Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Berasa Maluku Pindah Ke Jawa


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Embun embun yang menempel di rerumputan menggelapar menyentuh sol sepatu karet yang menghentak keras menapak ke tanah. Mentari juga masih malu malu menampakan sinarnya di ufuk timur untuk menghangatkan bumi, serta menerbangkan embun embun menjadi gas yang mengudara dalam proses penyubliman.


Kaki jenjang yang menapak di rerumputan itu berlarian seakan sedang mengejar perampok yang tengah membawa hasil curiaannya. Kecepatan lari di tengah lapangan hijau yang sudah berulang ulang di lakukannya membuat semua mata orang yang sedang joging mengarah penuh kagum, saat peluh demi peluh membasahi seluruh wajah dan jilbab warna tosca yang di kenakannya.


Raut cantiknya semakin terlihat cantik di pandang mata, saat raut manis itu sama sekali acuh dengan suasan sekitar yang semakin rame saat Matahari semakin meninggi. Tatapan matanya yang fokus dan lurus terlihat tidak sebanding dengan kelopak yang menghitam di area bawah matanya, tentu saja itu menandakan bahwa gadis manis itu sesungguhnya sedang kurang istirahat.


Dengan nafas yang ngos ngosan Nuril mengehentikan lariannya, dan membiarkan tubuhnya di peluk oleh rumput rumput hijau dengan harum khasnya ketika dirinya dengan seketika merebahkan tubuhnya disana.


Untuk beberapa menit semua masih terlihat normal di lihat semua orang. Namun, semua berubah heran ketika Nuril mulai menghentak hentakan kakinya dengan wajah sebal, dan perangai Nuril yang seperti itu tidak luput mengundang perhatian orang orang di sekitarnya. Hingga sampai ada yang mengira Nuril kesurupan. Dengan menahan malu, Nuril segera pergi dari tempatnya joging. Lantas berlarian kecil kembali ke rumahnya.


Jarak sepuluh kilo meter yang di tempuh Nuril untuk sampai ke rumahnya tidak berarti apa apa, karena hal semacam ini sudah sering sekali Nuril lakukan, apa lagi saat pelatihan selama tiga bulan yang di lalukannya beberapa bulan ini. Senjata laras panjang, Pistol dan benda benda tajam sudah akrap sekali bagi Nuril. Dan itu juga akan menjadi teman Nuril nantinya disana, mengingat dirinya akan bertugas di Negara yang tengah berkonflik.


Empat puluh lima menit, bertepatan dengan detikan jam di tangan Nuril mengubah posisi jarum jam berada sempurna di angka delapan, Nuril sudah berdiri di depan pintu gerbang rumah mewah orang tuanya, seperti janjinya pagi tadi sebelum berangkat joging. Dan langkah langkahnya yang tadinya lebar berubah memelan sembari tanganya mengelap keringat yang masih setia berada di wajahnya.


Wajah Nuril terlihat lebih menarik dengan rona rona merah yang menggaris di tulang pipi, hingga itu memberi kesan kontur alami di bagian wajah Nuril. Seksi, itulah nama yang patut di sematkan untuk wajah Nuril kali ini.


Setelah melepas sepatu yang di ajaknya sengsara beberapa saat tadi, Nuril melangkah terus masuk ke dalam rumah dan menemukan Papanya tengah duduk di sofa ruang tengah bersama dengan Mamanya. Senyum, Nuril seketika menyunging dan segera berlari lari kecil ke arah mereka yang tengah menikmati buah Mangga.


"Ihh, pacaran mulu." Ucap Nuril dengan langsung meraih tangan Mamanya yang hendak menyuap buah Mangga ke mulutnya.


"Wi, kamu itu enggak malu apa." Ucap Mama Nuril pelan, dan itu membuat Nuril memicingkan sebelah matanya ke arah Mamanya.


"Sama Papa, malu.?"Jawab Nuril kembali meraih garpu yang di gunakan Mamanya hendak menyuap. "Pa." Ucap Nuril dan dengan cepat sudah mendusel ke arah Papanya dengan manja.

__ADS_1


"Jauhan kamu bau keringat, Papa sudah mandi. Kamu buruan mandi sana." Ucap Papa Nuril dengan sudah mendorong tubuh Nuril agar menjauh.


"Tumben bener. Padahal biasanya Papa seneng banget kalau Uwi ndusel." Jawab Nuril dengan memainkan bibirnya.


"Wi, buruan mandi. Kasihan tamunya kebauan sama kamu." Bisik Mama Nuril pelan dan itu sama sekali tidak membuat Nuril bergeming dari tempatnya malah asik ngusel ngusel Papanya.


