Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Ternyata dia.


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Seorang laki laki itu, yang di pegang adalah sikapnya bukan hanya sekedar rangkaian kata kata manis belaka. Setiap seseorang akan berada di fase memilih dan menentukan. Tapi, jika Allah sudah menetapkannya, tidak akan bisa lari kemana mana." Ucapan Pakde Hanan terus berputar putar di otak Gus Ali, hingga malam semakin larut dan memeluk gelap dengan dingin khas pegunungan.


Irama irama binatang malam juga menambah syahdu malam yang membingungkan bagi Gus Ali, dan tidak akan ada tempat mengadu, meminta petunjuk, yang lebih benar dari pada menghadap kepada pemilik hati dan pemilik sekenario itu sendiri. Karena, sejatinya tidak ada cara yang lebih indah lagi untuk mendekati hati seseorang, selain dari mendekatkan hati yang lemah ini kepada pemilik hati.


Sudah berpuluh puluh kali tasbih di tangan Gus Ali berputar, seperti sebuah roda yang terus menerus bergelinding menuju ke tujuannya. Dan, di setiap dari bibir yang bermunajad itu meminta petunjuk atas kebimbangan hati yang melanda. Hingga, membawa tanya tanya itu membelah malam menuju langit tinggi disana.


Putaran tasbih Gus Ali seketika berhenti tatkala sebuah firasat dirasakannya. "Ujian ikhlas adalah, dikala dirimu di suruh tiba tiba berhenti melakukan hal yang sudah terlanjur menetap di hatimu." Gumam Gus Ali pelan. "Dan pada ahirnya, aku menyerah pada jawaban Istikharahku, karena takdir tidak akan pernah bisa di ubah dengan do'a apapun juga." Lanjut Gus Ali, lantas beranjak dari temptanya.


Seminggu, dalam seminggu Gus Ali terus memikirkan bagaimana caranya memulai berbicara dengan Ipda Nuril. Dan Gus Ali menyadari, harusnya ini tidak boleh terjadi. Karena, jelas saat ini bukan hanya dirinya yang merasakan sakit, tapi juga mereka bertiga. Gus Ali, Ipda Nuril dan Juju.


Setelah melihat binar kebahagiaan dari Bundanya tentang keputusan Gus Ali mengenai Juju. Gus Alipun bertekad mendatangi rumah Juju kecilnya yang berada di Jogja. Ini Gus Ali lalukan sebagai bukti, bahwa Gus Ali sudah menetapkan hatinya untuk Juju kecilnya.


Juwahir, Permata yang berkilauan. Itulah nama yang Gus Ali berikan pada bocah kecil berumur empat tahun yang di kenalkan kepada Gus Ali sembilan belas tahun lalu. Mata jernih, pipi tembem, tubuh tambun, dan rambut yang keriting. Hanya sebatas itu ingatan yang berada dalam memori Gus Ali tentang Juju, selebihnya Lilylah yang menjadi patokan Gus Ali mengenai Juju. Karena, mereka berdua memiliki karatristik yang hampir sama.


Juwahir, adalah nama pemberian Gus Ali. Yang kemudian nama itu ikut di sematkan melengkapi nama panjang dari Uwinya Bunda. Bahkan Gus Ali juga tidak pernah tau nama sebenarnya Juwahir itu siapa. Karena sejak Juju di bawa kerumahnya, Gus Ali selalu memanggilnya dengan panggilan sayang itu, dan tidak ingin mendengar penjelasan apapun, lantaran saat itu Gus Ali masih nakal nakalnya.


Bangunan rumah tiga lantai dengan gaya moderen berada tepat di depan Gus Ali. Halaman sempitnya di penuhi oleh tanaman bunga bunga kekinian lengkap dengan kolam ikan kecil di tengah tengahnya. Kesan asri begitu kental terasa, di saat mata memandang juntaian dari tanaman hias yang mengantung di teras rumah, bak sebuah tirai tirai yang bergelantungan dengan berbagai warna. Suasana panas langsung tergantikan dengan hawa segar dan dingin begitu kaki menapak undakan demi undakan teras tersebut.


Langkah percaya diri Gus Ali, sedikit memudar saat di rasakan debaran di dadanya ikut mengantarkan langkah Gus Ali menuju sebuah pintu yang tengah sedikit terbuka dengan suara tawa yang sampai terdengar di mana Gus Ali tengah berdiri di depan pintu tersebut. Suara itu, tidak asing bagi Gus Ali, dan Gus Ali lebih senang berfikir jika itu hanya perasaan yang belum ikhlas saja, di banding memikirkan jika itu sebuah kebetulan.


Ucapan salam yang di gaungkan oleh Gus Ali membuat suasana yang tadinya hangat itu berubah hening dan dengan cepat beberapa sosok yang Gus Ali kenali berjalan mendekat ke arah pintu. Om Taufiq, Bulek Anne dan sesosok wanita yang membuat Gus Ali sedikit gugub.


