
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Apa kamu sengaja mengundangku dengan pakaian itu, Ju." Suara berat Gus Ali sedikit serak. Serak yang membuat Nuril takut hanya sekedar untuk membalas tatapan Gus Ali. Kaki Nuril serasa terpaku di tempatnya, saat langkah langkah Gus Ali semakin mendekat ke arahnya.
"Lekas di pakai." Nuril mendongak dengan perasaan lega, saat Gus Ali menyodorkan sebuah paper bag kepadanya.
"Mukena..?" Gumam Nuril.
Gus Ali memicingkan matanya menatap Nuril yang tengah menggeledah isi dari paper bag yang di berikannya. "Dzuhur sudah lewat dari tadi, Ju. Kamu sendiri yang tidak ingin membawa baju ganti tadi."
Nuril menghela nafasnya pelan, menyesali kecerobohannya. Tapi, siapa juga yang menyangka akan mengalami insident seperti tadi di kolam. "Baiklah." Pelan Nuril dan langsung mengenakan mukena di tangannya.
Di kesibukan Nuril menyiapkan sajadah mereka berdua, terselip senyum Gus Ali yang misterius. Dan senyum itu lantas menghilang seiring dengan kegiatan Nuril selesai. Melangkah dengan pasti, Gus Ali mengambil posisinya. Mencurahkan cinta kepada pemilik cinta, lantas kalimah kalimah toyyibah terus berhamburan mengudara seiring dengan kedua bibir itu yang seirama menggaungkan kebesaran Allah dengan segala nama agungnya.
Usai dengan Dzikir panjang, Gus Ali bangkit terlebih dahulu sementara Nuril masih terpekur di tempatnya lengkap dengan mukenanya.
Menyurai rambut hitamnya, Gus Ali meletakkan peci di atas nakas. Dan mengamati Nuril dengan senyum jahilnya. Gus Ali tau, Nuril sedang dalam keadana delema. Dan, Gus Ali menikmati pemandangan itu. "Tidak ada rencana untuk membuka mukenamu, Ju.?"
Melirik sebentar ke arah Gus Ali, Nuril lantas mengerucutkan bibirnya. "Masih mau deres." Jawab singkat Nuril.
"Kalau begitu kemarilah. Aku ingin menyimaknya." Gus Ali menepuk nepuk sofa di sampingnya.
"Harus banget gitu.?"
Gus Ali tidak menjawabnya, hanya terus mengelus tempat di sampingnya. Nuril bangkit dari tempatnya dan berlahan menuju ke arah Gus Ali dan duduk tidak terlalu dekat dengan Gus Ali.
"Jangan jauh jauh, aku tidak mendengarnya nanti." Gus Ali meraih lengan Nuril dan menyeretnya pelan.
Nuril berdecak pelan. Bukan kesal oleh perlakuan Gus Ali, Nuril kesal dengan dadanya yang terus terusan berdetag hebat saat dirinya bersentuhan dengan Gus Ali.
"Ayo di mulai." Bisikan Gus Ali di telinga Nuril membuat Nuril tersentak. Kenapa harus berbisik juga, padahal bicara secara biasa saja juga bisa. Aih, dasar Gus Ali saja yang senang menggoda Nuril.
Setalah menelan salivanya susah payah, Nuril sudah mulai bermuroja'ah dengan santainya. Dan, tidak di sangka ini adalah cara paling indah bermuroja'ah dalam sejarah hidup Nuril. Di semak oleh Suaminya, sembari menikamti belaian belaian lembut di kepala Nuril.
__ADS_1
"Shadaqallahul adzim." Tutup Nuril setelah menyelesaikan satu juz yang cukup dirasa ngos ngosan. Ngos ngosan karena dada yang terus bermaraton oleh perlakuan manis Gus Ali.
"Bisa di lepas sekarang." Ucap Gus Ali sembari tangannya sudah menarik mukena Nuril pelan. Di tariknya kepala Nuril pelan oleh Gus Ali dan di sandarkan pada bahunya, sementara tangan Gus Ali terus mendekapnya dan sesekali meninggalkan jejak di ubun ubun Nuril.
"Kawah Ijen, sepertinya akan jadi tempat bagus untuk kita datangi, Ju." Ucap Gus Ali.
"Kenapa harus kesana.?" Tanya Nuril bingung.
"Karena kamu menyukai petualangan." Jawab singkat Gus Ali.
"Disini juga sudah menyenangkan."
Gus Ali terkekeh pelan. "Akan terlihat tidak bermodal jika hanya disini saja."
"Tidak apa apa, asal itu bersamamu." Grep, Nuril seketika merasakan lengan Gus Ali mengerat di bahunya begitu Nuril selesai dengan ucapannya.
