
Happy Reading...
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Lampu lampu gedung pencakar langit kota metropolitan cukup menyilaukan, hingga akan begitu lupa waktu ketika jam yang melingkar di pergelangan tangan hanya di jadikan aksesoris belaka oleh penggunanya. Seharusnya jam-jam seperti ini, semua orang sudah terlelap dan terbuai oleh mimpi mereka, untuk mengistirahatkan tubuh mereka guna untuk niat ibadah nanti di sepertiga malam agar lebih fress. Jika, di desa. Namun, nyatanya di Ibu Kota Negara jam segini masih sangat ramai dan memang akan pantas jika di sebut Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur.
Jam menunjukan pukul 22.45. Saat berkali-kali mobil kenamaan keluaran perusahan Jepang itu terus berputar putar di sekitar Jalan Ciputat Raya. Dan sudah hampir dari setengah jam lamanya mereka terus berputar-putar di sekitar situ hingga sampai melewati Asrama Polwan hingga tiga kali dan Universitas lainnya yang saling berdekatan di sekitar situ.
"Beloknya gang yang mana, Dek.?" Tanya Mas Naufal untuk yang kesekian kali kepada Gus Ali.
"Harusnya tidak jauh dari UIN, Mas." Jawab Gus Ali yang terlihat juga sedikit bingung, karena selama Empat tahun saja tidak kesini sudah begitu banyak yang berubah dan memang akan sangat membingungkan sekali, terlebih ini sudah malam, di tambah tubuh mereka juga sudah capek, lantaran melakukan perjalan cukup jauh dan hanya Istirahat sebentar saja untuk melaksanakan Shalat.
"Coba telefon Mas Hafidz lagi, siapa tahu sudah aktif. Suruh kirim lokasinya." Kata Mas Naufal sambil menepikan mobilnya di depan sebuah Universitas juga.
"Iya, sebentar, Mas." Jawab Gus Ali lantas mengeluarkan ponselnya dan kembali mendial nomer ponsel dari Guz Hafidz. Satu dua kali belum ada respon, dan baru setelah dering ketiga terdengar jawaban lembut seorang wanita yang bisa di pastikan jika itu adalah Istri dari Gus Hafidz.
"Assalamu'aliakum. Mas Ali, sudah sampai mana.?" Tanya suara lembut itu.
"Wa'alaikumussalam, Ning Tika. Ini saya sudah sampai di depan Universitas Muhammadiyah, tapi saya lupa beloknya di sebelah mana." Jawab Gus Ali.
"Oh, sudah sampai di situ. Ya sudah, biar Mas Hafidz menyuruh Kang Santri untuk menjemput sampaen." Jawab Istri dari Gus Hafidz. "Sampean tunggu di tempat sampean sebentar ya, Mas. Saya sampaikan dulu sama Mas Hafidz. Assalamu'aliakum." Lanjut Istri Gus Hafidz.
"Enggeh, Ning. Matur suwun. Wa'alaikumussalam." Jawab Gus Ali lalu mengembalikan ponselnya pada tas kecilnya. "Suruh menunggu sebentar kata, Ning Tika." Ucap Gus Ali pada Mas Naufal.
"Rencananya mau berapa hari di sini.?" Tanya Mas Naufal sembari membuka jendela mobil lantas tak lama sudah menyalakan rokoknya.
"Inerview masih lusa, dan pengumuman paling enggak hari Jum'ahnya. Kalau, Mas Naufal tidak keberatan bisa enggak kalau kita kembalinya hari Sabtunya atau minggu paginya." Jawab Gus Ali sembari tanganya ikut ikutan menyalakan rokoknya.
"Minggu saja kayaknya enak. Mau coba malam mingguan di Kota Jakarta." Jawab Mas Naufal dengan senyum yang di kulum.
"Iya juga ya, Mas." Jawab Gus Ali lalu kembali menyesap kembali rokok yang berada di sela sela jarinya hingga asap asapnya yang mengepul di udara menambah sumbangan polusi bagi Ibu Kota yang sudah sangat sesak oleh Polusi.
