
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Debu berterbangan di bawah sinar matahari yang panas menyengat, asap asap kendaraan bermotor di tambah dengan asap dari cerobong pabrik menambah panas kota Surabaya di saat Matahari tepat berada di atas kepala. Jauh di bawah panas matahari siang yang menyengat, pandangan Gus Ali meneduh di saat tatapan matanya jatuh pada seraut wajah manis yang ahir ahir ini sering memenuhi ruang di kepalanya.
Bukan tanpa sebab Gus Ali terus memikirkan sang Cahaya, karena nyatanya setelah sekian malam Gus Ali terus bersujud di sepertiga malam untuk mencari petunjuk, dan sang Cahayalah yang menjadi jawaban bagi Gus Ali. Sempat Gus Ali gamang akan hal itu, namun saat kedua orang tuanya memberinya kesempatan untuk itu, Gus Ali memupuk keyakinan dirinya untuk maju.
Sesungguhnya yang menjadi alasan mendasar bagi Gus Ali bukan sekedar itu saja. Melainkan bagaimana Gus Ali belajar dari kejadian dr.Rama. Juga dari kedua orang tuanya, Kakaknya, bahkan keluarga laninya, yang selalu mencurahkan rasa cinta dalam satu ikatan untuk alasan penenang ibadah.
Tapi, Gus Ali tidak ingin egois. Mengingat bahwa sang Cahayanya masih harus berjuang demi cita citanya, dan untuk itulah Gus Ali harus bersabar dan tak ingin menjadi alasan kegagalan Ipda Nuril. Ya, hanya dengan memandangnya dari jauh itu lebih dari cukup bagi Gus Ali.
Dan kali inilah dirinya benar benar di uji ketika matanya tidak ingin mengikuti hatinya, agar merendahkan tatapannya dari wajah yang tengah penuh peluh bercucuran. Justru pikiran liar juga ikut berseliweran dengan berandai andai jika saja tangan Gus Ali mampu terulur untuk menyapu peluh yang telah berani bertengger di hidung lancip dan pipi yang bersemu merah.
Ada hal yang tiba tiba membuat semangat Gus Ali semakin meningkat, saat Bang Jo mengatakan bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Ipda Nuril. Dan Bang Jo ingin memberinya kejutan dengan melibatkan Gus Ali sebagai kunci utama dalam kejutan yang di siapkannya. Tanpa sadar itu membawa sugesti tersendiri bagi Gus Ali untuk menjalani hari ini dengan senyum yang tak pernah legang di sudut bibirnya.
Setelah ikut mempersiapkan kejutan yang di buat Bang Jo. Gus Ali sangat sadar dengan apa yang tengah di lakukannya, bahkan saat kakinya di giring masuk ke dalam sebuah Mall untuk mencari kado yang tidak seorangpun tau, Gus Ali sadar sepenuhnya dengan itu. Bahkan bagaimana bingungnya Gus Ali memilih hadiah untuk Ipda Nuril juga di nikmatinya dengan senang hati sekaligus harap harap cemas, cemas saat nanti hadiahnya tidak di sukai oleh Ipda Nuril.
Setelah sejam lamanya, Gus Ali ahirnya melangkah keluar dari Mall dengan kotak kecil persegi panjang berada dalam kantongnya. Sesekali senyum tipis menghias bibir Gus Ali saat membayangkan expresi Ipda Nuril ketika menerima hadiah yang di pilih Gus Ali untuk dirinya.
Jam seakan berputar sangat lambat, hingga menunggu waktu setelah Isya' pun seperti menunggu bertahun tahun lamanya, dan jangan di tanya bagaimana Gus Ali yang mempersiapkan dirinya untuk malam ini agar terlihat sempurna. Sudah berulang ulang Gus Ali terus merapikan kemaja yang melekat di tubuhnya dan berkali kali pula Gus Ali menata rambutnya yang biasanya tertutup peci, namun kali ini di biarkannya terbuka.
Ada hasrat yang meluap seperti layaknya anak muda yang tengah jatuh cinta pertama kalinya, meski ini bukan yang pertama kali bagi Gus Ali. Karena bagi Gus Ali cinta pertamanya telah habis di curahkan seutuhnya untuk Bunda tercintannya. Namun, ini jauh lebih mendebarkan bagi Gus Ali, lantaran dirinya begitu peduli dengan apa yang di pikirkan seorang wanita terhadapnya. Dan inilah yang pertama bagi Gus Ali.
Gus Ali sudah hampir sampai di tempat yang di tuju, dan pompaan jantungnya semakin berirama dengan kuatnya saat di lihatnya Ipda Nuril tengah turun dari mobil Bang Jo. Namun, semua harus di pupuskan oleh Bang Jo yang meminta Gus Ali untuk mengambil kue yang sudah di pesan oleh Bang Jo, dengan dalih terlupa mengambilnya. Dan alhasil Gus Alipun memutar haluan untuk kembali ke tempat dimana Bang Jo memesan kue.