"Kamu benar benar merayuku, Ju." Gus Ali memgangkat kepala Nuril dan menolehkan ke arahnya.
Nuril hanya bisa terus menunduk saat mata teduh Gus Ali terus menginvasi wajahnya yang memerah bak tomat dengan kematangan sempurna. Dan dada Nuril semakin menggila seiring dengan di angkatnya dagu Nuril hingga mata keduanya saling bertubrukan mengisi bayangan masing masing.
"Wa min ayatihi an khalaqa lakum min anfusikum azwajal litaskunu ilaihi wa ja ala bainakum mawaddataw wa rahmah, inna fi zalika la ayatil liqaumiy yatafakkarun." Nuril membelalakan matanya oleh bisikan Gus Ali. Dan Nuril memang harus mengakui bahwa Gus Ali sangat panda dalam mengambil moment.
"Cup." Satu kecupan mendarat mesra di ujung bibir Nuril dan itu sungguh sangat lembut sekali. "Aku tak ingin egois dengan meminta hak ku tanpa seijinmu. Dan aku tak ingin tergesa gesa karena kita sama sama tau, itu yang pertama untuk kita." Lanjut Gus Ali sembari menenggelamkan wajah Nuril yang tengah memerah dalam dekapannya.
Nuril hanya terus diam tanpa bisa berkata kata sembari menikmati irama dada Gus Ali yang juga membahana seperti dadanya. Ingin sekali tangan Nuril meraba bekas bibir Gus Ali yang menyisakan hangat di ujung bibirnya. Namun, tangan Nuril tak punya cukup nyali karena takut akan menghapus bekasnya disana.
Hingga beberapa waktu mereka terus tenggelam dalam kebisuan. Mencoba menetralkan dada masing masing dengan mengisi pikiran betapa indahnya kebersamaan mereka berdua, tidak ada sekat tanpa dosa justru mengahasilkan pahala dari setiap untaian kata yang merayu dan sentuhan lembut yang memuja.
"Sudah waktunya orang orang pulang, Ju. Apa kamu berniat mendominasiku disini." Melepas tangan yang melingkar di pinggang Gus Ali dengan kasar Nuril segera membelakangi Gus Ali.
"Sampean yang terus memeluk ku. Bukan aku." Ketus Nuril.
Gus Ali terkekeh sembari membujuk Nuril untuk menatap ke arahnya. Namun, Nuril cukup kekeh dengan sikapnya. Tak ingin melihat wajah Gus Ali. "Kalau kamu belum puas bisa di lanjutkan nanti sehabis Asar."
"Enggak perlu." Potong Nuril dengan cepat.
__ADS_1
Tangan Gus Ali meraba punggung Nuril pelan membuat Nuril mengelinjang kegelian. "Kecuali kalau kamu mau.. " Gus Ali menggantungkan kata katanya.
"Apa.?"
"Tidak apa apa." Jawab Gus Ali sembari mengusap tengkuknya salah tingkah seiring kembali berbaliknya Nuril dengan cepat. Gus Ali melirik jam yang menggantung di dinding kamarnya, lantas berdiri dengan cepat begitu menyadari jarum jam panjang sudah berada di angka enam sedangkan jarum pendek berada di antara angak dua belas dan satu.
"Aku harus segera menemui mereka, Ju. Kalau kamu mau masak untuk makan siang kamu bisa cari sayur sayur segar di ujung kebun dan untuk itu kamu harus menungguku." Ucap Gus Ali, dan Gus Ali sudah siap meninggalkan Nuril dengan wajah bingungnya tanpa bisa terucap tanya, karena Nuril terlalu bingung hendak memulai kata dari mana.
Gus Ali kembali berbalik begitu sudah hampir berada di depan pintu. "Kalau memilih istirahat untuk persiapan nanti malam juga boleh." Gus Ali semkin melebarkan senyumnya saat di lihat wajah Nuril yang semakin memerah oleh ucapannya. "Oh iya, ada beberapa lembar baju kamu di lemari sebelah kiri. Jangan terus menggunakan bajuku kalau kamu tak ingin aku menerkammu."
Gus Ali tertawa puas melihat expresi Nuril yang menganga tidak percaya dengan kejahilan Gus Ali. Kalau sudah tau baju Nuril ada disini, kenapa tidak memberi taukan Nuril dari awal. Dan pasti Gus Ali sengaja sekali melakukan itu untuk mengerjai Nuril. Hingga membuat Nuril geram setengah mati tanpa bisa berbuat apa apa selain terus menggumamkan namanya sembari meremas ujung kemeja yang di kenakannya hingga lecek tak karuan.
"Mas Ai, Mas Ai. Kenapa aku harus terjebak lagi olehmu. Tapi, aku suka."
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Like, Coment dan Votenya di tunggu.
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz Kopi
__ADS_1
@maydina862