Lama meraka saling terdiam, hingga Gus Ali tersedak dan membuatnya terbatuk-batuk hebat, lantas dengan cekatan Mas Naufal memberikannya air mineral kepadanya yang sudah terbuka sekalian.
Dengan sekali teguk hampir separuh air itu leyap dari botolnya, dan Gus Ali masih merasakan sesak di ulu dadanya akibat tersedak oleh saliva yang tiba-tiba masuk. Dan seperti sedang berfikir sangat keras Gus Ali terus memandang nanar ke depan, dan tidak jelas apa yang sedang di tatapnya. Karena pikirannya sedang di penuhi oleh wajah Juju yang membiru.
Dan memang tidak jauh dari belahan bumi ini, seorang gadis dengan setelan Taruni sedang memukul-mukul guling tanpa dosa di kamarnya sembari mengumamkan nama Gus Ali. Gadis itu hampir setiap malam ketika sudah di kamarnya akan mengamuk saat teringat percakapannya dengan Pacar Sempurnanya mengenai Gus Ali minggu pagi lalu. Dan malam ini dia benar benar murka saat teringat masa kecilnya yang sering di jahili oleh Mas Alinya yang begitu dia sukainya namun juga sekaligus di bencinya setengah mati.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Assalamu'alaikum, maaf. Apa benar dengan Gus Ali." Kata seorang anak muda yang baru saja mengehentikan motornya dan membuyarkan lamunan Gus Ali mengenai Juju.
"Wa'alialumussalam, Iya benar." Jawab Gus Ali.
"Alhamdulillah. Kalua begitu monggo Gus ikuti saya." Ucap pemuda itu dan berjalan pelan kembali ke motornya yang berada di depan Mobil.
Dengan pelan mobil terus mengikuti motor dari Kang Santri yang di tugaskan untuk menjemput mereka berdua dan perdebatan kecil mengenai jalan yang sudah di lewati tadi membuat mereka menertawai diri mereka sendiri hingga tiba di sebuah Pesantren yang tidak begitu luas tapi bertingkat tingkat. Itu bisa di maklumi, karena di kota.
"Assalamu'alaikum." Sapa Gus Ali begitu turun dari mobil dan mendapati sepupunya iti sudah menyambutnya di teras beserta dengan Istrinya. Faizzatul Atiqah Khusairy. Nama Istri dari Gus Hafidz, dan jika di rujuk dari namanya sudah jelas dia ada sangkut pautnya dengan keluarga besar Ahliyyah tempat Abi Farid dan Bunda Ikah pernah menuntut Ilmu.
Ya, Ning Tika. Adalah, Putri kedua dari Gus Nurun Ahmadi Khusairy dan Ning Majaya Dimyati. Dan tentu saja pernikahan itu terjadi, juga karena Paman Wahyu yang merupakan sahabat dekat Gus Nurun, makanya perjodohan dari keluarga Al-Ma'aly dan Ahliyyah bisa tersambung. Meski sebelumnya Gus Hafidz sedikit kurang setuju dengan perjodohan ini, namun pada ahirnya mereka bahagia juga.
Di ruang tamu yang bernuansa putih dengan ukiran ukiran Asmaul Husna yang melingkar di dinding atasnya, mereka saling menyakan kabar juga menyampaikan salam yang di titipkan kepada Gus Ali dan Mas Naufal. Dan setelah cukup lama mereka saling bercengkrama, ahirnya Gus Ali dan Mas Naufal di giring untuk Istrirahat oleh Gus Hafidz di kamar tamu keluarga yang berada di lantai tiga Ndalem Gus Hafidz.
Sampai di kamar keduanya lantas segera membersihkan diri dan karena tubuh yang begitu lelah karena perjalanan yang panjang mereka bedua langsung dengan mudah sudah tetidur begitu tubuh mereka menyentuh kasur busa yang berada di ruangan itu.
Pagi datang kembali, jika biasanya pagi yang mereka akan di sambut oleh kokokan Ayam dan suasana khas pedesaan, maka lain hari ini, ini pagi di Ibu Kota, yang khas dengan kebisingannya dan kesibukan dari masing masing individunya.
