Polwan Cantik Vs Gus Manis..

Polwan Cantik Vs Gus Manis..
Mas Aii..


__ADS_3

Happy Reading...


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Redup. Begitulah yang di lihat Nuril begitu menjejakan kakinya ke sebuah kamar yang dulu sering di tempatinya. Bahkan, bisa beberapa jam didalamnya dalam sehari. Dulu, kamar ini di penuhi oleh coretannya dan Mas Ainya. Hampir dua puluh tahun tak menginjakkan kaki di kamar ini, Nuril tidak lupa akan aroma yang masih sama seperti dulu. Dan ini bukan hanya ada di kamar ini saja. Melainkan di kamar Bunda Ikah juga.


Kamar bercat abu abu ini terlihatan begitu romantis dengan lampu yang berbinar redup. Hingga, membuat Nuril untuk sesaat merasa malu sendiri. Tapi, kemudian segera menggelengkan kepalanya pelan, karena alasan malu dan gugubnya tidak begitu masuk akal. Lantaran, pemilik kamar ini sedang tidak ada di tempatnya.


Jujur, kejadian tempo hari di kamar hotel setelah acara Resepsi masih membuat dada Nuril jempalitan tidak karuan dan itu sukses membuat pipi Nuril memanas hanya dengan mengingatnya saja. Untung setelah itu, orang yang membuat Nuril merasa Awkrd menghilang untuk beberapa hari kedepan. Jadi, Nuril bisa mempersiapkan dirinya untuk hal hal tak terduka yang sering di lakukan Gus Ali.


"Jadi kamu belum makan.?" Ucap Gus Ali tempo hari begitu masuk ke dalam kamar hotel.


Nuril hanya menggeleng pelan sebagai jawaban atas tanya Gus Ali, lantas merasa canggung sendiri. "Reaksimu sungguh lucu, Ju."


Mata indah Nuril segera menatap Gus Ali dengan heran. "Reaksi.?" Nuril membeo.


Gus Ali berjalan mendekat ke arah Nuril yang berdiri tidak jauh darinya. Di sentuhnya kepala Nuril yang masih di penuhi oleh ornamen ala india. "Reaksimu, seakan akan aku akan memakanmu saat ini saja." Pelan, sumpah ucapan Gus Ali itu pelan sekali. Tapi, reaksi dada Nuril sungguh menggila.


Perlahan tangan Gus Ali bergerak pelan, menanggalkan mahkota yang bertengger di kepala Nuril, dan itu sukses membuat Nuril tak mampu menggerkan tubuhnya dan kakinya seakan kehilangan tulang belulangnya. Hingga saat tangat tangan Gus Ali berpindah meraih tangan Nuril dan menariknya pelan ke ranjang besar yang bertaburkan kelopak kelopak bunga Mawar merah, Nuril hanya bisa mengikutinya tanpa bisa memprotesnya.


Duduk dengan dada berdebar, Nuril hanya bisa terus menunduk ketika satu persatu hiasan di kepalanya di tanggalkan oleh Gus Ali. "Emas, perak, ataupun tembaga, itu semua adalah logam mulia yang di kandung oleh tanah. Dan untuk memiliki itu tidak harus bagi kita untuk menggali tanah itu sendiri." Ucap Gus Ali begitu menanggalkan sebuah hiasan yang berkilauan dari kepala Nuril terahir kali.


Gus Ali mengangkat dagu Nuril pelan, hingga membuat keduanya saling bertatapan. Dan senyum Gus Ali terbit di bibirnya, saat Nuril memilih menutup matanya, karena Nuril sudah tidak sanggup lagi jika harus terus menatap wajah orang yang di cintainya dengan jarak sedekat ini. Ketidak sanggupan Nuril melakukan itu, jelas di picu detag dadanya yang semakin membahana dan juga karena wajahnya yang di rasakan memanas.


"Seperti aku, Ju. Mungkin, caraku untuk memilikimu tidaklah segentle orang orang di luar sana. Tapi, percayalah. Aku tidak akan membuatmu merasa tidak di hargai karena itu. Karena, kamu adalah Emasku. Dan aku akan menjadi rumah bagimu. Tinggalah dan menetaplah disisiku, akan ku berikan ketenangan di dalamnya. Biarkan aku menjagamu. Maukah kamu.?"