Dua cangkir kopi, dan beberapa cemilan memenuhi meja ruang tamu. Dan raut bahagia tampak dari pemilik rumah yang terus tersenyum dengan pertanyaan pertanyaan seputar kedua orang tua Gus Ali.


"Jadi, apa maksud sampean jauh jauh datang kemari, Gus.?" Tanya Om Taufiq dengan nada santai, saat perbincangan basa basi sudah berahir.


"Ihh Papa, kok gitu amat tanyanya. Kayak Bapak yang kejam banget sama colan mantu. Kalau Papa kayak gitu terus yang ada Uwi bakal jadi perawan tua." Gus Ali memberanikan diri memandang sesosok wanita yang duduk bersebrangan dengannya. Dan Gus Ali tidak yakin bahwa dia adalah Juju kecilnya Gus Ali waktu itu. Hanya saja, sembilan belas tahun tidak bertemu bukan waktu yang sebentar untuk merubah seseorang.


Tapi, jika benar dia Juju, kenapa begitu kontras dengan apa di sampaikan oleh Bundanya kepada Gus Ali tempo hari. Karena, menurut Bundanya, Jujunya sosok gadis pendiam, sopan, dan manis dalam pertutur. Dan kenapa yang ada di hadapan Gus Ali justru lain, wanita di depan Gus Ali tampak terlihat dewasa dan cara bicaranya cendrung apa adanya.


"Ini Najwa, Gus. Bukan Jujumu." Ucap Om Taufiq seolah tau dengan apa yang di pikirkan oleh Gus Ali.

__ADS_1


Gus Ali tersenyum simpul dengan rasa malu yang luar biasa. Dan kembali pembicaraan ini terus berlanjut hanya dengan mereka berdua saja, hingga keberanian Gus Ali megutarakan maksud hatinya terkemuka dengan gamblang yakni ingin bertemu dengan Juju kecilnya.


"Juju, tidak ada di rumah, Gus. Dia sedang berada di kota lain, untuk menunaikan tugasnya." Jawab Om Taufiq.


"Saya mengerti, kalau begitu saya tidak akan menganggunya. Lain waktu saya akan berkunjung kemari lagi." Jawab Gus Ali dengan sopan. Dan ternyata, jalan ini tidak semudah yang di harapkan oleh Gus Ali.


"Beri waktu untuk kami, setidaknya tiga bulan lagi." Ucap Om Taufiq. Suara ini terdengar di telinga Gus Ali, seperti sebuah permintaan untuk menyakinkan. Atau mungkin apa yang di pikirkan oleh Gus Ali sebelumnya, sama dengan yang di pikirkan Juju. Sampai sampai, Om Taufiq butuh waktu hanya sekedar mempertemukan Gus Ali dan Juju.


Perbincangan hangat yang di sertai dengan makan malam ini, berahir juga dengan ucapan pamit Gus Ali. Dan membawa langkah Gus Ali kembali ke Surabaya dengan secarik kertas berisikan nomer ponsel Juju kecilnya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Gus Ali sampai kembali di Surabaya tepat saat subuh, dan sudah di sibukan oleh kegiatan rutinitas yang selama seminggu sudah di wakilkannya. Lagi lagi kegiatannya terbengkalai oleh ponselanya yang berdering, dan memberi kabar bahwa, Paman Hasby dan Bulek Rikanya yang sedang mengunjungi putri mereka yang tinggal di Pesantren tidak jauh dari Gus Ali. Untuk memberi hormat itupun, Gus Ali memilih menemani mereka siang ini, meski kelelahan terlihat begitu jelas di wajah Gus Ali.


Sudah beberapa kali Gus Ali dan Ning Nila, keluar masuk toko buku. Dan kali ini di bawa langkah keduaya menuju mall yang terdapat toko buku besar di dalamnya. Semua akan baik baik saja seharusnya, jika saja Gus Ali tidak melihat sosok gadis manis yang seminggu ini memang sengaja Gus Ali hindari. Bukan Gus Ali ingin mengantung begitu saja, hanya saja Gus Ali menunggu memilih waktu yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati.


Seperti yang Gus Ali kemukakan sebelumnya, bahwa tidak hanya akan Ipda Nuril saja yang terluka. Gus Ali juga ikut terluka saat ucapan ucapan lirih yang di sertai dengan mata jernihnya yang meredup tepat di depan Gus Ali. Apa lagi saat sebuah kata penyesalan yang di balutnya dengan kalimat kiasan di sampaikan secara gamblang oleh Ipda Nuril kepada Gus Ali.


Gus Ali hanya bisa menyalahkan waktu saja, karena sang waktu tidak pernah mau berputar ulang kembali dimana. Dan andai kata itu bisa terjadi, maka menunda menyatankan perasaan kepada Ipda Nuril adalah jalan yang terbaik agar tidak ada hati yang terluka.