Senyum tipis Gus Ali kembali terukir, saat di perlihatkan kepadanya oleh pemilik toko kue, sebuah kue coklat berbentuk hati dengan dua buah cerry dia atasnya. Dan dengan langkah cepat Gus Alipun segera membawa kue ke tempat yang di tuju.
Gus Ali baru saja sampai di parkiran dan sedikit tergesa hendak masuk kedalam, hingga melupakan hadiah yang di siapkan untuk Ipda Nuril. Dan baru teringat dengan itu, saat Bang Jo sudah menemuinya di lantai bawah mengajaknya agar cepat naik ke atas. Semoga masih ada waktu nanti untuk memberikan kepadanya. Bisik hati kecil Gus Ali lantas berjalan mengikuti Bang Jo yang mengajaknya ke mini bar terlebih dulu.
"Saya bantu sampai di sini Mas Salman." Ucap Bang Jo dengan memberikan kue yang telah di buka dari kardusnya kepada Gus Ali.
__ADS_1
Untuk sesaat Gus Ali masih belum bisa mencerna ucapan Bang Jo, karena Gus Ali tidak pernah merasa memberi tahu perasaannya kepada orang lain kecuali orang tuanya. "Maksud, Bang Jo.?" Lepas juga tanya untuk Bang Jo.
Bang Jo tersenyum dengan gayanya dan untuk sesaat melipat tangannya di dadanya. "Tidak ada maksud apa apa, hanya saja saya cuma mengira ngira, dan insting saya tidak mungkin salah."
Wajah Gus Ali seketika memerah mendengar penuturan Bang Jo. "Apa begitu terlihat jelas, Bang Jo.?" Pelan suara Gus Ali keluar juga, dan tawa Bang Jo semakin melebar saja tatkala Gus Ali berucap sembari tertunduk.
"Hemm, tidak terlalu mencolok, andai saya tidak melihat kejadian di kebun Buah waktu itu." Jawaban dari Bang Jo semakin membuat wajah Gus Ali memerah lantaran malu. Malu, karena perasaan sukanya dapat terbaca oleh orang lain. Malu lantaran cintanya telah begitu memabukannya hingga membuat dirinya buta.
Apa lagi saat Gus Ali semakin mendekat dan senyum yang terarah kepadanya tersungging lain dari biasanya, sunggingan itu benar benar membuat dada Gus Ali ingin meledak. Betapa tidak, karena baru kali inilah Gus Ali melihat Ipda Nurilnya lain dari biasanya. Ipda Nuril terlihat seperti seorang gadis yang manja dan itu sungguh expresi yang sangat menggemaskan apa lagi saat pipinya di buat mengembung dengan bibir berkerucut, membuat Gus Ali berdebat hebat dengan hatinya, mengingatkan bahwa itu belum halal baginya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Audio yang mengalun lembut di mobil, menjadi satu satunya suara yang memecah kesuyian di antara kedua insan yang sesungguhnya tengah di sibukan dengan pikiran masing masing. Keduanya sama sama diam dalam kecanggungan, menikamati debaran di dada masing masing.
Lidah keduanya juga seakan ikut kelu, meski sesekali keduanya melirik untuk memastikan bahwa mereka benar benar tengah berada dalam satu mobil yang sama. Begitu banyak tanya yang ingin sekali mereka rangkai, namun semau hanya berhenti begitu saja dalam benak masing masing, dan justru Gus Ali mengurai kegugupannya dengan mengulang deresannya, yang tanpa di sadari itu di ikuti oleh Ipda Nuril yang terus memperhatikan gerak bibir Gus Ali lewat keremangan.
Sisi setan dalam diri Gus Ali merutuki dirinya yang hanya bisa diam saja. Padahal Bang Jo sengaja memberinya kesempatan agar Gus Ali bisa berdua dengan Ipda Nuril, dengan sengaja menyuruh Gus Ali mengantar Ipda Nuril dan teman teman yang berlawanan arah. Namun, semuanya sia sia belaka, karena nyatanya Gus Ali hanya bisa diam di depan Ipda Nuril. Begitupun dengan Ipda Nuril. Ipda Nuril juga hanya bisa diam saja, sehingga membuat Gu Ali bertanya tanya sendiri dalam hati.
Hadiah yang di pilih oleh Gus Ali sudah berada di tangan Ipda Nuril, dan entah kenapa hanya untuk beranjak pergi rasanya begitu berat bagi Gus Ali, dengan usaha sangat keras untuk mengalahkan hawa nafsunya Gus Alipun melangkah meninggalkan Ipda Nuril yang masih satia memperhatikan Gus Ali sembari melambaikan tangannya.