Kembali, mata jernih Nuril terbuka saat Gus Ali menyelesaikan ucapannya. "Tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya. Dan tidak akan ku dapati ketenangan, ketentraman dan rasa aman selain dari pada bersama sama denganmu." Ucap Nuril dengan tulus beriring dengan lelehan air mata bahagia.


Menyusut air mata Nuril dengan ujung jarinya, Gus Ali mengulum senyumnya. "Terima kasih, terima kasih sudah bersedia mengarungi bahtra rumah tangga bersamaku." Tatapan Gus Ali semakin dalam dan berlahan jarak kedua terkikis hingga Nuril merasakan sebuah kecupan lembut di ujung matanya.


"Krucuk, krucuk, krucuk." Suara perut Nuril yang seketika membuyarkan suasana romantis yang telah tersusun begitu sempurna.


Tawa Gus Ali, membuat wajah Nuril semakin memerah sempurna. Bukan memerah karena malu yang di sertai debaran, melainkan malu karena perut yang tidak tau tempat dan waktu untuk berbunyi. Hingga, Nuril tidak begitu punya muka untuk memandang wajah Gus Ali, lantas menyetujui ucapan Gus Ali untuk membersihkan dirinya lebih dulu sementara Gus Ali memesankan makanan untuk mereka berdua.


Keluar dari kamar mandi, Nuril mendapati Gus Ali yang sudah melepas Jasnya dan menyisakan kemeja yang di gulung hampir ke sikunya. Sementara di meja sudah berjajar beberapa jenis makanan yang hampir itu semua adalah makanan kesukaan Nuril.


"Sudah selesai." Tegur Gus Ali santai sembari meraih handuk dari tangan Nuril. Dan Nuril terlihat seperti orang bodoh yang hanya bisa menggeleng sembari menatap pada kancing kemeja Gus Ali yang terbuka dua biji hingga disana tanpa sadar itu mengexpose dada bidang Gus Ali. "Ju."


"Eh, Iya." Jawab Nuril kikuk.

__ADS_1


"Kamu, melamun.?"


"Tidak."


"Atau mungkin karena terlalu lapar, hingga kamu tidak fokus." Ucap Gus Ali sembari tersenyum tipis. "Kamu shalat Asar dulu saja habis itu makan. Tidak usah menungguku." Lanjut Gus Ali sebelum menutup pintu kamar mandi.


Rasa rasanya Nuril ingin menenggelamkan dirinya di dasar bumi saja, jika mengingat kejadian sesaat tadi. Sembari ngedumel pelan, Nuril terus merutuki dirinya yang seperti anak kecil yang tidak tahan lapar. Tanpa, memerdulikan cacing dalam perutnya Nuril terus menyiapkan peralatan shalatnya. Dan tentu juga untuk Gus Ali, Nuril tidak mau melewatkan shalat berjama'ah pertamanya dengan Suaminya tentunya.


Berbalut kaos putih bersih berlengan pendek Gus Ali keluar dari kamar mandi, dan itu sukses membuat Nuril hampir saja kehilangan fokusnya deres karena pemandangan tonjolan otot di kedua lengan Gus Ali. Menelan ludah kasar, Nuril membuang pandangannya kemananpun, asal itu tidak tertuju ke arah Gus Ali. Hingga, Gus Ali selesai menggunakan pakaiannya dengan sempurna.


Tanpa berbicara, nampak Gus Ali sudah faham dengan sajadah yang di atur oleh Nuril, dan dengan cepat sudah menempati tempatnya sebagai imam bagi Nuril. Selesai dengan tanggung jawabnya, Nuril masih senantiasa duduk di atas sajadahnya. Nuril masih galau bagaimana caranya melepas mukena yang di kenakannya. Karena, Gus Ali terus saja menatapnya tanpa kedip.


"Ayolah, Ju. Tadi kan kamu lapar." Ucap Gus Ali ahirnya, saat melihat Nuril yang masih tidak bergerak dari tempatnya.


"Bisa sampean tutup mata sebentar.?" Ucapan Nuril membuat Gus Ali menatap Nuril sembari memainkan alisnya.


"Kenapa.?"


"Ya.." Nuril menjeda ucapanya lama, hingga membuat Gus Ali mendekat ke arah Nuril dan kembali menarik dagu Nuril ke atas agar menatapnya.