Sebulan dua bulan, hingga tiga bulan lamanya, Gus Ali terus berusaha untuk mengembalikan semua pada tempatnya. Juga, sekaligus berusaha sangat keras agar tidak terlihat di hadapan Ipda Nuril. Itu Gus Ali lakukan bukan semata mata untuk Gus Ali seorang, tapi juga untuk menjaga perasaan Ipda Nuril.


Selama tiga bulan, nomer ponsel Juju kecil Gus Ali, masih tersimpan rapi di kotak nomer ponsel Gus Ali. Hingga Gus Ali memutuskan untuk kembali ke rumah dan mengganti nomer ponselnya, Gus Ali baru mencoba nomer yang di berikan padanya. Dan hasilnya nihil. Karena nomer itu sama sekali tidak meresponnya.


Acara pamitan yang di gelar di Polda, membaut Gus Ali mau tak mau bertemu dengan Ipda Nuril. Kesempatan langka itupun, Gus Ali lakukan untuk berpamit kepada Ipda Nuril dengan pribadi, sekaligus untuk pamit dengan hatinya juga.


Sebelum kembali ke tanah kelahirannya Gus Ali kembali berkunjung ke Jogja, untuk memenihi janjinya kepada Om Taufiq, bahwa akan datang untuk bertemu dengan Jujunya. Namun lagi lagi, alasan yang di sampaikan karena Tugas membuat Gus Ali menghela nafas dalam, juga sekaligus penasaran dengan tugas apa yang di kerjakan oleh Juju, hingga tidak ada kesempatan bagi mereka untuk bertemu. Dan kembali Om Taufiq memberikan janji tiga bulan lagi, dan yakin bahwa itu tidak akan gagal.


Gus Ali menunggu waktu tiga bulan ke depannya dengan menghabiskan waktu di acara acara yang di wakilkan oleh Abinya, juga berkebun. Memepersiapkan isi dari Villa di tengah kebun buahnya, juga kesibukan yang Gus Ali lakukan untuk mengisi waktu.


Hingga tiga bulan yang di nanti nanti oleh kedua orang tua Gus Ali dan orang tua Juju ahirnya datang juga. Perasaan tidak menentu, dan debaran hebat di dada sangat menganggu Gus Ali. Hingga membuat Gus Anas yang ikut datang bersama dengan mereka, menertawakan tingkah Gus Ali yang tiba tiba berkeringat di dahinya begitu langkah mereka memasuki Restoran dimana mereka akan menginap.


"Mas, wudhu dulu sana. Kucel bener, buruan ah keburu calon istri dateng. Nanti malah naksir sama saya." Gurau Gus Anas begitu melihat wajah Gus Ali yang berubah pias. Gus Anas tidak pernah mengira bahwa dirinya bisa melihat Mas Alinya gugub dan itu sungguh menjadi moment langka bagi Gus Anas, hingga tak henti hentinya terus mengolok olok Gus Ali.


Sepuluh menit berlalu, Gus Ali semakin gugub dan memilih pamit ke kamar mandi mengikuti saran Gus Anas. Sembari berfikir keras Gus Ali membasuh wajahnya dan menanggalkan segala kegugupannya bersama air wudhu.

__ADS_1


Langkah pelan Gus Ali semakin memelan, saat mata Gus Ali menangkap sesosok punggung seorang gadis yang tengah duduk membelakangingya. Gadis dengan jilbab hitam di hadapan Gus Anas itu terlihat menundukan kepala, sementara Gus Anas yang berada di depannya sedang tertawa.


Pelan dan pasti langkah Gus Ali semakin dekat dengan meja mereka semua. Dan dengan niatan kuat, Gus Ali memantapkan langkah demi langkahnya hingga benar benar sampai di tempat mereka semua tengah duduk di kursi yang melingkari meja.


"Assalamu'alaikum.." Ucap Gus Ali pelan, dan ulasan senyum Bunda Ikah menambah kepercayaan diri Gus Ali, meski Gus Ali belum berani memastikan seperti apa wajah dari Juju kecilnya yang duduk di samping Gus Ali tengah berdiri.


"Wa'alaikumussalam." Jawab semuanya.


"Ehh, Ustadz Salman." Seruan kaget dari suara seseorang yang Gus Ali coba lupakan, membuat Gus Ali menoleh ke samping kursi dimana gadis dengan Jilbab hitam sedang duduk.


Wajah kaget Ipda Nuril sama persis dengan kekagetan yang tercetak di wajah Gus Ali, tak terkecuali dengan semua orang yang duduk melingkar disana. Apa lagi saat Gus Ali juga ikut memanggil Ipda Nuril dengan wajah kaget yang sama sekali tidak di buat buat.



"Ipda Nuril, kenapa ada disini.?"


.


.


.


.


Bersambung...


####


Belum lagi. Ehh, Emak emang suka banget bikin mbulet, jelimet dan mumet..🤣🤣🤣


Jangan lupa Like, coment dan Votenya masih di tunggu..


Love Love Love..


💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


By: Ariz Kopi


@maydina862


__ADS_2