sesuatu yang telah menetap di hati. Dan menitipkan segalanya hanya kepada Allah semata, agar segalanya nampak ringan dan terganti dengan hal yang berbahagia hingga sampai pada jannahnya...


Bersambung...


####


Kira kira gimana kalau mereka ketemu yah..🤔🤔🤔🤔🤔


Like, Koment dan Votenya di tunggu...


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2