"Malu.?" Anggukan kepala Nuril membuat Gus Ali tersenyum simpul ke arah Nuril. "Tidak apa apa. Aku ingin melihatnya." Tangan Gus Ali sudah meraih mukena Nuril dan perlahan sudah tergeser dari kepala Nuril.


"Kok piringnya cuma satu." Ucap Nuril begitu melihat piring kosongnya hanya satu.


"Mungkin piringnya habis." Jawab Gus Ali sembari tersenyum misterius.


"Ini pasti kerena ulah sampean." Sadar dengan senyum jahil Gus Ali, Nuril segera saja mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.


"Sampean siapa.?"


"Ya, sampean." Jawab Nuril.


"Sampean kan punya nama" Debat Gus Ali.


"Ya, sampean Gus Salman Ali Ridho Maulana." Tak ingin banyak berdebat dengan Gus Ali, Nuril segera saja menyebutkan nama Gus Ali. Tidak tanggung tanggung langsung nama lengkapnya.


Nampaknya, Gus Ali masih tak ingin menyerah menggoda Nuril. Dan tentu saja karena Gus Ali punya tujuan di dalamnya. "Baiklah, Ning Nuril Maydina Juwahir."


Nuril merengut mendengar penuturan Gus Ali, dan tanpa berucap lagi segera di isinya piring tersebut dengan beberapa makanan dengan porsi cukup untuk dua orang. "Seperti ini kan maunya sampean." Ucap Nuril setelahnya.

__ADS_1


Gus Ali tersenyum lantas mengagguk pelan. "Abi dan Bunda masih sering makan dalam satu piring." Ujar Gus Ali sembari meraih piring dari tangan Nuril. "Juju." Kata Gus Ali lagi berulang ulang padahal Nuril sudah menyahutinya.


Nuril tidak mengerti maksud dari Gus Ali yang terus terusan memanggilnya, dan Nuril ahirnya memilih untuk memandang ke arah Gus Ali yang sengaja menarik ulur sendok di depan Nuril. Jenggah dengan perbuatan Gus Ali, Nuril meraih sendok dari tangan Gus Ali. "Mas Ai tuh maunya apa.?" Sewot Nuril begitu berhasil meraih sendok dari tangan Gus Ali.


Terkekeh pelan, Gus Ali kembali menarik sendok dari tangan Nuril. "Maunya itu tadi. Mas Ai." Nuril hampir saja tersedak oleh salivanya sendiri. "Coba ulangi lagi dengan nada lembut. Mas Aii.." Lanjut Gus Ali sembari menyuapkan makanan ke arah Nuril.


Nuril, masih diam tak bersuara. Dan yang namanya sifat jahil itu tidak pernah akan berubah. Biar kata itu cuma pada Nuril seorang. Dan mau tidak mau, Nuril harus mengalah dengan mahluk yang jahilnya tidak ketulungan, tapi juga manis. Tapi, Nuril justru jatuh cinta sangat dalam kepadanya, lantas terikat selamanya dengannya. Dan, Nuril Ikhlas menjalaninya.


"Mas Ai.." Ucap Nuril dengan lembut sesuai keinginan Gus Ali.


"Aaa.." Hanya senyum yang semakin melebar dan sendok yang semakin mendekat ke mulut Nuril yang menjadi jawaban Gus Ali. Namun, lagi lagi sendok itu juga tidak sampai menyentuh bibir Nuril, karena Gus Ali kembali menarikanya. Justru, bibir Gus Alilah yang mendarat lembut di kening Nuril.


"Masih sesuai janjiku, Ju. Aku tidak akan menyentuhmu, selama kamu tidak mengijinkan. Tapi, jika kamu terus menggemaskan seperti ini, jelas aku akan khilaf." Hambar seketika makanan yang masuk dalam mulut Nuril, begitu ucapan itu keluar dari bibir Gus Ali, dan untuk menelannya Nuril juga membutuhkan tenaga extra.


.


.


.


.


.


Bersambung...


####


Jiahahaha. Gus Ali maunya Nuril yang berinisiatif gituh. Maaf ya Gus, Maknya Nuril terlalu polos untuk rayu merayu..😅😅😅😅😅


Like, Coment dan Votenya di tunggu..


Love Love Love...


💖💖💖💖💖💖


By: Ariz Kopi


@maydina862

__ADS_1


__ADS_2