Di lantai tiga kamar yang di tempati oleh Gus Ali dan Mas Naufal, mereka berdua dapat melihat di sebrang jalan ada pasar yang lumayan besar dan juga cukup rame. Dan di sanalah roda kehidupan mereka terus berputar untuk mencari rezeki lewat berdagang.
"Selamat pagi, Mas." Ucap Gus Hafidz begitu pintu di buka oleh Gus Ali.
"Selamat pagi, Dek." Jawab Gus Ali sambil melebarkan pintu kamarnya, agar Gus Hafidz bisa masuk ke dalam.
"Bagaimana Mas Naufal, apa bisa istirahat dengan nyaman.?" Tanya Gus Hafidz kepada Mas Naufal yang kini sudah duduk di karpet bludru tebal di mana Gus Hafidz juga Gus Ali sudah duduk lebih dulu.
"Sangat sempuran, Mas." Jawab Mas Naufal.
Gus Hafidz tersenyum tipis ke arah Mas Naufal kemudian membuang kembali pandangannya ke arah Gus Ali guna untuk menyampaikan maksud dari Gus Hafidz mendatangi kamar mereka. "Mas berkas berkasnya sudah di siapkan semua.?" Tanya Gus Hafidz kepada Gus Ali.
"Insya'Allah, semua sudah saya siapkan. Dan tinggal membawanya saja besok." Jawab Gus Ali.
"Nanti sekalian ke Kampus, Mas Ali danas Naufal bisa sekalian ikut untuk lihat lihta, karena besok saya tidak ada jadwal kelas jadi saya tidak bisa menemani." Kata Gus Hafidz masih dengan mengulas senyumnya.
"Baiklah, kira kira jam berapa agar kami bisa siap siap." Ujar Mas Naufal.
__ADS_1
"Memang Mas Naufal juga mau ikut Interview.?" Ucap Gus Ali dan itu membuat Mas Naufal tersenyum garing lantas menjawab.
"Andai samq Ibu di izinkan sudah pasti saya duluan yang daftar." Jawab Mas Naufal, dan itu membuat Gus Ali langsung tersenyum hambar, mengingat perdebatannya dengan Bunda Ikah, meski Bunda tidak secara langsung menentangnya juga.
"Tidak apa-apa, Mas Naufal. Saya seandainya bisa memilih ingin dekat saja dengan keluarga di Bayuwangi." Ucap Gus Hafidz.
"Bi, di tunggu Umi, di meja makan." Ucap seorang gadis kecil dengan jilbab warna kuning yang membuat wajah bulatnya semakin menggemaskan dengan pipi gembil yang memerah.
"Ndhok Diva, kemarilah." Panggil Gus Hafidz ke putri semata wayangnya. Putri kecil Gus Hafidz berjalan pelan menuju ke arah Gus Hafidz dengan menunduk.
"Coba ini siapa.?" Tanya Gus Hafidz pada Putrinya, setelah duduk di pangkuannya.
"Apoh Ali." Jawab Putri Gus Hafidz.
"Salim dong sama, Apoh." Timpal Gus Ali dan justru Putri Gus Hafidz semakin mengeratkan pelukannya ke Abinya.
"Sama seperti Ibunya pemalu." Ucap Gus Hafidz.
"Apa rata-rata anak cendrung mirip sama Ibunya." Gumam Mas Naufal.
"Makanya Mas Naufal cepat cari makmum agar tau sendiri." Jawab Gus Hafidz sambil berdiri. "Ayo lekas ke ruang makan, sudah di tunggu sama yang masak." Lanjut Gus Hafidz.
Dan merekapun berjalan ke ruang makan sembari masih mengobrol ringan dengan di selingi Nasehat Gus Hafidz kepada dua pemuda itu tentang indahnya ibadah yang sangat menyenangkan berupa rumah tangga.
Bersambung...
####
Ada apakah dengan Juju, kok segitu sebelnya sama Gus Ali, dendam masa kecil kah, atau ada sesuatu lain..🤔🤔🤔🤔
Like, Coment dan Votenya di tunggu...
Love Love Love...
💖💖💖💖💖💖
By: Ariz kopi
__ADS_1
@maydina862