"Racun, itu adalah racun." Ucap Gus Ali ketika mobilnya sudah melaju meninggalkan Ipda Nuril yang semakin mengecil di belakang dan terus meninggalkan bayangan senyum Ipda Nuril yang semakin jelas di kepala Gus Ali.
Gus Ali sudah hampir sampai di depan gerbang Pesantren, saat mata Gus Ali menangkap sebuah paper bag tergeletak di tempat Ipda Nuril duduk tadi. Dengan gerakan cepat Gus Ali menepikan mobilnya dan meraih paper bag itu lantas memeriksanya.
Gus Ali mematikan mobilnya, lantas melirik jam di tangannya. 22.25 WIB. Gus Ali masih bingung dengan pikirannya, antara memilih mengantarkan barang yang tertinggal itu besok ataukah hari ini saja. Jika besok, bukankah itu justru menjadi kebetulan lagi bagi Gus Ali. Namun, itu pasti akan menganggu kegiatan Ipda Nuril, mengingat Gus Ali sudah berjanji bahwa cintanya tidak akan menganggu cita cita Ipda Nuril.
Ahrinya setelah berfikir sejenak, Gus Alipun menimang nimang ponsel di tangannya. Dan entah kenapa foto profil sebuah bunga kaktus itu masih saja terus Gus Ali pandangi, hingga Gus Ali sadar bahwa disana sendang Online. Gus Ali sudah berusaha memeras otaknya untuk menulis kalimat panjang untuk Ipda Nuril, namun setelah sekian menit berlalu hanya kata salam sajalah yang mampu Gus Ali tulis.
Dan entah karena dorongan setan, atau memang cinta membuat orang lemah menjadi kuat dan orang pintar menjadi bodoh, sehingga Gus Ali memilih memutar balik mobilnya tanpa melihat lagi ponselnya. Baru setelah Gus Ali sudah berada di jalan raya depan gang masuk kost kostan Ipda Nuril, Gus Alipun meraih ponselnya dan melihat balasan Ipda Nuril yang membuat Gus Ali tersenyum puas.
Hati itu memang selalu meminta lebih dari apa yang telah di beri, oleh karena itulah Gus Ali berada di gang sini dengan ponsel tertempel di telinganya mencoba menghubungi Ipda Nuril yang masih Online, namun tidak menjawab panggilan yang di buat Gus Ali, hingga membuat Gus Ali semakin berani melangkah semakin masuk ke dalam gang itu hingga dirinya di buat tidak berdaya berpaling dari sosok Ipda Nuril yang terlihat menawan dengan pakaian dinasnya. Meski itu membuat Ipda Nuril jauh berbeda dengan Ipda Nuril yang sore tadi.
__ADS_1
Obrolan basa basi memecah kecanggungan keduanya, hingga sebuah panggilan yang di terima Ipda Nuril membuat Gus Ali harus rela melepas Ipda Nuril pergi, meski tidak ada alasan apa apa untuk meminta Ipda Nuril tetap tinggal.
Punggung Ipda Nuril yang berbalut baju Dinas pres body melenggang pergi meninggalkan Gus Ali, dan itu membuat perdebatan sengit antara Gus Ali dan hatinya. Di tambah bayangan dr.Rama yang kehilangan Mbak Lala memenuhi sisi lemah dirinya yang tahluk akan hawa nafsu. Sehingga dengan tergesa Gus Ali menyusul Ipda Nuril yang melenggang menyongsong bahaya atas nama tugas Negara.
Gus Ali telah benar benar kalah dengan cintanya, hingga Gus Ali melupakan bahwa cinta tidak akan egois hanya dengan memikirkan kebahagiaan bagi dirinya seorang, bahwa cinta tidak untuk memberhentikan cita cita orang yang di cintanya. Dan apa yang di lakukan sekarang oleh Gus Ali benar benar suatu kelemahan yang hakiki, karena cintanya tidak memberikan kebebasan melainkan sebuah pengikat dengan menyuruh orang yang di cintainya memikirkan perasaannya.
Harusnya cinta tidak egois, harusnya Gus Ali tidak segegah ini dengan hanya memikirkan bahwa tidak ada kesempatan lain yang akan terjadi. Harusnya Gus Ali tidak sebegitu takutnya kehilangan Ipda Nuril, hanya karena membayangkan dirinya yang berada dalam posisi dr.Rama. Harusnya Gus Ali memikirkan perasaan Ipda Nuril juga, yang kebayakan perempuan ingin di hormati dengan perasaan yang berlimpah dengan datang kepada orang tuanya, bukan di jalan seperti yang di lakuakn Gus Ali. Cukup benarkah cinta seperti ini, karena cinta tidak egois.
.
.
.
.
.
Bersambung...
###
Waduh waduh, Gus Ali pripun tho. Besok tanya tanya dulu sama Abi Farid dulu yah..
Like, Koment dan Votenya masih selalu do tungggu yah..
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
__ADS_1
@maydina862