"Gini nih Gus, kalau di rumah, suka manja banget." Ucap Papa Nuril santai, hingga membuat Nuril mengikuti arah pandang Papanya ke arah sofa yang berada di sebrang Papa dan Mamanya bersamaan dengan suara lembut yang Nuril rindukan sekaligus membuat hati Nuril merasa sebal.


"Saya juga seperti itu kalau di rumah." Manik mata Nuril menagkap wajah seseorang yang semalam di hindarinya dengan alasan panggilan darurat. Dan sekarang, what. Apa yang di lakukannya pagi pagi di rumah Nuril. Ralat, rumah orang tua Nuril.


Dengan cepat Nuril bangkit dari tempatnya, dan Nuril sangat menyesali karena tidak memperhatikan situasi sekitar. Dengan putaran penuh, Nuril memutar tubuhnya lantas berjalan cepat menjauh dari ruang keluarga dengan wajah memerah sempurna.


"Wi, habis ini kita sarapan bareng." Nuril sama sekali tidak mengindahkan kalimat yang di ucapkan Mamanya, dan memilih meluncur dengan kecepatan penuh membawa rasa malu yang luar biasa di rasakannya.


Dan lain yang di rasakan oleh Gus Ali. Karena, Gus Ali justru merasa bunga bunga di hatinya kembali bermekaran saat melihat Nuril kembali seperti Juju masa kecilnya. Manja, pemalu, tapi juga cengeng tidak karuan. Gus Ali terus memandang punggung Nuril hingga menghilang di balik tanngga lantas mengulas senyumnya di balik kepalanya yang kini menunduk.


Ingin rasanya Nuril berlama lama di kamar mandi dan menghidari Si Kampret Sarungan. Tapi, perut Nuril sama sekali tidak ingin kompromi dan terus saja berbunyi, memberi kabar bahwa dirinya sudah tidak kuat kelaparan, secara semalam Nuril tidak menikmati makan malamnya. Juga harus bergadang karena terlalu kaget mengetahui kenyataan bahwa Ustadz Salmannya adalah Si Kampret Sarungan.


Ketukan ketukan pintu kamar Nuril yang selih berganti membuat Nuril menyerah dengan rasa malunya. Dan masih dengan perasaan dongkol Nuril membuka pintu kamarnya dan mendapati Mamanya yang tengah tersenyum penuh makna. Makna bahagia, makna merayunya juga sekaligus makna bangga karena Nuril kalah dengan bujukannya.


"Wi, ayo sudah di tunggu dari tadi juga." Ucap Mama Nuril begitu pintu terbuka.


"Ma, bisa enggak Uwi sarapan di kamar saja." Jawab Nuril, itu membuat Mama Nuril tertawa terbahak bahak.


"Sejak kapan kamu punya rasa malu kayak gini." Jawab Mama Nuril dengan langsung menarik tangan Nuril. "Tidak ada alasan, kalian perlu bicara." Lanjut Mama Nuril.


Nuril kehilangan semangatnya bertemu dengan menu sarapan paginya. Bukan karena sakit, terlalu berada dalam perasaan ambigu juga membuat seseorang kehilangan selara makannya. Apa lagi bagi Nuril, Ustadz Salmannya adalah seseorang yang di harapkannya, sedang Mas Ainya adalah seseorang yang di bencinya.

__ADS_1


Setipis apa bedanya benci dan cinta itu. Tidak ada yang bisa mengukur atau mengetahui kapan itu akan berubah ubah. Hanya saja Nuril jika di katagorikan, perasaan Nuril di antara satu orang dalam dua karakter yang berbeda adalah sama adanya, yakni cinta yang tak bersyarat.


Karena, sebenar benarnya cinta itu adalah saat benci juga berada dalam satu tirai yang sama. Namun, hati sama sekali tidak bisa berpaling dan melupakan apa yang sudah di lalui bersama sama biarpun itu kenangan yang tidak menyenangkan sekalipun.


Dan untuk Juju dan Mas Ai. Semua kenangan yang mereka lalui terus terpatri di benak masing masing, dan sama sekali tidak mengijinkan orang lain masuk ikut memberi warna bagi kenangan itu. Buktinya, ketika mereka sudah saling bertemu tidak ada niatan bagi keduanya membicarakan masa depan, justru stuck pada cerita masa lalu untuk merangkai masa depan.


.


.


.


.


.


Bersambung...


###


Besok kita ngobrol tetang sarung yah Mas Ai. Sekarang Emak mau bobok dulu. Sok yang mau ikut ngobrol soal sarung, kasih oret oret di bawah. Like, Coment dan Votenya jangan lupa..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi

__ADS_1


@maydina862


__ADS_2